Rabu, 05 November 2008

Lidah Bebal

Caution : Postingan ini mengandung hal-hal yang mungkin mengganggu acara makan Anda. Jadi bagi Anda yang ngempi sambil makan, sebaiknya selesaikan dulu makan Anda, baru baca.

:::::.....

Kalau ada satu hal yang benar-benar tidak layak untuk dipercaya menyangkut aku, itu adalah LIDAH. Sudahlah, pokoknya urusan citarasa makanan, jangan pernah tanyakan apa kata lidahku, yang hanya mengenal 2 rasa itu : enak, dan huenaakkkkk!!!


“Makan dimana nih kita?”

“Terserah Iwan aja deh, jangan terserah Wahida!” teman yang sudah apal, kalo lagi ngumpul dan nyari tempat makan pasti begini jawabnya. Ya, kebalikan dengan aku, Mas Iwan malah yang lebih peka urusan rasa. Biasanya memang tempat makan yang direkomendasikan dia, PASTI ENAK! Sedangkan aku? Apa yang menurutku sudah enak terkadang masih menyisakan kernyit di alis dan lidah orang lain hehe.

Ngeselin? Mungkin. Tapi nggak berbahaya kan? Jadi aku ya santai saja. Malah hikmahnya, aku jadi nggak pernah rewel urusan makan. Mau makan apapun, dimanapun, khas daerah manapun bahkan yang khas mancanegara apapun, aku tak pernah mengeluh.

Eit, tunggu. Jadi ingat sesuatu. Nggak berbahaya??? Rasanya harus berpikir dua kali deh menjawabnya. Pikir-pikir, bebalnya lidahku ini bisa jadi bahaya juga sih, apalagi kalau ingat kejadian berikut ini.


Suatu siang, aku dan teman-teman ngumpul makan siang bersama di sebuah restoran masakan Indonesia di daerah Polisi Istimewa. Semua ada sekitar 12 orang, ibu-ibu geng sopir dan penunggu di sekolah anak-anak itu hehe. Dengan rekomendasi sana-sini, maka dipesanlah berbagai menu spesial di tempat itu. Tak berapa lama, menu pun keluar...

Coba-coba, wah memang enak (apa sih yang nggak enak di lidahku coba??). Ayam bakarnya enak, Iga bakarnya apalagi. Setelah mencicipi beberapa jenis masakan, sampailah mataku kepada menu ikan (karena suka sekali ikan, aku selalu mengakhirkan menu ikan, itung-itung save the best for last hehe).

Gurami, digoreng garing...

Kucuwil beberapa sendok ke piringku. Ini pasti gurih! Ternyata ada kejutan, didalam ikannya ada juga kuah yang lalu kusendokkan juga ke nasi di piring. Benar-benar menu baru karena sebelumnya aku nggak pernah lihat yang kaya begini. Kucoba, hemm...di lidahku kuahnya terasa segar, campuran citarasa asam dan kecut yang cukup menggigit. Ikannya juga gurih dan garing, kriuk-kriuk sekali. Enak juga ya??? batinku.


“Enak nggak, Wahida?” tanya Mbak Sisil yang duduk pas didepanku, di seberang meja. Yang lain segera menaruh perhatian ikut menunggu jawabanku, karena memang belum ada yang mencoba menu ikan satu ini.

“Enak! Kuahnya segar lohh! Mirip masakan asem-asem itu!!” kataku enteng sambil terus mengunyah dan menyendokkan ikan berkuah lagi ke mulutku.

“Oya??? Aku nyoba juga deh kalo gitu” kata Mbak Sisil mengambil sendok yang ada diatas ikan goreng, berniat mengambil ke piringnya juga. Tapi kemudian, dia berhenti sambil mengernyitkan dahi...

 

“Ini gurame apa sih?? Tadi siapa yang pesan?? Ini namanya gurame apa?” Setelah tengak tengok, ternyata jawabnya ketemu. Itu Gurame Goreng Asam Manis. Lhoo?? GAM kok begini tampilannya?? Lagian GAM kok pake ada kuahnya segala??

Mulai mengendus ketidak beresan, Mbak Sisil yang pengalaman urusan menu begini (maklum dia pemilik restoran juga), langsung memanggil pegawai restorannya. Aku tak urung menghentikan kegiatan menyendok, walaupun masih terus mengunyah. Ini mah gurame asem-asem, bukan asem-manis, batinku..

 

“Mas Mas, tadi kita pesen gurame asam manis, kok begini sih mas?”

“Iya mas, ini mah namanya asem-asem gurame!” kataku testimoni, sebagai yang sudah memakannya kan??

Si Mas pegawai restoran kemudian mengambil piring berisi gurame goreng itu dan memeriksa. Terutama saus (kuah) yang ada didalam badan ikannya.

 

Mukanya mendadak jadi aneh!

Hal berikut yang dilakukannya adalah membawa ikan itu ke ujung hidungnya.

Mukanya serius mencium-cium bau si ikan goreng itu.

Lalu dengan panik dan bingung, dengan suara geragapan dia buru-buru bilang ke Mbak Sisil.

“Maaf Bu, rupanya ada kesalahan. Ibu mau pesan lagi menu yang sama, atau mau ganti menu lain mungkin?? Silakan pesan lagi saja, ya Bu..”

 

Semua hening... Melongo lebih tepatnya...cukup lama... Lalu tanpa dikomando, semua mengarahkan pandangan mata kearahku...Yang juga melongo...

 

**ugh**

Tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak di perutku, semakin naik menuju kerongkongan. Seiring dengan kesadaran yang menghantam di kepalaku (dan sepertinya kepala semua orang juga) tentang sesuatu yang kedengaran seperti “asem”...”kecut”...”ikan”...“basi”..”busuk”...”kesalahan”...

 

Agghhhh!!!

Kali ini, bukan hanya kegiatan mengunyah langsung kuhentikan, tapi whatever apapun itu yang sedang kukunyah, langsung kukeluarkan lagi dari mulutku. Ya Amploooppp!!! What did I just do!!???

 

Sedetik kemudian, tatapan-tatapan melongo kearahku kontan berubah, meletus menjadi banyak hal. Dari rintihan prihatin, lolongan keheranan sampai omelan dan makian yang intinya “Kamu gimana siihhh??? Ikan busuk kok dibilang enakk???”

Yang paling menenangkan tentu saja Mbak Sisil, yang tertawa lebar tak jelas apa maksudnya *ngetik sambil sebel*....aku dan semua yang lain tentu tak punya pilihan lain selain ikut tertawa, mentertawakan siapa lagi kalau bukan diriku sendiri???

 

“Kalau besok ada apa-apa dengan aku, tolong jaga anak-anakku ya??” pesanku memelas kepada semua orang... Oalahhhhh...Dudul...

Bersyukur sekali ya, bahwa sampai hari ini, aku masih bisa hidup dengan sehat, tak kurang suatu apa, bahkan bisa mengetik cerita ini dengan besar hati **hahahahahaha** dan yang paling penting, Allah telah menganugerahiku dengan lidah bebal ini, sehingga setelah semua yang terjadi itu, aku sama sekali tidak trauma makan ikan lagi!


:::::.....

 

Cerita ini, sampai lama kemudian masih jadi pembicaraan diantara kami. Dan pelajaran yang diambil oleh semua orang ternyata adalah : Kalau makan sama-sama dan ada menu baru, PASTIKAN WAHIDA MENCICIPINYA TERLEBIH DAHULU!!

 




Senin, 03 November 2008

Aksi Geli-Geli di Pilkada

Maaf soal judulnya :-D

Suka geli nggak sih, melihat pernak-pernik Pilkada?

Nyoblos di Pilkada Gubernur Jawa Timur putaran kedua baru saja kulaksanakan pagi tadi. Tapi sesungguhnya, hati ini sudah sejak beberapa waktu yang lalu menahan geli melihat beberapa hal seputar Pilkada. Eh, barusan sempat chat sama mpok Harlia, mbahas soal pilkada juga. Fyi, chat sama Harlia itu, membahas hal horor dan serius aja bisa jadi geli, apa lagi membahas yang geli-geli???? Ancurrr hehehe.

Ini dia cerita yang menjadi catatanku, dan juga hasil reportase Mpok Harlia, menyangkut perhelatan pilkada di beberapa tempat.

 

#1

Salah satu Cagub di Jatim terkenal dengan brengos-nya yang lebat (brengos = kumis). Nah, akhirnya untuk slogan kampanye, dia pun memakai kalimat “Ojo Lali Rek, Coblos Brengose!” (Jangan Lupa Rek, Coblos Kumisnya). Memang slogan ini terlihat cukup efektif juga, apalagi di kalangan anak-anak. Suka juga jadi bahan becandaan. Hebohnya, bukan hanya ada di baliho dan spanduk, foto si Pake Cagub ini juga bertebaran di becak, bahkan kereta kelinci. Tak terkecuali kereta kelinci yang suka muter di kompleks. Dan aku perhatikan, foto-foto beliau selalu dudul, ada bekas culekan segala macam benda di seputar kumis dan wajahnya. Mungkin ulah mereka yang dengan taat menjawab seruan "coblos brengose!" itu tadi. Aduh ngeri dan geli juga jadinya liat wajahnya coreng moreng culekan di foto hihihi.


#2

Yang juga agak dudul adalah pasangan CaWagubnya. Untuk mengimbangi sang Cagub, akhirnya beliau ini bela-belain piara kumis (dan harus lebat dong!). Sempat jadi bahan obrolan yang lucu dengan Mas Iwan, karena prasaan beliau ini kan dari jaman dulu gak pernah berkumis lebat??? Berkumis sih, tapi jarang-jarang gitu. Lah, sekarang kok kumisnya ikutan lebat ya??? (**pingiiiin deh tanya apa resepnya??? minimal apa merk obat penumbuh kumisnya gituu**) hihihihi

 

#3

Mpok Harlia cerita, kalau di Jatim ada kumis, di Bandung lain lagi ceritanya. Diantara deretan nama Cagub dan Cawagub, ada sebuah nama : Dada Rosada. Maklum bin maaf, karena aku bukan orang Sunda, maka nama yang tak biasa di telingaku itu sukses bikin aku melongo takjub. Yang lebih bikin takjub lagi –kata Harlia- adalah slogan yang dia bikin. Apalagi kalo bukan “Coblos Dadanya!”       :-o

Reaktif, aku langsung memegang dada, membayangkan bagaimana sakitnya dicoblos, di bagian dada pula! *hihihi dudul*. Ketika aku komentar “Asal nggak gambarnya trus pake baju seksi aja, melanggar UU APP nanti dia” si mpok langsung menyambar “Dia laki-laki, dudul!!”

:-o
Sekali lagi maap bin maklum...karena aku bukan orang Sunda dan hanya bisa melongo takjub dengan ini semua :-D

 

#4

Go to Batam sekarang. Cerita Mpok harlia lagi... Setelah kelar pilkada, terpilihlah Walikota dan Wawalikota yang baru. Nah nama si Wakil Walikotanya itu “Ria Saptarika”. Beberapa waktu kemudian, sang Walikota mendapat banyak ucapan selamat, diantaranya berbunyi begini.

“Selamat atas terpilihnya, punya wakil walikota cantik lagi!”

Si pengirim ucapan ini pasti orang yang sangat sok tau, karena Wakil Walikota Ria Saptarika itu adalah LAKI-LAKI!! wakakakakakakak aduuhhhh!!!! **kok samaaaaa persis kaya aku sok taunya ya??**

 

Hayoo..ada yang punya cerita geli seputar Pilkada juga??



Jumat, 31 Oktober 2008

Bahkan RIDO Pun Menangis !


Kayaknya lama ya nggak nulis tentang serunya tingkah teman-teman Abe di sekolah?

Padahal stok cerita numpuk tuh, karena tiap hari sepulang sekolah Abe selalu “ngecipris” cerita ini itu tentang teman-temannya. Kebanyakan pasti cerita dudul.

Hm...jadi ingat cerita Abe beberapa hari lalu...

Ada yang ingat tentang temen Abe yang bernama Rido??

Yang sudah lupa atau belum berkenalan dengan Rido, coba deh baca dulu cerita Abe Jadi Korban Pijat Malpraktik ini. Setelah itu, jangan lupa balik kesini ya hehe.

Intinya, Rido itu memang jagoan deh di sekolah. Sudah banyak teman-teman yang dibuat klepek-klepek (baca: menangis :D) sama dia. Tapi di sisi lain, Abe selalu melihat banyak hal lucu dari diri Rido. Faktanya, memang waktu kelas 1 dulu mereka satu kelas, jadi Abe lumayan akrab juga sama dia. Buktinya, uji coba kemampuan memijat pun Abe dengan senang hati mau menjadi relawan kan? Hihihi. Ya, berkat Rido, hari-hari Abe menjadi lebih berwarna :-D

Walaupun sekarang di kelas 2 Abe-Rido sudah nggak sekelas lagi, tapi kadang-kadang mereka masih suka ketemu juga. Apalagi di kelas mengaji, mereka masih satu kelompok. Beberapa hari lalu, Abe cerita bahwa Rido menggegerkan kelas mengaji.

“Tadi itu semua GEGER gara-gara Rido, Buk!” lucu mendengar Abe mengucapkan “geger” karena lidahnya yang terbiasa ngomong bhs Indonesia, suka lucu kalo mengucapkan kata-kata Jawa.

“Kenapa lagi dia?” tanyaku sambil menyetir dalam perjalanan pulang. Memori di otak langsung memanggil adegan-adegan Rido : ketika membuat petugas pengantar katering makan siang teriak2 panik ketika keretanya diambil alih Rido dan didorong sepanjang lorong ruang makan padahal masih penuh makanan, atau ketika Rido mengagetkan anak yang sedang pipis sampai kaget dan pipisnya berceceran kemana-mana dan menangis, juga adegan lain dengan genre sejenis. (Semua hasil cerita Abe sih, tapi walau cuma denger saja, aku sudah geli duluan sama anak ini).

“Tadi waktu mengaji, tiba-tiba Rido MENANGIS, Buk!”

Haaa??? RIDO MENANGIS???

Wah kamu bener Be, ini baru GEGER namanya!!

Aku langsung tertarik. Bukan pada fakta bahwa Rido menangis, aku lebih tertarik pingin tahu siapa gerangan yang sudah BERHASIL membuat Rido menangis! :-D

“Wah nggak kebayang deh Ibu lihat Rido bisa menangis. Gimana ceritanya dia sampai nangis sih Be??”

“Tebak”

Haduh ini anak. Turunan bapaknya banget, kalo cerita selalu begini, diulur-ulur, dipanjang-panjangin biar yang denger tambah penasaran!! *and they both know that i hate to be curious, i hate it to death* alamak...

Ya sudahlah, beberapa tebakan kuberikan : dimarahin ustad, dipukul temen, uang saku hilang (jujur, aku pun tahu kalo tebakanku ini gak akan bener, karena nggak mungkin hal2 itu akan bisa membuat Rido menangis)

“Nyeraahhh!”

“Tadi itu kita semua lagi serius mengaji. Ehhhh tiba-tiba Rido begini..”

Abe pun siap memeragakan dengan dramatis (yang niruin aja udah dramatis, gak kebayang yang aslinya). Tangan kanan diangkat, punggung telapak tangan ditempelkan ke mata, digosok-gosokkan sambil mengeluarkan suara tangis yang menyayat hati.

“HUHUUUUUUUU!!!!!! HUHUUUUUUUUU HUWAAAAA!!!!!! NGANTUUUUUUUKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!”

 

***gubraaaaaaxxxxxxxxxxxxxx***

Jadi Rido menangis karena NGANTUKKK????

“Iya, katanya dia tadi malamnya tidur jam setengah 11 malam karena diajak nonton film Laskar Pelangi sama papanya”

Kami pun jadi ngakak tertawa berdua di mobil. Rido...Rido...

:::::.....

(Ket. Foto : Rido waktu peringatan Maulid Nabi kelas 1 tahun lalu)



Rabu, 29 Oktober 2008

Ulang Tahun Yang Sangat Penting!

Hari ini, 30 Oktober 2008, alhamdulilah usia Abe genap 7 tahun. Seperti ulang tahun sebelum-sebelumnya, keputusan kami lah untuk tidak melakukan kemeriahan apa-apa kalau ada yang ultah di keluarga ini. Paling hanya sebentuk kado kecil dan segudang peluk cium plus doa untuk the birthday boy. Seperti biasa juga, tadi pagi aku sudah menulis pesan khusus untuk ustadzahnya, di buku penghubung. Kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak Abe mulai sekolah Playgroup dulu, setiap kali dia berulang tahun.

 

“Asw. Ustadzah, alhamdulillah, hari ini 30 Oktober 2008 usia Abe genap 7 tahun. Ada tugas dari Ibuk untuk Abe di sekolah : meminta sebanyak mungkin doa dari semua ustadz/ah yang ditemui di sekolah, semoga Abe tumbuh jadi anak sholih dan mandiri. Mohon dukungannya. Terimakasih.”

 

Walaupun tak ada kemeriahan apalagi pesta, tapi ulang tahun kali ini menjadi salah satu ulang tahun yang paling PENTING untuk Abe dalam perjalanan hidupnya. Mengapa?

 

Ini gara-gara sebuah tips dalam mendidik anak yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Sebuah tips yang –syukurlah- sudah aku baca (dari majalah2 dan buku) dan dengarkan (dari pengajian2) sejak sebelum anak-anak lahir. Tips dari Rasulullah yang ternyata kemudian aku dapati sangat sesuai dengan teori-teori perkembangan dalam Ilmu Psikologi.

 

7 tahun pertama, perlakukanlah anakmu seperti seorang pangeran didalam istana

7 tahun kedua, perlakukanlah anakmu seperti seorang murid dengan gurunya

7 tahun ketiga, perlakukanlah anakmu sebagaimana seorang sahabat yang paling dekat

 

Memang luar biasa tips dari Rasulullah. Teori psikologi perkembangan dari manapun pasti akan setuju dengan tips ini!

 

7 TAHUN PERTAMA

Masa dimana anak-anak harus mendapatkan kebebasan dalam ber-EKSPRESI. Ketika dia harus bisa mengaktualisasikan dirinya dengan kebebasan yang tanpa batas. Dimana anak-anak tidak boleh terlalu banyak dilarang atau mendengar seruan “Jangan!”. Kasarnya, apa-apa aja boleh dan maklum deh. Mau loncat-loncat pencilakan, mau teriak dan tertawa terbahak-bahak, mau main kotor, main ini main itu, bertingkah ini bertingkah itu, semua silahkan! Dituruti! Wah kayaknya periode ini memang paling fun ya? Memang! Itu juga kok yang kurasakan sebagai orangtua :-D malah terkadang aku sedikit terlalu lebih “having fun” daripada anaknya atau daripada semestinya hehehehe.

 

7 TAHUN KEDUA

Bahkan Piaget, psikolog kondang sepanjang masa itu, setuju dengan Rasulullah, dengan menyebut bahwa usia anak 7-12 tahun adalah usia untuk mulai belajar tentang MORAL. Tentang apa yang benar dan salah. Tentang apa yang patut dilakukan dan yang tidak. Waktunya anak-anak belajar tentang hak dan kewajibannya, baik sebagai makhluk individu, maupun makhluk sosial. Waktunya anak-anak belajar tentang sopan santun dan tanggungjawab. Baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Baik kepada orangtua, maupun kepada teman bahkan adik dan sepupu yang lebih kecil. Intinya, anak-anak mulai belajar! Ada kalanya orangtua harus mengatakan “Jangan lakukan ini, karena akan berakibat begitu”. Ada kalanya anak belajar untuk benar-benar menerima konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Waktunya orangtua memasang ‘standard bar’ akan apa yang baik dan tidak untuk dilakukan (tentunya menurut norma-norma yang dianut oleh keluarga tersebut). Ya, anak-anak mulai menjadi murid, dan kita lah yang menjadi gurunya. Yang menjadi tauladan dalam rangka menunjukkan apa yang baik dan tidak untuk dilakukan.

 

7 TAHUN KETIGA

Praktiknya, anak-anak mulai ABG (usia 14 tahun kan?). Mulai subur benih-benih pemberontakan kepada orangtua, yang kata para ahli sebenarnya adalah cara dia menunjukkan bahwa dia adalah pribadi yang berdiri sendiri (which is, a good thing right??). Bukan lagi seorang ‘anak’ yang harus selalu menurut apa kata orangtuanya. Bahkan, kata-kata seorang TEMAN akan lebih menarik dan masuk akal daripada kata-kata orangtua. Apa aja deh, pokoknya jangan berurusan dengan orangtua (baca: makhluk-makhluk yang serupa bos galak dan suka memerintah dan selalu memperlakukannya seperti anak kecil).

Rasanya kalau sudah tiba waktunya, inilah saat dimana nanti aku harus berhenti menjadi orangtua bagi anak-anak. Paling nggak, berhenti jadi makhluk-makhluk yang serupa bos galak dan suka memerintah dan selalu memperlakukan remajanya seperti anak kecil. (Duh, semoga aku bisa, mendengar banyak cerita orangtua menghadapi anak-anak remaja, semoga aku menjadi tambah siap dan waspada). Ya, saatnya berhenti menjadi orangtua, dan mulai menjadi SAHABAT bagi anak-anak. Hal yang tidak mudah, tapi aku percaya ini mungkin (banyak juga contoh orangtua-orangtua yang menurutku berhasil melakukannya, semoga bisa menajadi contoh dan tauladanku). Konon, membangun komunikasi positif sedari anak-anak kecil adalah kuncinya, dan rasanya aku masih sempat memulainya.

 

:::::.....

 

Kembali ke Abe dan hari ini. Ulang tahun kali ini tentu menjadi ultah yang PENTING buat Abe. Bukan hanya kami bapak-ibuknya yang menyadari hal ini, karena bahkan sudah sejak usia 5 tahun, Abe sudah paham benar teori 3x7 diatas. Sudah sejak bertahun yang lalu kami dan dia mempunyai semacam ‘pakta’ bahwa ketika dia menginjak usia 7 tahun nanti, kecuali kasih sayang keluarga, banyak hal yang akan berubah dirumah ini.

 

Misal :

 

###

Dulu : (**suara adzan berkumandang di masjid depan**)

Ibuk : Abeee sudah maghrib, waktunya sholat.

Abe : Iyaaaaa (sambil masih meneruskan main game di komputer dan setelah diingatkan 3-4 kali, baru 15 menit kemudian berangkat sholat maghrib)

Ibuk : **masih okelah, sambil tak lupa mengingatkan soal pakta ultah ke 7**

 

Sekarang :

Sholat di awal waktu merupakan pakta terbesar tahun ini. Abe sudah paham itu, tinggal menunggu pelaksanaan saja. Bapak bahkan mencanangkan, bahwa kalau pas maghrib bapak sudah pulang, maka Abe harus mau ikut bapak sholat Maghrib dan Isya’ berjamaah di masjid.

Kalau Abe tidak melakukan seperti yang di pakta, apa yang akan dilakukan? Sesuai kesepakatan, maka akan dicatat di buku penghubung alias dilaporkan ke ustadz/ah (fyi, hal ini adalah hal yang paling ditakuti Abe) supaya Abe dinasihati lagi disekolah.

 

###

 

Dulu : Kalo sholat, Abe seringkali masih pake celana pendek (baju rumahnya sehari-hari), karena males pake sarung atau pake jubah gamis, atau celana panjang. Jadi urusan menutup aurat masih dudul.

Sekarang : simpenan gamis oleh-oleh bapak umroh yang setumpuk itu kayaknya bakalan bersorak gembira deh, karena ternyata Abe lebih memilih pake gamis daripada pake sarung atau celana panjang setiap kali sholat.

 

Dengan kata lain, SHOLAT lebih tertib! Itu memang pakta pertama kami. Mohon doanya ya, semoga semua lancar seperti yang kami semua rencanakan :-)

 

###

 

Dulu : Ibuk selalu darah tinggi duluan kalau melihat kamar tidur Abe berantakan ketika siap-siap sekolah. Dan akhirnya ‘memilih’ untuk membantu Abe siap-siap, daripada kamar jadi kayak kandang Zing dan Abe terlambat ke sekolah karena acara siap-siap yang lamaaaaa dan kacauuuu. (Yang seringkali berkunjung ke blog ini, pasti tahu kalau Abe sangat susah mandiri dan motorik halus yang kurang membuat dia gedubrakan kalau melakukan sesuatu.)

Sekarang : banyak-banyak ambil napas untuk mengatasi darah tinggi, dan kalau perlu Ibuk mengikat tangannya sendiri untuk mencegah supaya tangan tidak membantu Abe dalam bersiap-siap. Jangan lupa tangan si mbak diikat juga, hehe. Kalau sampai jam waktu berangkat Abe belum siap juga, maka sudah menjadi perjanjian kami bahwa Abe akan ditinggal saja. Bea akan diantar ke sekolah dulu, kemudian kalo sudah siap Abe dititipkan pada Pak Sis (penjaga asrama panti yang juga kerja di kantor bapak) waktu Pak Sis berangkat ngantor. Dan tentu saja, konsekuensinya Abe akan terlambat datang ke sekolah.

 

**pfuih**

 

Kelihatannya tahun yang berat ya? Bukan hanya untuk Abe, tapi juga kami orangtuanya lho! Tapi sekali lagi, inilah yang PENTING untuk dilakukan. InsyaAllah ini yang terbaik untuk Abe. (Syukurlah setiap kali membahas tentang pakta itu, Abe sendiri yang selalu menyimpulkan, “Ini yang terbaik untuk Abe ya, Buk?” (sambil matanya menerawang jauh dan nggak jelas hihih)...Iya Nak, insyaAllah... Semoga Allah mempermudah untuk kita semua ya, sayang. Diatas semuanya, kasih sayang Bapak dan Ibuk kepada Abe TIDAK AKAN pernah berubah! Bahkan akan selalu bertambah dan bertambah...

 

:::::.....

 

Mau sedikit mengintip pakta “Usia 7 Tahun Abe” kami? Inilah dia :

  1. Sholat di awal waktu
  2. Pipis dan E’ek (ini usulan Abe, dengan alasan bahwa sangat berbahaya kalau kita menahan atau menunda waktu kita kebelet pipis ataupun e’ek...betul juga ya? hihihi)
  3. Mengaji setiap hari
  4. Menyiapkan sekolah sendiri
  5. Kegiatan Suka-Suka Sampai Puas

 

(Ditandatangani kita semua. Nomor urut menunjukkan prioritas. Jadi ketika no 1 harus dilakukan, maka semua no yang dibawahnya harus mengalah. Begitu seterusnya.)

 

:::::.....

Minggu, 26 Oktober 2008

Skenario Untuk Fitri dan Fikri

Fitri adalah salah satu teman seangkatan Abe di sekolah, sejak TK A dulu sampai sekarang kelas 2 SD. Sedangkan Fikri adalah satu-satunya kakak  Fitri dan sekarang duduk di kelas 6 SD. Dan tulisanku ini, adalah cerita tentang sepasang kakak beradik yang –insyaAllah- akan menjadi anak-anak yang dekat dan sangat disayangi Rasulullah.

Ketika dulu sekolah baru saja mulai untuk Abe di TK A (pertengahan 2005), waktu-waktu itulah kami (para walimurid angkatan itu) mulai mengenal Mbak Laila, ibunya Fitri. Seorang wanita cantik yang menyenangkan. Dan baru beberapa bulan juga ketika kita semua dikejutkan dengan berita tentang meninggalnya sang suami. Tak hanya terkejut, kami semua juga tak kuasa menahan airmata setiap kali melihat sosok Fitri yang waktu itu masih berumur 4 tahun dan sudah yatim.

Dan yang kami lihat dari Mbak Laila waktu itu hanyalah ketegaran, ketabahan dan keikhlasan seorang istri yang ditinggal suami dengan 2 anak yang masih kecil.

Beberapa saat kemudian, setelah lama nggak muncul di sekolah, Mbak Laila muncul dengan beberapa tester kue kering. “Aku bikin-bikin kue mbak, siilakan cicipi, dan kalo berminat telpon saja aku ya” katanya. Dia sempat bercerita kepada seorang teman, betapa dia sangat memerlukan kesibukan itu. Harta peninggalan almarhum suaminya yang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tidak membuatnya lantas berleha-leha. Konon dia memang termasuk wanita yang tidak betah duduk diam.

Diam-diam, kami sesamaa walimurid sering rasan-rasan betapa Mbak Laila memang wanita yang tegar. Dan ketegarannya itu, kembali dia buktikan kepada kami semua.

Sekitar 2 tahun lalu, kami mendengar bahwa dia menikah lagi. Tentu semua turut berucap syukur untuknya. Apalagi menurut cerita-cerita, suami yang sekarang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak. Beberapa kali kami juga melihat si bapak ini menjemput Fitri dan Fikri di sekolah. Life seems back to ‘normal’ for Mbak Laila, Fikri dan Fitri.

Tetapi, rupanya memang hidup ‘normal’ hanyalah untuk orang-orang yang ‘normal’. Hidup normal bukanlah untuk manusia-manusia pilihan Allah yang luar biasa. Manusia-manusia seperti Mbak Laila, juga Fitri dan Fikri.

Luar biasanya, Mbak Laila ternyata sempat juga ‘mencurangi’ kami semua. Ketika suatu hari seorang teman datang membawa berita bahwa Mbak Laila sakit dan harus menjalani kemoterapi, kami cuma bisa istighfar dan melongo. Istighfar karena ternyata sudah beberapa bulan dia dinyatakan terkena kanker getah bening, dan tak ada satupun dari kami mengetahuinya. Melongo karena bahkan hanya beberapa hari sebelumnya, seorang teman masih melihat Mbak Laila menjemput anak-anak sekolah, dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit parah. Dia masih ceria dan menyenangkan seperti biasanya.

Astaghfirullah...

Akhirnya, bergantian kami menjenguknya. Siapa yang sempat, datang membezuk bergantian dalam selang waktu tertentu. Aku pribadi, setelah sekali membezuknya, selama setahun terakhir ini tidak pernah lagi membezuk. Alasan klasik yang membuatku malu sendiri, yaitu kesibukan. Beberapa kali dengan beberapa teman aku juga sempat janjian untuk menjenguknya, tapi nggak tahu kenapa, belum terlaksana juga.

Sampai Kamis malam kemarin, datanglah sms pilu itu..

“Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker, Mbak Laila akhirnya menghadap Allah, Rabu malam dan langsung dimakamkan jam 23.00 WIB”

Mbak Laila, bahkan kaupun tak mengijinkan kami untuk meratapimu di hari pemakamanmu... Hari Kamis malam kami semua baru mendengar kabar duka itu, padahal Rabu malam jenazah Mbak Laila sudah dimakamkan. Mbak Laila meninggal di usia 34 tahun.

Ya Allah...kami sadar hanya atas ijin dan kuasaMu sajalah yang bisa membuat ini semua terjadi. Tapi tak urung, sangat pilu hati kami membaca sms itu. Sebagai seorang ibu, yang langsung terlintas di pikiranku tentulah Fitri dan Fikri. Ampunilah kami karena kali ini kami hanya bisa menyaksikan skenarioMu dengan hati yang hancur dan pilu.

Jumat pagi 24 Oktober 2008 kemarin, akhirnya ramai-ramai kami bertakziah kerumah duka. Dan kepiluan kami pun pecah meledak dengan cara yang tak bisa kami bendung lagi. Apalagi ketika dari lantai 2 muncul seorang anak 7 tahun yang cantik dan masih tersenyum ceria, yang kemudian bersalaman dengan kami semua satu per satu... Diantara tangis air mata pilu kami dan neneknya, kami hanya bisa menyebut nama Allah tanpa henti. Bertambah menusuk pagi itu ketika kemudian satu persatu cerita meluncur dari ibunda Mbak Laila dan suaminya...

“Laila tidak pernah mengeluh, sudah lama dia merasa siap apapun yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah pasrah sama Allah. Dia hanya akan sedih ketika mengingat anak-anak... Kami selalu bilang, jangan lah kamu sedih dan khawatir, banyak yang akan menjaga anak-anak. Dan terutama, Allah akan menjaga mereka. “

Sebelum meninggal, mbak Laila sempat koma selama 3 hari. Dan setiap kali Fitri dan Fikri datang, setiap kali itu juga bulir airmata selalu menetes dari matanya yang tertutup. Si nenek juga cerita bahwa yang paling mengagumkan adalah Fikri. Bocah laki-laki 11 tahun itulah yang selalu mengelus tangan ibunya selama koma, membisikkan kata sayang dan ikhlas kalaupun Allah akan memanggil sang bunda. Kata nenek, nafas terakhir Mbak Laila terhembus beriringan dengan setetes airmata dari mata yang tertutup koma, tepat ketika Fikri menyelesaikan bacaan Yasinnya untuk sang bunda...

Nenek bilang, pantaslah alm ayah Fikri wanti-wanti berwasiat bahwa anak-anak harus terus bersekolah di AL Hikmah (sekolah Islam). Almarhum tak lagi menginginkan apa-apa selain Fiktri dan Fikri menjadi anak-anak sholih/sholihah yang akan terus mendoakan orangtuanya. Untuk itulah dia percaya bahwa salah satu caranya adalah terus menyekolahkan anak-anak di sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dan apa yang dilakukan Fikri di saat-saat terakhir Mbak Laila, rasanya sungguh menjadi jawaban atas doa dan keinginan almarhum ayahbundanya...

Dalam tangis pilu, kami hanya bisa turut berdoa,

Untuk almarhumah Mbak Laila, teman yang telah menunjukkan pada kami pelajaran terdalam..

Tentang ketegaran dalam menjalani hidup, bagaimanapun skenarionya..

Juga keikhlasan dalam menerima skenario hidup kita masing-masing...

Semoga semua amal ikhlas dan ibadahmu diterima oleh Allah

Dan diampukan semua kesalah dan dosa...

 

Juga untuk Fikri dan Fitri,

Kami percaya pemilik semua skenario hanyalah Allah semata...

Kami juga percaya bahwa Allah juga yang Maha Penjaga...

Semoga kalian berdua menjadi anak sholih/ah yang selalu berdoa untuk ayahbunda...

Banyaklah berdoalah Nak, karena sungguh kami percaya, doa-doa anak sholih dan anak-anak yatim, akan selalu dijawab oleh Allah SWT...

Aminn




Rabu, 22 Oktober 2008

Kopdar With Half of The Woods


kesanku begitu ketemu sama dia, langsung kusemprotkan ke mukanya

"Ini Mbak Luki???? Kok kayak anak SMA giniii???"

:-D

bener mbak, gak ada yang mengira kalo anaknya udah 2, bule lagi! *lho? hahaha*

Sabtu, 4 Oktober 2008 kemarin, akhirnya akupun berhasil bertemu muka dengan Ibu Luki Woods (halah bahasane hehe).

http://lqwood.multiply.com

Senang sekali! Karena selama ini, kita sudah akrab banget tapi cuma via Multiply. Haha hihi kesana kemari tapi belum pernah sekalipun saling cubit dan colek hehe.

Awalnya hampir seminggu sebelumnya kita umek, cari tempat ketemuan yang enak lah, kapan waktunya lah, de el el. Mau di Tunjungan Plaza, takut keramean dan susah njagain anak-anak (terutama anak2ku yang suka ilang dan mbak pengasuhnya yang belum balik dari mudik lebaran). Trus kita berniat ketemuan di Sutos, takut gak ada ramp buat strollernya si Zach (heuheuheu memang di depan itu hanya ada tangga tangga dan tangga sih mbak :-D).

Ahhhh akhirnya, aku putuskan untuk njujug saja datang ketempat dimana Mbak Luki menginap selama si Surabaya, yaitu rumah kakaknya, Mbak Nanik. Akhirnya ketemuannnn......akhirnya ngobrol.....cubit2 dan colek2 (terutama si Zach doong), poto-poto dan crita-crita aduhh beneran, biar baru sekali ketemu, rasanya udah kaya kenal lama gitu...

Sayangnya oh sayanggggg ketemuan kok ya cuman sak umik, gak ada sejam! Karena keburu maghrib akhirnya kita musti pamit hiksss...

Mana niat untuk menculik Mbak Luki, urung dilakukan lagi...hikss...
Btw, thanks for having us that day mbak...sampaikan salamku juga untuk mbak Nanik *gak salah sebut Mbak Nunik lagi kan?? hehehe* maaf kalo rumahnya udah dirusuhi sama Bea (yang begitu datang malah langsung ke dapur dan ikut2an menyiapkan suguhan).

Till we meet again ya Mbak...we will miss you guys a lot here.. Semoga Mister Paul beneran jadi pindah ke Surabaya hehe (betul mister, di Surabaya sangat aman kok, dan gak macett..percaya deh!! pindah kesini aja yookk) hehehe.

**sambil kipas2 kegerahan**

===========================================

Lihat juga foto-foto dari kamera mbak Luki disini :
http://lqwood.multiply.com/photos/album/53/Mudik_Kota_kelahiranku_Surabaya_Week_2


Senin, 20 Oktober 2008

Rumah Kami Membara !!!

 

:::::.....

Dua hari terakhir ini, ada 2 isu besar yang membahana sampai ke sudut-sudut terpencil di rumah kami.

Pertama, soal suhu seminggu terakhir ini. Aduhhh panasnyaaa!! Sudahlah Surabaya terkenal sebagai kota bersuhu panas dan lembab, eh ditambah lagi fenomena matahari yang konon dalam posisi paling dekat dengan Indonesia Bagian Barat dan pas berada diatas Pulau Jawa (laporan di koran pagi). Selain panas, yang bikin dudul adalah udara lembab banget, dan tak banyak angin. Jadinya gerahhhh bukan mainnn!!!

Suhu saat siang hari (jam 10 sampai jam 2 siang) bisa mencapai 34-36 derajat celcius. Termometer dirumah pernah mencapai 37 derajat, membuat seisi rumah blingsatan keringetan nggak karuan. Jangan ditanya termometer mobil. Suatu siang, sehabis menjemput Bea sekolah jam 12.30, begitu masuk ke mobil yang sudah sejak setengah jam sebelumnya diparkir, serasa mau pingsan saja rasanya! Bak cookies yang siap masuk oven. Huwaaaa!

Barusan chat via YM dengan Ugik, teman sekota yang juga mpers. Kami berdua tertawa garing demi melihat kenyataan bahwa status YM orang-orang Surabaya kok senada ya?? Semua kepanasan! Dan bagaimana ketawa kami nggak garing? Wong mulut kami rasanya sudah kering dan matang sampai garing! Ibarat kue sus, sudah jadi sus kering karena kelamaan dioven hihihihi *maklum kalo ngelantur, kepala lagi panas nihh*

Kabar terakhir, menurut ramalan cuaca, ini bahkan belum mencapai puncak panas. Diramalkan suhu panas dan gerah (lembab) begini masih akan mencapai puncaknya Rabu-Kamis besok. Celakanya, bahkan ada yang meramalkan bahwa hari itu suhu akan mencapai 45 derajat celcius! Edan! Kalo Dwina mungkin sudah bisa tahan suhu segitu semenjak dia pindah ke Qatar *gak kliru CA lagi kan Na?* dan sudah pernah melewati musim panas ala gurun. Tapi aku?? Yang dulunya gadis lugu, katrok dan dibesarkan di desa dan pegunungan ini?? Hikss hikss mana tahann?? Waktu baru pindah ke Surabaya dan masih adaptasi 13 tahun lalu saja aku bisa mandi 5x sehari. Kali ini bisa-bisa aku pindah tidur di lantai kamar mandi saja *plus AC kamar dipindah juga ke kamar mandi kali ya* uughh..

Oh God...speed us...bagaimana kami akan tahan ketika nanti di hari kiamat, matahari benar-benar berada sejengkal diatas kepala kita??? Astaghfirullah...

Isu pertama soal suhu kan?? nah...

Isu kedua, soal ASTRO!

Per 20 Oktober 2008 Pukul 00.00 TV Berlangganan Astro tidak bisa meneruskan siarannya kembali. Tanggal 19 Oktober malam, kita masih bisa menikmati semua acara seperti biasa. Tapi dini harinya ketika Mas Iwan cari-cari pertandingan bola, eh sudah ada pengumuman yang mengejutkan dan mengecewakan itu dilayar TV.

Cari-cari informasi, apakah yang terjadi? Apakah penyebabnya? Apakah urusan dengan ijin seperti kejadian yang lalu itu? Yang dudul itu lho! Yang aku pernah cerita di postingan “Lagi: Gebrakan Menkominfo Dirumah Kami” itu?? Simpang siur kabar pun terdengar disana sini. Keterangan yang dikeluarkan website resmi penyedia siaran Astro di Indonesia, yaitu DirectVision TV entah kenapa tak memuaskanku. Terkesan ada yang ditutup-tutupi gitu. Pasalnya, pemberhentian siaran terkesan sangat mendadak dan sepihak, kami selaku pelanggan baru diberi tahu SETELAH siaran berhenti, padahal mengutip kata mereka “Setelah mengudara selama 2 tahun dan menemani keluarga Indonesia, sekarang tibalah saatnya kami pamit untuk TIDAK SIARAN”......**whattt the heckkk???**....buletin AstroGuide-nya yang edisi Oktober lho baru 2 hari lalu masih datang kerumah! Dari pernyataan mereka, kok kayaknya pemberhentian siaran ini sudah direncanakan, dan sudah menjadi program bahwa setelah 2 tahun, mereka akan pamit??

Akhirnya cari-cari sumber yang obyektif, nemu disini. Ternyata oh ternyata...ini toh sebabnya?

Rupanya, Astro dikeroyok oleh 3 kompetitornya (Indovision, KabelVision dan TelkomVision) dilaporkan rame-rame kepada pihak yang berwenang karena urusan monopoli hak siar EPL, English Premiere League alias Liga Inggris. Berikut kutipan berita Antara :

PT Direct Vision, penyelenggara televisi berbayar Astro TV, terancam sanksi ganti rugi materil hingga Rp2 triliun jika terbukti melanggar pasal 16 dan pasal 19a Undang-undang No 5 Tahun 1999 tentang Persaingan Usaha Tidak Sehat dalam menjalankan usahanya di Indonesia.

"Ganti rugi materil diberikan kepada empat perusahaan sejenis yang melaporkan bahwa Direct Vision memonopoli siaran Liga Inggris (EPL)," kata Ketua Tim Pemeriksa KPPU, Tri Anggraini, usai memeriksa Direct Vision di kantor KPPU, Jakarta, Jumat.

 

:::::.....

Ah! Aku bahkan sama sekali nggak hobi nonton bola!

Dan serial Ugly Betty lagi seru-serunya!! Hikss

Abe pun jadi ngedumel karena selepas maghrib nggak bisa nonton serial kegemarannya “B-Daman” dan “Adi dan Ayah” di AstroCeria.

Bea? Cuma bisa pencet-pencet garing mengharap Quincy, Leo, June dan Anne muncul di layar acara “Little Einstein” dan begitu nggak ada, apa yang dilakukan Bea?? Dia pencet-pencet terusss...lagi....dan lagi.... dan lagii...dan lagiiiii.....sambil terus berharap...

*kasian deh*

 

Jadi punya ide nih...

Daripada nonton TV Indo yang penuh sinetron dudul itu, kita stel VCD kegemaran aja yukkk...

Sambil gelar karpet...makan-makan cemilan...

Di lantai kamar mandi!!!

**Bapaakkk..tolong AC pindahin dulu ke kamar mandi ya?? ya?? ya??**

 

Ide bagus kan????