Sabtu, 20 Oktober 2007

Album Lebaran 2007 : Surabaya-Gresik-Lamongan dan Tambak Garam


Jalan menuju Lamongan sekarang sudah baguusss sekali, semenjak ada WBL. Kabarnya, ini juga atas prestasi Bpk. Masfuk walikotanya yang sekarang. WBL, Tanjung Kodok dan beberapa tempat wisata disana menjadi the rising star didunia pariwisata (khususnya lokal). Mas Iwan cerita kalo masyarakat Lamongan banyak yang nyeletuk "seandainya walikota bisa dipilih lebih dari 2 periode, maka mereka akan memilih lagi Bpk. Masfuk ini untuk jadi walikota lagi.

Lamongan sungguh sudah banyak berbeda sejak aku pernah berkunjung kesana 6-7 tahun yang lalu. Coba deh search aja di internet, Wisata Bahari Lamongan atau Tanjung Kodok Resort, you will find many about them :-)

Aku dan suami sama2 berasal dari keluarga besar. Alhasil, sampe detik ini pun seminggu setelah lebaran, jadwal kunjungan silaturahmi ke saudara2 pun belum kelar lho!! MasyaAlloh....The heck of a week...!!! :-D

Album kali ini berisi kumpulan foto waktu kita pergi ke rumah salah satu saudara di Gresik hari Kamis, 18 Oktober 2007 lalu. Rencana awal, mumpung Abe masih libur sekolah, sepulang dari situ, kita langsung meneruskan liburan ke Wisata Bahari Lamongan yang hanya berjarak 1 jam dari Gresik. Selain karena anak-anak belum pernah jalan ke WBL, juga bapak sudah berkali-kali ngebet ngajak kita menginap di Tanjung Kodok Resort yang pernah dia kunjungi bersama teman bisnisnya dalam rangka survei pasar ke daerah situ. Tak perlu panjang lebar mempromosikan resortnya, kata-kata "pantai" sudah berhasil bikin Abe kepincut berat!! :D

Tapiiii........

Begitu sampai disana, feelingku yang kupendam sebelumnya terbukti!! Musim liburan gini sebenarnya aku malah males pergi ke tempat wisata gini. Rameeenyaaaaaa...!!!! Parkiran WBL berjubel, dan kamar resort-nya full booked!!! Aku sempat nyeletuk, kayaknya di WBL waktu itu, orang2 akan bernafas pun harus rebutan oksigen, saking ramenyaaa!!!

Tak ada pilihan lain, kalo nggak mau konyol benjut badan, kitapun balik kucing pulang ke surabaya :-(

Untungnya, disepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang sangat menarik, yaitu hamparan tambak garam yang sedang banyak panen...waahhh serunyaaaa....gunungan garam putih ada dimana-mana bagus sekali..!! Didukung dengan kaca mobil yang gelap dan AC mobil yang disetel kenceng (krn cuaca diluar sby panaassss bgt minggu itu), rasanya jadi kaya bukan di indonesia, tapi di suatu tempat di eropa gitu deh.....hueheheh (imajinasinya dudul ya? maklum pada belum pernah liat eropa hihihi :D)

Tak tahan hanya melihat, Abe minta turun untuk sekedar menyentuh gunungan garam hasil panen di tambak. Ibuk kebagian jeprat-jepret dari dalam mobil sambil pangku Bea yang -kasihannya- sepanjang perjalanan malah lelap tertidur :-D

Seru juga ya Be, lumayan untuk mengobati kekecewaan karena batal ke pantai
:-)

Album Lebaran 2007 : Sungai Mbah Bolu di Tulungagung


hehe...jarang sekali kesempatan berempat bisa foto bersama seperti ini :D (thx to Om Agyl for the shoot)

Abe dan Bea beruntung karena masih memiliki satu "harta karun" dalam keluarga. Ada nenek canggah (ibunya nenek buyut) yang sampai sekarang masih hidup. Beliau berumur hampir 115 tahun, dan walaupun sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur, tetapi selalu semangat menyambut segudang cucu setiap lebaran. Duhhh sayang ya kita nggak sempat foto Mbah Bolu,ada sih foto beliau tapi masih ketinggalan di kameranya Uti di Tulungagung...kapan2 kita copy n upload yah... :-)

(Mbah Bolu itu panggilan beliau karena rumah beliau ada di Desa Bolu).

Berlebaran di saudara2 di Bolu merupakan petualangan tersendiri khususnya bagi anak-anak. Aku sendiri masih ingat betapa sungai di belakang rumah Mbah Bolu menjadi magnet tersendiri untuk dikunjungi. Waktu berumur 2 tahun, aku malah pernah nyaris celaka karena tenggelam dan hanyut setelah terlepas dari pegangan bapakku karena arus yang deras. Walaupun begitu, nggak bikin kapok sama sekali :D.

Sayangnya sekarang sungainya semakin kering dan airnya pun keruh (dulu waktu aku kecil jernih sekali)....duhhh Abe dan Bea semangat sekali main di sungainya..!!! Tapi kalo liat fotonya, agak2 jadi salah kostum yah, main di sungai kok rapi jali gitu hueheheheh :-D

Selain sungai, rumah Mbah Bolu menawarkan paket petualangan alam yang lengkap! Dari sapi sampai sawah, jerami semua ada!! :D

Album Lebaran 2007 : Sholat Ied 1428 H


suasana masih segar dan semua semangat

Sholat Ied 1428 H Jumat, 12 Oktober 2007 di Tulungagung. Waktu sedih2nya karena hari pertama puasa kemarin lolos gara2 tamu bulanan, aku sudah mengira kalo sholat Ied bakalan lolos juga hiks... :-((

Hikmahnya, jadi bisa bantuin adik ipar jagain ponakan, si Dede yang masih bayi sementara ibunya harus berkutat dengan 2 kakak (Sena dan Aaliyah). Dengan asumsi Bea yang semangat sejak berangkat, aku optimis, it's gonna be easy...

Eeehhh...ternyata disaat para jamaah sedang khusyu' sholat, si Bea bikin heboh karena rebutan dipangku sama bayi Dede...oalah...sehabis salam selesai sholat, kontan deh aku dihujani tatapan dari semua jamaah...tatapan maklum sih, tapi campur prihatin...oalah.. :-S

Lamaaaaa Bea nangis nggak mau diam, walaupun dibujuk semuanya, termasuk Abe yang berusaha ikut membujuk dari seberang pagar tempat jamaah laki-laki. Yang ternyata berhasil bikin Bea diam ternyata adalah KOTAK INFAK...hahaha. Ya, setelah ada kotak infak beredar, tiba-tiba aku ada ide untuk memberi Bea tugas (karena Bea ini memang selalu semangat tiap kali disuruh melakukan sesuatu)...

"Bea, ayo Bea keliling anterin kotak infak ke semuanya...!! Tuh, ibu2, tante2 sudah pada nungguin kotaknya..." Semangat '45 deh, walau dengan sisa2 air mata dipipi...hehehe

Wah, berkesan juga ya sholat ied nya...sehabis sholat kita sungkeman dan berlebaran dirumah kakung... :-)

Enjoy the pictures... :-)

Senin, 08 Oktober 2007

Menikah Muda Part 7 : Cerita Roller-Coaster Yang Kuharap Tak Akan Pernah Berakhir

 


Cerita sebelumnya bisa dibaca di Menikah Muda Part 1, Part 2, Part 3, Part 4,  Part 5 , dan Part 6

 

Hemm...seperti juga –aku yakin- semua penulis skenario cerita2 bersambung atau filem2 bersekuel yang lain, episode terakhir selalu membawa beban tersendiri ya...hehe. Untungnya, aku tidak harus bersusah payah mendorong imajinasiku untuk menciptakan sebuah cerita, karena untuk cerita yang satu ini, ALLAH Yang Maha Kuasa sendiri yang ternyata telah menentukan alurnya untukku...memanduku dengan keajaiban-keajaiban yang bahkan semakin ajaib karena kurasakan sendiri dengan segenap hati dan jiwaku...seluruh hidupku hingga saat ini...dalam setiap detik dan setiap detil-nya. Subhanalloh...

 

*****

Semenjak kelahiran Abe hampir 6 tahun yang lalu, roller coaster kehidupan pernikahan kami praktis agak “melandai”. Meminjam istilah orang (bukan istilah saya lho), kami bisa dibilang sudah mapan. Aku sebenarnya kurang prefer dengan istilah “mapan” ini karena memang rupanya banyak orang hanya mengukur kemapanan seseorang dari kondisi ekonomi saja.

 

Bagiku, kata-kata “mapan” seharusnya bermakna jauuuh lebih dalam daripada itu. Dan kami, jelas-jelas aku pribadi setengah menolak disebut mapan, karena jujur, aku tidak mau kehilangan desiran si roller-coaster itu. Aku masih sangat menginginkan insting, kepekaan dan kebutuhanku untuk merasakan liuk-liukan hikmah dalam hidup ini. Nggak tahu ya, rumah tangga yang mapan?? Adakah itu?? Kesannya bagiku kok statis dan membosankan ya??

 

Atau mungkin benar juga kata seorang sepupuku yang selalu komentar bahwa aku selalu lebih suka memilih jalan yang sulit dan berliku daripada jalan yang lempeng dan gampang. Sepupuku ini sering sekali berkomentar begini ketika dari kecil dia melihat –misalnya- aku akan lebih memilih memanjat pohon jambu daripada mengambil buahnya dengan tongkat. Atau ketika ada acara selamatan di rumah nenek dulu, aku akan selalu tiba di dapur dan kemudian terlihat malah asyik melakukan pekerjaan yang justru tidak disukai banyak orang (banyak teman yang sampai sekarang heran ketika mengetahui aku suka sekali memarut kelapa, atau menyetrika, atau cuci2 piring kotor, pokoknya pekerjaan yang kebanyakan orang tidak menyukainya :D). Atau, memilih untuk menikah sehabis lulus SMA, bukannya fokus saja mikir kuliah sembari senang-senangnya bergaul dengan teman sebaya, khas dunia remaja...(sehabis akad nikahku, tanpa bicara sepatah katapun, sepupuku ini hanya memelukku dengan tangis haru dan pandangan matanya menyiratkan “AKU SAMA SEKALI TIDAK HERAN DENGAN KEPUTUSANMU MENIKAH SEKARANG!!!”

 

Entahlah, apa ada hubungannya ya? Hehe... Yang jelas, label “mapan” yang diberikan banyak orang untuk keluarga kami sekarang, bagiku it’s just another challenge, roller-coaster dalam bentuk yang lain...!!

 

BERSYUKUR, JELAS-JELAS SAMA SULITNYA DENGAN BERSABAR...!!!

 

*****

“Ngomong-ngomong, kenapa suamimu menolak untuk mempunyai anak lagi? Padahal kamu mengaku masih ingin hamil dan mempunyai anak lagi?” ini juga pertanyaan yang sering kudapat.

Nah, inilah salah satu bukti bahwa Allah SWT masih menyayangiku. Tanpa diberi ujian, apalah arti sebuah hamba bagi penciptaNya kan? :-)

So it’s all about another roller-coaster in my life.

 

Ketika hamil Abe, itu merupakan saat yang sangat menggembirakan. Selain itu, dari tes awal kehamilan, ternyata ditemukan juga bahwa kadar gula darahku juga merangkak naik tak terkendali. Diabetes Gestasional. Itu vonis dokter untukku. Diabetes kehamilan. Yang katanya hanya akan berlaku selama kehamilan saja dan memang tak mengherankan karena aku memang punya keturunan diabetes dari pihak bapakku. Kata dokter, setelah melahirkan biasanya akan menghilang (walaupun dengan mengalami diabetes kehamilan, maka praktis si ibu akan meningkat resikonya mengidap diabetes mellitus yang menetap).

 

Tetapi rupanya, yang terekam dalam di benak suamiku adalah bagian ini :

Setiap hari selama 9 bulan aku harus menyuntik diriku sendiri dengan insulin. Obat secara oral jelas out of question karena akan membahayakan si janin. Kadang-kadang di waktu tertentu aku harus menyuntik 2 kali sehari. Layaknya seorang junkies, aku harus menenteng alat suntik kemanapun aku pergi, termasuk ke kampus waktu itu. Resiko pecah ketuban dini yang kemudian benar-benar terjadi pada Abe, memaksaku untuk melahirkan secara caesar karena jalan lahir yang sama sekali tidak membuka walaupun air ketuban sudah habis. Resiko si bayi lahir besar (karena terlalu banyak menyerap gula dari darah si ibu) juga terjadi ketika 2,5 tahun kemudian Bea lahir dengan berat badan 4,7 kilogram!! Caesar lagi?? Ya jelaslah!! :D

 

Ketika aku masih teler di ruang operasi pun, suami juga sudah harus menerima kabarn dokter bahwa –sesuai resiko bayi2 yang lahir dari ibu diabetesi- anak-anak lahir kuning dan parah!! Bea malah nyaris harus menerima tranfusi darah karena kadar bilirubinnya yang sangat tinggi!! Anak-anak juga mengalami hipoglikemik begitu lahir. Pankreas mereka yang terbiasa mengeluarkan insulin dalam jumlah banyak untuk menormalkan kadar gula yang tinggi selama dalam kandungan, menjadikan kadar gula mereka drop begitu lahir dan lepas dari si ibu. Bukan rahasia lagi kalau hipoglikemik sangat beresiko untuk menyebabkan koma. Mas Iwan, ternyata cukup trauma.

 

Setelah melahirkan Abe, rupanya si roller-coaster yang bernama “diabetes” ini menghilang dari tubuhku. Tetapi tidak setelah melahirkan Bea. So, aku pun akan naik roller-coaster yang ini untuk seumur hidupku. SubhanAlloh...

 

Tentu, ada masa-masa menghujam ketika di malam-malam insomniaku, aku menangis tersedu-sedu sambil memandangi anak-anakku yang masih balita lelap tertidur. Aku manusia biasa yang sadar tidak punya kendali atas umur, dan menderita penyakit ini membuatku tak urung bertanya-tanya akankah aku bisa mendampingi anak-anak sampai mereka dewasa nanti?? Dan tentu saja, ada masa-masa menggetarkan ketika selesai menghujam, ada semacam perasaan trance dihatiku, kepasrahan yang begitu dalam pada Sang Pengatur Hidup, setelah lebih dalam aku bisa menyadari apa makna sebuah penyakit bagi manusia. Penyakit adalah ujian dari Allah SWT tanda Sang Pencipta masih menyayangi kita. Penyakit akan membuat kita lebih sulit untuk meninggalkanNya. Penyakit yang diterima dengan ikhlas akan meluruhkan dosa-dosa kita....Subhanalloooohh Ya Allah...

 

Singkat cerita, walaupun sekarang kondisi tubuhku kurasa fit sekalipun, suami dengan tanpa kompromi menolak untuk memberiku ijin hamil kembali. Keputusannya ini didukung tak kurang oleh barisan dokter kandungan, dokter anak, mertua, dan –paling tak bisa kubantah- Ibukku sendiri... Ibarat orang negosiasi, posisiku untuk ingin hamil kembali sangat lemah.. :D

 

Tapi bahkan Abe dan Bea pun sudah lebih dari cukup bagi kami. Sepasang laki-laki dan perempuan pula. Apalagi mengingat penantian untuk Abe yang panjang, rasanya akan terdengar sedikit “serakah” dan kurang bersyukur kalau aku harus selalu meneteskan air liur tiap kali melihat teman yang mempunyai anak lebih dari 2 kan? Inilah takdir Allah...

Yang agak dudul, suami percaya pasti ada alasan kenapa dulu si bapak misterius dari Mekkah hanya meminta 2 nama untuk dipakai sebagai nama anak-anak kami (baca kisah si bapak misterius ini disini). Hehehe...

 

*****

 

Seiring waktu, banyak yang bertanya padaku, akankah aku merekomendasikan seseorang untuk menikah muda? Setelah semua yang telah aku lalui?

Jujur, sampai detik inipun, aku masih terjebak diantara jawaban “Tidak” dan “Ya”

 

“TIDAK”, karena sungguh, mau tidak mau, ini adalah sebuah keputusan yang membawa kepada perjuangan yang tidak mudah dan resiko yang besar (walaupun semua pernikahan pasti juga begitu ya).

 

Aku juga tidak akan bisa merumuskan “formula rahasia” pernikahan kami sampai saat ini. Kurasa karena kita berduapun masih terus mencari, dan bahan komposisi formulanya akan terlalu banyak : Takdir Allah (tentu saja!), keberuntunganku menemukan orang yang tepat (takdir Allah juga ya?), doa2 lirih nan tulus dari Ibundaku dan dari benakku sendiri yang tanpa terasa terucap tiap detik ketika dari kecil lagi aku memimpikan untuk menikah muda (yang karena takdir Allah juga terkabulkan), dan masih buanyakkk lagi!! Jadi menyarankan seseorang untuk menikah muda begitu saja, menurutku kurang bijaksana juga (walaupun sekali lagi aku juga paham bahwa secara syariat agama Islam, memang disarankan untuk menyegerakan menikah).

 

“YA”, karena demi Allah, ini adalah sebuah petualangan yang sangat menggetarkan hati yang aku yakin, setelah merasakan sendiri, tak akan ada seorangpun yang akan menolaknya! Seperti ada bagian dalam diriku yang seakan-akan ingin mengajak semua orang yang kutemui untuk bisa mendapatkan kesempatan merasakan petualangan ajaib dan penemuan banyak hal luar biasa didalamnya. Resiko besar yang menyertainya, secara mengejutkan ternyata membawaku kepada petualangan yang lebih seru dan menggetarkan hati lagi! Kebesaran Allah ada dimana-mana!! Di setiap waktu!!

Dan hikmahnya dalam hidup...masyaAllah...hikmah yang bisa kuambil selama ini tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya! Bergulung-gulung ombak hikmah berupa pelajaran hidup... Bergunung-gunung tumpukan hikmah berupa kenikmatan hidup...

 

Maha Suci Allah..!!

 

*****

Ini mungkin akhir dari postinganku tentang pengalamanku menikah di usia muda. Tetapi, cerita kami “Menikah Muda” ini, kuharap tidak akan pernah berakhir. Kami berdua ingin “Menikah Tua” juga bersama...naik roller-coaster  selama mungkin berdua... :D

 

Dalam keremangan doa malam kami, hanya ada satu ending yang akan sanggup kami terima...

 

Kami bisa tetap menjadi jodoh didunia.....dan juga di akhirat nanti..... ^_^

(Aminn Ya Allahumma Amiinnn...)

 

*****

Untuk pembaca, teman-teman dan sahabat-sahabatku, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (kalian sama-sama nyata-nya buatku), yang telah banyak memberikan dukungan, komentar, apapun itu...terimakasih!!

 

Hatiku kini sudah menjadi milik kalian juga, dan cerita ini jelas-jelas telah kita tulis bersama-sama.... ^_^

 

(Tidak Bersambung Lagi) :-D

 

 

 

Rabu, 03 Oktober 2007

Menikah Muda Part 6 : Dibalik Kesulitan PASTI Ada Kemudahan!

 


Hemm...postingan yang ini kayaknya lebih kental nuansa business-nya ya... Sarat dengan cerita seluk beluk dan dinamika strategi bisnis. Tapi tentu saja dari sisi saya sebagai istri dan pendamping, bukan pelaku :D

 

Ini sekalian menjawab pertanyaan yang banyak muncul juga dari teman-teman selama ini...

“Apa rahasia suamimu? Di umur yang masih sangat muda sekarang ini, tetapi sudah bisa begitu mapan secara ekonomi?” biasanya begini nada pertanyaannya.

Kerja keras, SUDAH PASTI! Yang ini memang tidak bisa ditawar lagi. Akulah saksi yang paling tahu betapa kerasnya mas Iwan bekerja, sifat yang buatku jatuh cinta –ehm- :-). Dan jangan lupa, karena dia menikah muda, kerja kerasnya itu sudah dimulai jauuuhhh lebih awal dari teman-teman sebayanya. Disaat yang lain masih menghabiskan waktu jalan-jalan di mall, nonton dan gaul, mas Iwan sudah menghabiskan waktunya dijalanan untuk mengejar target penjualan, membayar tagihan dan membiayai istri dan dia sendiri kuliah.

 

“Rahasia lainnya? Pasti ada doong...”

Ada! Rahasia lainnya ini adalah yang selalu kita sebut RAHASIA ALLAH! DIA-lah yang telah berulangkali menunjukkan kepada kami selama ini, bahwa ketika manusia bekerja keras dalam berikhtiar, maka akan muncullah banyak kemudahan dan “keajaiban” dari-Nya.

 

*****

Oke, yang berikut ini agak konyol.

 

Aku orang yang tidak terlalu gampang terkesan dengan pujian. Bahkan, seringkali aku takut bila dipuji orang (ada yang bilang pujian adalah racun, dan aku percaya itu). Tetapi ada satu pujian yang sangat sering keluar dari mulut suami, bahkan dari awal kita pacaran sampai sekarang. Yang agak memalukan, bukan hanya ketika berdua, dia juga sering mengungkapkan didepan orang lain (dan dia bukan model laki-laki yang suka memuji wanita didepan orang banyak lho! :D). Celakanya, pujian yang satu ini sampai detik ini pun ternyata masih berhasil membuatku tersipu (mungkin tersipu ini adalah salah satu tanda-tanda orang yang keracunan ya? :D).

 

“Siapapun laki-laki yang kaudampingi, dia akan gampang sekali menjadi laki-laki yang sukses!!”

 

Duuhh......

 

Bagaimana tidak? (ini masih mengutip kata suami lho :D).

Katanya, “Kamu tidak pernah sekalipun protes walaupun selalu ditinggal bekerja dalam waktu yang lama.”

Jawabku: habis bagaimana lagi? Konsepku tentang laki-laki adalah menurutku mereka akan terlihat dan terasa sangat seksi ketika sedang serius bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya (apapun itu jenis pekerjaannya) :D

 

Katanya, “Kamu juga tidak pernah mengekang suami untuk pergi kemanapun dia mau. Mau nongkrong dengan teman-teman cowonya, mau pergi main sepakbola atau badminton sesering yang dia mau, semua hanya perlu pemberitahuan, tidak usah pake memelas minta ijin istri seperti beberapa teman”

Jawabku : Pertama, berapa kali sih mas yang workoholic ini punya waktu nongkrong sama temen2 cowonya? Aku tahu pasti bahwa hobinya ya kerja! Dan kedua, bagiku suami yang masih menyimpan rasa takut sampai harus minta2 ijin untuk pergi sama istrinya, sama sekali juga tidak seksi! Baik sang istri maupun sang suaminya sama2 tidak seksi!! :D

 

Katanya : “Kamu selalu siap diajak berbagi cerita apa saja, dari soal keluarga, anak-anak, pekerjaan, manajemen, marketing, sampai konyolnya teman-temanku ketika kami main futsal”

Jawabku : Aku juga tak punya pilihan lain karena bagiku, ceritanya, caranya bercerita, his passion, semua memang dimataku begitu mengagumkan, tak bosan-bosan rasanya. Selalu ada hal menarik yang dia bawa pulang setiap harinya. Dunianya adalah duniaku, duniaku adalah dunianya. :D

 

“Suami yang punya istri pengertian dan mendukung kaya kamu, akan gampang sekali menjadi laki-laki yang sukses.”

Tahukah kamu mas, ini dia rahasiaku, akan sangat mudah bagi wanita mana saja untuk menjadi istri yang pengertian dan mendukung, kalau suaminya adalah laki-laki yang mengagumkan seperti kamu... :-)

 

(sudah kubilang tadi kan, yang barusan tadi ini memang konyol :D)

 

*****

Dengan sifat mas Iwan yang pekerja keras, tentu tidak mengherankan kalau usahanya pelan-pelan berkembang. Sedikit demi sedikit dagangan yang bisa dijualnya bertambah. Dengan catatan, biaya hidup kami tidak boleh bertambah, karena yang utama sekarang tentu saja menambah modal untuk usaha. Waktu itu pun tak terasa kami sudah bisa kredit mobil pick-up untuk mendukung usaha.

 

Baru saja usaha jalan, waktu itu tahun 1997, kita semua pasti tahu apa yang terjadi. Krisis moneter melanda, ekonomi kolaps dan dunia usaha kacau! Banyak perusahaan, pabrik bahkan bank yang jatuh dalam kebangkrutan dan kolaps.

 

Kalau usaha yang besar saja banyak yang tumbang, apalagi yang kecil seperti yang baru kami mulai? Sempat mas tidak bisa berjualan selama beberapa minggu, karena hasil penjualan tidak akan cukup untuk membeli barang lagi yang harganya sudah melangit. Jujur, saat itu kami berdua sempat sangat ketakutan dengan masa depan keluarga kecil kita ini. Didepan mata kami, banyak sekali orang-orang bertumbangan di dunia usaha.

 

Termasuk salah satunya adalah sebuah pabrik paku yang tanpa sengaja mas Iwan lewati suatu hari di daerah Gresik. Lewat seorang tukang becak dia dapat informasi bahwa pabrik itu baru saja menghentikan produksinya karena imbas krisis moneter. Terlalu banyak membaca buku2 filsafat perang Cina, serta merta mas pun melihatnya sebagai salah satu “korban perang yang ditinggalkan musuhnya” (ha ha kelak sampai sekarangpun, aku sering dibuatnya ampun2 kalo dia sudah menjlentrehkan filsafat2 bisnisnya ini, duhhh).

 

Singkat cerita, mas pun berhasil negosiasi dengan manajemen pabrik itu untuk menjadi distributornya. Sebagai catatan saja, untuk menjadi seorang distributor pabrik barang2 besi, dalam kondisi normal akan sangat sulit! Selain jaringan marketing yang sudah luas dan mantap, biasanya mereka juga mensyaratkan kapital (modal) yang besar, dan harus ada batasan penjualan minimum (bisa2 ratusan ton sebulan!).

 

Tapi mas Iwan, dengan membawa banyak rencana kedepan (yang saat itu, di masa krisis tentu saja kelihatan agak mustahil dijalankan), dia pun berhasil membuat pemilik pabriknya menyetujui MoU dari “Mission Imposible” itu. Mungkin pihak pabriknya waktu itu heran juga, kok ada ya orang yang mau-maunya jadi distributor pabrik paku yang sudah berhenti produksi. Dan yang pasti, tak ada syarat penjualan minimum yang ditetapkan pabrik, wong pabriknya memang berhenti produksi!.

 

Dengan kenekatan yang sama dengan ketika dia memutuskan menikahiku, diapun menjanjikan bahwa selama waktu tertentu dia akan menjualkan semua produk pabriknya, berapapun jumlahnya (tentu setelah dia menghitung2 bahwa dengan kondisi pegawai pabrik, harga bijih besi yang melangit dan harus diimpor dalam dollar, produksi mereka tidak akan banyak).

 

Setelah penandatanganan MoU-nya, ketika pulang mendapatiku, si mas dengan antusias menyalamiku, “Kenalkan Bu, saya distributor pabrik paku!” Senyum lebar yang menghias wajahnya waktu itu benar2 tak terlupakan dan membanggakanku dengan cara yang sangat seksi! ;-)

 

Besoknya, kugodain dia. “Hm...pabrik paku yang kauceritakan ini, terkenalkah? Besarkah? Berapa produksinya perbulan? Karyawannya pasti banyak ya?”

Wis embuh! Pokoke aku distributor! (Nggak peduli! Yang penting aku distributor-red). Bayangkan, di seluruh Indonesia (bahkan dunia), saat ini hanya aku yang boleh menjual Paku Merk Super-Q!”

 

Saat itu memang benar-benar menjadi his moment...tak perduli bahwa merk yang dia jual itu sedang menghilang dari pasaran karena pabriknya kolaps, caranya mengatakan “Merk Super-Q” seolah-olah seperti itulah merk paku paling top dan laris diseluruh dunia! Hihihi...oh I love him for his big dream...!! Umurnya baru 22 tahun waktu itu.

 

Sekarang masalahnya, bagaimana dia akan menjual pakunya? Karena ternyata beberapa minggu setelahnya, si pabrik pun sudah memulai produksi. Lagi-lagi dia ambil langkah nekad, melamar Bapakku untuk jadi partner. Ini supaya mas diijinkan jual pakunya di pasaran tempat Bapakku berdagang, yaitu di daerah-daerah (diluar perkotaan Surabaya). Sebagai gantinya, mas Iwan berjanji akan menjualkan barang Bapak yang waktu itu paling susah laku!!

 

Aku sempat memprotes keputusan gila ini (juga ke Bapakku yang sama2 nekat malah menantang si menantunya! Dasar tumbu ketemu tutup – klop!), karena berarti bukan hanya dia harus mengejar target jual paku beberapa ton sebulan, dia juga harus memenuhi target Bapakku harus menjual sejumlah beberapa ton lagi besi beton setiap bulannya!! All over the province!! Aku tak membayangkan akan sesibuk dan sekeras apa dia bekerja !!

 

(Makanya suka gemes juga kalo ada yang komentar begini : “Pantes aja Iwan cepat sukses, wong kerja di mertua yang sudah besar usahanya, enak sekali!” .....mereka tidak tahu bahwa sebenarnya waktu itu, mas Iwan sudah menjadi partner yang setara dan saling membutuhkan bagi bisnis orangtuaku)

*****

 

Singkat cerita, pabrik itupun dalam waktu yang singkat ternyata berhasil bangkit kembali. Pemiliknya sampai sekarang menjadi partner dan teman yang sangat dekat dengan mas Iwan (walaupun dia tentu saja sudah seumuran orangtua kami). Secara mengejutkan, keputusan kapan-jual dan kapan-beli yang diputuskan mereka berdua bersama justru menghasilkan keuntungan yang luar biasa di masa krisis itu.

 

Harga barang yang melonjak tidak menentu disaat krisis itu, ternyata justru adalah jalan Allah untuk kami akhirnya malah bisa membeli rumah sendiri...Subhanalloh, alhamdulillah...siapa yang bisa mengira?? Bahkan kami pun rasanya sulit percaya...Tidak akan ada yang punya kuasa dibalik semua ini kecuali Allah azza wa jalla... (Semoga tak ada yang kami lakukan untuk menghadapi semua ini kecuali memperdalam sujud dan syukur kami..amin)

 

Dibalik Kesulitan, Allah berjanji PASTI ada Kemudahan...!!

*****

 

 

Sekarang ini, setelah hampir 10 tahun usaha, selain di pabrik paku itu, mas Iwan sudah juga menjadi distributor untuk beberapa barang/pabrik lain. Cukup sering buat kolega melongo begitu tahu umurnya, tapi yang paling membuatku bangga, dengan sistem yang sudah tertata di kantornya sekarang, mas tidak lagi menemui kesulitan untuk menghabiskan "waktu yang berkuantitas dan berkualitas" dengan anak-anak dan isterinya dirumah... Subhanalloh...Semoga inilah tanda bahwa rezeki yang kami terima dari Allah SWT, berkah adanya...Amin..!!

 

Tahukah apa cita-cita kami berdua sekarang? Tak ingin menjadi danau, kami hanya ingin menjadi sungai... ;-) mohon doanya... :-)

 

*****

(bersambung ke bagian terakhir...)

 

Minggu, 30 September 2007

Menikah Muda Part 5 : Dibalik Musibah SELALU Ada Hikmah!

Sekali lagi, ketika barusan membuka MSWord untuk menulis lanjutan postingan blog “Menikah Muda” ku, teringat kembali nasib sinetron2 Indonesia yang selalu berpanjang-panjang, episodenya selalu ditambah-tambah sampai alur ceritanya bikin eneg karena terlalu dipaksa lama sampai-sampai nggak masuk lagi di akal (bahkan akal2 orang kreatif yang imajinatif sekalipun, saking konyolnya).

 

Bulatkan tekad, jangan sampai senasib dengan cerita2 sinetron itu, insyaAlloh postingan ini nggak akan lebih banyak episodenya dari serial Harry Potter deh. Hehe...

 

Selain itu, terus terang ada alasan emosional yang tak bisa kuhindari, sangat menggelitik hatiku. Seorang teman, Mbak Lily, tempo hari dengan “kejam”nya sudah membuat pengakuan dudul “Saya menyimpan banyak komentar untuk mbak Wahida, tapi biarlah saya simpan dulu sampai ceritanya tamat”.

 

Duhhh...terus terang aku bukanlah orang yang begitu terobsesi dengan apa komentar orang terhadap apapun dari diriku. Tentu saja bukan juga lalu aku cuek dengan apa kata orang (apalagi kalau itu berisi pelajaran dan dukungan tentu saja).

 

Tapi please....ini mbak Lily gitu loh..!! :D

Even though we only met online, but ever since, diam-diam she’s been more like a mentor to me. I got so many lessons from her, her personality, her strenght (specially after her Aceh’s tsunami tragedy that swept almost all of her family away), the way he’s doing with the kids (all the way!), her wisdom, everything! She’s practically one of my idol! :D

Jadi maklum kan kalo komentar yang dia simpan itu jadi sangat berharga untuk cepat-cepat kudengar? It will be a precious input for me and my life. And above all that, I just can’t stand being curious!! :D

 

So here we go... Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1, Part 2, Part 3 dan Part 4

*****

 

Sehabis keguguran, sebenarnya aku bisa mengatasi perasaanku dengan cukup baik. Umurku masih 20 tahun waktu itu. Mas Iwan juga baru 21 tahun. Akan masih panjang kesempatan untuk kami berdua. Bahkan, setelah beberapa bulan berlalu, aku mulai menemukan hikmah dari semuanya. Rahasia Allah yang ternyata memang untuk kebaikan semua (termasuk PASTI untuk “The First” kami tentunya).

 

Ritme kerja mas semakin menggila. Waktu yang kami habiskan berdua sangatlah sedikit. Waktu itu, dia sudah mulai merintis usaha berdagang paku. Tanpa modal, tentu saja harus dengan sistem “makelar”, membeli barang dengan bayar kredit selama 3 minggu untuk kemudian dijual kontan atau 2 minggu.

 

Dibantu satu orang teman kuliahnya, mas pun melakukan semuanya sendiri. Mengambil dan mengantarkan barang berupa paku, mur, baut, kunci pas, obeng, dll yang cuma beberapa dos sehari (maklum pengirimannya kan masih pake motor). Dia cerita bahwa tak ada pilihan lain, setiap hari dia HARUS berhasil menjual dagangannya, karena ada batas minimum pengambilan barang per bulan yang harus dipenuhinya kalau mau terus bisa membayar 3 minggu. Termasuk Hari Minggu! Kuliahnya di Teknik Sipil sedikit banyak membantunya mendapatkan pembeli, karena praktek tugas lapangan kebanyakan di proyek2 pembangunan. Dosennya pun tak urung akhirnya jadi pelanggan juga. :D

 

Disamping itu, ternyata kuliahku pun memasuki masa-masa sibuk luar biasa dan sangat menyita waktu. Jadwal penuh, tugas dan praktikum yang menumpuk tidak menyisakan banyak waktu lagi untukku. Aku tak membayangkan akan bisa memberikan perhatian penuh untuk keduanya kalau aku juga punya bayi.

 

Dulunya, aku selalu berpikir bahwa dengan tekad kuat dan manajemen waktu yang baik, seorang wanita akan bisa melakukan 2 hal ini sekaligus : kuliah dan menjadi ibu yang penuh perhatian. Ditambah pengetahuan tetek bengek tentang waktu (kualitas vs kuantitas), aku juga melihat banyak contoh wanita bisa menjalankan keduanya. Tetapi justru anak tetangga lah yang kemudian membuatku sadar bahwa ini tidak akan bisa berhasil untukku..Tidak akan pernah !!

 

Tetangga sebelah rumah mertua yang juga masih saudara kebetulan punya anak, usianya waktu itu sekitar 3 tahunan. Karena memang sangat menyukai anak-anak (ditambah baru saja keguguran), tak perlu waktu lama untukku menjadi dekat dengannya. Satu hal yang sangat hebat dari anak-anak adalah mereka tidak pernah mengenal istilah “bertepuk sebelah tangan”. Bagaimana kita mencintai mereka, maka seperti itulah mereka akan balik mencintai kita. Dia pun menjadi semacam “tergantung” padaku. Setiap melihatku berangkat kuliah, dia selalu merengek untuk ikut.

 

Saat itulah pelan-pelan tapi pasti aku menyadari hikmah dari semuanya...

 

Singkatnya, kalau saja waktu itu memang anakku ditakdirkan untuk lahir di dunia ini, maka tidak akan ada harapan SAMA SEKALI untukku bisa menyelesaikan kuliah !! Aku akan jelas-jelas memilih untuk drop-out saja daripada harus menghadapi perasaanku sendiri setiap melihat anakku dengan tidak rela melepasku pergi kuliah. Atau ketika harus terpaksa menyuruhnya bermain dengan orang lain ketika aku harus fokus menyelesaikan tugas-tugas dirumah.

 

Dan figur ayah... Aku saja waktu itu sering merasa nelangsa karena jarangnya bertemu dan menghabiskan waktu berdua dengan mas, masih perlukah anak kami juga merasakan yang sama?

 

No and absolutely NOT! Konsepku tentang sebuah keluarga tentu saja bukan seperti itu. Konsepku tentang keluarga bukanlah soal pertemuan yang “terbatas tetapi berkualitas”. Dengan alasan apapun, kerja atau kuliah! That would be not enough for me! Konsepku tentang keluarga, is all about WAKTU YANG BERKUANTITAS SEKALIGUS BERKUALITAS!!

*****

 

Jadi inikah rahasiaMu untukku, Ya Allah...? Semakin dalam kutemukan hikmahNya, tak terasa semakin sering kulantunkan Al-Fatihah untuk ruh anakku...semakin dalam rasanya sujudku menghujam ke hatiku...dan akupun semakin dalam merindunya, dia yang sedang menungguku di pintu surga... Ya Allah, sampaikanlah aku kesana... kumpulkan kami berdua kembali Ya Allah...

 

*****

Seraya menunggu untuk hamil lagi, maka akupun fokus dengan kuliah. Juga si mas, dengan kerjaannya (dan kuliahnya yang semakin dirasanya membosankan :D). Sampai sekitar pertengahan tahun 1998, Allah Yang Maha Kuasa sekali lagi menunjukkan kuasanya yang luar biasa kepada kami berdua.

 

Setahun sebelumnya, mas Iwan masih berjualan sekadarnya dengan motor. Secara ekonomi, bisa menutupi biaya kuliah kami saja, kami sudah sangat bersyukur dan merasa beruntung. Lantas, siapa yang bisa mengira kalau tahun 1998 itu, kami berdua berhasil membeli rumah sendiri ?!?!?!? Ya! Rumah mungil yang kami beli sendiri dan sampai sekarang kami tinggali ini adalah salah satu bukti betapa kalau Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah! Masuk akal manusia atau tidak, itu bukan hal yang penting lagi! (cerita tentang hal ini bisa disimak nanti di Part 6, insyaAlloh :D)

 

Tak terkira bahagianya kami berdua ketika pindah kerumah baru. Tanpa menunggu furnitur terbeli, kami pindah saja kesitu. Kamipun tidur di rumah yang masih melompong, beralas selembar karpet pinjaman mertua, berbekal TV kecil yang baru saja kami beli dan kompor gas kecil kado pernikahan dulu.

 

Duh masyaAlloh nikmatnya...it’s like we’re just married for the second time! Hanya tinggal berdua di rumah baru, rasanya kami berada dalam masa bulan madu kembali.

 

Bulan madu kedua ini ternyata juga tidak berlangsung lama, karena mas pun harus cepat-cepat kembali ke ritme kerjanya yang sekarang sudah bertambah parah. Jadilah aku melewatkan sebagian besar waktuku sendirian dirumah kami. Bener-bener sendiri! Terkadang, karena tuntutan pekerjaannya yang sekarang sudah harus melayani pembeli luar kota (bahkan luar provinsi), tiap 2 minggunya mas Iwan harus meninggalkan aku sendirian sampai 3-4 hari.

 

Ibu mertua berkali-kali protes karena mengkhawatirkan keselamatanku. Ibukku hanya bisa telepon sehari sejuta kali untuk memastikan aku baik-baik saja sambil selalu menelan kekecewaan karena tawarannya untuk mencarikan aku pembantu selalu kutolak. Aku tidak akan mengorbankan nikmatnya tinggal berdua dengan mempunyai pembantu! Lagipula, dari kecil aku selalu menikmati pekerjaan2 rumah khas ibu rumah tangga. Lama-lama aku pun menjadi biasa. Sibuk di kampus pagi sampai siang hari, mengurus rumah sore hari, dan dimalam hari, banyak kulewati sendiri (dari membaca, nonton tv sampai mulai berkenalan dan jatuh hati dengan internet).

 

Lama hidup seperti ini kujalani, sampai kemudian kusadari sudah 2 tahun berlalu sejak aku keguguran, dan aku belum juga hamil lagi. Selama itu, tak kurang sudah 6 atau 7 kali aku mengalami gagal hamil. Terlambat mens 2-3 minggu, dites hasilnya positif, tetapi 1-2 minggu kemudian luruh lagi dalam bentuk gumpalan2 besar yang mengerikan. Sangat melelahkan secara emosional, karena berkali-kali harapan kami yang membumbung ketika mengetahui hasil tes positif, harus sirna begitu kemudian luruh lagi. Lama-lama, tanda positif di testpack yang sering kami temui, tidak lagi membuat kami antusias karena takut berharap lebih untuk kemudian merasa kecewa lagi.

 

Aku menjalani bermacam-macam terapi, selama beberapa tahun itu sampe kemudian aku merasa cukup ketika setelah terapi hormon selama beberapa bulan, berat badanku jadi melambung sampai lebih dari 25 kilogram!

 

Aku mohon dengan amat sangat agar mas mengurangi waktu kerja diluarnya dengan mempekerjakan orang untuk membantunya. Alhamdulillah dia setuju, disamping memang waktunya juga dia fokus ke tugas akhir kuliahnya. Tak lama kemudian walaupun dengan susah payah berkubang darah (yang ini sih hiperbolic banget! Hihi), akhirnya tahun 1999 si mas menyelesaikan kuliah sarjananya.

 

Lepas dari perawatan dokter kandungan, aku tenggelam dalam cara alternatif. Dari pijat, terapi herbal sampai semua tips berhubungan ala apa saja kami coba. Nihil, aku tak juga kunjung hamil. 

 

Tahun 2000 kembali aku ada di persimpangan. Ketika baru saja proposal skripsiku diterima, aku sekali lagi termangu melihat tanda positif di test pack. Dengan berdebar kutunggu 2 minggu, 3 minggu, sampai kemudian USG menunjukkan bahwa aku berhasil melalui 3 bulan pertama yang mengkhawatirkan. Kami tenggelam dalam rasa syukur yang dalam, dan aku langsung saja ambil cuti kuliah (lagi?? :D).

 

 

Hari Kamis, 30 Oktober 2001, penantian kami yang panjang terjawab dengan lahirnya Abe... Lucunya, aku keguguran di hari Kamis akhir Oktober juga (1997). Sebuah kebetulan yang sedikit misterius ya? Hehe...

 

Skripsiku? Jangan tanya lagi, sudah pasti terbengkalai! Kini Abe-lah pusat duniaku dan tak kubiarkan terkorbankan sedetikpun walaupun demi menyelesaikan kuliahku yang cuma tinggal skripsi saja. Teman-teman seangkatan sudah pada lulus ketika itu, membuat semangat tambah melemas. Ketika aku hamil lagi 2 tahun kemudian, ancaman drop-out yang didepan mata pun sudah tak membuatku bergeming. Dorongan dan dukungan luar biasa dari suami-lah yang kemudian berhasil menyeretku ke ruang sidang skripsi.

 

Ketika aku resmi diwisuda Januari 2004 itu, aku sedang hamil Bea 6 bulan. Yang lucu ternyata aku sempat wisuda bareng teman seangkatan, bedanya dia S2 sedangkan aku baru S1! Hehe...dan karena aku masuk kuliah tahun 1995, maka berarti masa studiku hanya untuk jenjang S1 saja (termasuk cuti2 itu) adalah sepanjang 9 tahun!

 

Fuuuiiihhh... :D

*****

 

(bersambung...kontraknya tinggal 2 episode lagi nih :D)

 

Kamis, 27 September 2007

Menikah Muda Part 4 : Tabungan Kami di Dunia dan (hopefully) di Pintu Surga

Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1,  Part 2 dan Part 3
 
*****

 

Sepulang dari acara “PsychoCamp” sekitar Bulan Juli 1997. Ah, satu lagi acara yang menguras tenaga. Tentu saja. PsychoCamp adalah acara rutin Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi Unair dalam rangka orentasi mahasiswa barunya setiap tahun. Bertema alam, setiap tahun kemping diadakan selama 3 hari di hutan/bumi perkemahan. Acaranya tentu saja full outdoor activities khas emping macam hiking, outbond games (waktu itu yang namanya outbond belum seperti sekarang sih) sampai jurit malam dan api unggun.

 

PsychoCamp 1997 memberi warna beda bagiku dibanding tahun sebelumnya. Tahun 1995 posisiku sebagai mahasiswi baru, dan tahun 1996 aku absen karena harus mengambil cuti kuliah ketika pergi haji. Ditambah sedikit pelarian dari keadaan rumah tangga baruku (lihat di Part 3), maka di PsychoCamp 1997 itu semangatku selama kemping serasa membuncah sedikit melebihi yang seharusnya.

 

Ada bagian dalam diriku saat itu yang tanpa kusadari ternyata sangat merindukan berkegiatan dengan teman-teman (kuliah). Tahun sebelumnya terasa amat panjang, penuh gejolak dan perubahan yang cukup drastis dalam hidupku, dari urusan pernikahan sampai dengan pergi menunaikan haji. Belum lagi perubahan status dari sekedar mahasiswi menjadi juga seorang istri. Dari anak kost menjadi seorang menantu yang numpang dirumah mertua. Kalau ada yang membaca tulisanku ini merasa harus melongo melihat betapa cepat hidupku berubah dalam kurun waktu setahun itu, percayalah, aku juga!

 

Tetapi, bahkan puncak adrenalin pun ada batasnya. Setelah beberapa waktu exciting dengan segala perubahan yang terjadi, ada masa dimana kemudian aku merindukan sesuatu yang telah hilang (atau sebenarnya tidak hilang, hanya berubah). Teman-teman, kampus dan segala pernik khasnya, organisasi yang sejak SMP selalu menjadi rumah kedua, semua yang aku tahu harus banyak terkurangi begitu aku menikah.

 

Maka acara PsychoCamp 1997 itu serasa jadi momen kembaliku. Melepas kerinduanku akan serunya berkegiatan dan ngumpul dengan teman-teman. Energi yang kukeluarkan lewat pikiran dan semangatku waktu itu, tanpa kusadari melebihi kapasitas tenaga fisikku. Begitu pulang ke rumah (rumah mertua maksudnya :-D), aku sempat mengalami kelelahan yang cukup parah.

 

Sampai sekitar seminggu kemudian, kusadari bahwa si tamu bulanan sudah 3 minggu telat datang... Nggak mengkhawatirkan juga karena memang biasanya si tamu itu tidak teratur datangnya, kadang terlalu cepat, kadang juga bisa lama telat... Mas Iwan lah yang kemudian iseng pulang bawa testpack kehamilan...dan ternyata memang hasilnya POSITIF!

 

!!...Alhamdulillah...!! Kami semua tenggelam dalam rasa syukur yang dalam... :-)

 

Tentang bagaimana semua orang semangat, sudah kutulis juga di tulisan terdahulu (lihat Part 3). Si bayi sempat kujuluki “The First”, since he/she will be the first of everything (child, grandchild from both sides of family, nephew, everything). Bahkan ketika masih berusia 2 bulan dalam kandungan, dia sudah merebut hati semua orang dan menjadi tumpuan harapan kami semua. Tentu saja, terutama aku dan suami. Semua sudah penuh dengan rencana-rencana menyambut datangnya “The First” kami. “Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk dia, menabung sebanyak mungkin uang didunia ini untuk kalian berdua” kata suami waktu itu yang tak urung kutingkahi dengan ngeri khawatir. Masih mungkinkah ada yang namanya bekerja “lebih keras” lagi daripada dia waktu itu?

 

Tidak mengherankan jika kemudian awal kehamilanku menjadi sangat menyenangkan. Selain karena dari sebelum baligh pun aku sudah membayangkan betapa cool nya kalau aku nanti hamil, juga karena semua orang kelihatannya tidak ingin melakukan apa-apa kecuali memanjakanku. Aku bahkan sangat menikmati morning sick yang katanya menyebalkan itu :-D

 

Suatu sore kira-kira 2 bulan kemudian, sepulang kuliah aku dan mas sedang jalan ke toko buku. Saat pergi ke toilet, aku mendapat kejutan berupa flek merah yang cukup banyak. Jelas-jelas merah. Dan banyak! Tak terbayang panikku saat itu. Dengan motor kami langsung pergi ke dokter. Parahnya, antrian sedang banyak dan baru sekitar 4 jam kemudian aku tertangani dokter, itupun setelah mas memaksa-maksa suster penjaga dan mengatakan kalau ini keadaan darurat! Antrian di beberapa dokter2 kandungan senior di Surabaya memang sudah nggak masuk akal!

 

Singkat cerita akupun berakhir bedrest di RS malam itu... Ada hikmahnya juga antri lama, karena memberi waktu ibukku datang dari Tulungagung ketika aku masuk kamar RS. Sungguh hanya beliau yang bisa membuat tenang hatiku. Masih besar harapan, kata dokterku, asal aku bedrest. Sampai berapa lama? Salah satu dari sedikit dokter kandungan wanita yang senior itupun mengangkat bahu. Kita lihat saja nanti...Yang jelas, pasien disebelahku bercerita kalau dia harus bedrest total selama kehamilannya. Sudah 6 bulan dia “tinggal” di RS Darmo Surabaya. Beri kami kekuatan Ya Allah...begitu batinku terus. Saat itu akupun masih sempat memikirkan UTS yang sudah sebentar lagi. Beri aku kekuatan Ya Allah, aku ingin bisa ikut UTS atau kuliah akan molor lebih lama lagi karena semester sebelumnya aku sudah mengambil cuti.

 

Semua orang dengan berdebar mendoakan kami...Teman-teman kuliah tak ketinggalan menunggui di RS sambil secara sok tau menganalisa kenapa sampai aku keluar flek :D. Rata-rata menduga PsychoCamp lah sebabnya. (Percayalah, mereka memang benar2 teman yang patut dirindukan sampai sekarang :-D). Apa mau dikata, waktu itu memang aku belum sadar kalau aku hamil, dan memang aku beraktivitas selayaknya orang yang tidak hamil muda! Hiking naik turun bukit, ikut loncat2 selama games, dan banyak lagi. Yah...meskipun mungkin benar, yang pasti Allah pasti punya rencanaNya sendiri. Banyak juga kulihat ibu-ibu yang walaupun hamil muda tetapi tetap aktif bahkan bekerja, dan bayinya terbukti baik-baik saja. Semua ada ditangan Allah...

 

Setelah 4 hari bedrest pun, kabar gembira itu datang. Aku boleh pulang, asalkan tidak banyak bergerak dan rajin minum obat. Kuliah boleh, asalkan dalam rentang waktu seminggu kemudian, dan flek tidak keluar lagi. Dan aku hanya boleh naik turun tangga sekali sehari (ruang kelas di kampus ada di lt. 3).

 

Baru 2 hari aku dirumah, dan ibukku pun baru sore tadi pulang ke Tulungagung. Malamnya, kurasakan sakit yang semakin lama semakin amat sangat menjalar di punggung bawahku. Semalaman sakitnya bukan berkurang, malah bertambah hebat. Selama ini banyak yang selalu mengagumi kemampuanku menahan sakit, tapi yang ini benar-benar tak tertahankan lagi. Tengah malam, susah payah aku pergi ke kamar mandi. Untunglah, nggak ada flek. Tapi kenapa sakitnya tak kunjung berakhir juga? Sekilas, aku melihat wajah ibu mertua yang ikut menjagaku, sudah menggambarkan rasa sedih yang pasti. Akan keguguran kah aku?? Oh, tidak Ya Allah, aku tidak boleh berhenti berharap padaMu...batinku terus menerus sesering rasa sakit yang amat sangat itu menghampiri. Aku cek lagi, tak ada flek yang keluar. Mengingat itu aku menjadi agak tenang dan memutuskan untuk mencoba tidur. Berhasil, karena memang aku kelelahan menahan sakit.

 

Sekitar pukul 4.30 paginya, aku terbangun karena sakit yang kurasakan menjalar lagi, dan rasa mendesak yang membuatku setengah lari pergi ke kamar mandi. Di terangnya lampu kamar mandi, jelas kulihat benda itu teronggok lemah di lantai... Bukan flek, bukan...ini lebih dari itu...”The First”-ku...

 

Lama dan lemas aku terduduk diam di lantai kamar mandi. Dengan wajah beku kulihat benda merah berlendir sebesar bola tenis didepan mataku. Punggungku yang semalaman terasa sakit, juga terasa beku...Pikiranku, hatiku, rasanya sekujur tubuhku memang membeku...tak berasa apa-apa kecuali kelu...

 

Sampai kudengar kemudian adzan subuh sayup2 terdengar....”Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun...” bisikku lirih dan sendiri...dengan bibir yang kurasakan bergetar, kemudian membeku...

Yang kuingat selanjutnya suara mas yang terbangun, agak lama juga kemudian kudengar dia menyebut bisik lirih yang sama. Yang kemudian mengangkatku, menggendongku dan membaringkanku kembali ke kamar tidur.

 

“The First kita mas....”, bisikku sambil kupeluk lengannya, kusadari baru pecah tangisku melihat lengan mas yang basah oleh air mata...

 

Waktu itu sebuah Kamis pagi di akhir Oktober 1997...

 

 

****

 

Senin paginya, teman-teman menyambut dengan gembira ketika aku datang ke kampus untuk hari pertama Ujian Tengah Semester. Begitu gembiranya mungkin, sampai-sampai tak ada yang menyadari gelayut mendung yang tak biasa di wajahku yang sebelumnya selalu cerah.

“Ingat, cuma boleh naik turun tangga sekali lho,” salah seorang teman mengingatkan.

“Mas Iwan aja suruh gendong Wahida keatas,” goda teman yang lain.

“Nggak papa, asal hati-hati naiknya, aku tunggu di kantin bawah ya,” jawab mas Iwan seraya menitipkan istrinya.

 

Selesai ujian, ketika banyak teman mengerubutiku, barulah aku cerita kalau 3 hari yang lalu aku baru saja dikuret, untuk mengeluarkan ari-ari si kecil yang sudah diminta kembali oleh Allah...

 

Sampai detik ini ketika aku menulis cerita ini pun, masih teringat betul suasana syahdu di ruang kelas tempat UTS diadakan itu. Kita menangis bersama, mereka menguatkan hatiku, saling menyeka air mata masing-masing di bangku ruang kuliah, berdoa bersama dan... ah, sekarang pun kerinduanku pada teman-teman jadi bangkit kembali. Kelak, akhir-akhir ini ketika beberapa teman yang menghiburku dulu itu mendapat ujian dan cobaan dari Allah menyangkut keluarga dan anak2nya, aku tidak bisa memberikan perhatian seperti yang mereka dulu berikan padaku (karena sekarang kita sudah hidup berjauhan dengan keluarga masing-masing). Bahkan sekedar memeluk bahagia ketika mereka melahirkan pun terkadang hanya bisa dilakukan lewat sms, chat setelah 3 bulan kemudian atau hanya via email. Duuhhh aku benar2 benar rindu kalian, sahabat-sahabatku, kalian lah penguat hatiku dikala aku rapuh...

 

Ada seorang teman, aku memanggilnya mbak Lely. Dia lah yang paling paham soal agama diantara kami. Sambil memeluk dan mengelus pundakku, dia membisikkan kata-kata ini padaku, “Kalau ada seorang ibu yang ikhlas ketika anaknya diambil kembali oleh Allah SWT, InsyaAlloh, anak itu akan menjadi tabungan di akhirat kelak. Dia akan menunggu ibunya di pintu surga, dan akan terus menolak masuk sebelum Ibunya datang menjemput dan menemaninya memasuki jannah...maka Ikhlaskanlah...Sungguh Wahida, aku begitu iri denganmu!”

 

Mbak Lely yang sangat kuhormati, kukagumi dan kusayangi ini, akhirnya selamanya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang Ibu, karena sekitar tahun 2002 yang lalu, setelah baru saja 2 bulan menikah, mbak Lely meninggal karena kecelakaan lalu lintas yang dialaminya... (Ya Allah, doaku senantiasa untukmu mbak...)

 

Hikss... ^_^

 

(bersambung)