Sudah 4 hari ini Abe gondongan, duh kok ya barengan sama Dek Hari ya...memang sih katanya gondongan menular, tapi masak Surabaya-Batam bisa secepat ituuu??? Hehe... Tapi anak berdua nih kompak banget, karena segala macam cara dan resep untuk meredam panasnya leher yang membengkak, pada garing semua nggak ada yang mempan sama Hari dan Abe. Untungnya Abe bandel (gel dingin, kompres hangat, dll semua sukses membuat Abe lupa sama rasa sakit, karena dipakai jadi mainan trus cara pakainya jadi yang aneh2 gitu) dan Hari sudah menemukan cara yang lebih ampuh (yaitu dielus Harlia --ibuknya -- wekekekek gpp kolokan Har, emang kamu kira kolokan nggak menurun?? Wek!)
Tapi kali ini aku pingin cerita tentang sholat. Waktu hari kedua gondongan (parah2nya tuh, wajahnya ampe kaya balon, ini komentarnya sendiri lho hihi), Abe mengeluh pusing hebat. Akhirnya, aku sarankan dia untuk sholat dengan tidur saja.
“Aku takut nanti Allah marah kalau aku sholat dengan tiduran, Buk..”
Hemm...detik itu aku jadi ingat salah satu artikel yang kubaca (lupa dimana dan kapannya), tentang proses penanaman value (nilai) kepada anak-anak. Wah, jadi ingat, tugas menulis di majalah sekolah bulan ini
Intinya begini. Proses memang sangat amat penting, terutama bila berkenaan dengan masa kanak-kanak dimana mereka –tentu saja- belum paham masalah moral, mana yang baik dan buruk. Yang anak-anak mengerti hanyalah, mana yang nyaman dan menguntungkan buat mereka, ya itu yang akan dipilih/dilakukan. Nah. Khusus dalam menyerap nilai-nilai tentang agama, ada dua jenis manusia.
Pertama, adalah manusia yang dari kecil menyerap nilai-nilai agama dengan cara dan di lingkungan yang penuh dengan kehangatan, kenyamanan, kasih sayang dan keseimbangan antara reward dan punishment. Hasilnya, dia akan menjalankan nilai-nilai itu dengan penuh keikhlasan, keterbukaan dan konsistensi yang tinggi.
Nah jenis kedua adalah sebaliknya. Mungkin selama proses penyerapan nilai-nilai di masa kecil itu, mereka lebih banyak merasa terpaksa, tertekan dan ketakutan. Misalnya, ketika masa kanak-kanak, ditanamkan ketakutan pada Allah secara berlebihan, dikit-dikit ancamannya neraka, nggak begini neraka, nggak begitu neraka. Malas mengaji, dihukum. Telat sholat, dihukum. Antara reward dan punishment tidak seimbang. Orangtua lebih fokus pada melarang anak-anaknya berbuat yang dilarang (dengan hukuman tentu saja), daripada mengajak mereka untuk lebihfokus berbuat yang diperintahkan agama (dengan memberikan reward). Dan anak-anak manakah yang suka banyak dilarang?? Rasanya kok nggak ada ya..
Akhirnya, lama-lama nilai-nilai agama akan dipandang sebagai nilai yang memenjarakan. Sebuah keterpaksaan, bahwa kalau tidak dilakukan, maka hukuman akan menanti didepan mata. Di masa dewasanya, manusia ini justru akan sangat rentan terhadap godaan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama tadi.
“Aku takut nanti Allah marah kalau aku sholat dengan tiduran, Buk..” kata Abe, membawa insight pada detik itu, bahwa inilah kesempatan emas, untuk mengajak Abe lebih mengenal Allah.
“Abe, Allah SWT adalah Tuhan yang sangat menyayangi umatnya. Saking sayangnya, Allah tidak pernah memberatkan siapapun dia umatnya itu. Ingat
“Ibuk yakin Allah nggak bakalan marah? Darimana Ibuk yakin?? Memang Ibuk pernah sholat sambil berbaring dan Allah nggak marah?? Darimana Ibuk tahu kalau Allah nggak marah??”
Duh...minta bukti!
“Pernah, dulu waktu Ibuk di RS yang mau keguguran kakakmu itu, Ibuk sholat sambil tiduran.”
Alamak...butuh bahasa anak-anak...bahas anak-anak.. **dziing...putar otak, akses ke otak kanan**
“Buktinya, Allah masih mau memberi Ibuk anak-anak selucu dan sesholih kamu dan Bea
“Oya..” (legaa :-D)
Waktu mau wudlu, Abe bangun tapi trus limbung...
“Abe mau tayyamum aja?”
“Aku takut Allah marah kalau aku nggak wudlu, Buk...”
Alamak... **gedubraxxx** kok balik itu lagi??
Dengan analisa singkat, walaupun demam meriang pusing, rasanya kalo wudlu aja nggak akan membahayakan deh.
“Ya udah, kalau Abe memang merasa masih kuat kena air, ya wudlu aja. Allah memang nggak mau memberatkan hambanya, tapi kalau Allah tahu Abe berjuang menguatkan diri untuk wudlu begini, Ibuk yakin Allah akan makin sayang sama Abe...”
Abe pun akhirnya wudlu dan mau sholat sambil tiduran. Tapi kejadian selanjutnya jadi dudul....
Gara-gara siapa lagi kalau bukan Bea...
Abe ngapain aja, mana mau Bea ketinggalan ikut...??
Termasuk sholat sambil tiduran!
“Bea juga mau ikut sholat sambil tiduran, Buukk...”
“BEA SAKIT KOK!” dengan
“Kamu sakit apa, Ya?” tanya Ibuk..
Sambil garuk-garuk kepala yang –aku yakin—nggak gatal, Bea pun menjawab
“Emmm...SAKIT GATAL!!”
**GUBRAAAAAXXXXXXXXXX**