Caution : Postingan ini mengandung hal-hal yang mungkin mengganggu acara makan Anda. Jadi bagi Anda yang ngempi sambil makan, sebaiknya selesaikan dulu makan Anda, baru baca.
:::::.....
Kalau ada satu hal yang benar-benar tidak layak untuk dipercaya menyangkut aku, itu adalah LIDAH. Sudahlah, pokoknya urusan citarasa makanan, jangan pernah tanyakan apa kata lidahku, yang hanya mengenal 2 rasa itu : enak, dan huenaakkkkk!!!
“Makan dimana nih kita?”
“Terserah Iwan aja deh, jangan terserah Wahida!” teman yang sudah apal, kalo lagi ngumpul dan nyari tempat makan pasti begini jawabnya. Ya, kebalikan dengan aku, Mas Iwan malah yang lebih peka urusan rasa. Biasanya memang tempat makan yang direkomendasikan dia, PASTI ENAK! Sedangkan aku? Apa yang menurutku sudah enak terkadang masih menyisakan kernyit di alis dan lidah orang lain hehe.
Eit, tunggu. Jadi ingat sesuatu. Nggak berbahaya??? Rasanya harus berpikir dua kali deh menjawabnya. Pikir-pikir, bebalnya lidahku ini bisa jadi bahaya juga sih, apalagi kalau ingat kejadian berikut ini.
Suatu siang, aku dan teman-teman ngumpul makan siang bersama di sebuah restoran masakan
Coba-coba, wah memang enak (apa sih yang nggak enak di lidahku coba??). Ayam bakarnya enak, Iga bakarnya apalagi. Setelah mencicipi beberapa jenis masakan, sampailah mataku kepada menu ikan (karena suka sekali ikan, aku selalu mengakhirkan menu ikan, itung-itung save the best for last hehe).
Gurami, digoreng garing...
Kucuwil beberapa sendok ke piringku. Ini pasti gurih! Ternyata ada kejutan, didalam ikannya ada juga kuah yang lalu kusendokkan juga ke nasi di piring. Benar-benar menu baru karena sebelumnya aku nggak pernah lihat yang kaya begini. Kucoba, hemm...di lidahku kuahnya terasa segar, campuran citarasa asam dan kecut yang cukup menggigit. Ikannya juga gurih dan garing, kriuk-kriuk sekali. Enak juga ya??? batinku.
“Enak nggak, Wahida?” tanya Mbak Sisil yang duduk pas didepanku, di seberang meja. Yang lain segera menaruh perhatian ikut menunggu jawabanku, karena memang belum ada yang mencoba menu ikan satu ini.
“Enak! Kuahnya segar lohh! Mirip masakan asem-asem itu!!” kataku enteng sambil terus mengunyah dan menyendokkan ikan berkuah lagi ke mulutku.
“Oya??? Aku nyoba juga deh kalo gitu” kata Mbak Sisil mengambil sendok yang ada diatas ikan goreng, berniat mengambil ke piringnya juga. Tapi kemudian, dia berhenti sambil mengernyitkan dahi...
“Ini gurame apa sih?? Tadi siapa yang pesan?? Ini namanya gurame apa?” Setelah tengak tengok, ternyata jawabnya ketemu. Itu Gurame Goreng Asam Manis. Lhoo?? GAM kok begini tampilannya?? Lagian GAM kok pake ada kuahnya segala??
Mulai mengendus ketidak beresan, Mbak Sisil yang pengalaman urusan menu begini (maklum dia pemilik restoran juga), langsung memanggil pegawai restorannya. Aku tak urung menghentikan kegiatan menyendok, walaupun masih terus mengunyah. Ini mah gurame asem-asem, bukan asem-manis, batinku..
“Mas Mas, tadi kita pesen gurame asam manis, kok begini sih mas?”
“Iya mas, ini mah namanya asem-asem gurame!” kataku testimoni, sebagai yang sudah memakannya
Si Mas pegawai restoran kemudian mengambil piring berisi gurame goreng itu dan memeriksa. Terutama saus (kuah) yang ada didalam badan ikannya.
Mukanya mendadak jadi aneh!
Hal berikut yang dilakukannya adalah membawa ikan itu ke ujung hidungnya.
Mukanya serius mencium-cium bau si ikan goreng itu.
Lalu dengan panik dan bingung, dengan suara geragapan dia buru-buru bilang ke Mbak Sisil.
“Maaf Bu, rupanya ada kesalahan. Ibu mau pesan lagi menu yang sama, atau mau ganti menu lain mungkin?? Silakan pesan lagi saja, ya Bu..”
Semua hening... Melongo lebih tepatnya...cukup lama... Lalu tanpa dikomando, semua mengarahkan pandangan mata kearahku...Yang juga melongo...
**ugh**
Tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak di perutku, semakin naik menuju kerongkongan. Seiring dengan kesadaran yang menghantam di kepalaku (dan sepertinya kepala semua orang juga) tentang sesuatu yang kedengaran seperti “asem”...”kecut”...”ikan”...“basi”..”busuk”...”kesalahan”...
Agghhhh!!!
Kali ini, bukan hanya kegiatan mengunyah langsung kuhentikan, tapi whatever apapun itu yang sedang kukunyah, langsung kukeluarkan lagi dari mulutku. Ya Amploooppp!!! What did I just do!!???
Sedetik kemudian, tatapan-tatapan melongo kearahku kontan berubah, meletus menjadi banyak hal. Dari rintihan prihatin, lolongan keheranan sampai omelan dan makian yang intinya “Kamu gimana siihhh??? Ikan busuk kok dibilang enakk???”
Yang paling menenangkan tentu saja Mbak Sisil, yang tertawa lebar tak jelas apa maksudnya *ngetik sambil sebel*....aku dan semua yang lain tentu tak punya pilihan lain selain ikut tertawa, mentertawakan siapa lagi kalau bukan diriku sendiri???
“Kalau besok ada apa-apa dengan aku, tolong jaga anak-anakku ya??” pesanku memelas kepada semua orang... Oalahhhhh...Dudul...
Bersyukur sekali ya, bahwa sampai hari ini, aku masih bisa hidup dengan sehat, tak kurang suatu apa, bahkan bisa mengetik cerita ini dengan besar hati **hahahahahaha** dan yang paling penting, Allah telah menganugerahiku dengan lidah bebal ini, sehingga setelah semua yang terjadi itu, aku sama sekali tidak trauma makan ikan lagi!
:::::.....
Cerita ini, sampai lama kemudian masih jadi pembicaraan diantara kami. Dan pelajaran yang diambil oleh semua orang ternyata adalah : Kalau makan sama-sama dan ada menu baru, PASTIKAN WAHIDA MENCICIPINYA TERLEBIH DAHULU!!