Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juni 2010

"Mama, SEX Itu Apa Sih?"

***

Kalau ada satu hikmah yang kurasakan dari blowing-up pemberitaan video Ariel-Luna Maya yang (menurutku) sudah over-exposed itu, adalah ramai dan serunya pembicaraan di kalangan sesama orangtua. Temanya? Apalagi kalau bukan ini : bagaimana anak-anak kami bereaksi terhadap pemberitaan video porno ArieLuna itu. Dibalik carut marut urusan moral dibelakang tersebarnya video itu, di sisi lain sungguh ini jadi momen yang sangat kondusif sebenarnya, untuk kami para orangtua belajar dan berlatih lagi menghadapi kejutan berupa pertanyaan-pertanyaan anak-anak mengenai hal yang selama ini hampir selalu membuat orangtua-orangtua mules, yaitu soal SEKS.

Barusan di BBM Mb Levie bercerita, bahwa keponakannya yang berumur 8 tahun, sempat membuat mamanya kehabisan kata-kata. Waktu itu ditengah-tengah acara keluarga besar, kebetulan si mama sedang berkutat dengan beberapa saudara membahas sebuah video di BB nya. Tanpa diduga si anak ngeloyor lewat didepannya sambil berseloroh “Video porno lagi....!! Video porno lagi...!!”

Semua orang kaget sementara setelah ditanya lebih lanjut, si anak ternyata nggak ngerti apa itu “video porno” dan dia hanya sering mendengar kata itu banyak disebut di berita TV akhir-akhir ini. Gubrax kan?? Si mama pikirannya udah shock kemana-mana tuh demi mendengar anaknya menyebut kata “Video Porno”.


“MAMA, SEX ITU APA SIH?”

Seorang teman pernah bercerita, saat itu anak cowoknya yang berumur 8 tahun sedang asyik membaca. Di ruangan yang sama, ada mama dan papa disitu. Tiba-tiba saja si anak bertanya.

“Sex itu apa sih?”

Mama dan papa kontan mematung, lalu saling pandang shock satu sama lain. Siap atau tidak, orangtua mana sih yang bisa selamat dari shock (walaupun sebentar) mendapat pertanyaan seperti itu dari anaknya yang masih 8 tahun? Dan didorong kepanikan yang sama, akhirnya tanpa bisa dicegah mereka menjawab bersamaan, tapi dengan jawaban yang sama sekali berbeda.

Mama : “Oh, itu artinya JENIS KELAMIN”

Papa : “Hus, itu kata-kata yang nggak baik nak!”

Selesai menjawab, kontan mama papa berpandangan lagi, tapi kali ini mama sudah melotot mendelik ke arah papa. Dan si anak garuk-garuk bingung. Mama pun buru-buru mengulangi jawabannya. “Itu kata dalam bahasa Inggris, artinya JENIS KELAMIN.” Si anak pun terlihat puas dengan jawaban itu, karena memang ternyata dia sedang membaca-baca form aplikasi sebuah brosur asuransi. Dan si papa harus menerima dengan lapang dada kesimpulan dari si anak “Oh iya sih, aku lupa, mama kan lebih jago bahasa Inggris daripada papa!” Hihihi.

Aku jadi teringat juga dengan cerita lain yang dituturkan seorang teman (Mbak Maya Wardhani) tentang keponakan cowoknya yang baru duduk di kelas 4 SD. Waktu itu sedang heboh berita kasus penolakan kedatangan artis Maria Ozawa alias Miyabi ke Indonesia.

Si mama sudah panik begitu pulang dari acara sekolah si anak lapor bahwa dia “melihat foto Miyabi”. Untunglah, mama sedikit lega ketika kemudian dia memastikan bahwa yang dilihat oleh anaknya adalah foto Miyabi di poster yang tertempel di dinding sebuah museum (yang artinya Miyabi sedang berbaju lengkap). Tetapi si mama terhempas kembali ketika si anak serius meneruskan rasa ingin tahunya.

“Miyabi itu siapa sih Ma? Mama kenal?”

“Miyabi itu bukan orang baik-baik, kamu gak perlu tahu tentang dia, karena gak ada yang bisa dicontoh darinya.” susah payah si mama ini akhirnya menjelaskan. Kita lihat apa kata si anak kemudian.

“Ohhh, pasti karena Miyabi sering nyontek ya ma, kalau ulangan. Makanya dia terkenal karena keburukannya. Aku nggak mau kayak dia, aku mau belajar aja biar pintar..”

“Iya... yaa... Iya, kamu belajar aja, jangan tiru Miyabi yang suka nyontek...” sahut si mama lemas dan langsung mengalihkan perhatian anaknya. “ Sana mandi dulu, abis itu kita makan malam yaaa...”

Habis perkara. Si anak kemudian berangkat mand dan si mama sibuk didapur menyiapkan makan malam sambil menjeduk-jedukkan kepalanya di panci dan sibuk mengunyah cabai merah keriting. Wkwkwk.

Oke. Pelajaran dan teori tentang pendidikan seks untuk anak-anak, udah lumayan banyaklah yang aku dapat selama ini. Katanya, satu kata kunci yang harus diperhatikan dalam pendidikan seks adalah UMUR anak-anak. Beda umur beda pula model dan metode pendidikannya.

Secara kognitif, mungkin anak-anak remaja sudah bisa diajak berdiskusi panjang lebar mengenai apapun itu, termasuk pendidikan seksual mereka. Rata-rata mereka juga sudah mendapat bekal dari sekolah tentang banyak hal seperti : alat reproduksi, reaksi kimia, dan lain-lain itu. Sekolah tertentu bahkan sudah menerapkan pendidikan karakter dan moral menyangkut bagaimana kita berhubungan dengan teman lawan jenis (misalkan menerapkan kelas terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah berbasis Islam). Tetapi yang paling seru dan menegangkan memang kalau berurusan dengan anak-anak yang lebih muda umurnya. Let’s say 10 tahun kebawah. Asli mengejutkan dan bikin deg-degan!

Kenapa??

Karena jarak pengetahuan kognitif antara orangtua dan anaknya memang jauh. Pihak yang satu adalah anak-anak yang dunianya masih sederhana. Jumlah kata-kata yang dia mengerti saja masih sangat terbatas. Walaupun demikian, rasa ingin tahunya besar sekali, dan seringkali mereka sangat kritis dan bersemangat besar mengejar jawaban-jawaban yang diinginkannya. Apalagi kalau dia merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan. Sedangkan di sisi lain, orangtua adalah pribadi dewasa yang tentu saja sudah belajar dan paham hal-hal seperti moral, soal mana sesuatu yang bersifat pribadi mana yang tidak, mana yang tabu dibicarakan mana yang tidak (menurut norma keluarga masing-masing tentu saja). Intinya, dunia orangtua adalah dunia yang sudah penuh dengan kerumitan.

Dan ketika anak-anak datang tiba-tiba dengan pertanyaan atau komentar seputar seks, mau tak mau orangtua hanya bisa melongo speechless kehabisan kata-kata. Seorang dosenku di Psikologi dulu mengatakan, bahkan dia yang sudah merasa sangat siap pun, pasti masih sempat mengalami fase “speechless” entah sedetik dua detik sebelum memberikan reaksi yang dirasa tepat. Itu tentu wajar, karena kita hidup dan dibesarkan di lingkungan yang sedikit banyak masih menganggap tabu urusan seks.



“AKU MAU SESENDOK SAJA MA, BUKAN SEBAKUL!”

Pengalaman dengan pendidikan seks untuk kedua anakku, Abe (8 tahun) dan Bea (6 tahun) sebenarnya cenderung lurus-lurus saja, tak banyak cerita heboh. Lima tahun pertama paling ya mengajak anak-anak memahami perbedaan laki-laki dan perempuan.

Ketika usia 4-5 tahun Abe pernah bertanya bagaimana proses dia lahir ke dunia ini. Aku santai saja menjelaskan bahwa dia lahir setelah dokter mengoperasi, mengiris dan membuka perut Ibuk, lalu menariknya keluar. Setelah itu dijahit kembali.

Waktu itu, jawaban itu memang masih cukup membuat Abe puas sambil kuperlihatkan saja bekas luka operasi diperut. “Waktu Bea lahir, bekas luka ini dibuka kembali untuk mengambil Bea.” Selebihnya, dia hanya tanya masalah “Apakah itu sakit” dan lain-lain.

Baru beberapa waktu kemudian ketika adik iparku melahirkan dengan cara normal (bukan caesar), dan Abe ngotot ingin melihat bekas luka (yang tentu tidak ada) di perut adik iparku, aku merasa jawaban yang dulu itu sudah tidak mencukupi lagi. Barulah aku menjelaskan tentang adanya “Lubang ajaib ciptaan Allah, yang tempatnya dekat dengan lubang pipis para perempuan, yang ketika wanita itu melahirkan maka Allah akan membuatnya melebar, cukup lebar sehingga bisa dilewati bayi di perut yang akan dilahirkannya dan lubang itu kemudian menutup kembali setelah adik bayi lahir.” (Note, kata-kata yang kugunakan memang persis seperti itu adanya, dan kuucapkan dengan intonasi yang biasa saja).

Aku ingat, kebetulan waktu itu Abe sedang belajar juga tentang kebesaran Allah dan ciptaanNya dan penjelasan pun dengan sukses kubelokkan tentang macam-macam kebesaran kebesaran Allah lainnya, seperti misalnya dia yang bisa sembuh dari pilek tanpa minum obat (aku memang sangat jarang memberikan obat2an kepada anak-anak kecuali memang sangat diperlukan). “Iya, itu karena memang Allah yang memberikan kesembuhan kepada kita.”

Berikan penjelasan secukupnya sesuai dengan yang mereka tanyakan. Dan tak perlu menjawab berlebihan (baik kata-kata maupun sikap). Selalu tips itu yang kuingat dari artikel-atikel yang kubaca.

Dan memang kalau dipikir-pikir, anak-anak kan memang masih sederhana ya dunianya? Jadi seiring waktu, aku hanya belajar dan berlatih untuk tidak over-reactive. Untuk memastikan apa sebenarnya yang ditanyakan oleh mereka (karena persepsi mereka bisa sangat beda dengan yang kita kira), kemudian memberikan jawaban sesederhana mungkin. Titik.

Memasuki kelas 3 SD setahun terakhir ini, keadaan menjadi jauh lebih rumit untuk Abe. Pulang sekolah, dia sudah mulai membawa oleh-oleh berupa segala macam teka-teki, ungkapan dan sajak-sajak yang agak berbau “pornografi” dari teman-teman sekolahnya. Pendidikan seks untuk Abe memasuki tahap baru, dimana informasi yang dia dapat bukan hanya berasal dari rumah dan orangtua. Tetapi juga dari pergaulan dengann teman-teman sebaya yang tentu saja bermacam-macam modelnya. Aku makin waspada, tentu. Tapi masih dengan usaha untuk tetap tidak over-reacting tentu saja.

Dirumah ini, penjelasan soal seks kebetulan kami sampaikan dengan intonasi yang sama biasanya dengan penjelasan hal-hal umum yang lain. Sebisa mungkin kami usahakan tak ada seruan “iiihhh!!” ataupun “husss!!” ataupun “masyaAllah!!!” ataupun “astaghfirullah!!” yang berlebihan.

Betapa leganya aku ketika suatu kali Abe datang dengan cerita ini.

Abe : “Heran, si A tadi itu (*menyebutkan nama temannya*) kok cekikikan ya Buk waktu pelajaran tentang tubuh manusia?? Trus gambar di buku paketnya dicoret-coret!”

Ibuk : “Lah, Abe kan juga suka gitu? Coret-coretin gambar di buku paket kan??” gambar2 manusia di buku paket Abe memang penuh ‘gambar tambahan’, dari kacamata, topi, roket, robot, pesawat, banyak!

Abe : “Lha tapi lho Buk, sama si A masak di tititnya dikasih gambar rambut-rambut gitu?? Pake spidol lagi! Titit kan aurat?!?!?”

Ibuk : *speechless sambil diam2 bersyukur bahwa Abe menganggap itu bukan sesuatu yang lucu*




“AKU TAK MUNGKIN TINGGAL DI CANGKANG YANG TERTUTUP MA!!”

Suatu kali, Abe bercerita bahwa seorang temannya mengajarkan pantun yang (setelah kudengar) agak-agak nyerempet. Bahasa Jawa, mulanya dia anggap itu lucu karena bunyinya yang berirama, dan didalamnya mulai terkandung kata-kata yang porno seperti penyebutan bagian-bagian tubuh wanita tertentu secara vulgar. (Eeerrgghhhhh it makes me angry betapa hal-hal macam ini tak bisa kita cegah untuk terjadi). Akhirnya aku jelaskan saja satu per satu apa arti kata-kata itu (yang ternyata sebagian besar Abe nggak ngerti apa artinya loh!) dan bahwa itu adalah aurat perempuan yang harus ditutupi, dan tidak sopan untuk dipakai becandaan seperti itu. Ternyata penjelasan itu pun cukup untuk Abe, dan dia pun segera melupakan pantun yang dimaksud.

Seiring mereka tumbuh, mereka memang sudah tidak sesederhana dulu lagi ya. Lingkup pergaulan anak-anak akan makin luas, sehingga informasi yang mereka terima pun makin banyak dan bermacam-macam. Apalagi dengan terjangan teknologi informasi jaman sekarang ini, rasanya mustahil kalau kita berharap bisa melindungi anak-anak dengan cara “MENCEGAH informasi tetentu sampai kepada anak kita”. Harapan ini menurutku terlalu naif karena prakteknya, di negara kita tercinta ini informasi apapun itu, sangat mudahnya diakses dari mana saja di sekitar kita. Tidak menonton TV tapi mungkin mereka akan tahu dari internet. Tak ada akses internet mungkin mereka akan dengar dari radio atau baca di koran. Tak baca koran, tapi lihat saja baliho dan billboard iklan-iklan di jalanan yang terkadang juga mengandung unsur pornografi. Didepan mata dan ditengah jalanan yang biasa kita lewati! Bayangkan! Belum lagi dari bisik-bisik dan obrolan diantara teman sebaya. Duh...

Mungkin akan lebih realistis untuk sedini mungkin mengajak anak-anak kita berlatih MENYARING informasi, sambil sekuat mungkin membentuk KARAKTER mereka sehingga anak-anak akan bisa bertahan menghadapi informasi-informasi yang seringkali sudah tidak pandang moral dan kesopanan ini.

Seminggu terakhir ini, sejak berita video ArieLuna tersebar, aku sebenarnya harap-harap cemas. Setengah bertanya akankah Abe akan bertanya tentang berita itu. Aku memutuskan untuk diam saja dan tidak proaktif tanya duluan karena takutnya Abe yang sebelumnya nggak tahu malah jadi tahu gara-gara aku bertanya. InsyaAllah aku tahu Abe, kalau dia tahu maka dia akan menanyakan ke aku.
Dan tadi siang, sepulang sekolah, (ditengah-tengah minggu UAS lagi!) meluncurlah pertanyaan itu...


“Buk, Ariel Peterpan katanya ditangkap polisi ya Buk?”

Ibuk yang sedang menyiapkan makan siang sempat berhenti mengaduk saus spaghettinya. “Iya, kata berita sih gitu... Abe tahu darimana?”

“Kemarin ada temen yang bilang di sekolah. Trus ini tadi lihat yahoo kok ada judul beritanya, Abe jadi inget deh.”

Temen di sekolah?? Ibuk aduk lagi saus di panci, kali ini agak terlalu kencang ngaduknya. Ya Allah!! Anak kelas 3 SD jaman sekarang, kok yaaaa sudah ada yang bergosip artis sihhh??

“Emang kenapa sih dia ditangkap polisi Buk?”
Ingat Ibuk, jawab secukupnya, berikan dia sesendok demi sesendok, jangan sebakul yaaa.... (*Ibuk wanti2 ke dirinya sendiri*)

“Orang kalo sampai ditangkap polisi ya berarti dia diduga melakukan sesuatu yang melanggar hukum, Be...”

“Trus Ariel diduganya ngapain??”....oh, dia minta sesendok lagi...didukung dengan tatapan mata yang menuntut menanti jawaban lagi...

“Polisi menduga dia membikin video yang melanggar peraturan gitu!”

Kulirik wajahnya dengan ekor mata (sambil terus mengaduk saus di panci)....

“Ohhh.... Videooooo toh....” katanya lalu ngeloyor teriak-teriak panggil Bea untuk diajak maen badminton.

Pfuihh....leganya! Untungnyaaaa temannya Abe cuma menyebut “Ariel Peterpan” dan “Polisi” yah?? (kalo kata mb IYa, dasar orang Jawa, masih ajaaaaaa bilang untungnyaaaaa hihihihi) :-D


==============

Rabu, 20 Mei 2009

Kado Kehamilan

:::::.....

 

Hemm...kebetulan, beberapa hari ini kok kepikiran soal kehamilan, pas ada beberapa teman kok ya nanyain soal cerita kehamilanku dulu. Jadi mending ditulis aja ya, sekalian share.

 

Waktu menikah Mei 1996, umurku waktu itu memang masih 19 tahun. Tetapi jiwa dan raga, fisik dan mental sebenarnya sudah lebih dari siap untuk langsung hamil walaupun kuliah juga masih semester dua. Tidak akan lupa bahwa salah satu hal yang membuat aku bercita-cita menikah muda adalah jarak umur yang tidak terlalu jauh dengan anak-anak. Tetapi urusan hamil ternyata harus menunggu karena awal 1997 kami harus pergi haji.

 

So, sepulang haji program hamil langsung digalakkan *hayah bahasanya*...dan tak perlu menunggu lama, tiga bulan sesudah pulang haji, aku mendapati diriku hamil. Waktu itu agak telat tahunya, kehamilan sudah berumur hampir 3 bulan (bahkan banyak orang berspekulasi bahwa kehamilanku ini mungkin oleh-oleh dari tanah suci). Tetapi kemudian, aku mengalami keguguran ketika kehamilan berusia 4 bulan. Lebih detil tentang ini bisa dibaca di http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/43 . Akupun dikuret.

 

Sehabis kuret, dokter memberikan tenggat waktu 4 bulan sebelum aku diperbolehkan hamil kembali. Maka selepas 4 bulan, program pun digalakkan kembali (sementara ini hanya mengandalkan program dari suami hehe). Enam bulan berlalu, aku pun belum hamil juga.

 

Setahun pun berlalu. Untungnya kesibukan kuliah bisa menjadi alasan, mungkin aku terlalu capek sehingga susah hamil. Sehingga secara umum, ketidak hamilanku juga tidak menjadi masalah secara psikologis. Kalopun ada, itu mungkin adalah ketika aku harus menghadapi pertanyaan banyak orang. “Memang menunda hamil ya?” dari yang bernada pertanyaan biasa seperti ini sampai ke yang bernada “sedikit mengadili”. Misalnya “Jangan ditunda lho kehamilannya, nanti malah kandungannya kering kan susah??” Setiap acara keluarga, terutama lebaran, itu saja yang kuhadapi...sampai bertahun-tahun kemudian.

 

Akhir 1998, kami memutuskan untuk mengunjungi seorang dokter SpOG senior di Surabaya. Namanya dr. J.Harman, Sp.OG. Banyak suster di RS Darmo (tempat aku kuret dulu) merekomendasikan nama dokter ini. Konon, si dokter memang ahli menangani kasus-kasus khusus terutama pasangan yang susah hamil.

 

Akupun memulai program hamil. Hasil tes menyatakan bahwa kami berdua normal-normal saja. Dan terbukti aku pernah hamil kan? Jadi rasanya urusan fertilitas tidak menjadi masalah. Treatmen tahap pertama, aku diberi 3 macam obat yang kata dokter berisi vitamin dan suplemen saja. Dan setiap kontrol kami harus menahan sipu malu diwajah kami, karena kami sudah mirip pengantin baru saja, yang harus mendapat pelajaran tentang seks. Dari urusan teknis (misal tentang cara kerja organ reproduksi kami berdua hingga soal posisi berhubungan yang konon akan mempermudah kehamilan) sampai masalah mengatur waktu dan menghitung tanggal disesuaikan dengan masa suburku. Dokter mencanangkan program ini selama 6 bulan. Dan setelah berlangsung selama 6 bulan, aku belum hamil juga.

 

Treatment tahap kedua pun dilakukan. Terapi hormon. Tidak sampai dua minggu, perubahan besar pun terjadi. Tubuhku akhirnya mblendung. Bukan karena hamil tapi karena GEMUK. Dengan kata lain, semua bagian tubuhku hamil, dari atas sampai kebawah. Teman-teman yang baru mengenalku mungkin tidak percaya, tetapi bobot tubuhku pernah mencapai 85 kg! Teman-teman kuliah di kampus pasti masih ingat betapa BESAR nya aku ketika itu. Besar, dan tidak hamil juga!

 

Namun begitu, aku masih bertahan dengan program ini. Keinginan untuk hamil mengalahkan urusan PEDE dan penampilan. Kemudian, suatu saat aku telat mens. Hati sudah penuh harapan. Dan harapan meledak ketika kemudian garis dobel di tes pack mengatakan aku hamil! Positif hamil! Harapan yang kemudian harus jatuh berdebam ketika USG di ruang praktek dokter menyatakan bahwa tidak ada janin di rahimku. Benar-benar tidak ada. Dokter, yang mungkin tidak ingin mengecewakanku, memutuskan untuk memberikan obat penyubur kehamilan dan memintaku untuk kembali kontrol bulan depannya.

 

Belum sampai waktu kontrol, kira-kira seminggu kemudian, ternyata aku mens. Tapi yang membuat miris, darah yang keluar sangat banyak, jauh lebih banyak dari senormalnya aku biasanya. Orang-orang bilang, aku mengalami “gagal hamil”. Dan aku mengalami ini bukan cuma sekali dua kali. Mungkin kalau dihitung, lebih dari 5 kali hanya dalam waktu setahun. Terkadang aku hanya telat mens seminggu, tapi pernah juga hampir 1,5 bulan aku tidak mens dan hasil tes pack tetap menyatakan POSITIF. MasyaAllah...rupanya Allah memang sedang menguji kami untuk tidak terlalu berlebihan terhadap harapan kami. Aku pun akhirnya sudah semakin terbiasa untuk tidak buru-buru gembira ria tiap kali melihat hasil tes pack yang positif tadi.

 

Tapi tak urung, saat itu aku sudah merasa capek. Dan bukan hanya capek ke dokter, karena selama hampir 3 tahun itu akupun juga tidak berhenti untuk menjalani terapi alternatif yang lain (selain ke dokter). Terapi pijat, akupungtur, sampai diet dan olahraga mati-matian untuk menurunkan berat badan (konon ada yang bilang bahwa badanku yang terlalu gemuk mungkin juga bisa membuat susah hamil). Sekitar pertengahan 2000, akhirnya kuputuskan untuk brake dulu. Untunglah Mas Iwan mau mengerti. Waktu itu, malah sudah ada wacana untuk mengambil anak dari mana gitu, dan kami rawat sebagai anak angkat.

 

:::::.....

 

Teman, tahukah apa yang bisa mengalahkan semua usaha manusia, sebesar apapun itu??? Paling tidak, sekarang aku tahu ada satu hal ini...

 

Suatu hari (kalau nggak salah sekitar hari Maulid Nabi tahun 2000), selain untuk memperingati maulid dengan sedekah dan kebetulan memang pas ada rezeki lebih, kami mengajak beberapa adik asuh yatim untuk makan bersama. Aku masih ingat, waktu itu kami makan di McD Plaza Marina yang masih baru dibuka dan mainannya kelihatan bagusss sekali waktu itu. Sepulangnya, ketika mereka hendak kembali ke panti, Bapak Ustad yang memimpin adik-adik menanyakan kepada kami.

 

“Mas dan Mbak, pingin didoakan apa?”

Setelah kami saling berpandangan, surprised dengan tawaran Pak Ustad, MI cuma bisa menjawab...

“Apa sajalah, asal yang baik-baik Pak”

 

Eh, salah seorang adik asuh tiba-tiba nyeletuk... “Didoain cepat punya anak saja ya Mbak”

Subhanallah... Demi Allah aku ingin sekali bisa mengingat wajah si adek itu sampai sekarang. Tapi rupanya memoriku yang memang kapasitas jongkok dan mataku yang terlalu gampang berair, membuyarkan semuanya. Sebelum aku sempat memaku dalam-dalam wajah si adik itu di memori otakku, Pak Ustad dengan syahdu sudah melantunkan doanya... Dan aku? Tak kuasa apa-apa selain mengamini dengan air mata yang tak bisa kubendung lagi.

 

Allahu Akbar, hanya Allah lah yang Maha Besar...Dia juga yang Maha Mengabulkan Doa... Terutama doa adik-adik yang yatim ini....

 

Awal tahun 2001, aku kemudian hamil...benar-benar hamil (baik di tes pack dan juga di USG)...

Aku hamil justru dikala aku memutuskan untuk istirahat berikhtiar...

Sampai sekarang aku percaya, ternyata doa tulus yang sore itu terucap dari mulut-mulut mungil adik-adik inilah...yang menjadi ujung segala ikhtiarku selama ini...

 

Kamis, 30 Oktober 2001 lahirlah Abe, dan sampai detik ini pun, setiap berkunjung ke panti asuhan manapun, dadaku selalu sesak dan air mata bertumpahan bahkan sejak aku belum melangkah memasuki gerbang pintunya...

 

:::::.....

 

(Tulisan ini, sekaligus juga kado sayang dan sedikit suntikan semangatku untuk beberapa teman yang sekarang sedang berusaha, berdoa, berikhtiar dan menantikan saat-saat kehamilan dalam pernikahannya. Doaku untuk kalian. Semoga tetap bersabar dan berikhtiar, karena Allah benar-benar Maha Mengabulkan doa.)


Minggu, 31 Agustus 2008

Dibalik SMS Ucapan Ramadhan

Alhamdulillah, senangnya Ramadhan datang lagi. Salah satu hal menarik yang biasa terjadi menjelang bulan puasa adalah banjir sms ucapan. Suatu pengalaman menyenangkan dan menentramkan membaca sebaris kata yang dirangkai indah dan menyejukkan hati seperti itu. Apalagi dari orang-orang yang kita kenal dan dekat di hati. Yang lebih senang lagi kalau sudah mendapatkan ucapan yang unik, lucu dan kreatif.

Tahun ini, ada beberapa yang sempat membuatku senyum-senyum membacanya. Contohnya ini : 


“Welcome to Ramadhan GREAT SALE!! Jangan lewatkan : OBRAL PAHALA dan DISKON DOSA besar-besaran!! Plus Doorprize LAILATUL QADR’!! HANYA 30 HARI MENCARI CINTA ALLAH!!”
(Siapapun yang nulis ini, pasti banci belanja deh, hehe.) Atau yang ini,

 

“Pelanggan Yang Terhormat, SISA AKTIF umur Anda akan segera berakhir. SALDO PAHALA Anda belum cukup untuk catatan akhirat nanti. Segera ini ulang IMAN Anda di bulan Ramadhan ini sebelum Anda DIBLOKIR!”
(Yang diatas kayaknya kerjaan orang-orang IT deh :-D)

 

“Dalam kerendahan hati ada keluhuran budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Mari kita SETTING niat, kita UPGRADE iman, DOWNLOAD sabar, DELETE dosa, APPROVE maaf dan SEARCH pahala, agar mendapat GUEST LIST masuk surga.”
(Ah, blogger banget ya? hehe)

 

“Hidup ini hanya seBNTAR...BNTAR senang, BNTAR susah...BNTAR bduit, BNTAR marah...BNTAR ketawa, EEEhhh..BNTAR LAGI PUASA! Mari BNTAR-BNTAR berzikir dan mensucikan hati dihadapan Allah!”
(Hehe... Menarik juga kan?? agak-agak ada aroma ngelesnya gini aku suka juga :-D)


Teman-teman, mungkin ada juga yang menerima sms unik, lucu dan menarik?? Ayo share disini...!! 

Ada juga kejadian lucu menyangkut sms itu. Suatu hari mas Iwan mendapat sms yang menurut dia bagus. Akhirnya (seperti banyak orang lain), di fowardnya sms itu ke beberapa temen dekatnya. Dudulnya, dia kok nggak edit dulu ya, langsung aja main kirim. Akibatnya, didalam sms itu masih terdapat nama pengirim awalnya **wakakakaak** untungnya yang dia kirimin hanya beberapa teman se-gang yang orang-orangnya memang dudul (sms nya memang cukup dudul, jadi gak beranilah dia kirim ke semua orang). Untunglah hanya beberapa orang yang menerima, tapi reply yang dia terima macam-macam dan semua bernada “sms forwardan ya??” huheuehueuehheu. Makanya bikin sendiri knapa Mas???

 

Kalau aku memang selalu bikin sendiri.
Yang lucu, terjadi tahun lalu. Aku bikin sms ucapan, terus kirim ke kontak2 di hape kan? Besoknya, aku gantian mendapat kiriman sms ucapan dari seorang kenalan, dia karyawan di sekolah Abe. Aku kaget sekali membaca smsnya, dan kemudian tertawa-tawa senang, karena sms yang datang dari dia itu, ternyata adalah sms yang kemarinnya aku tulis!! PERSIS sampai huruf dan titik komanya! Hehehehe seneng dong??? Jualannya lakuuuuuuuuu!!!!!!! :-D