Minggu, 01 Mei 2011

Umur? 34 Tahun. Pekerjaan? Tukang Mewek

Jumat 29 April 2011 kemarin, pagi-pagi aku sempat bertekad untuk tidak mewek hari itu. Bukan hanya hari itu sih, akhir-akhir ini dengan gagah beraninya aku memang sering bertekad untuk menjadi manusia yang tidak mewekan lagi. Aku ingin mewekku hanya untuk dan karena urusanku dengan Allah saja. Aku tidak ingin mewekan lagi, kalau hanya urusan sepele semisal karena nonton film, atau kejadian yang sama sekali tidak serius sebenarnya. Sebenarnya...

 

Jumat kemarin itu, pagi-pagi aku sudah gagal total. Ketika meninggalkan acara sarapan bersama teman-teman yang ternyata sudah menyiapkan surprise berupa telur dan tepung yang kemudian sukses mendarat di kepalaku, pipiku sudah hangat oleh airmata haru. Yah paling tidak, selama berada bersama mereka, aku sudah berhasil menahan sesaknya haru yang sebenarnya sudah bergemuruh lama.

 

Lalu siangnya, Mas Iwan mengajak nonton. Filmnya berjudul The Company Man. Gagah ya judulnya, tapi lihat siapa yang menjelang film berakhir terisak-isak sambil pura-pura memeluk lengan suami disebelahnya padahal karena bermaksud menorehkan lengan baju suami ke matanya yang mengucur basah? (Ya, keluar nonton dengan lengan baju basah adalah salah satu “kekerasan dalam rumah tangga” yang selalu dengan sabar diterima Mas Iwan, karena aku nggak pernah membawa tisu wkwkwkwk)

 

Kenapa pasal aku mewek? Di film itu aku melihat efek dukungan seorang istri untuk suaminya. Ceritanya ada 3 laki-laki professional dengan background yang berbeda sama-sama menghadapi PHK mendadak. Dan akhir krisis yang mereka tempuh ternyata sangat berbeda-beda. Salah satu malah berakhir dengan bunuh diri. Yang paling bisa survive dari masa krisis ternyata adalah yang mempunyai istri paling suportif diantara yang lain.

 

Allah pasti tahu aku sedang perlu nonton ini. Beberapa bulan ini aku sungguh sudah menjadi istri pengeluh yang sangat menjengkelkan bahkan untuk diriku sendiri. Mas Iwan memutuskan untuk memulai unit usaha baru dan karena ini sudah unit usahanya yang kesekian kalinya, aku sudah hapal apa artinya. Masa-masa yang lebih sepi dan berat. Dia akan lebih jarang berada dirumah, kami jadi lebih jarang kencan berdua, segala macam ketegangan kerja yang membuat sisi lucunya berkurang. Semua itu. Bukannya aku merasa tidak sanggup, tapi rasanya aku belum merasa puas menikmati masa-masa tenang ketika usaha sebelumnya yang dimulai 2 tahun lalu itu, sudah mulai berjalan dengan baik. Aku nggak menyangka Mas Iwan akan memulai yang baru lagi secepat ini. Film itu, asli menyuntikkan insight baru kedalam diriku. Insight yang serta merta menembakkan pelurunya ke sisi pengeluh dalam diriku, dan aku berhasil melihat semuanya secara berbeda. Aku memang mewek, tapi paling nggak aku sudah tidak sepengeluh sebelumnya. Mudah2an aku tidak mengeluh lagi, syukur-syukur bisa mulai mensyukuri dan menikmati hal ini sebagai sebuah tantangan dari Allah. Aaminn.

 

Malamnya, ketika “me time” datang aku akhirnya bisa browsing di internet dan catching-up with the world’s biggest news that day : Prince William and Kate Middleton dalam “Royal Wedding” Abad ini. Sambil memantau LIVE di TV, Facebook dan Twitter, bisa kurasakan semua orang sibuk membicarakan acara pernikahannya sampai detil. Dari baju pengantin, baju para tamu, topi-topi lucu sampai dengan siapa perancang-perancangnya. Well, aku nggak bisa pura-pura bersemangat (walau aku menikmati pemandangannya) karena aku sama sekali bukan fashionista. Maka hal yang paling adil adalah menyimpan pendapatku tentang baju2 dan topi2 itu tetap berada di dalam hatiku saja, huehehehe.

 

Semakin malam (ketika liputan LIVE di TV selesai dan di Twitter gantian seru membahas ciuman penganin di balkon itu), didepan internet aku malah semakin tenggelam dalam topik Lady Diana. Tanpa bisa kubendung aku akhirnya kembali menyusuri cerita kehidupan Lady Di, dari kenaifannya ketika memasuki pernikahan dengan Prince Charles, perjalanan pernikahannya yang (asli) sangat menyedihkan kurasakan, sampai dengan carut marut kecelakaan di De’Alma Tunnel yang menewaskannya tahun 1997 lalu.

 

Suasana kesedihan yang ditimbulkan oleh wajah William dan Harry di pemakaman Ibunya (oh my...siapa yang bisa tahan membaca kata “Mummy” yang ditulis kedua anak itu dan diletakkan disamping karangan bunga lily diatas peti jenazah ibunya) bercampur baur dengan hingar-bingar pernikahan William. Tiba-tiba aku berhenti di depan foto Lady Diana, bertiga dengan William dan Harry yang masih bocah. Bukan foto resmi mereka sebagai keluarga kerajaan, tapi foto ketika mereka bertiga berpelukan secara “normal” layaknya ibu dan kedua anak yang sangat dicintainya.

 

Yah....aku akhirnya mewek lagi deh...

 

Sebagai seorang ibu, mungkin seperti ibu-ibu yang lain, aku juga pernah dihinggapi pertanyaan soal umur. Apakah kelak aku masih hidup untuk menyaksikan anak-anakku tumbuh dewasa? Dan saat mereka menikah nanti?

 

Membaca bahwa Kate Middleton sangat amat mengidolakan Diana - mendiang ibu mertuanya - walaupun mereka belum pernah bertemu, membuat mewekku makin kencang. Saat membaca bahwa nanti setelah menikah dan punya anak pasangan itu menginginkan tinggal di Kensington Palace (kediaman Diana ketika membesarkan anak-anak, dan ketika dia telah bercerai dengan Charles), mewekku semakin menjadi. Konon, William memutuskan ingin tinggal disitu, karena di tempat itulah dia melewatkan masa-masa paling bahagia dalam hidupnya. Yaitu masa kecilnya bersama ibunda tercinta Diana, yang konon akan melakukan apa saja supaya anak-anaknya bisa tumbuh secara “normal dan spontan, khas dunia kanak-kanak” ditengah kekakuan dan dinginnya budaya dan protokoler kerajaan. Sikap yang konon sering membuat Diana mendapatkan masalah itu, ternyata terekam kuat dalam ingatan William sebagai “masa-masa terindah dalam hidupnya” bahkan setelah 14 tahun kematian ibunya.

 

Nah.. Siapapun Anda pembaca yang seorang Ibu, pasti merasakan apa yang kurasakan saat itu. Maka lihatlah aku, Anda akan melihat sosok seorang Ibu yang teramat biasa, yang sekarang berumur 34 tahun tahun. Sama sekali bukan Diana, tetapi yang terinspirasi oleh Diana dan sekarang makin semangat berusaha menghitung detik mengukir kenangan seindah-indahnya didalam memori anak-anak mumpung Allah masih memberiku umur dan kesempatan. Dan soal rencana mengurangi hobi mewek itu, ahhh kelihatannya harus menjadi rencana jangka panjang....panjaaaaaang sekali....


Btw, jadi inget, dua hari lagi itu ulangtahun pernikahanku yang ke 15 tahun loh.....ihiks....**SROOOT**

 

Wahida::..

Sidoarjo, 1 Mei 2011

 

 

Kamis, 24 Maret 2011

Note Untuk Maria Mercedes

Jumat, 25 Maret 2011

 

Alhamdulillah kemarin siang kami berlima bisa ngumpul lunch bareng lagi. Siang sehabis ngaji tarjim, aku, Mbak Cindy dan Mbak Mona menyusul Bunda Agustin dan Mbak Sishiel yang sudah menunggu di Sutos. Kebetulan minggu itu Mbak Shiel dan Mbak Mona ulangtahun, jadilah kami yang  lain sudah menolak membayar dari awal. Akibatnya, kami yang tidak mau membayar ini kudu rela dipelototin Mbak Sishiel tiap kali menunjuk gambar  masakan yang berharga mahal di buku menu. Padahal kami baruuuuu saja menunjuk, belom order *nangis geru-geru*.

Wkwkwkwk. Bercanda kok. Kami akhirnya mendapat semua menu yang kami inginkan kok. Hehehe.

Kalo obrolan sudah berjalan, perut dan rahang pun mulai kaku karena tertawa. Mentertawakan siapa lagi kalau bukan diri kami sendiri. Dan ada bagian obrolan yang siang itu membuat kami asli meledak gak karuan sampai perut kaku mulas tak tertahankan.

Entah siapa yang memulai bercerita dan apa pencetus cerita ini mengalir, aku sudah lupa. Kalau nggak salah waktu itu Bunda Ag menceritakan pengalamannya ketika dulu masih bekerja kantoran. Dia bercerita bahwa kalau ada customer datang dan duduk didepanya, maka tugasnyalah untuk menyambut dengan sapaan “Selamat Pagi (atau siang, atau sore), ada yang bisa saya bantu??” plus senyum loplinya itu.

Nah, kebetulan hari itu tidak ada satupun customer yang datang, tetapi banyak sekali customer yang menelepon. Sehingga praktis seharian itu kata-kata yang bunda sering keluarkan dari mulutnya adalah “Halooooo??” sampai berpuluh kali. Sorenya, tiba-tiba saja ada satu customer yang datang dan ketika duduk di depan meja bunda, kontan bunda menyambutnya dengan sapaan yang latah : “Halooooo??”

Wahahahaahahahah

Kita jadi ingat cerita waktu Mbak Sishiel menggiring anak-anak nonton bareng film Karate Kid dulu. Seperti biasanya, dengan lugasnya Mbak Sishiel memberikan pesan pada anak-anak sebelum film dimulai. Tapi kali ini ada yang aneh dalam pesannya.

Mbak Shiel :  “Anak-anak, nanti kalau ada adegan kekerasan atau ciuman gitu, semuanya cepat-cepat tutup mulut kalian yaaa”

Anak-anak : Iya Buk....*patuh tapi tak urung wajahnya pada bingung*

Mbak Shiel : :”Eeehhh kliruuuu....tutup MATA maksudnyaaaa hihihihihihi”

Baru deh anak-anak bisa ketawa. Huahuahuahuahuahahahah! *bogem mb Shiel*

 

Bicara soal telepon dan kesalahpahaman, tiba-tiba saja Mbak Mona bercerita tentang kebiasaan generasi-generasi manula di tempat asal suaminya. Kata Mbak Mona, ada kakek-kakek yang terbiasa rapi jali ketika bertemu dengan seseorang ataupun menjamu tamu yang datang kerumahnya.

Nah, suatu kali ketika si kakek sedang bersantai dirumah, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia angkat handphone, ternyata dari seorang kenalannya. Baru saja mengucap salam, si kakek permisi dulu kepada si penelepon. Dia meminta si penelepon menunggu dan jangan menutup teleponnya karena ada hal penting yang harus dia lakukan. Ternyata si kakek buru-buru pergi masuk ke kamarnya, mengganti baju dengan pakaian yang rapi, menyisir rambutnya serapi mungkin, setelah itu baru mengambil kembali teleponnya untuk meneruskan pembicaraan. Huahuauahuahua aku yang keluar rumah saja nggak pernah rapi, asli malu deh ama integritas si kakek ini. Salut Kek! Wkwkwkwkwkw!

 

Yang paling bikin kami berlima ngakak, Mbak Mona kemudian bercerita tentang telenovela.

Jaman dulu kan lagi musim tuh telenovela berseri macam Isaura, Maria Mercedes, dan lain-lain itu. Nah saat mengikuti jalannya cerita-cerita itu, banyak sekali ibu-ibu yang jadi lebih semangat shalat tahajjudnya. Semangat puasa Senin-Kamisnya. Semangat beribadah deh pokoknya. Dan alasan yang mereka kemukakan adalah ini...

“Pokoknya kita mendoakan Maria Mercedes supaya pas serialnya tamat nanti, dia bisa menikah dengan Jorge Luis”

Whuakakakakakakakakakakakakakakakak!!


Jumat, 04 Maret 2011

Akhirnya... Kulihat Mbak Sishiel Pun Menangis

Kemarin itu, di sekolah Abe ada acara Jalasah Ruhiyah. Hari itu semua anak kelas 4 diinstruksikan untuk melaksanakan puasa Kamis. Jam pulang merekapun tidak seperti biasanya jam 4 sore, tapi sekolah menginstruksikan para walimurid untuk menjemput anak-anak ba'da Isya'.

Selain instruksi untuk menjemput jam 19.30 malam itu, kami walimurid juga mendapat pesan tertutup dari sekolah. Isinya, kami diharap kedatangannya jam 18.50 untuk acara "sungkeman" gitu. Tertutup, karena kehadiran kami direncanakan akan menjadi kejutan buat anak-anak.

Tahun demi tahun, acara ini terkenal karena kemampuannya selalu sukses membuat orang-orang mewek, bukan saja para walimurid tetapi juga anak-anak bahkan yang sehari-hari biasanya cool dan cuek bebek sekalipun.

Oke. Bahwa aku tukang mewek, semua sudah tahu itu, jadi nggak perlu dibahas lagi. Kali ini aku dan Wawa di twitter memilih untuk bertaruh : akankah preman kesayangan kita si Mbak Sishiel nanti bakalan mewek?? Sepertinya, Wawa pegang TIDAK YAKIN, dan aku pegang TIDAK TAHU. Wahahahaha taruhan macam apa ya itu?? *bogem Wawa*

Malam itu, disekolah ketika kami walimurid berkumpul, kita sibuk menerka-nerka apakah anak-anak kita nanti bakal mewek apa enggak. Suasana renyah dan penuh tawa karena belum-belum sudah geli aja membayangkan bagaimana kira-kira nanti jadinya.

Kemudian tibalah saatnya kami memasuki aula sekolah. Ketika pintu besar aula dibuka, keadaan didalam mencekam banget. Didalam aula gelap gulita, kami tidak bisa melihat apa-apa, tetapi masya Allah....sekujur tubuhku sudah merinding karena satu-satunya suasana yang terekam adalah suara anak-anak kami yang didalam. Ratusan macam isak tangis anak-anak kami bercampur menjadi satu. Ada yang menyayat hati, ada yang menggerung-gerung, ada juga yang tertahan-tahan suaranya. Bahkan sekarang ketika menuliskan ini, detik ini badanku masih merinding dan dadaku terasa sesak kembali.

Airmataku sudah jebol ketika pelan-pelan dalam gelap kami diarahkan ke barisan sesuai kelas anak-anak. Dengan senter kecil beberapa ustadzah menunjukkan papan kelas kami masing-masing. Aku pun terpisah dari mbak Shiel dan Bunda Agustin karena mereka menuju kelas Adel dan Shafa di kelas putri sementara aku ke kelas putra, kelasnya Abe.

Isak tangis anak-anak makin jelas terdengar dan membuat hatiku semakin bertalu-talu. Airmataku semakin tumpah ruah. Sekarang ketika kami sudah diam menunggu seperti ini, makin terasa lah isakan mereka menjelma nyata menjadi nyanyian kerinduan yang amat dalam.

Dengan berlatar suara tangisan anak-anak, masih terdengar suara ustad keras-keras membahanakan doa "Ya Allah....ampunilaaahhhh dosa-dosa Ibu dan Bapak kamiii.... Sayangilah mereka Ya Allahh...seperti halnya mereka menyayangi kami sejak kami kecil...."

Lalu BYAAR...!! Tiba-tiba semua lampu dinyalakan.

Serta-merta anak-anak mulai sadar bahwa ada barisan orangtua didalam aula itu. Sontak berlarianlah mereka menuju barisan kami. Ada yang dengan cepat menemukan dan menubruk ibunya, menyatu dalam peluk tangis. Ada yang celingukan dengan wajah merah dan mata berbalur airmata mencari-cari dimana sang ibu berada.

Yang ada di pikiranku hanya satu, Abe. Beberapa saat kemudian kutemukan wajah bulat kesayanganku itu...dengan muka merah berbalur airmata, dia sontak berlari menerobos kawan-kawannya begitu melihatku. "Maafin Abe ya Ibuuuukk.... Huhuuuuu" Dan kamipun bersatu dalam sebuah pelukan indah penuh cinta dan keharuan yang tentu tak bisa kutuliskan disini. "Ibuk sayaaanngg sama Abe" cuma itu yang bisa kuucapkan berkali-kali sambil menghujaninya dengan ciuman di sekujur wajah dan kepalanya.

Subhanallah... Kuatkanlah aku dalam mengemban tugas titipanMu ini Yaa Allah...

*ngetik sambil mewek*

Selesai acara, anak-anak kembali dipanggil untuk penutupan. Kamipun kembali keluar dari aula, dan aku bergabung kembali dengan ♏ba Shiel dan Bunda Agustin.

"Naaaaaaa!!!!" telunjukku sontak tertuju ke ♏ba Shiel ketika kulihat matanya merah berair. Dan Bunda Ag juga! "Mewek juga akhirnya kaannn???"

Keluarlah pembelaan mereka. Sebuah pembelaan yang membuat aku tak bisa apa-apa lagi. ♏ba Shiel pun cerita....

"Adel mewek Be....tapi aku enggak koook! ♏ba Agustin juga tadi nggak mewek tuh waktu ama Shafa, kita kan tegaarrr! Gak kayak ​kα♏ŭ mewekan!"

"Laaahhh lalu??" kutunjuk lagi mata premannya yang berair.

"Pas aku selesai peluk Adel, tiba-tiba Fitry muncul didepanku.....apa yang harus aku lakukan coba??"

Aku tercekat. Mendengar nama Fitry, sudah cukup menjelaskan semuanya... Tanpa bisa kubendung, dadaku pun langsung sesak.

Aku pernah menulis tentang Fitry, mungkin ada yang masih ingat. Dulu ketika duduk di bangku TK A, Fitry kehilangan papanya yang meninggal karena leukemia. Kami yang kebetulan mengenal dengan baik mamanya, semua ikut berduka. Kira-kira setahun kemudian, kami juga ikut berbahagia ketika sang mama menikah kembali. Dan tak terbayangkan perasaan kami semua ketika hanya dua tahun kemudian kami mendapat kabar bahwa sang mama juga menderita kanker getah bening, dan beberapa bulan kemudian ketika Fitry duduk di kelas 2, sang mamapun juga dipanggil Allah menyusul papanya.

Bagaimana tidak tercekat aku membayangkan cerita mbak Shiel....?

"Tiba-tiba saja Fitry ada didepanku Be, sambil mewek celingukan dan seperti kebingungan melihat teman-temannya pada berpelukan dengan orangtua masing-masing??"

:'(

"Aku trus tanya... Fitry dijemput siapa Nak??...Dijemput nenek jawabnya... Tapi si Nenek rupanya belum datang..." lanjut ♏ba Shiel. Hari itu jam itu memang kabarnya jalanan pada macet. Beberapa teman walimurid juga agak telat datangnya karena alasan yang sama.

"Sini peluk Tante dulu aja sini Naaakkk" lanjut ♏ba Shiel sambil mengulurkan tangannya. Kata ♏ba Shiel, Fitry langsung memeluknya, dan menangis sesenggukan didadanya.

Akhirnya pertahanan ♏ba Shiel pun pecah. Ya Allah, siapa yang enggak?? Adel kembali berpelukan bersama ibunya dan Fitry. Bunda Ag yang berada disamping ikut pecah menangis. "Kalo sama yang ini aku gak kuaattt, huhuuuuu" diciuminya tangan Fitry bertubi-tubi sambil mereka berpelukan.

"Aku nyari-nyari ​kamu Be, tapi untung juga ​kamu nggak deket-deket kita, bisa pingsan kamu liatnyaaaaaaa!!"

Huhuuuuuu, iya mbak. Ini saja sekarang aku menulis note dengan berurai airmata. Ya Allah, doaku sesak untuk anak itu. Dan sejak semalam, aku jadi sangat amat berjuta lipat merindukan ibuku sendiri. Betapa dalam nikmat yang Allah berikan karena masih mengijinkan aku melihat kedua orangtuaku sampai detik ini.

Tadi pagi akhirnya kita mewek online bersama lagi karena cerita Fitry. Wawa mewek...Meri ikut mewek...Kak Mia meninggalkan tuna didapur dan ikut mewek juga... Pokoknya acara taruhan batal, karena ♏ba Shiel sekalian bandar-bandarnya mewek semua.

Temans, ada yang mewek juga? Kalau iya, baca deh pesan Mbak Shiel tadi. Mbak Sishiel yang juga sudah ditinggal ayah dan ibunya sempat menulis "Bersyukur banget buat yang masih punya ortu. Sering-sering meminta maaf yaa..."

Iya mbak.... Insya Allah...
Makin sayang deh sama Mbak Sishiel...
Huhuuuuuuuu.... *peluk*

Alhamdulillah Ya Allah... Robbigfirli wali walidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiro..

*Mensyukuri detik ini dengan amat sangat karena sekarang ini ketika aku menulis ini, Ibuku tercinta sedang dalam perjalanan dari Tulungagung ke Surabaya untuk menghabiskan weekend bersama kami disini. Ya Allah mudahkan perjalanan beliau, aamiinn*

Senin, 14 Februari 2011

Canda Tawa Muhammad Rasulullah SAW

Siang ini tiba-tiba saja aku terdampar di halaman demi halaman buku "Tawa ala Rasulullah - 101 Canda dan Tawa Muhammad" terbitan Nakhlah Pustaka yang sudah lama kubeli sebenarnya.

Tidak sulit bagiku untuk memutuskan membeli buku ini hanya dari membaca judulnya saja. Ini tentu saja salah satu sisi yang menarik dari diri Muhammad SAW. Meskipun beliau adalah pemimpin besar, tokoh teragung bahkan seorang Rosul yang mulia, semua itu tidak menjadikan beliau menjadi sosok yang "dingin". Sebaliknya, suasana hangat dan akrab selalu beliau ciptakan, sehingga konon membuat siapa saja yang bertemu beliau pasti enggan segera berpisah.

Yang pasti, canda tawa Rasulullah bukan hanya simbol kelembutan dan kehangatan dalam interaksi antar manusia, tetapi dalam diri Rasulullah tawa candanya mengandung hikmah, pelajaran, ilmu dan sama sekali tanpa melanggar aturan agama.

Buku ini menjadi semakin menarik karena aku menemukan beberapa cerita yang sebelumnya belum pernah kudengar, dan jujur, cukup dudul juga, hehehe. Ini dia sedikit cuplikan cerita beliau sebagai seorang suami. Oh, dan selamat Hari Maulid Nabi ya, mari perbanyak shalawat demi cinta kita kepada kekasih Allah Muhammad Rasulullah SAW.

***

CANDA RASULULLAH KETIKA SAKIT KEPALA

Pada suatu hari, Rasulullah menemui Aisyah. Saat itu beliau dalam kondisi sakit kepala yang sangat berat. Ternyata di waktu yang sama Aisyah juga sedang mengeluhkan hal yang sama.

"Kepalaku sakit" kata Aisyah kepada Rasulullah.

"Aku juga, demi Allah wahai Aisyah, aku juga merasakan sakit kepala yang amat sangat" jawab Rasulullah. Lalu Rasulullah melanjutkan. "Apabila ​kα♏ŭ meninggal dunia terlebih dahulu, maka tenanglah, aku akan mengurusmu, menyalati dan mengiringi jenazahmu."

Apa jawab Aisyah kemudian?

"Demi Allah, sungguh aku dapat menebak, jika memang itu terjadi, maka engkau akan berduaan dengan salah seorang istrimu di rumahku pada sore harinya." kata Aisyah kemudian dengan nada merajuk. Rasulullah hanya tertawa mendengar perkataan Aisyah ini.

(Hahaha konon Aisyah memang agak cemburuan gitu kan ya, hihihi)

***

KUDA TERBANG 'AISYAH

Ketika Rasulullah dalam perjalanan kembali pulang dari Perang Tabuk atau Khaibar, tiba-tiba angin berhembus kencang hingga menyingkap kain yang menutupi boneka mainan 'Aisyah. Melihat boneka-boneka mainan tersebut, Rasulullah bertanya "Wahai 'Aisyah, apa ini?". "Boneka mainan dan hiburanku," jawab 'Aisyah.

Nabi melihat diantara mainan itu terdapat kuda bersayap yang terbuat dari kain. Rasulullah pun bertanya lebih lanjut, "Apa itu yang berada diantara mainan ini?" 'Aisyah menjawab, "Kuda." "Lalu apa yang menempel di tubuhnya itu?" tanya Rasulullah lagi. "Dua sayap" jawab 'Aisyah

Mendengar jawaban 'Aisyah ini, maka Rasulullah bertanya dengan sedikit keheranan "Kuda mempunyai dua sayap?" "Tidakkah engkau mendengar kisah tentang Nabi Sulaiman yang mempunya kuda bersayap?" jawab 'Aisyah menegaskan.

Mendengar jawaban 'Aisyah ini, maka Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi-gigi putihnya.

*****.
WAHAI RASULULLAH, APA YANG MEMBUATMU TERTAWA?

Ketika Aisyah sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan di rumahnya, tiba-tiba Rasulullah masuk ke dalam rumah. Saat itu Aisyah masih saja meneruskan perbincangannya dengan perempuan tersebut.

Beberapa saat kemudian Umar bin Khattab juga masuk. Begitu Umar memasuki rumah, Aisyah langsung terdiam menghentikan bicaranya dan duduk dengan tenang. Melihat perilaku Aisyah yang mendadak terdiam begitu melihat Umar, maka Rasulullah pun tertawa geli.

Karena penasaran, Umar pun bertanya "Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?"

Rasulullah bukannya langsung menjelaskan alasan tertawanya kepada Umar, beliau malah mengajak Umar keluar dan berbicara tentang hal lain. Umar pun berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pergi hingga aku mendengar Rasulullah mengatakan alasannya kepadaku."

Rasulullah pun lalu memerintahkan Aisyah untuk mengatakan alasannya. Dan Aisyah pun menjelaskan alasannya kepada Umar, bahwa diam-diam dia selalu gugup dan ketakutan setiap kali berhadapan dengan sosok Umar.

(Hahahaha cerita ini lucu dan hangat menurutku, karena terus terang mengingatkanku pada seorang kenalannya Mas Iwan, yang juga selalu membuatku gugup. Aduh aku kebayang aja gimana perasaan Aisyah ketika harus menjelaskan alasan kenapa dia yang tadinya lancar bicara tiba-tiba terdiam dan memilih duduk dengan tenang ketika Umar datang. Hehehe)

***

Ingin tahu kenapa Aisyah sampai gugup dan ketakutan dengan sosok Umar bin Khattab? Ternyata ada ceritanya. Berikut ini.

CERITA AISYAH, SAUDAH DAN DAGING KELINCI

Suatu hari Aisyah menghidangkan daging kelinci yang telah dimasak secara khusus untuk Rasulullah. Kemudian Aisyah berkata kepada Saudah (sedang Rasulullah waktu itu sedang berada ditengah-tengah kedua istrinya ini). "Wahai Saudah, makanlah daging ini."

Saudah enggan memakannya.

"​kα♏ŭ mau makan atau aku akan melumurkan makanan ini ke mukamu?!" kata Aisyah agak mengancam. Saudah tetap diam dan enggan untuk makan. Maka Aisyah meletakkan tangannya pada daging kelinci yang telah masak tersebut, lalu melumurkannya pada wajah Saudah.

Rasulullah pun tersenyum melihat tingkah Aisyah sembari mengusapkan tangannya ke wajah Saudah. "Sekarang lumurilah wajah Aisyah." Saudah melakukannya. Lalu beliau tertawa lagi.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada suara Umar bin Khattab "Wahai Abdullah... Wahai Abdullah..". Mendengar suara Umar ini, Rasulullah mengira Umar akan masuk kedalam rumah sehingga cepat-cepat beliau berkata kepada kedua istrinya "Berdiri dan basuhlah wajah kalian berdua."

Sejak kejadian itu, Aisyah merasa takut kepada Umar....karena Rasulullah sendiri pun segan kepadanya.

***

KAMU TIDAK AKAN SAKIT PERUT SETELAH MEMINUMNYA

Pada suatu ketika, Rasulullah bangun malam dan segera menuju sebuah kendi di samping rumah, lalu beliau langsung kencing didalamnya. Beberapa saat kemudian, Ummu Aiman bangun malam dan merasa kehausan. Tidak berpikir panjang, maka Ummu Aiman pun meminum air yang ada didalam kendi tersebut. Ummu Aiman sendiri waktu itu tidak merasakan suatu keanehan ketika meminumnya.

Menjelang pagi, Rasulullah bangun dan berkata "Wahai Ummu Aiman, bangun dan ambillah kendi itu, lalu tumpahkan isinya."

"Demi Allah aku telah meminum isinya!" seru Ummu Aiman. Mendengar jawaban itu, maka Rasulullah pun tak mampu membendung tawanya. Lalu beliau berkata "Adapun bagi kamu, maka tidak akan pernah merasakan sakit perut sama sekali."

(Wkwkwkwkwk berjuta rasanya baca cerita terakhir itu *tutup mata pake telapak tangan*)

*****

Rabu, 02 Februari 2011

Cina Or Not Cina

Judulnya "To Be Or Not To Be" banget ya hehe.

Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis soal ini, sudah bertahun lalu, tapi entah kenapa baru sekarang moodnya keluar.

Aku ingin cerita. Meskipun lahir dari keluarga Jawa asli, kata Ibukku dari kecil bahkan mungkin sejak dari bayi orang-orang selalu bilang aku kayak Cina. Mungkin perpaduan kulit putih Ibuku dan mata sipit Bapakku yang jadi penyebabnya. Kata Bapak, kulitku bahkan lebih terang daripada anak-anak keluarga Cina yang sesungguhnya.

Seiring aku besar, menempel semua lah panggilan seperti nonik, meme, cik, MeiShin dan lain sebagainya. Seingatku, waktu kanak-kanak aku selalu menangis -entah sedih entah marah, pokoknya nggak suka- dengan panggilan2 itu. Kebetulan Bapak juga pedagang, dan salah satu hal yang membuat aku benci kalau diminta jaga toko (jadi kasir) adalah ketika ada pembeli yang membayar dan mengangsurkan uangnya dengan embel-embel "Ini cik uangnya". Walaupun begitu, aku juga tahu bahwa Bapak banyak berhubungan dagang dengan orang-orang Cina.

Bukan hanya aku yang kena dampaknya. Bulik-bulikku (adik-adiknya Bapak) juga cerita bahwa ketika bermain bersama aku dulu ketika aku masih balita, mereka sering dikira pengasuhku. Tapi yang paling membuat aku menangis di jaman itu adalah bila sudah ada yang meledek bahwa aku mungkin bayi yang tertukar waktu lahir di RS, dan tangisku baru akan berhenti kalau Ibuk sudah bersumpah (lagi dan lagi) bahwa aku lahir dirumah nenek, bukan di RS. Jadi tidak mungkin tertukar.

Cerita yang sama terus berlanjut. Lulus SMA, selain mendaftar UMPTN aku juga mendaftar di sebuah universitas swasta di Surabaya, untuk cadangan bila nanti ternyata aku tidak lulus UMPTN. Sudah menjadi rahasia umum bahwa universitas itu juga menjadi jujugan favorit calon mahasiswa dari kalangan Cina Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya. Di meja pendaftaran, ketika menyerahkan berkas-berkas persyaratan aku sempat gontok-gontokan dengan petugas karena dia ngotot bahwa syarat pendaftaranku masih belum lengkap.

"Ijazah sudah, KTP, STTB, raport, lembar kesediaan orangtua sudah lengkap, apa lagi yang kurang, Pak?"

"Masih kurang Ce! Kalo pendaftar WNA kan harus ada surat WNA dan juga Surat Keterangan Nama Asli?? Punya Cece belum ada! Lhoooo belum adaaaa kannn??" sembur si Bapak sambil membeberkan seluruh isi mapku. Gubrak deh.

Kelak, aku baru bisa sedikit terbebas dari anggapan "orang cina" ini setelah aku berjilbab, di semester kedua kuliahku.

Selain sering dikira anak cina, ternyata aku kemudian bertemu banyak kawan yang memang asli Cina. Usia 6-12 tahun aku sempat aktif belajar di sebuah klub bulutangkis bernama PB. Tunas Harapan (TeHa) di Tulungagung. Tentu saja banyak teman-teman tionghoa disana, aku bahkan bersahabat dengan salah satunya, namanya Ay Chin (kelak dia sempat menjadi pemain nasional dengan nama Cindana).

Yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya adalah dua hal ini. Pertama, ketika aku menikah ternyata suamiku adalah seorang penggemar filsafat-filsafat Cina. Sekarang ini sih sudah tak terhitung banyaknya buku-buku filsafat Cina yang tersimpan dirumah. Dari yang bernuansa bisnis sampai ke soal life wisdom. Topik filsafat Cina tampak sama menonjolnya dengan buku-buku Agama Islam dan falsafah Jawa di koleksi pustaka kami.

Kedua, demi Tuhan aku tidak pernah sedikitpun menyadari bahwa didunia ini ada yang namanya diskriminasi anti-Cina dan dulu sempat parah terjadi di Indonesia (mungkin sampai sekarang, aku tak tahu pasti). Tadi pagi, di grup ВВМ seorang sahabat menceritakan bahwa dulu Bapaknya sering jadi korban salah sasaran diskriminan anti-Cina. Padahal bapaknya Jawa asli, cuma penampilannya mirip Cina. Mereka tinggal di Surabaya, ketika gerakan anti-Cina sedang meledak, beliau sempat lama nggak berani keluar rumah karena mobilnya pernah digebrak orang, diludahi dan dihujat pula.

Meskipun sering dibilang kayak Cina dan mengaku punya banyak teman orang Cina, mataku baru terbuka sekitar tahun 2007-2008 yang lalu, ketika aku berkenalan dengan Bang Benny Pangadian di Multiply.com. Awalnya sungguh aku mengira bahwa Bang Ben orangnya sangat penuh dengan negativitas, selalu mengeluhkan apa saja tentang Indonesia, apalagi kalau menyangkut perlakuan kepada orang-orang Tionghoa. Awalnya juga aku selalu menanggapi dengan kenaifan, dan seperti sibuk meyakinkan bahwa "Ohhh kok aku selama ini gak merasakan yang kayak gitu ya? Ohhh aku juga berhubungan dengan banyak orang Cina dalam kehidupan sehari-hari tapi kok gak kayak gitu ya? Semua biasa-biasa aja kok"

Singkat cerita, setelah aku bertemu dan sering sharing cerita dengan Bang Benny yang juga seorang fotografer ini, mataku pun terbuka lebar....bahwa ternyata versi cerita Bang Benny yang lebih dekat kepada realita disekitar kita. Mataku terbuka, dan mulut pikiranku pun seperti ternganga.

Sungguh, aku jadi makin sedih dengan diskriminasi seperti ini. Memang, ketika kecil aku menangis ketika semua orang meneriaki aku mirip anak Cina. Tapi aku tahu itu bukan karena kata-kata "Cina" nya. Toh aku masih balita, waktu itu aku pastilah masih polos lugu dan beringus, tak tahu ada apa dibalik kata Cina. Yang kutahu, waktu itu aku menangis karena aku merasa dianggap NGGAK MATCHING dengan anggota keluargaku yang lain. Bapak, Ibuk, adik-adik, om-tante, paklik-bulik semua berpenampakan Jawa, kenapa aku tidak?

Mau Cina, Jawa atau apapun sukunya, dipandang sebagai orang yang NGGAK MATCHING dengan lingkungan sekitar memang selalu tidak menyenangkan. Dan tahukah Anda, bahwa saat ini kawasan Pecinan selalu ada di hampir setiap kota besar di hampir semua negara di dunia ini? Orang-orang Cina selalu terkenal dengan keuletan dan kemampuannya bertahan hidup "nggak matching" ditengah-tengah bangsa apapun juga. Mau di negara Amerika, India, Indonesia atau daratan Eropa, selalu ada sekelompok orang-orang Cina yang eksis. Maka itu adalah sebuah kualitas.

Kembali kepada cerita Bang Benny. Apa daya, aku memang orang naif, itu sudah tak tertolong lagi. Yang membuat lebih sedih, diskriminasi biasanya berakhir dua arah. Seperti idiom "Mana yang lebih dulu, ayam atau telor?" ceritaku berikut ini membuktikan itu.

Suatu kali, di sebuah mall yang cukup prestisius di Surabaya, aku tertarik dengan sebuah handbag yang terpampang di sebuah butik. Tas itu bentuknya sederhana seperti yang biasa kusuka, dan bahannya terlihat bagus sekali. Sedangkan butiknya sendiri terlihat sangat mewah, ala HongKong sekali pokoknya. Sesuatu yang jarang terjadi, tapi aku memutuskan untuk sekali ini saja menuruti nafsu hati untuk membeli tas itu.

Mengesampingkan fakta bahwa aku berpenampilan "baju+jilbab kaus dan bersendal jepit" akupun memasuki butik itu. Pikirku, bukankah kalau mau membeli barang itu yang penting punya uang kan? Ternyata pelayan butik (yang maaf, walaupun tampak rapi tapi jelas2 sesuku banget dengan aku) seperti tak melihatku. Oh tidak, lebih buruk lagi. Dia melihatku tetapi dengan sebelah matanya, sementara mata yang satunya sibuk tertarik keatas sampai dagunya pun ikut-ikut tertarik keatas.

Menyerah, akupun ganti haluan menuju seseorang yang tampaknya bos disitu. Wanita Tionghoa yang cantik dan duduk anggun dibelakang meja kasir. Aku bertanya tentang tas yang kumaksud, dan tanpa menggeser sesentipun tempat duduknya, tahukah Anda apa jawabnya? "Itu tas mahal mbak"

Detik itu aku langsung keluar dari butik itu, dan bersumpah takkan kembali lagi kesitu atas alasan apapun. Bukan karena amarah, tapi lebih untuk bertekad melindungi diriku sendiri. Self-defence. Aku tak mau pengalamanku dengan orang-orang yang sangat kukasihani itu menjadi energi negatif yang akan menggerogoti prinsip yang selama ini aku yakini dalam hidupku.

Sebagai seorang muslim, aku percaya bahwa Tuhan Allah Sang Maha Pencipta itu SATU. Dan oleh karena itu membuat aku percaya, bahwa makhluk apapun yang hidup diatas bumi ini, diciptakan oleh satu Tuhan yang sama.

Selamat Tahun Baru Cina :-)

Minggu, 23 Januari 2011

Si Pemberani di Audisi American Idol Season 10

Duh, mewek gini jadinya. Jadi inget pesen orangtua2 dulu, hati-hati kalo anak atau bayi kita tertawa terlalu banyak, malamnya mereka bakalan rewel dan mewek terlalu banyak juga.

Siang ini leyeh-leyeh di kamar karena kurang enak badan, akupun mancep di acara rerun Audisi American Idol Season 10.

Tadi barusan ngakak-ngakak lihat beberapa kontestan audisi American Idol, ternyata berakhir emosional dan mewek nggak karuan. Gara-gara seorang peserta audisi juga!

Si peserta dari New Orleans ini (lupa deh siapa namanya) perempuan 22 tahun. Dia cerita bahwa ketika berumur 18 tahun, dia hamil, padahal dia sama sekali tidak siap. Tetapi dia memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya. Ketika kehamilan berusia 5 bulan, dia pergi menemui dokter untuk melihat jenis kelamin bayinya.

Ternyata, dari pemeriksaan itu ditemukan bahwa si janin mengalami hidrocepalus. Dokter menyarankan dia untuk mengakhiri kehamilan dengan alasan medis. Tetapi, dia pun tetap melanjutkan kehamilannya.

Alkisah, bayi kecilnya kemudian lahir perempuan, dengan disfungsi pendengaran dan beberapa gangguan lainnya. Si bayi yang udah berumur 3 tahun dibawa serta ke tempat audisi, dan asli dia cantik sekali! Dan tentang bayinya, berhubung dia sangat cinta bernyanyi, dia bilang dengan mata berkaca-kaca bahwa "I love her and definetely sing for her. She's the best thing ever happened in my life"

Ketika menyanyi di hadapan juri, semua terpukau. Jennifer Lopez sampai menitikkan airmata "I felt it" komentarnya. Aku?? Yang bener saja, ikut mewek dooonk! Ihiks....aku melihat peserta ini sungguh wanita yang sangat berani, dan yeah aku masih tetap lupa siapa namanya (dia lolos ke Hollywood sih, so I still hope to see her again).

So, coming from this, menurutku seorang pemberani adalah orang yang tahu bahwa suatu keputusan akan menjadi tidak mudah bahkan sangat sulit. Dia tahu itu dari awal, tetapi itu tidak merubah keputusannya untuk tetap menjalaninya. Setuju nggak?

Kira-kira keputusan berani apa yang pernah kawan-kawan ambil? Please share with me here.

Minggu, 02 Januari 2011

School Day One : March...March...March...!!

Senin, 3 Januari 2011

Hari yang sejuk (bahkan dingin) untuk memulai semester baru. Abe-Bea agak susah dibangunin tadi, tapi begitu bangun mereka terlihat ceria dan bersemangat. Good to know they kinda miss school like this. Miss their friends for sure. Dan gak tau ya, Surabaya yang terkenal panas akhir-akhir ini jadi dingiiinnn dan basaahhh. Kadang karena hujan, dan kabut! Wow, we're not complaining at all to see those fogs since we love it to bit.

Begitu ABEA salaman, peluk cium dan turun dari mobil, terpampanglah lagi pemandangan yang menakjubkan itu. Menarik sekali melihat cara berjalan mereka berdua itu.

"Jaga adik ya Be..." tak pernah alpa, pesan itu selalu kudengungkan kepada Abe ketika anak-anak turun dari mobil di parkiran sekolah.

100% mulut Abe tentu selalu menjawab "Iya, Buk." Tapi prakteknya? Sekali lagi, kali ini aku ingin cerita soal cara berjalan.

Hampir disaat bersamaan Abe dan Bea keluar dari mobil. Bersamaan pula mereka mulai melangkah menyusuri parking lot, menuju gerbang sekolah. Tapi matematikanya lucu sekali, karena ketika Abe menempuh langkah kelimanya, Bea mungkin sudah berada di langkah ke limabelasnya, bahkan dua puluh. Jadi ketika si Mister Ice Cool baru keluar dari parking lot dan bersiap menyeberang jalan yang menghubungkannya dengan gerbang sekolah, si Miss Pushy Pushy bisa-bisa sudah berada di kelasnya, sedang mengomeli temannya yang tidak tertib atau sibuk meminta ustadzah melihat tandatangannya di notebook untuk kesekian puluh kalinya.

Itu baru masalah kecepatan... Belum soal gaya berjalannya...

Bea itu.... *memutar bola mata mencari kata yang sesuai*....berjalan layaknya tentara. Fokus kepada tujuan, tak ada acara berhenti untuk lihat sana-sini atau mampir. Kalau melewati seseorang yang harus disapapun, kakinya hanya akan berhenti sepersekian detik, trus langsung dadagh-dadagh melanjutkan baris-berbarisnya. Langkahnya lebar-lebar dan cepat, sampai badannya harus seperti berayun supaya bisa keep up dengan langkahnya.

Gak ada feminin-femininnya. Bahkan terkesan gagah berani. Kesimpulannya cuma satu : EMAKNYA BANGET!!

:D

So, please kalo bisa JANGAN ada yang ajak aku ngemall yang harus window shopping gitu. Yang bentar-bentar berhenti, ngezoom pernik-pernik atau meneliti trend baju terbaru sambil membandingkan detilnya dengan toko sebelah. Jujur, aku tak ada bakat dan kemampuan untuk itu. Aku hanya melakukannya bila itu di supermarket untuk belanja bulanan, atau di toko buku atau memilih sesuatu yang memang sedang kubutuhkan dan menjadi satu-satunya alasan pergi ngemall selain makan dan nonton.. Selebihnya, setiap pergi ke pusat perbelanjaan, aku BERBARIS!

:D

Sabtu, 01 Januari 2011

#Wish2011 : Menulis Lagi

First of all, happy new year everyone. As I tweet on my @cikicikicik on new year morning yesterday:

Being able to LOVE others -whoever it is- is the most positive way to start the year, so let's express it. That way, you'll never feel any alone.

Biasanya, aku nggak bikin resolusi-resolusi khusus setiap tahun baru. Tapi tadi pagi tiba-tiba ada keinginan kuat tentang satu hal. Its all about expressing my love too, specially for my little dear family.

Aku rindu rajin menulis jurnal di blog lagi. Menulis keseharian kami. Sayang rasanya mengingat betapa setahun dua tahun ini banyak hal yang terjadi (specially with the kids) dan tidak terdokumentasikan dalam tulisan di jurnalku. Apalagi tadi sempat melihat postingan-postingan lama, duhhhh baru terasa bahwa tulisan tentang anak-anak bisa jadi harta karun buat aku ketika membacanya nanti kelak.

So God speed.... (⌣́_⌣̀)
*deuh sok serius deh*

Jumat, 08 Oktober 2010

Ketika Bola Indonesia Versus Uruguay

Wow! Tidak pernah terbayang aku bakal nulis soal BOLA. Tidak tidak, jangan salah faham, sampai detik ini aku tetap tidak paham dengan sepakbola. Bukan hanya tidak paham, tapi aku tidak habis pikir dimana letak bagus dan seninya. That thing just become my ignorant, period.

Tetapi semalam, Jumat 8 Oktober 2010, pas berbarengan dengan ultahnya Agyl (adikku yang gila bola), bareng juga dengan laga kesebelasan Indonesia menjamu tim kesebelasan Uruguay yang peringkat 4 dunia itu.....akhirnya aku bisa menikmati sepakbola!!

Jadi, begini ceritanya...

Mas Iwan, memang hobi bola. Setiap Jumat sore, selama dia sempat dia akan ikut bermain futsal bersama karyawan-karyawan. Karyawan disini tentu beragam dong, ada karyawan kantor (sales, admin dll) ada juga karyawan gudang atau bagian pengiriman (sopir, kenek, kuli dll).

Nah, sudah seminggu ini Mas Iwan umek. Asik merencanakan sebuah pertandingan bola ternyata. Kebetulan, ada seorang teman dekat yang juga dokter. Hobi bola juga, dan suka bermain futsal juga, bareng dengan teman-teman dokternya tentu. Sebut saja mas H.

Mas H dan MI, seminggu ini umek berdua jadi promotor. Asik merencanakan sebuah tanding futsal persahabatan. Antara kedua tim yang mereka ada didalamnya tentu saja. Akhirnya, pertandingan dilakukan kemarin sore. Jumat 8 Oktober 2010. Rencananya, setelah pertandingan mereka semua akan nonton bareng Indonesia vs Uruguay di tempat futsal. Pasti akan seru!

Yang sangat ingin aku tulis, bukan pertandingan INA vs URU. Bukan! Gila apa?? Tapi pertandingan Tim mas H vs Tim MI.

Dari awal, begitu mengetahui siapa yang menjadi lawan mereka, tim yang satu sudah keder duluan. Dan akhirnya sibuk protes menyalahkan promotornya. Kalau dibayangkan, mungkin seperti ini bunyi protes mereka.

"Yang bener saja! Masak kita disuruh lawan mereka?"

"Iya! Mana bisa kita menang? Ini tidak adil!"

"Promotornya minta didugang nih"

Hahahaha mungkin seperti itu lah kira-kira.

Akhirnya, kemarin itu terpampanglah sebuah pertandingan futsal yang lucu sekali. Satu tim, terdiri dari pemain-pemain diatas 30 tahunan, beberapa sudah menyimpan "bola empuk" didalam perutnya.

Tim lain, rata-rata cukup langsing, beberapa malah berotot. Walaupun ada yang berumur 30an, tapi secara umum masih kelihatan pantas berada di lapangan futsal. Didalam tim ini, mungkin hanya MI yang menyimpang bola lunak di perut, yang lain menyimpan bola-bola di lengan dan betis, itupun terbuat dari otot.

"Ingat, JANGAN bikin gol dulu, kita ajak dokter-dokter itu main oper-operan bola sampai PUAS dulu" pesan MI kepada timnya dengan mata berkilat. Sedangkan tim mas H mungkin masih sibuk ngomelin mas H, dan ini pasti bakal membuat mereka makin cepat PUAS main oper2an bolanya. Wkwkwkwk. Pada gak sopan ya, sama pak Dokter loh!

Aku, walaupun tidak menonton pertandingannya, mules ngikik geli duluan membayangkan kayak apa suasana lapangan futsalnya waktu itu. Walhasil, kata MI, pertengahan babak kedua, mereka sudah berhenti menghitung skornya. Percuma, katanya...

"Dapet goal tiga karung kita!" seru Pakde Choiri, kepala gudang MI. Bangga loh, bisa menang lawan dokter-dokter! Kapan lagi coba kalau bukan di lapangan futsal???

Perkiraan MI, ketika timnya sudah giat kembali bekerja di gudang dan kantor mengangkuti kiriman paku pagi ini, para dokter di tim yang satunya bisa jadi masih meringis menahan rasa "njarem" dan linu tegang di otot kaki mereka. Khusus mas H, mungkin linunya sampai ke telinga dan hati, karena diomelin juga sama anggota timnya. Hihihihi sekali lagi, ini kata MI loh yaaaa *pissss mas H* hihihihi.

:D

Tapi, kata MI juga, adalah pemandangan yang luar biasa melihat karyawan-karyawannya bisa nobar bola Indonesia vs Uruguay setelah pertandingan itu. It's just Lovely....!

:)

Rabu, 29 September 2010

(Inspirational Story) Menjadi Manusia Yang Lebih Bahagia

Cerita ini barusan aku dengar di radio, waktu nyetir sendirian sehabis drop anak-anak sekolah. Topiknya adalah kenapa di jaman sekarang ini, dimana manusia sudah sangat maju dan kehidupan bisa sedemikian sophisticated, tapi justru di sisi lain angka kejadian bunuh diri meningkat dimana-mana. Ternyata semua kemajuan didunia masa kini yang sudah dicapai umat manusia tidak memberikan kebahagiaan buat manusia. Manusia memang makin maju, tetapi mereka dinilai makin tidak bahagia dengan kehidupannya.

 

Jadi konon, tersebutlah seorang laki-laki tua yang sudah menduda. Dia mempunyai 2 orang anak laki-laki yang keduanya sudah berkeluarga. Anak pertama adalah seorang penjual es kelapa muda, dan anak keduanya penjual bajigur.

 

Setiap saat, hidup si kakek ini dipenuhi dengan kekhawatiran. Ketika musim panas, dia selalu sedih memikirkan nasib anak keduanya yang hidup dari menjual bajigur. “Panas-panas begini, mana ada yang akan beli bajigur ya??” Begitu selalu hatinya bertanya-tanya dengan perasaan khawatir.  “Lalu bagaimana anak keduaku akan mendapat uang nafkah kalau dagangannya sepi tak ada yang beli?? Mana kemarin anaknya baru sakit pula, kasihan anakku...”

 

Pun ketika musim dingin tiba, si kakek kembali dipenuhi kekhawatiran akan nasib anak pertamanya yang menjual es kelapa muda. “Dingin-dingin hujan begini, mana ada orang yang beli es kelapa muda ya? Lalu bagaimana anak pertamaku akan mendapatkan nafkah untuk keluarganya?? Padahal ini musim tahun ajaran baru untuk sekolah anak-anaknya. Kasihan sekali anakku itu...”

 

Demikianlah, hidup si kakek dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketakutan akan nasib anaknya. Lama-lama, si kakekpun gampang sekali sakit, dan makin lama makin parah, dan menjadi beban tersendiri untuk anak-anaknya. Sampai kemudian dia berobat kepada orang pintar. Si orang pintar ini bertanya pengobatan apa saja yang sudah ditempuh oleh si kakek.

“Sudah segala macam, dari jamu-jamu yang murah sampai obat-obatan mahal. Ada yang menyarankan saya merubah posisi tidur, sudah saya coba, tapi tetap tidak membantu” kata kakek tersebut.

“Yang harus Bapak rubah sebenarnya bukanlah posisi tidur Bapak.” kata si orang pintar. “Yang harus Bapak rubah adalah arah pikiran Bapak!”

“Nah, sekarang saja mengajak Bapak untuk berpikir seperti ini. Di musim panas, pikirkanlah anak Bapak yang menjual es kelapa muda. Betapa akan laris dagangannya. Betapa banyak keuntungan yang dia dapat dari penjualannya di musim panas itu, sehingga mungkin saja dia akan bisa menabung, sehingga mempunyai simpanan yang bisa dipakai disaat musim dingin dan dagangannya menjadi lebih sepi. Betapa menyenangkannya musim panas buat anak bapak dan keluarganya.”

 

“Sedangkan di musim dingin, cobalah Bapak memikirkan betapa larisnya dagangan bajigur anak kedua Bapak. Betapa akan larisnya usaha jualannya, dan betapa musim dingin adalah musim yang menyenangkan buat bapak, anak bapak dan kelularganya.”

 

Si kakek kemudian mencoba menerapkan saran orang pintar itu, dan berangsur-angsur si Bapak menjadi orang yang bersyukur dan selalu berbahagia di musim apapun sepanjang tahun. Diapun kemudian menjadi jauh lebih sehat dan senantiasa bahagia.

Moral cerita jelas. Sebenarnya, ada banyak sekali sumber-sumber kebahagiaan yang bisa kita syukuri dari keseharian kita. Menjadikan kita manusia yang lebih bahagia, dan karenanya bisa berpikir lebih positif.

Tadi pagi, saat sarapan dirumahku sempat ribut karena urusan telur. Bikin puyeng karena urusan sesepele itu, anak-anak ribut eyel2an. Kebetulan mereka sarapan dengan menu nasi telur-keju. Si Bea mempertengkarkan kenapa kuning-telur di piring Abe lebih banyak daripada kuning-telur di piringnya. Padahal Bea suka kuning telur! Rame deh jadinya, karena Abe tidak mau mengalah dan menukar piringnya. Dan rasanya Ibuk pengen ngomelin si ayam, kenapa mereka tidak bertelur dengan kadar kuning-telur yang sama dan konsisten saja sich!?!?

 

Pertengkaran anak-anak selalu bikin pusing, Tapi ketika mereka semua berangkat sekolah dan aku kembali kerumah yang terasa sepi kosong begini, pertengkaran itu menjadi terasa manis sekarang. Bikin aku senyum-senyum sendiri mengingatnya, punya dua anak yang keduanya hobi ngeyel dan pintar mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri begitu. Dan kalo dipikir-pikir, suasana rumah yang sepi begini memang nggak enak, nggak rame, tapi bagaimanapun, suasana ini membuatku bisa menyediakan waktu ekstra untuk menulis lagi. Bukankah begitu?

 

Jadi, bagaimanapun keadaan Anda hari ini, betapa beratnya Anda rasakan kehidupan Anda sekarang, cari yuk, apa sumber kebahagiaan Anda pagi ini?? Jangan temukan satu, tapi temukan 2, 3 atau lebih dari itu, insyaAllah mudah-mudahan Anda akan menjadi orang yang lebih berbahagia hari ini.

Rabu, 22 September 2010

Hukuman Ataukah Petualangan? (Kisah Anak Jaman Sekarang)

Hemm... Lama juga nggak ngeNOTE ya, mumpung lagi manyun di parkiran nunggu Carrefour buka, ketik bentar ahh...

Barusan, geli juga baca status FB nya Mbak Niar soal Ubay putra bungsunya.

"Ubay cs TK B kmrn disetrap ustadzah krn bercanda melulu wkt doa n sholat,di rmh dia cerita sambil ketawa2...katanya lucu,seru disuruh berdiri lama gayanya macem2 kyk patung. Masyaallah trnyata dia g ngeh kl itu sanksi...efektif g sih...?"

Hihihihi.... Anak-anak jaman sekarang... Kenapa aku geli, karena hal yang sama juga sering terjadi sama anak-anakku sendiri.

Bu Ina, guru Abe di TK bercerita setelah Abe membuat kehebohan. Suatu hari Abe tidak tertib ketika berdoa menjelang pulang sekolahd. Bukannya ikut melafalkan doa, dia malah sibuk ngobrol sendiri. Bukan mengajak ngobrol temannya loh, tapi benar-benar ngobrol sama dirinya sendiri. Abe memang suka sekali melakukannya, bahkan sampai sekarang walaupun sudah kelas 4 SD. Setelah berkali-kali diingatkan dan tidak jua kunjung tertib berdoa, akhirnya Bu Ina mendekati Abe.

"Abe, ada gak ya caranya supaya Abe bisa berhenti ngobrol sebentaaaaaar saja, lalu ikut berdoa? Kan sekarang bukan waktrunya mengobrol sendiri?", tanya Bu Ina dengan sabar.

"Ada! Mulutnya Abe ditutup pake selotip saja Bu Ina!", jawab Abe (herannya) dengan antusias! Bu Ina sempat kaget dong, tapi Abe meyakinkan bahwa itu ide bagus dan kemudian dengan berat hati campur khawatir campur entah perasaan apalagi, Bu Ina pun akhirnya menemani Abe ke tempat peralatan.

Tebak apa yang Abe lakukan? Bukannya memilih selotip, Abe malah memilih LAKBAN warna hitam untuk menutup mulut mungilnya.
Aku yang sedang mengobrol dengan ibu-ibu walimurid lain di teras sambil nunggu anak-anak pulang, tiba-tiba saja sudah mendengar kehebohan yang diciptakan semua ibu-ibu, embak dan suster pengasuh, juga guru-guru dan anak-anak lain yang ada disitu. Semua mata terarah ke depan kelas Abe, dan banyak reaksi terdengar demi melihat Abe berdiri disitu, dengan LAKBAN HITAM tertempel di mulutnya! Mulut yang walaupun tertutup lakban sampai pipi, tapi masih kelihatan TERSENYUM.

"Abe kenapa itu mbaakkkk??", orang-orang terutama teman-teman walimurid pada memekik.

Bu Ina, yang berdiri disamping Abe buru-buru menghampiriku dan menjelaskan semuanya. Bahwa ini semua ide Abe sendiri. Bahwa dia juga nggak yakin waktu memutuskan menuruti Abe tadi. Dan aku segera menyadari bahwa pekikan orang-orang tadi berubah menjadi ketawa apalagi begitu melihat ekspresi Abe.

Senyum-senyum sendiri dibalik lakban...loncat2 kegirangan....sorot mata antusias dan bahasa tubuh yang seolah meneriakkan "Ibuuuukkk! Ideku bagus kan??seru kan??wowww ada lakban di mulutku Buukkk!! Ibuk Lihat dehhh!!"

Acara berdoa yang diharapkan tenang setelah Abe berhenti mengobrol di kelas tadi, nggak tau deh gimana nasibnya kemudian... *ngikik campur hela napas*

Kelas 1SD, lebih seru lagi. Gedung sekolah SD jauh lebih besar dari TK dong. Banyak yang bisa dilakukan dan dieksplorasi disana. Minggu-minggu pertama sekolah, Ust. Bambang dan Ust. Imam kudu ikut bereksplorasi kesana-kesini karena di banyak jam pelajaran, Abe menghilang dari kelas. Atau tidak kembali ke kelas tepat pada waktunya. Telat 10 menit, 15 menit.....20 menit sih sudah lebih dari cukup.

Ustad pun terpaksa safari keliling sekolah untuk mencari Abe yang kemudian diketemukan di tempat-tempat yang "seru dan biasanya di bagian pojok lingkungan sekolah" bersama beberapa temannya. Di parkiran. motor, kebun sekolah, tapi kebanyakan biasanya mereka ditemukan diatas rumah pohon.

Hebatnya rumah pohon yang berada tepat dibelakang barisan ruang kelas 1 SD Al Hikmah itu, adalah dari situ anak-anak bisa melihat banyak pemandangan. Suatu kali, si Pasya (salah satu teman Abe) menemukan bahwa dari situ ternyata bisa sedikit melihat kamar mandi siswa perempuan. Hebohlah anak-anak itu!

Dan ketika Ustad menemukan mereka, dari lima atau enam anak yang ada dirumah pohon, kebetulan yang dua orang sudah turun, termasuk Abe, sedang yang lain masih asyik cekikikan sambil perhatiannya terarah ke kamar mandi cewek (yang notabene katanya juga lagi kosong, tapi anak-anak cowo ini nggak tau kenapa kok ya cekikikan).

Anak-anak yang ketika tertangkap basah masih ada diatas, kemudian diajak ustad untuk masuk ruang "time-out". Sebenarnya tak ada yang istimewa dari ruangan ini, kecuali tertutup (aku lupa apakah memang tidak ada jendela atau jendelanya tak pernah dibuka). Yang jelas itu memang ruang "time-out", jadi memang didesain membosankan pastinya. Cuma ada meja dan bangku disitu, biasanya juga tidak dipakai wakaupun selalu terlkihat bersih.

Yang membuat ruangan itu istimewa adalah ekspresi teman-temannya Abe ketika kemudian diijinkan keluar dan kembali ke kelas masing-masing. Sesampai di kelas, heboh mereka bercerita kepada teman yang lain. Heboh layaknya orang yang baru pulang dari sebuah petualangan yang seru.

"Kita tadi masuk di ruangan keren lohh!", dengan mata dan ekspresi antusias.

"Iya, mirip penjara rekk!" Gambaran yang lebay tentunya dari anak-anak itu, karena aku tahu persis ruangan yang dimaksud dan tak sedikitpun mengandung unsur "penjara".

Dan ketika dirumah Abe selesai bercerita betapa teman-temannya sangat seru bermain tawan-tawanan di ruangan itu, dia pun bertanya.

"Buk, kenapa tadi aku nggak ikut dimasukkan ke ruangan penjara itu ya Buk?".....ahh nada irinya kelihatan banget...

"Mungkin karena tadi Abe kan tidak ikut mengintip kamar mandi perempuan kan?"

Abe yang masih kelas 1 SD berpikir sejenak....

"Jadi kalau Abe kepingin masuk ke ruang penjara, Abe kudu ikut mengintip kamar mandi anak perempuan ya...?"

Sumpah, sekarang aku sudah bener-bener lupa waktu itu menjawab apa ke dia!

Dan jangan mengira itu hanya terjadi di sekolah saja. Dirumah pun tak jauh beda. Intinya, ketika aku terpaksa memberikan konsekuensi tertentu atas perilaku yang kurang baik, maka konsekuensi itu bukan hanya diterima dengan 'besar hati' tetapi malah dengan 'senang hati'. Aku hanya bisa tertawa dalam hati melihatnya, sambil menahan berjuta rasa, hihihi.

***

Itulah...

Bahasa anak-anak memang beda dengan orang dewasa. Semua pasti menyadari itu. Yang mungkin jarang disadari oleh kita para orang dewasa yang mengaku sudah mengerti asam garam kehidupan ini adalah, bahwa justru kitalah yang harus belajar banyak dari anak-anak.

Kita yang dewasa justru sudah banyak terkotori dan tertipu banyak hal yang ada di dunia ini. Dan idola kita seorang manusia secerdas Ali bin Abi Thalib pun mengatakan bahwa segala sesuatu yang didunia adalah palsu dan menipu. Jadi kalau kita ingin belajar dari jenis manusia yang masih belum banyak "terlena dan tertipu", salah satunya adalah anak-anak ini. Mereka berhati lebih bening, tak ada prasangka, bahkan ketika orang dewasa berniat memberikan sanksi pun, mereka malah menyambutnya sebagai tawaran atas sebuah petualangan yang seru dan menyenangkan! Wkwkwkwk.

Tul nggak sih? :D

Oya, bicara soal beda bahasa, selama ini dirumah kami ada satu bahasa yang sama sih. Yang sama-sama dipahami dan dimengerti baik oleh orangtua (aku-suami) maupun anak-anak (Abe-Bea). Bahasa itu adalah : Kalau sampai Ibuk sudah DIAM tak bicara, maka itu berarti Ibuk memang benar-benar sedang MARAH. Dan itu adalah konsekuensi dan sanksi yang paling MENYIKSA buat Abe dan Bea, dan karenanya menjadi EFEKTIF.

:D

Tapi yah... Semoga saja konsekuensi itu tetap jarang kuterapkan ya, karena kalau terlalu sering diterapkan takutnya tidak akan efektif lagi. Dan kalau sudah begitu, pasti akan sangat SULIT menemukan bentuk2 sanksi yang efektif buat anak-anak jaman sekarang yang gemar "berpetualang" ini. Huehehehe...



***

Senin, 09 Agustus 2010

Si Mona, Bunda Agustin dan Kejutan Tulang Segede Gajah (Part 1)

***

Sabtu lalu, di sela-sela sinyal wifi yang putus nyambung di Causeway Bay, masuklah pesan BBM dari mbak Jacq. “Bee...besok ternyata aku nginep di Surabaya. Kamu lagi gak ada di SUB ya?”

Baru saja aku mengetikkan beberapa huruf balasan, wifi pun meredup, dan baru malamnya aku bisa balas, ketika aku sudah kembali ke tanah air. “Hai, asyikk! Di SUB sampai kapan?? Kerjain Mb Mona aja yuk, kalian belum pernah ketemu kan??”

Mb Jacq : “Minggu malam aku landing SUB. Senin siang jam 12 kudu terbang lagi ampe malam. Kamu atur yaa, tapi jangan yang susah-susah peranku.”

Lalu, datang juga BBM dari Mb Shiel. “Be, Jacq Senin pagi ngajak ketemuan.... Yuuk ngerjain Mona! Kamu ama Cindul ajak dia sarapan, nanti aku ama Mb Agustin yang jemput Jacq di Marriot...piye??”

Kompak deh. Ngerjain Mb Mona?? Ojreeeett!! Sejak beberapa bulan ini mb Mona memang jadi target utama kalo ada temen2 dudulers luar kota yang datang ke Surabaya, karena banyak yang belum pernah ketemu langsung (kodpar) sama dia **senyum nakal**

 

Aku dan Mb Shiel pun atur-atur rencana, BBM an sampe tengah malam dan mb Shiel semangat sekali. “Si Jacq kok ya datang pas bunda Ag ulangtahun yo. Kebeneran nih Be. Kamu bilang aja ke Mona kalo kita mau kasih surprise ke mb Ag. Aku juga akan bilang ke mb Ag kalo kita mau kasih surprise ke Mona (karena Mona belum pernah ketemu Jacq). Kita beli kue aja ntar, Jacq kan nggak tahu kalo mb Ag ultah, mb Ag juga nggak tahu kalo bakal ada kue ultah, dia taunya kita mau kerjain Mona. Sedang Mona juga gaktau kalo dia dikerjain, taunya dia kita ngerjain mb Ag dengan kue ultah itu. Asyik, korbannya banyak!! Huahahaha”

 

Hayyaaahhh wakakakak *ikut lunjak-lunjak*. Karena masih berkutat dengan ABEA yang kangen setelah 3 hari kutinggal pergi, tanpa direncanakan akupun ternyata mengikuti langkah mb Maya di Jakarta. Aku mulai pensiun jadi sutradara dan penyusun skenario. Aku ikuti saja semangat dan adrenalin mb Shiel yang mulai bergejolak. Pingin tahu apa yang dia lakukan untuk mendapatkan skenario? Watch this!

Mb Shiel : “Be, aku udah suruh Mb Agustin jadi sutradara...tapi dia malah tanya ‘Aku disuruh apa??’...DWENGG!!! Kujawab aja ‘Woooi! Sutradara itu yang NYURUH-NYURUH mbuaakkkk!!’ Wkwkwkwkwk!!”

 

Aku ikut “DWENGG!!” melihat cara usahanya mendapat skenario itu *sigh*

 

Akupun hubungi mb Cindy dan mb Mona. Mb Mona tentu saja langsung semangat mendengar rencana “kasih bunda Ag surprise di ultahnya”. Gampang banget deh kalo mencari semangat dari diri si bedul satu itu wkwkwk. Sedang mb Cindy, ternyata perjalanan pulangnya dari Ambon ke SUB tidak semulus yang direncanakan. Minggu sore pesawatnya delay selama 5 jam di Ambon (padahal keempat bidadarinya ikut semua tuh, rombongan sirkus), dan ketika transit di Makassar ternyata kena disconnect, dan akhirnya kudu nginep di Makassar sampe Senin. Terpaksa mb Cindy gak bisa ikut rencana Senin pagi itu.

Ya, pagi karena Senin jam 10 nya, aku dan mb Mona ada undangan pengajian sama-sama. Mb Jacq pun, jam 11 siang kudu balik siap-siap untuk terbang lagi. Jadi kita janjian ngumpul jam 8.30 di sate klopo Ondomohen. Mb Shiel n Mb Ag datang bersama mb Jacq, dan aku akan datang bersama mb Mona. Malam itu juga, karena mb Mona sedang berada diluar sementara aku sudah ngandang dirumah, maka aku minta dia sekalian beliin kue ultah buat mb Agustin.

Aku BBM lagi mb Mona “Besok kamu berangkat bareng anak2 sekolah aja ya, siapatau ada perubahan jam dan bisa lebih pagi kan enak, kita bisa nggak-telat datang ke pengajian”. Karena kukirim ketika aku terbangun tengah malam, aku nggak heran kalau pesannya cuma “delivered” dan belum terbaca.

Senin pagi, pesan itu ternyata tetap belum terbaca. Sehabis drop kids aku telpon mb Mona. Gak bisa! Telpon lagi, gak bisa lagi! Nomornya nggak bisa dihubungi, sedang nomor satunya nggak diangkat. Aku mulai mules. Teringat bahwa kue ultah mb Agustin ada di dia. Di chat aku curhat ke mb Cindy, dan mb Cindy pun ikut nggetu hubungi nomor mb Mona dari Makassar. Nggak bisa!! Huwaaaa what the heck happen with her phone??? BBM apalagi, dianggurin dan pesanku semalam tetap belum terbaca.

Emak... Padahal aku sudah nggak dapuk sutradara, tapi kenapa plintiran ini tetap ada?? Perutku makin mulas ketika mb Shiel mengabarkan dia dan mb Agustin sudah on the way Marriot. Akhirnya kuputuskan untuk ninggal mb Mona, dan berangkat ke Marriot sendiri. Sepanjang perjalanan terus kuhubungi dia, dan terus saja si telepon tidak terangkat atau failed sampai aku tiba di Marriot. Kriting deh...

Ketemu mb Jacq, aahhh it’s always sooo nice seeing her again! *smooch*

Kita bertiga pun akhirnya pergi ke Ondomohen, niat sarapan sate klopo. Di perjalanan kita semua khawatir demi melihat bunda Agustin yang pucat dan terlihat sangat lesu. Dia memang sedang puasa, tapi asli wajahnya tidak seperti biasa ketika dia puasa. Akhirnya bisa ditebak. Kamipun malah bujuk-bujuk bunda untuk mokel alias mbatalin puasa. Dudul, tapi asli gak tega liat wajah bunda.

Sate Ondomohen ternyata tutup, kalo Senin mereka baru buka jam 11 siang. Kamipun putar haluan menuju Bubur Ayam Inkos. Eh tutup juga! Wakakakak! Naseeb! “Makanya jangan ajak orang yang berpuasa cari sarapan doonngg, begini akibatnya” seloroh mb Jacq. Akhirnya kita sarapan di Soto Gubeng. Di tempat yang sama aku pernah ajak Meri sarapan ketika dia berkunjung ke Surabaya beberapa bulan lalu, jadi tempat ini menyimpan memori bagiku bersama teman dudulers. Dan ternyata, kunjunganku hari ini juga sama, membawa memori. ME-MO-RI...!!

Oya, Mb Mona akhirnya telpon! Dia cengengesan dan say sorry karena dia masih dirumah, baru bangun tidur. Hayaahhh!! “Ya udah, sate Ondomohen tutup kita batal kesana. Kamu ke Marriot aja ya mbak, habis nyoto kita ke Marriot karena bunda ada janji dengan temennya disana. Tunggu kami disana. Karena kalo kamu kesini pasti nggak keburu.”

Oke, kitapun pesen-pesen. Mb Jacq pesen Soto Buntut setelah ngiler lihat di meja sebelah ada buntut sebesar gajah yang menggoda didalam mangkok. Padahal itu buntut sapi loh, kok bisa sebesar gajah ya? Wkwkwkwkw. Dan kami (terutama mb Shiel hahaha) makin gencar membujuk bunda untuk mokel (membatalkan puasanya). Wajahnya asli kuyu, pucet dan lesu. “Daripada nanti jam 3 siang kamu telpon aku mbak, ngabari kalo kamu mokel juga akhirnya?? Kan mending sekarang masih pagi” kata mb Shiel setengah ngomel, wkwkwk.

Wajah lesu bunda kelihatan (berusaha) tegar walau dia menggeleng dengan lemas ketika kami menawari dia pesen soto. Akhirnya kita bertiga pun makan, sementara bunda berusaha mencari kesibukan dengan bebenya dengan lemas. Dia mengambil foto kami bertiga, dan buru-buru mb Shiel memperingatkan lagi, kali ini bukan tentang puasa.

“Awas lo mbak, jangan upload-upload foto dulu, apalagi ke grup BBM. Ada Mona disitu, jangan sampai dia tahu kalo ada Jacq!”

“Iyo yo...” jawab bunda sambil ngikik lirih (masih dengan wajah lemas). Sambil meneruskan makan, kitapun ngobrol ngalor ngidul. Well, kita bertiga tepatnya yang ngobrol, karena bunda banyak diam mendengarkan saja karena lemas. Sambil cek-cek bebe nya. Tak lama kemudian, mb Mona mengabarkan kalau dia sudah duduk manis di lobby Marriot menunggu kita.

Kami meneruskan makan, ngobrol-ngobrol sambil rencana nanti gimana caranya membuat surprise buat mb Mona. Bunda yang sebelumnya diharapkan jadi sutradara, ternyata lagi lemes lesu dan puasa, mana kami tega mendorongnya lebih jauh lagi?? Tetap dalam rangka mencoba mengalihkan perhatian dari makanan, sebentar-sebentar bunda melongok ke bebenya. Juga ke piring mb Jacq yang berisi buntut gajah dan berada tepat didepannya. Foto-foto juga. Tiba-tiba...

Mendadak ketika melihat layar bebenya, wajah bunda jadi horror, seperti shock begitu. Seperti menyadari sesuatu yang mengerikan, lalu refleks dia lirik mb Shiel disebelahnya, dengan takut-takut. Aku yang sudah mengenal mereka berdua, nggak perlu waktu lama untuk menyadari ada yang nggak beres baru saja terjadi. Mb Shiel pun begitu...

“Lhoo....aku sudah upload....” kata bunda lirih...suaranya sangat memilukan...

“Upload apa mbak??” Mb Shiel sudah mendelik tuh...lalu kami semua ikut melongok ke layar bebe bunda.

Di grup BBM (dimana didalamnya ada mb Mona tentu saja!), sudah terpampang sebuah foto mangkok berisi tulang belulang segede gajah. Bunda yang upload. Sebenarnya foto itu tidak menjadi masalah, karena hanya berisi mangkok berisi tulang, hanya itu! Tapi kami semua lemas (kecuali mb Shiel, dia njeplak!) demi membaca caption yang diketikkan bunda dibawah foto itu.

“Jacq sadis euy”

“Looohhhh gimana siihhh???” seru mb Shiel galak. Kami saling berpandangan, wajah kami ikut horror (kecuali mb Shiel, dia mendelik!) terutama bunda. Darah seperti sudah menghilang dari wajahnya yang sudah pucat. “Engg...Nggak bisa dihapus ya....??” tanya bunda lemas, dengan mata mematung di layar bebe. Mata kami semua juga mematung ke bebe bunda (kecuali mb Shiel, matanya masih mendelik!).

“Mudah-mudahan Mona gak lihat grup ya...” masih suara pilu bunda. Kami semua sudah meledak dengan tawa pilu saking speechlessnya (kecuali mb Shiel, dia mendelik mematung dan memandang bunda dengan galak sekarang!)

Mb Shiel sambil menyendok soto dengan suara sendok berdentang terlalu keras, “Mona itu sekarang lagi duduk manis di hotel nunggu kita! Coba kalo kita jadi dia, gak ada kerjaan gitu, kita ngapain?? Pasti buka-buka bebe!! Buka grup!!”

Terlepas dari suara sendok itu, Mb Shiel benar, karena komen pertama yang datang ke foto yang diupload bunda itu, adalah mb Mona.... “Loohh, mba Jacq lagi di Surabaya yahh??”

Whuakakakakakakakakakak! Kami udah meledak dalam tawa semua, tawa yang bercampur gemes, pilu, gregetan, speechless, dan berjuta emosi lainnya yang susaahhh dijelaskan. Susahhhh apalagi kalo lihat wajah bunda sekarang!! Dan wajah mb Shiel yang plerak-plerok mendeliki bunda! Balik ke wajah bunda lagi yang makin melas menghiba! Mbak Shiel mlerok ke dia! Huwahahahahahah.

Bunda belum menyerah, masih berniat ngeles, dia komen juga di foto itu... “Sadis jek! Maksudnya...”

“Percuma mbaakkkk, percumaaaa!” kata kita semua sambil ngakak gila. Benar saja, mb Mona menjawab komen lagi “Aaaahhh bo’ooonnngggg.... Hayo bunda, ngakuuuuuu”

Untunglah nun jauh disana, ada seseorang yang cerdas dan berniat baik untuk membantu. Seseorang yang memang sudah tahu adanya skenario ini, dan diapun ikut komenin fotonya.

Mb Maya : “Iiiihhhh, maksudnya ini tulang kaya tulang Jacq? Mentang2 Jacq kuruuusssss.... Giliran tulang buntut berlemak, dibilang tulangku nantiiiii...”

Mona : “Eeh, ini lagi pada ekting yaaa, ayo ngakuuu.. Mb Jaacq, dimana dirimu mbaakk?  Yuhuuuuu *celingukan di Marriot*

Mb Maya : “Kamu di Marriot Mon? aku gak diundang? Merayakan bunda birthday yaaa *iri dan dengki*”

Di BBM japriku, diatas ada mb Mona yang teriak2 histeris merasa lunjak-lunjak diatas angin karena dia udah merasa kalau surprised buat dirinya sudah terbuka lebar-lebar didepan mata, semantara di bawahnya mb Maya BBM ke aku dengan panik “Itu kenapa bunda upload fotooo????”

Huwakakakakkakakak!! Buyaarrr!! Buyaarrrr!! Buyaaaaarrrrrr!!!! *ikut banting sendok dengan gemas*

 

***

Begitulah....

Masih ada banyak cerita seru dan lucu dibalik note, besok saja kutulis ya....

Hihihihi... *makin jatuh cinta deh ama bunda Ag* 

Senin, 26 Juli 2010

Hari Yang Linglung

***

Sudah 2 minggu Bea resmi menjadi murid SD. Semua keharuan itu, ketika menjahitkan badge di seragamnya, ketika menyampuli buku-bukunya, ngeprint fotonya untuk dijadiin sticker, melihatnya pertama berangkat dengan seragam merah hatinya, tentu saja semua itu sangat klise tapi tetap sangat menyentuh. Bulan ini aku asli banyak meweknya. Ya Allah, rahmatMu Ya Allah...

Tetapi baru Senin (26Juli'10) kemarinlah kurasakan efek sebenarnya. Selama dua minggu pertama Bea masih MOS, dan pulang siang jam 12, sama seperti sebelumnya waktu dia masih di TK. Hari masih terasa 'normal'. Sepulang sekolah kita masih pergi berdua, main dakon atau nonton dvd dirumah, atau masak berdua makanan buat dibawain nanti sorenya waktu jemput mas Abe.

Senin kemarin, akhirnya Bea mulai fullday pulang jam 4 sore. Bea sendiri sudah mulai kemarin-kemarinnya bersemangat. Bangga bener dia karena sudah sekolah pulang sore, sama kaya Mas Abe. Dan dia lunjak-lunjak tiap kali ingat "horeee, akan ada mata pelajarannn!!". Aku geli karena latihan soal di buku paket Bhs. Indonesia dan Bhs. Inggris kelas 1 itu sudah habis dilalap Bea sampai bab tiga. Abe sampai keheranan "Bea itu kenapa sih Buk kok suka sekali pelajaran sekolah?? Heran deh! Enakan maen game!"

Hayaahhh

Kemarin, sehabis ngedrop kids pagi, jam 7.30 aku sudah balik kerumah. Sarapan, lalu berniat gelar yoga mat, tapi urung. Akhirnya pegang BB chat sana-sini terutama dengan MI yang dari kemarin luar kota. Buka-buka buku sebentar baca apapun yang bisa dibaca (karena nisfu sya'ban ini kok yaaa pas mens hiks), sekitar jam 10 baru aku sadar sesuatu.

Aku linglung....

Rumah dan hati ini, entah bagaimana tiba-tiba terasa sangat sepi. Huhuuuu. Sentimentil ya. Semacam terlalu dini untuk syndrom Empty Nest. Dua puluh tahun terlalu dini. Tapi ah, biarin aja. Habis mau gimana lagi, ini yang kurasakan. Mungkin juga karena MI pernah janji akan menemani jika hari ini tiba, tapi ternyata dia malah harus keluar kota. Hiks.

Jam 12.00 siang. Beaaaaaa, Ibuk rinduuuuu! Huhuuuu :'(

Pengen curhat, telpon ibukku tapi jam segitu pasti Uti umek makan siang, dhuhur, tutup toko waktunya istirahat.

Linglung bingung mau ngapain dirumah. Ya Allah, bukannya sekali ini sendirian sepi dirumah. Tapi kenyataan bahwa ini hari pertama Bea sekolah sampai sore kenapa membuatnya jadi beda ya. TV kabel kok yaa nggak membantu. HBO dudul semua filmnya, Discovery lagi bahas atom (gak ngerti!), bahkan AFC pun tak ada yang lezat.

Spontan bin impulsive, aku bergegas ganti baju dan ambil kunci mobil. Ngemall aja lah (padahal gak hobi ngemall tuh wkwkwk).

So, sepuluh menit kemudian aku sudah luntang lantung di Cito deket rumah. Akhirnya (masih dengan impulsive ikut kemana kaki melangkah tanpa dikomando hati) akupun pergi nonton, dan merasa sangat aneh. Karena ini pertama kalinya aku nonton SENDIRIAN. Huhuuuu. Nggak enakkk!! Padahal kalo ada ibu-ibu nonton sendirian, dulu suka komentar "Mas, aku gak pingin begitu, luntang-lantung nonton sendirian kaya Ibu itu." Hayaahhhh kena karma kan...? :'(

Kelar nonton, liat jam, masih jam 2 siang. Jadi masih dua jam lagi anak-anak baru pulang?? Yahhh luntang-lantung lagi. Jadi biasanya kan kalo ke mall suka jelas tuh mau kemananya, atau mau beli atau hunting apa. Aku nggak suka window-window shopping gitu. Tapi kali ini aku yang bener-bener keluyuran di mall gak ada juntrungannya. Wkwkwkwk. Tapi lumayan masih dapet beli beberapa DVD di toko depan bioskop.

Selesai bungkus makanan dari foodcourt untuk anak-anak, aku langsung menuju sekolah. Otakku linglung beneran karena nggak bisa mencerna bahwa jam pulang masih satu jam lima belas menit lagi.

Tentu saja parkiran sekolah masih sepi. Hikmahnya, aku bisa dapat spot parkir yang paling diidamkan semua orang, hihihi. Tumben-tumbenan loh ini! Buka bebe sebentar, habis itu linglung lagi. Ah, andai nggak mens pasti bisa ngendon di masjid, sambil ngadem *nyengir*.

Impulsive lagi (karena GR merasa jadi perhatian bapak2 sopir antar jemput) akhirnya aku keluar dari mobil, dan berjalan menuju arah yang terserah.

Eh, dengan dudulnya aku malah menuju ke gerbang sekolah yang sepi dan tergembok rapat. Dengan wajah memelas kugenggamkan kedua telapak tanganku ke jeruji besinya, sambil mata celingukan mencari-cari "Bea mana ya...?"

"Dudul, Bea ya masih di kelas dong!"

"Ah siapa tahu dia lewat depan gerbang, mungkin mau beli-beli ke kantin atau apa"

"Ealah, ini kan bukan jam istirahat?? Lihat, halaman dan lorong sekolah sepi!"

"Siapa tau Bea mau pipis ke kamar mandi yang dideket kantin?? Kan berarti lewat sini?"

"Ngapain?? Kalo kebelet pipis kan mending di toilet siswa deket kelas???"

"Namanya juga usaha.... Siapa tau..."

Tega bener tuh alter ego, apa dia nggak sadar mukaku makin melas begini?? Huhuuuu Beaaaaa, Ibuk rinduuuuuuuu :'(

Bener ya ini masih sejam lagi?? Oh no...
Akhirnya aku balik kedalam mobil, menghibur diri dengan bebe, ngendem disitu sambil nyalain AC (maap ya MI, aku tau gak boleh begini lama-lama, tapi gimana lagi? Diluar masih panas karena masih jam 3, dan sepi pula hiks).

Dan akhirnya terdengar lagu "Bintang" tapi tanpa lirik itu. Tanda pelajaran berakhir dan gerbang pun dibuka. Aku berhambur masuk dan berdiri di tiang lorong tempat biasanya janjian kalau jemput anak-anak.

Rasanya asli deg2an, kayak sedang nunggu waktu ketemu pacar saja rasanya. Hihihihi. Dan begitu kulihat wajah mungil yang kusayang itu, dia sedang termenung ditengah lapangan, wajahnya terlihat ngowoh sendiri di lautan siswa berseragam. Tangan kanannya terangkat kedepan dada, dan diatas telapak tangannya yang terbuka keatas, ada sesuatu. Benda kecil keunguan.

"Beaaaaaa" semburku lalu kupeluk dia. Huwaaaaaa senengnya bisa memeluk Beaaaa.

Aku berlutut demi melihat dia nggak seheboh biasanya. Wajahnya masih termenung, kelihatan capek. (Fyi, aku sudah mengira dia akan begini, karena hari Minggu sebelumnya itu kita pergi dari pagi sampai malam. Dia ujian piano, lalu ada 3 undangan yang harus kami datangi, hari Minggu yang capek pokoknya).

"Ini apa sayang?" Tanyaku sambil menunjuk benda kecil ungu yang bertengger diatas kertas, di telapak tangannya.

Barulah kulihat binar matanya, "Ini burung lho Buuk, dari playdough, untuk Ibuukk!" Ahhh senangnyaaa, terimakasih sayang.... *peluk-peluk berlanjut* "Ibuk rinduuuu sama Beaaa..." kataku, dan Bea pun terkekeh riang.

***

Sepulang kerumah, kentara sekali Bea memang capek hari itu. Sisa-sisa gempor hari Minggu harus ditambah dengan hari pertama pulang sore kan. Akhirnya konsumsi peluk meningkat tajam, bahkan mas Abe juga ikut-ikutan. Dan kubiarkan Bea puas-puas melakukan kegiatan pemberi rasa amannya, yaitu owok2 (elus2 sambil colek2) perutku. Dari kecil Bea memang suka melakukan itu.

Sayang Bapak sedang luar kota, tapi alhamdulillah Ya Allah. Rumah terasa hangat kembali. Mata Bea sudah berbinar ceria kembali, bahkan ketika dia cerita "Aku tadi siang-siang pas di sekolah tiba-tiba pingin peluk Ibuk, tapi Ibuk nggak adaaa" katanya dengan suara merajuk tapi sambil terkekeh.

Ah, apa karena aku ling-lung ya, si Bea akhirnya ikut kebawa resah di sekolah?

Dan demi kerinduan yang tak kunjung reda, akhirnya Ibuk punya ide. Jam 9.30 pagi, waktu istirahat, Ibuk akan ke sekolah, dan kencan sebentar dengan anak-anak di cakeshop sekolah Akhirnya tadi itu yang kami lakukan. Bea masih memerlukan banyak pelukan dari Ibuk, dan kalau itu berarti Ibuk harus bolak-balik ke sekolah pas jam istirajat, sama sekali bukan masalah. Sampai kapan?? Selama diperlukan tentu saja ;)

Yang paling senang adalah mas Abe dong, karena selain dapat peluk juga, dia bisa minta traktir Ibuk beli snack di swalayan dan cakeshop. Serasa dapat ekstra uang saku lebih ya masss???? *jendul Abe dengan sayang* :-P

***

Sabtu, 17 Juli 2010

Ketika Si Jeki Puber

Sabtu, 17 Juli 2010. Sekarang jam 8 pagi dan baru saja kami (aku dan anak-anak) tiba di Coban Rondo - Batu untuk ikut menyaksikan kegiatan outbond para karyawan. Mas Iwan sudah dari kemarinnya datang.

Entah karena di perjalanan sama AbeA tadi sempat ngobrolin soal MONYET atau karena sekarang ini aku duduk beralas rumput di hutan yang udaranya sangat menyenangkan sementara AbeA seperti tak ada capek dan bosannya berlarian dengan gembira, aku jadi teringat JEKI.

*sungkem dulu sama ♏ba Jacqueline Rieza yang sangat kusayangi*

JEKI adalah nama MONYET yang pernah kami pelihara dirumah ibukku di Tulungagung. Jeki kami pungut semenjak dia masih bayi, sekitar tahun 2000, dan aku lupa bagaimana awalnya dia kami beri nama JEKI. Yang pasti Jeki jadi kesayangan semua orang dirumah ibukku.

Jeki diikat dengan rantai yang panjang di pohon mangga samping rumah ibuk. Dengan rantai sepanjang itu dia jadi leluasa bergerak, mengitari pohon atau memanjatnya. Kebetulan rumah ibukku jadi satu dengan toko, gudang dan kantor Bapak, jadilah si Jeki punya banyak teman main, dari para sopir yang akhirnya suka membawakannya aneka makanan sepulang kirim barang, sampai karyawan yang suka duduk bersama Jeki sambil sekedar menikmati mangga mateng yang jatuh dari pohon.

Ibukku terutama, paling dekat dengan Jeki, saban hari dia yang kasih makan si Jeki, mengajaknya bermain dan menggoda si Jeki dengan sayang. Setiap kami mudik ke Tulungagung (waktu itu Abe masih bayi) ibuk selalu mengajak Abe bermain-main juga dengan si Jeki.

Pokoknya Jeki jadi kesayangan semua orang. Dia monyet yang lincah, suka mengeluarkan suara riuh yang (paling tidak kami artikan) sangat ceria.

Kira-kira 2tahun setelah kami pelihara, suatu hari ibukku memergoki tiba-tiba Jeki "mengeluarkan darah". Perkiraan kami, Jeki sudah menstruasi, alias sudah puber. Dan sebagai sesama mamalia, harusnya kami tidak terkejut dengan perubahan sikap Jeki kemudian.

Suara-suara yang biasanya terkesan ceria ketika disamperin bermacam orang, berubah semakin bervariasi. Kadang terdengar nyolot, kadang mencicit dan agak menakutkan. Yang dudul, lama kelamaan semua orang setuju bahwa suara mencicit dan lain-lain yang kurang ceria itu cenderung Jeki lakukan kepada kami yang berjenis kelamin perempuan.

Lama-lama banyak yang merasa tidak nyaman lagi dengan Jeki karena bahkan sekarang tangan Jeki suka merayuk dengan sikap menyerang kepada orang yang mendekat atau sekedar lewat. Agresif, kadang siap mencakar dan ketika sekali dua dia berhasil mendaratkan telapak tangannya ke baju dan rambut (kerudung) seseorang, dia langsung tarik-tarik seakan tak mau melepas lagi.

Lama-lama, bahkan ibukku pun sudah menjadi korban keagresifan si Jeki. Padahal selama ini ibukku yang paling merawatnya. Yang lebih dudul lagi, si Jeki justru makin mesra kalau sama bapakku. Lembut, nurut, gak pernah tuh sampe nyolot apalagi mencakar. Heran kan??

Setiap kali ibukku curhat soal Jeki, aku sampai nggak bisa menahan tawa dan godain ibukku. Kubilang "Jangan-jangan Jeki sudah bikin Ibuk cemburu yaaa". Biasanya godaan itu manjur, karena tergantung moodnya ibuk akan selalu bereaksi, kalo nggak ngakak ya makin ngedumel hahaha.

Begitulah, makin lama makin parah kelakuan si Jeki. Aku pun lama-lama sudah tidak berani membiarkan Abe terlalu dekat dengan Jeki. Hal yang sulit karena Abe sangat menyukai binatang dan dia sangat tidak bisa diam. Dan bukan saja kami, korban keganasan Jeki sudah mencakup para tamu yang datang kerumah kita. Sudah nggak lucu lagi dan memang sangat mengganggu.

Akhirnya, seorang sopir menawarkan diri untuk membantu. "Biar saya lepas Jeki di hutan saja Bu"

"Dibuang maksudnya??" tanyaku dari seberang telepon di Surabaya, waktu Ibuk cerita soal ide pak sopir.

"Bukan dibuang, tapi dilepas di hutan, biar dia bisa menemukan pasangan hidupnya. Jeki kayaknya udah kebelet kawin banget itu. Dan aku sudah merasa cukup sama tingkahnya dia."

Sebenarnya aku masih ingin menyarankan ke Ibuk untuk memelihara monyet jantan saja. Tapi akhirnya kusimpan ide itu. Mungkin memang benar Uti sudah merasa cukup dengan tingkah Jeki yang sudah berubah sejak pubernya itu.

So, suatu hari ketika pak sopir tersebut berangkat kirim, dia membawa serta Jeki, dan menurunkannya di sebuah hutan diluar kota yang terkenal banyak monyetnya.

Ah, si Jeki.... :D

::::.....

Pengen deh posting kisah ini bersama foto Jeki, tapi apa boleh buat aku masih diatas gunung di alas Coban Rondo :D

Senin, 05 Juli 2010

Abe, Jiehan dan Kostum Bola

Suatu hari, Abe lagi pergi "boys-time" sama Mas Iwan dan om Rendra ke Malang.

Di sebuah pertokoan yang ramai menjual atribut bola...

MI. : "Be, kita berburu jaket bola yukk."
Abe : "Ayuk Pak! Kita cari yang bajul ijo (buaya hijau-red) Persebaya yaaaa."

Semua orang pasti tahu dong kalo para bonekmanianya Persebaya lagi bersitegang dengan aremanianya Arema? Nah setelah blusukan kemana-mana, ternyata jaket kecil (ukuran anak-anak) nggak ada yang warna HIJAU. Dimana-mana cuma ada warna BIRU milik Arema.

Ada sebuah yang bagus, BIRU, dan kelihatannya cocok dengan Abe. MI pun menawarkan "Beli yang ini ajakah Be??"

Abe tidak menjawab. Setelah melirik sebentar ke penjual kaosnya (seperti berahasia), Abe kemudian menarik MI keluar dari toko itu. Diluar setelah yakin jauh dari si penjaga toko, dia berbisik ke kuping bapaknya.

"Pak, kita batal aja beli jaket. Selamanya aku nggak akan mau berkhianat dan pakai jaket BIRU kayak gitu Pak!"

Meledaklah tawa MI dan Om Rendra. Nggak nyangka urusan WARNA kok Abe bisa sesentimen itu. Selama ini MI selalu ajarin Abe utk jadi bonekmania yang baik, beretika dan tidak bermusuhan dengan supporter lawan. Tetapi tak urung MI ngakak juga melihat anaknya bertingkah begitu. Hehehe.

Nah, itu kejadian sudah dua minggu yang lalu. Barusan, ada seorang teman yang BBM aku, dan membuatku ngakak juga.

Topiknya?? Masih tetap urusan tim sepakbola dan WARNA KOSTUM mereka. Oya, penting untuk diingat, Abe itu sekarang umurnya 8 tahun. Sedangkan si teman yang BBM ini bulan lalu baru saja berultah yang ke
25 tahun. Simak BBM kami berikut ini....

Participants:
-------------
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*, Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a

Messages:
---------
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Mbaaaa...nanya dong
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Team sepak bola sub apa namanya ♏ba?
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Sorry br bukaaa
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Persebaya jieee
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Knp say?
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Persebaya yg bajunya orange kan ya ♏ba?
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Dudul
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Bokaaannnn
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Persebaya ya hijo jieee
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Wkwkwkkw *getok*
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Loooh?bukannya orange ýαh ?
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Orange bukannya belanda kan??

Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Sebentar..serius persija bkn orange ♏ba?
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Kok persija???
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Bukannya ​kα♏ŭ tanya persebaya tadi??
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Eh apa tdi team sub ♏ba?
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: *siapin ulegan buat nggetok*
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Oh iyaaa..persebayaaaa
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : :p
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: PERSEBAYA jiehaannnnnn!!b
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: *pingsan*
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Iyaaa...persebaya warnanya bkn orange ýαh ?
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Bokaannn
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Knp sih tanya2??
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Yg suka nonton bola di lebak bulus pake baju orange team mana dooong?
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Boss ku punya anak 3 demen bgt bola...trus koleksi baju bola dri team ² indo.... αкŭ pesenin persebaya warna orange
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Salah yak?

-------------------
Wait, biar kuulangi lagi bagian ini...

Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a :
"Boss ku punya anak 3 demen bgt bola...trus koleksi baju bola dri team ² indo.... αкŭ pesenin persebaya warna orange....Salah yak?"

---------------------

Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Pantes orng kaosnya ngotot
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: ​‎​‎​‎​àk=))☀̤̣̈̇áK:) ː̗̀☀̤̣̈̇ː̖́âk:$☀̤̣̈̇áK:&ː̗̀☀̤̣̈̇ː̖́âk=D☀̤̣̈̇ªK>:Oâkː̗̀☀̤̣̈̇ː̖́......:&


*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Trus? Jadinya gimana kaosnyaa??
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : αкŭ tetep pesen...gengsi amat batalin n ngaku salah. Yg persibaya ijo αкŭ pesen tmpat lain ajaaaa
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Yaelah wakakakak! Trus yang orange mau dibuat apa donng?? Dipake buat nobar jerman ajaaa haahaahah
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Buat αкŭ aja...nonton bola dirumah n nobar...:)) =))
Jieα̩̩̩̩̥ipaS̤̥̈̊Ƨ̷̜̩̌̋a : Masalahnya αкŭ udh ngotot mbaaaa.... Sampai ngmong..masa warna team bola sub aja gα tau sih? Gtuuuu
*˚*☀ WåHidå ☀*˚*: Wkakakakak

---------------

Whakakakakakakka Jieeee, ​kα♏ŭ emang bener nduukkk. Bener sekali!

MASA WARNA TEAM BOLA SURABAYA AJA GAK TAU SIH??

*cuma mengulangi kata-kata Jiehan sendiri sambil kasih kado Jie kostum bola INDONESIA berwarna PELANGI berlambang BURUNG GELATIK*

Jiehan sayang, maaf ya, aku nggak berani tunjukin NOTE ini ke Abe, aku takut dia kecewa nanti.

*ngikik*

:::...

Malam Yang Dudul Sempoyongan

:::...

Kemarin tuh dudul...

Minggu 4 Juli 2010, jam 6 pagi kita udah ngumpul dirumah Abah (bapak mertua) karena hari itu kami sekeluarga besar berangkat berwisata ke Wisata Bahari Lamongan (WBL). Carter bus, berangkatlah kami rame-rame lengkap dari pakde bude sampai cucu-cucu ber-47 orang.

Seru, tentu. Heboh, pasti. Dan WBL asli penuh sesaakkk (maklum lagi liburan sekolah) ibaratnya mau napas aja musti rebutan oksigen *lebay* wkwkwk. Semua wahana antri, beberapa malah sampai mengular. Ampuunn. Terus terang baru kali ini kami ke WBL pas libur sekolah. Sebelumnya kami kesini di weekend biasa (bukan liburan). Toh kita semua semangat walopun udara pantai lagi panas, aku coba ngikutin baterai alkaline-nya Abe dan Bea yang ngotot nyoba semua wahana. Ngantrinya ini yang asli banyak menyedot energi, dan ketika kita pulang (nyampe kembali dirumah Abah jam 6 sore) Bea sudah tertidur dan aku juga lumayan teler.

Cleguk-cleguk iri melihat Bea yang sudah lelap, aku coba memompa semangat karena persis jam 6 itu aku harus temani suami ke undangan pernikahan salah satu kolega. Sudahlah badan capek, tak sempat duduk barang sebentar aku langsung numpang mandi dirumah mertua, dan melakukan satu lagi hal yang selalu melelahkan bagiku, yaitu DANDAN!

Sementara anak-anak ngepos dulu dirumah mertua, berangkatlah aku dan MI ke tempat undangan. Aku sempat surprised begitu tahu kalau tempat resepsinya di XO Ballroom. Capek sedikit teredam, karena baru kemarinnya aku menyampaikan ke MI betapa aku kangen makan di XO, eh kok ndilalah sekarang dapet undangan disitu.

Sampailah kita ke XO Ballroom, dan malam itu asli aku mendapat pelajaran : kalau dalam keadaan normal saja seseorang itu sudah dudul, maka ketika dia sedang capek dan ngantuk, hidangan seenak apapun tidak akan bisa menolong meringankan.

Resepsinya berupa round-table, satu meja berisi 10 orang. Mas Iwan duduk disebelah kiriku, dan disebelah kananku duduk tamu lainnya, laki-laki yang tampaknya seusialah dengan kita. Aku tidak kenal laki-laki itu, tapi rupanya malam itu juga menjadi malam yang dudul buat dia.

Food parade belum juga dimulai. Di panggung masih dilakukan seremoni khas pernikahan ala Chinesse-modern. Tapi pertunjukan dudul disini, di meja tempatku duduk sudah dimulai.

Haus, aku berniat mengambil gelas didepanku yang berisi es teh itu. Dari ekor mataku kurasakan tamu disebelah kanan bergerak agak kurang wajar. Tapi kemudian gerakannya itu menjadi wajar dimataku setelah kusadari bahwa gelas berisi es teh yang kuambil tadi, adalah MILIKNYA! Kontan aku cuma bisa maap-maap sambil nyengir. Di sebelah kiri kulihat MI lagi fokus ke big screen menonton video pengantin, entah nonton beneran atau entah sedang ekting "tidak mengenalku".

Untuk menghibur diri aku sok sibuk saja dengan bebe. Update-update status twitter karena kata Wawa twitter ini tempat yang cocok untuk bawel (biasanya aku jarang tuh buka twit). Dan sekarang ini aku sedang ingin meracau ngelantur karena asli badan capek dan juga ngantuk. Belum lagi malu sama tamu disebelah. Argh...

Sembari twittering, aku tak lupa mempraktekkan salah satu hobi katrokku, yaitu melepas alas kaki ketika duduk dibelakang meja begini. Kedua kaki yang nyeker kutumpangkan begitu saja di salah satu sendal. Kemudian asyik twitteran lagi. Saking asyiknya aku tidak memperhatikan bahwa ini waktunya mempelai melakukan toast. Akupun gedubrakan panik ketika tau-tau si MC meneriakkan "Mari! Hadirin silahkan berdiri!"

Aku reflek langsung berdiri tanpa ingat memundurkan dulu kursiku yang lumayan mepet ke meja. Akhirnya pahaku menyundul bawah meja lumayan keras, sampai ibu2 yang diseberang meja melihat kearahku ketika dengan agak panik aku memundurkan kursi agak kebelakang dan meraih gelasku (dengan fokus supaya yang kuambil benar2 gelas milikku), kemudian berdiri.

Kalau dilihat, bagian tubuh pinggang keatas, aku cukup anggun lah. Ibu2 seberang meja juga tampaknya sudah melupakan kejadian barusan. Tapi pinggang kebawah, tak terlihat oleh siapapun, terjadi kekacauan karena kaki kiriku sudah tenang bersarang kembali di sandal sementara kaki kanan panik karena tidak menemukan alasnya.

Nah nah! Lho, lho! Dimana sandal kananku?? Mau celingukan kebawah nggak mungkin karena celingukan memerlukan mata dan kepala sedangkan bagian pinggang keatasku sedang anggun dan fokus ke panggung menunggu aba-aba toast.

Akhirnya kugerakkan saja kaki kananku, merogoh-rogoh kearah belakang kebawah kursiku. Tapi sandal tak kutemukan juga! Wah, jangan-jangan si sandal kusandung dan terlempar agak jauh waktu pahaku menyundul meja tadi?? Sebuah reflek manusia ngantuk kemudian membuat kakiku makin giras rogoh sana-sini, mencari-cari alasnya (pinggang keatas? tetap anggun dong!). Rogoh sana rogoh sini sampai aku kemudian kaget, begitu menyadari bahwa kakiku sudah terlalu jauh. Posisinya sekarang sudah terlalu kekanan, berada di area bawah meja yang harusnya menjadi kekuasaan si tamu sebelah. Kontan kutarik kaki kananku, dan akhirnya (karena kaget) paha ini kembali menyundul meja. Untungnya, kali ini semua orang sedang fokus ke panggung. Dan aku merasa lebih beruntung lagi karena kaki dudulku yang sedang asyik merogoh-rogoh kesana kemari itu tidak mengenai kaki tamu sebelah. Karena aku yakin tadi itu pasti sudah dekaaat sekali, apa jadinya coba, kalau sampai kakiku menyenggol kaki si tamu?? Bisa-bisa aku dilaporkan polisi karena dugaan tindakan asusila kan!!

Si sandal akhirnya kutemukan ketika kami duduk kembali, di bawah kursiku sendiri, terlempar agak kedalam lagi.

Rasa capek dan ngantuk agak tersisihkan ketika food parade dimulai. Aku mencoba menyibukkan diri mengupload foto-foto hidangannya ke twitter. Itupun tak berhasil lama karena di hidangan ketiga atau keempat (aku lupa) acara upload foto sudah berjalan dudul. Nama hidangan yang kutulis di caption sudah ketukar-tukar nggak keruan, dan di lidahku makanan-makanan special dari salah satu restoran favoritku ini sudah mulai terasa sama rasanya : rasa sendal jepit semua! Aku bahkan sempat mbliyur jatuh kesadaran tertidur sedetik waktu sedang mengunyah! Aku nyerah, begitu kulihat MI sudah berhenti menyapa2 kolega yang dia kenal disitu, akupun memelas minta pulang.

"Nggak nunggu desert?" tanya MI yang kujawab dengan mulut menguap dan mata mengerjap karena sudah pedih bin sepet.

"Tapi aku ke toilet dulu ya"

Aku bangkit berdiri, terseok-seok, sudah tak bisa kurasakan lagi kakiku melangkah. Saat kukira kakiku sudah bebal, sejurus kemudian kurasakan "DUG!" aku menyandung tiang buket. Untung nggak roboh tuh buket tinggi langsing! Jalan lagi, masih sempat kulihat seorang mbak-mbak waiter ngepot menghindariku. Hanya ada satu kemungkinan, bahwa satu diantara kami rupanya berjalan seperti orang mabuk, terserah pembaca menilai yang mana yang begitu.

Makin terseok jalanku saat kubaca tulisan TOILET dan panggung yang bergemuruh terasa seperti "bunyi kipas angin rusak" yang menguing di telingaku. Masuk toilet, gantian aku yang ngepot karena kulihat isi toilet pria semua. Alamak! Nyasar di toilet pria! Ngepoooottt!

Sekeluar dari toilet dan berjalan nyaris sempoyongan kembali ke meja, aku sibuk cari2 pegangan. Sandaran kursi, tiang buket, termasuk satu bahu yang aku tak senpat lihat siapa pemiliknya. Dan oohhh leganya begitu sampai di meja, dan menemukan tangan MI menangkapku. You are my herooo!!

Begitulah ceritaku tentang malam itu. Waktu keluar restoran pun, di terasnya aku masih sempat meleng nabrak X-sign, dan waktu berdiri menunggu valet sempat beberapa kali hilang kesadaran jatuh tertidur. Begitu masuk mobil aku sudah habissss.

Wakakakakak malam yang dudul.

Oya, serasa belum cukup, setiba dirumah mertua untuk jemput anak-anak (jam 9.30 malam), masih sempoyongan tau-tau aku mendapat kejutan yang sangat menyenangkan.... Waktu masuk rumah tiba-tiba aku disambut oleh suara yang sangat kukenal itu meneriakkan namaku penuh semangat...kemudian lari-lari menubruk memelukku.

"Ibuuuuuuuukkkkk!!!!"

Oh Tuhannn... Itu Bea... Dan ternyata dia baruuuu sajaaaaa bangun dari tidurnya.... Dan tentu saja, 199% fully-charged!!

Serasa tersedot ke ruang hampa udara deh rasanya..... *lemessss* :'(

:::...