Tampilkan postingan dengan label stress. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stress. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2008

Harap Tenang, Ada Ujian

Ini poster yang seminggu kemarin dipampang di tembok-tembok depan kelas di SD Al Hikmah. Dengan kelegaan yang diam-diam, aku pun mengucap syukur karena ternyata Ujian Kenaikan Kelas (UKK) yang pertama buat Abe, sudah selesai hari Kamis (19/06/08) kemarin.

Kenapa aku sebut kelegaan yang diam-diam??
Karena ketegangan sebelumnya juga setengah mati kubungkus menjadi ketegangan yang “diam-diam”.

Bukan rahasia lagi kalau musim ujian anak-anak menjadi saat yang sangat menegangkan bagi Ibu-Ibu (kalo Bapak2 sih jarang kayaknya ya :-D). Begitu menegangkannya, sampai mengakibatkan segala macam ganggaun kesehatan, dari jerawatan (nggak tahu, ada yang sampe bisulan juga nggak ya?) sampe segala macam gangguan pencernaan tujuh rupa (susah BAB, sama sekali nggak bisa BAB, terlalu lancar BAB, warna BAB berubah dari biasanya, tekstur BAB berbeda dari biasanya..halah banyaknya hehe). 

Sedangkan anak-anak yang menjadi pelaku ujian, seringkali malah bertindak sangat ironis. Mereka..cuek...santai...cool...dunia berputar dengan tenang... Atau lebih parah, mereka malah menunjukkan sikap malas-malasan, cenderung rewel dan susah nurut perintah. Dan mudah ditebak akibatnya, akhirnya kelakuan anak-anak ini dijamin bakalan bikin ketegangan di pihak Ibu2 tambah nyeng-nyeng lagi...hehe...

Ada seorang teman (sesama walimurid di sekolah Abe) yang mengaku bukan hanya gemas pada anak mereka, tapi juga gemas gara-gara melihat aku yang tampak santai-santai saja.

“Kok iso tho? Anake ujian tapi sik santai-santai wae??” (Kok bisa sih? Anak lagi ujian kok santai2 saja?)

Hmm...yang terjadi dirumah ini kebetulan memang agak beda dengan deskripsi diatas. Mungkin karena selama ini, alhamdulillah, urusan pelajaran Abe tidak pernah terlalu merepotkan. Dalam arti, nilai-nilainya selalu memuaskan. Dalam banyak hal, Abe sangat mengingatkanku pada masa kecilku sendiri, termasuk urusan belajar. Dulu aku juga tidak pernah punya waktu khusus belajar dengan cara berkutat dengan buku paket ketika dirumah, kecuali seputar PR (yang justru tidak dialami Abe karena sekolahnya Abe memang tidak memberikan PR buat siswanya, maklum sekolah fullday). 

Mungkin yang perlu aku luruskan disini adalah istilah buku paket >< belajar. Aku percaya bahwa selama aku bisa memberikan kegiatan yang baik dan berguna ketika Abe dirumah, maka intinya ketika itulah dia akan belajar. 

Memperlajari benda langit, tak harus dari buku paket IPA, tapi bisa dengan duduk-duduk bersama di teras samping sambil menikmati bintang dan main kartu kwartet bersama-sama. Belajar tentang matematika tak harus dari buku paket matematika, tetapi bisa dari bermain pasar-pasaran (jual beli) atau langsung membeli snack dan susu kotak di minimarket dekat rumah. Belajar fenomena alam, tinggal stel aja VCD Profesor Mrico trus nonton bareng2. Intinya, belajar tentang apapun dirumah (atau diluar sekolah), syaratnya satu : tidak dari buku paket. Kenapa? Karena toh Abe sudah seharian penuh berkutat dengan buku-buku paket ketika di sekolah. Rasanya kok dia sudah tidak membutuhkannya lagi dirumah ya. Selain itu, aku nggak mau waktu berkumpul kami dirumah yang sangat berharga itu habis justru untuk urusan buku paket. (Sekali lagi ini yang terjadi dirumahku, aku percaya bahwa setiap rumah akan mempunyai cara sendiri-sendiri yang dirasa terbaik sesuai dengan karakter keluarga dan anak-anaknya).

Sehubungan dengan topik diatas, ada satu cerita yang akan sangat relevan aku bagi disini. 

Dalam pertemuan rutin Majelis Silaturahim Walmurid Sekolah Al Hikmah bulan lalu, kami mengundang seorang ustadz yang juga psikolog dan kepala sekolah salah satu SD Islam terkemuka di Sidoarjo. Namanya Ustad Choirus. Tema bulan itu memang kami setting sesuai moment bulan-bulan ini : “Berkelit dari Stress Ketika Menghadapi Anak Ujian”.

Ustad Choirus cerita, ketika pertama kali menjabat kepala sekolah dulu, dia membuat satu kebijakan yang cukup kontroversial. Dia memutuskan untuk TIDAK membagikan jadwal Ulangan Tengah Semester (UTS) kepada walimurid. Jadi walimurid diusahakan tidak sadar, tidak ngeh, kalo minggu itu berlangsung UTS di sekolah. Apa hasilnya? Ternyata menurut cerita beliau, rata-rata nilai UTS anak-anak itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibanding UTS semester sebelumnya. Tapi yah, karena memang kontroversial, orangtua kemudian melancarkan “protes” dan meminta agar jadwal UTS anak-anak selanjutnya dibagikan saja! 

Bottomline, ada dua poin yang disampaikan Ustad Choirus hari itu.

Pertama, beliau percaya, bahwa ketika orangtua (terutama Ibu) mengalami ketegangan menjelang anaknya ujian, itu akan berdampak sangat luas. Suasana rumah akan berubah (jadi lebih tegang tentunya), dan perubahan ini akan mempengaruhi cara semua orang bersikap. Ini sudah dibuktikan oleh banyak penelitian psikologis, stress mepengaruhi perilaku manusia. Si Ibu mungkin menjadi lebih sensitif, agak lebih mudah ngomel, dll. Si bapak mungkin ikutan tegang (karena liat si Ibu sensitip, hihi), apalagi si anak. Radar anak-anak akan langsung menangkap perubahan suasana ini, dan akhirnya menjadi beban tersendiri buat dia. Kata ustad, beban yang dirasakan anak-anak bisa-bisa sangat besar, jauh lebih besar dari yang kita semua kira. Dan beban berat ini bisa-bisa akan menjadi efek yang unproductive dan menghambat bagi kinerja otak (dan yang paling penting, kemampuan recall memori) ketika hari-H ujian.

Kedua, (yang ini agak-agak pelajaran tasawuf gitu deh hehe) Ustad Choirus percaya bahwa kata-kata adalah doa, dan doa yang paling dahsyat adalah doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Jangankan kata-kata yang keluar dari mulut, yang masih ada di dalam hati pun, bisa menggoyang ‘Arsy Allah untuk segera terkabulkan. Percaya atau tidak, ketika hati si ibu penuh dengan kata “jangan-jangan” (jangan2 si eneng nggak akan bisa jawab, jangan2 si otong dapet angka merah, jangan2 si genduk nanti nggak naik kelas, dll dll), maka itu akan menjadi energi yang terkumpul dan tanpa sadar melayang keatas ‘Arsy Allah menjadi sebuah doa.... Nah loh!!

Oya, balik lagi sama poster diatas... 

“Harap Tenang, Ada Ujian”

Jadi mikir. Sebenarnya sekolah pasang poster ini kira-kira untuk siapa ya2?? Anak-anak (biar nggak rame dikelas)??....atau...Ibu2nya...?



Rabu, 16 Januari 2008

[This Is Dudul] Stress dan Nyamuk, Nyamuk dan Stress


Oya, ngomong-ngomong tentang stress, aku jadi pingin cerita soal nyamuk (lho??).

Iya, nyamuk yang –semua pasti setuju- merupakan bukti paling nyata dari keberadaan peribahasa “Hilang Satu Tumbuh Seribu” itu. Sungguh menyebalkan. Seorang ustadz yang sedang menjelaskan ayat tentang betapa tak ada satupun didunia ini ciptaan Allah yang sia-sia, bahkan menasbihkan nyamuk sebagai makhluk yang berguna (salah satunya) untuk penguji kesabaran manusia (selain katanya untuk sumber keluarnya rezeki bagi pabrik produk2 anti-nyamuk). :-D 

Suatu pagi aku mengalami pagi yang sangat indah. Mood anak-anak sedang sangat baik sejak bangun tidur. Suasana dan udara sejuk yang sempurna setelah hujan malamnya, lebih mendukung lagi moodku pagi itu menjadi sangat menyenangkan -selain ada satu lagi alasan lain yang nggak ada hubungannya dengan udara (yang sudah menikah, apalagi ibu2 pasti mengerti lah apa yang kumaksud :-D).

Suami memutuskan untuk balik tidur lagi (ehm) dan berangkat ngantor agak siangan aja nanti. Setelah menutup kontrak dengan pabrik, sehabis sarapan sekedarnya diapun balik kamar untuk molor lagi. Aku, yang harus antar anak-anak sekolah, memilih untuk memakai saja mobil suami, karena letak parkirnya lebih dekat dengan pintu pagar. Daripada memundurkan mobilnya keluar untuk kemudian mengeluarkan mobil yang biasa kupakai, lalu memasukkan lagi mobil suami, akan sungguh merepotkan. 

Wah, benar-benar pagi yang sempurna! Obrolan di mobil selama perjalanan ke sekolah juga berlangsung sangat menyenangkan. Sehabis ngedrop anak-anak disekolah, aku pulang. Tak lama kemudian suami berangkat ke kantor.

Siang, tibalah saatnya untuk jemput Bea. 

Baru saja masuk garasi sudah kulihat ada yang dudul dengan mobilku. Jendela kiri belakang terbuka. Waduh! Rupanya siapa saja yang kemarin keluar dari situ (hampir 100% pasti anak2) lupa, membuka kaca jendelanya tetapi nggak ditutup lagi. Aku cuma mbatin “piye tooo”..... Mood yang sempurna tadi?? Ohooo masih ada! Melihat jendela mobil lupa ditutup semalaman akan terasa kecil bila mood sedang bagus. (Serasa minum ramuan Felix Felicis-nya Harry Potter pokoknya!) Hehe...

Tapi tidak ketika sejurus kemudian aku masuk mobil. Baru saja duduk di jok, sudah ketahuan bahwa si Felix Felicis ternyata tak cukup manjur menangkal hadirnya makhluk kecil penyedot darah yang sangat menyebalkan ini. Dari bawah setir, kulihat 3-5 ekor menguing terbang tanda terusik dengan kakiku yang mulai menempatkan diri di pedal gas. Kutepok2 mereka (dan ya, aku paling handal kalo urusan tepok nyamuk dengan tangan kosong, tanya saja suamiku, kita sering berlomba dan aku selalu menang), dan berhasil. Wajah puasku menandakan masih ada sisa-sisa ramuan Felicis. 

Tapi eeehhh...! Begitu mobil keluar garasi dan terpapar sinar matahari, entah darimana, kali ini suara nguing bukan lagi berasal dari 3-5 ekor nyamuk, bahkan bukan lagi berasal dari 300-500 nyamuk, tapi lebih dari itu!! (okelah mungkin aku hiperbola menyangkut jumlah si nyamuk, tapi siapa yang mau menghitung berapa jumlah nyamuk waktu itu??)

Semua menguing keras sambil terbang berputar-putar didalam mobil dan kepalaku. Kubuka semua kaca jendela dengan harapan mereka akan menemukan jalan untuk terbang keluar, kealam dimana mereka akan bisa terbebas dari jurus teplok ku yang sudah terbukti dahsyat itu.

Sebentar kutunggu sambil mengibas-ngibaskan tanganku menggiring mereka kearah lubang jendela, bukan untuk mengusir, tetapi membantu mereka menemukan jalan menuju kebebasan. Niatku baik. Tetapi rupanya –dengan alasan yang benar-benar tidak kupahami- mereka rupanya tidak merindukan hak asasi berupa kebebasan itu. Mereka memilih untuk menghilang lagi. Kulihat tinggal 3-5 ekor lagi yang menguing di sekitar telinga, mengganggu sekali. 

Atau mereka sebenarnya sudah pergi tanpa kusadari? Kali ini naifku keluar, dan juga jam Bea pulang juga sudah mepet. Akupun jalan. Benar saja, satu blok perumahan sudah terlewati dan tak terasa lagi koloni nyamuk yang berpaduan suara tadi. “Mereka sudah pergii....” bisik hatiku lega. Bahkan yang 3-5 ekor pun tak terasa lagi gangguannya. Kuputuskan untuk menutup kaca jendela.

Baru saja kaca jendela terakhir yang disamping kiriku tertutup lengkap, lha kok muncul lagi suara nguingnya! Pasukan koloni 500 ekor melayang-layang lagi memenuhi kepalaku, menghalang-halangi konsentrasi kedepan untuk menyetirku. Entah darimana mereka muncul (atau bersembunyi tadinya). Yang pasti, diseputar kaki dan jok samping, kulihat mereka juga semburat. 

Kubuka lebar-lebar lagi kaca jendela! Semuanya! Kukibas-kibaskan lagi tanganku menggiring mereka keluar. Kali ini kulakukan membabi buta sambil menyetir, niatku sudah tidak sebaik yang pertama tadi.

Tak lama sepi....mereka sudah benar-benar pergi, batinku... Kututup lagi kaca-kaca jendela mobil. Tak secepat yang tadi, kali ini 5 detik kemudian, astaganaga! Koloninya keluar lagi! Bernguing-nguing lagi dengan dahsyat kesetiap sudut mobil. 

Begitu berulang-ulang, kubuka jendela, kolonipun hilang ditelan jok dan instrumen mobil. Kututup, koloninya kembali memproklamirkan keberadaanya, tak sedikitpun menunjukkan keinginan keluar dari mobilku, seakan-akan berniat begitu saja mengkudeta kekuasaan didalam mobil.

Pergulatan antara aku dan konsentrasi menyetirku, koloni nyamuk, kaca jendela dan kibasan-kibasan tanganku yang semakin lama semakin membabibuta in berlangsung nyaris sampai sekolahnya Bea. Sepanjang jalan!

Mood indahku langsung lenyap! Ramuan Felix-Felicis menguap tanpa bekas!! 

Waktu Bea pulang dan sudah masuk ke mobil, aku sudah kehilangan semangat berjuang. “Buk, banyak nyamuk di mobil” kata Bea berulang-ulang sambil meneplokkan tangan mungilnya. Bunyi teplokannya yang lucu bahkan tak bisa membuatku tersenyum. “Iya...tadi malam kaca jendelanya lupa nggak ditutup” hanya itu jawabku, dengan lemas...

Aku menerapkan salah satu strategi melawan stress, yaitu mematirasakan emosi. Kututup telinga pikiran dan mata hatiku akan keberadaan si koloni yang masih menguing tak kenal lelah, kali ini berhadapan dengan teplokan Bea yang pastinya tak sedahsyat aku. Sambil diam-diam menyimpan dendam (maklum, alam bawah sadar kan tidak bisa matirasa) dan membayangkan obat semprot anti-nyamuk yang tergeletak dibawah tangga dirumah. Dendam yang diam-diam kupupuk dengan tidak lagi mencoba membuka kaca jendela mobil untuk memancing mereka keluar, tak sekalipun. Lebih baik kalau semua anggota koloni utuh bersarang di mobil sampai ketika aku membuka –bukan hanya jendela, tapi- keempat pintu mobil lebar-lebar dirumah nanti, dengan satu tangan yang lain siap menyemprotkan anti-nyamuk dibantu roket aerosol yang –aku janji- akan memekakkan nguingan mereka sampai habis!!

Kalau memang nyamuk adalah penguji kesabaran kita, ampuni aku Ya Allah, karena aku ternyata belum bisa lulus. Aku hanya manusia. Dan lagi, jurus teplok kebanggan yang selalu kupamerkan dengan ujub berlebihan tiap musim hujan -seakan-akan itu hal yang paling penting didunia ini- didepan suami, pelan-pelan kini sudah kehilangan percayadirinya....(ataukah ini hikmahnya ya?). Tak tahulah aku...

 

:::::.....

 

Gambar ilustrasi dicomot dari www.fightthebitecolorado.com

 

Manajemen Stress

Oke, postingan ini sambungan dari postingan tentang stress di http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/77 kemarin.

Aku pribadi mengenal yang namanya Teori Manajemen Stress mostly dari 2 sumber ini: bangku kuliah dan pengajian. :-D

Dari bangku kuliah aku tahu bahwa ternyata banyak sekali teori bermunculan tentang Coping With Stress in Life, bagaimana seseorang mengatasi stress. I mean, a lot!

Dari buku “Essentials of Understanding Psychology” by Robert S. Feldman, sudah aku sarikan tentang bagaimana cara manusia menghadapi stress. Tetapi karena hasilnya ternyata merupakan satu tulisan yang panjang, maka berikut ini aku sarikan lagi menjadi beberapa strategi dalam menghadapi stress.

Untuk yang masih ingin membaca si versi panjang yang lebih detil sekaligus mengintip teori Om Sigmund Freud tentang Defence Mechanism yang beken bin terkenal itu , bisa dibaca disini.

:::::.....

 Beberapa strategi yang sudah terbukti efektif dalam menghadapi stress, antara lain :


TURNING THREAD INTO CHALENGE:

Ketika situasi stress masih mungkin dikontrol, pendekatan terbaik untuk mengatasinya adalah menjadikan ancaman stress menjadi sebuah tantangan sehingga kita bisa lebih fokus pada cara bagaimana mengontrolnya. Contoh : mobil kita jago mogok dan bikin stress! Lalu kita memutuskan untuk mengikuti kursus mekanik singkat. Meskipun keputusan ini tidak membuat mobil jadi tidak gampang mogok, tetapi paling tidak membuat posisi kita lebih baik karena kita lebih mengerti tentang apa yang salah dan cara mengatasinya. Stress setiap kali mobil mogokpun jadi berkurang.


MAKING A THREATENING SITUATION LESS THREATENING :

Ketika situasi stress kelihatannya susah dikontrol, pendekatan lain harus diambil karena sebaliknya, adalah hal yang sangat mungkin untuk mengontrol dan mengubah penilaian seseorang tentang sebuah situasi, melihat dengan cara berbeda untuk kemudian menyesuaikan perilakunya. Contoh: seseorang yang lebih bisa menemukan hal baik (positif) dari suatu peristiwa buruk cenderung lebih rendah stress dan lebih mudah mengatasi stress daripada mereka yang tidak.

 

CHANGING ONE’S GOALS:

Ketika berhadapan dengan situasi yang tidak bisa dikontrol, adalah sesuatu yang masuk akal untuk mengubah tujuan yang lebih realistis dan praktis untuk dilakukan. Contoh: seorang atlit sepakbola top mengalami kecelakaan mobil yang membuat kakinya lumpuh. Nah, dalam kondisi demikian, mungkin dia harus mengubah tujuan hidupnya, misalnya dengan menjadi pelatih sepakbola saja.

 

TAKING PHYSICAL ACTION:

Sekarang ini banyak orang yang menempuh cara ini untuk meredakan stress. Cara ini melibatkan baik medis maupun biologis. Contoh: penggunaan obat2 yang direkomendasikan dokter/psikiater untuk meredakan reaksi stress yang mengganggu kesehatan secara fisik. Beberapa jenis diet makanan pun disebutkan bisa meredakan stress. Olahraga, tentu saja termasuk dalam metode ini. Sudah banyak sekali penelitian bahwa olahraga teratur bisa mengurangi heart rate, blood-pressure and respiration-rate, menyeimbangkan hormon dan mengaktifkan kelenjar tertentu yang membuat tubuh lebih rileks dan tidur lebih nyenyak.

 

PREPARING FOR STRESS BEFORE IT HAPPENS:

Strategi ini disebut dengan inoculation : menyiapkan diri sebelum stress terjadi. Awalnya teknik ini dipakai untuk pasien RS yang akan menjalani operasi, dalam rangka mencegah terjadinya masalah-masalah emosi pascaoperasi.

Metode inokulasi mempersiapkan seseorang untuk menghadapi pengalaman stress (baik secara fisik maupun emosi) dengan cara memberikan penjelasan dan informasi sebanyak dan sedetil mungkin, tentang kejadian2 sulit apa yang kemungkinan akan dihadapi. Elemen penting dari metode ini bukanlah terletak pada kejadiannya sendiri (atau pada fakta bahwa kejadian itu PASTI akan terjadi), tetapi lebih kepada bagaimana menyiapkan diri orang yang bersangkutan agar mempunyai strategi yang lebih jernih dan ebyektif dalam rangka menghadapi situasi stress nya. Kalau diterapkan secara baik, metode ini bisa berhasil. Paling tidak, kemampuan menghadapi stress orang-orang yang sebelumnya mendapatkan informasi (tentang stressornya) akan lebih bagus daripada orang-orang yang tidak mendapatkannya.

:::::.....

 

Yang jelas, yang harus digarisbawahi, dalam teori manajemen stress manapun, selalu disebutkan bahwa untuk bisa menghadapi stress dengan baik, seseorang perlu memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik. Nah, sekarang jelas sudah pentingnya ikut sumber yang kedua : pengajian2! :-D

 

Dari pengajian2, kusimpulkan kayanya kuncinya ini deh (bismillah, kebenaran hanya milik Allah semata) :

  1. Percaya tanpa henti, bahwa apapun itu, hidup ini Tuhan yang mengaturnya. Tidak ada setitikpun kejadian yang luput dari ijin dan pengetahuan Allah (hemm...mas iik mungkin bisa membantu, ayatnya yang mana nih mas... :-D). Sehelai daun yang gugur, setetes air hujan yang jatuh di kegelapan rimbunnya hutan, ikan yang berenang, semut yang mati terinjak, kutu yang berkembang biak didalam sol sepatu kita, setiap detil dan rangkaian sebab musabab dari setiap kejadian, semua hanya bisa terjadi atas ijin Allah Yang Maha Kuasa semata. Apalagi sesuatu yang menyangkut hidup kita umat manusia?! Dan Sang Maha Pencipta tentu juga yang Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba2Nya. Sesuatu yang seringkali disalahpahami oleh kita manusia, kita maunya apa yang kita inginkan itulah yang terbaik buat kita (dan karena itu, itulah yang harus terjadi). Padahal sungguh, sebenarnya dengan segala macam hawa nafsu yang kita miliki, niscaya tak setitikpun kita tahu tentang apa yang terbaik untuk hidup kita!
  2. Ada satu kalimat yang kuperoleh dari seorang ustadz waktu pengajian, dan sejurus setelah mendengarnya, aku langsung menitikkan airmata, bergetar hati ini. Waktu itu kebetulan ada seorang jamaah pengajian yang bertanya bagaimana resep menghadapi ujian hidup ini, karena buat dia (si ibu itu), hidup yang harus dijalaninya sungguh berat. Dari suami yang selingkuh, anak-anak yang sakit2an, hubungan dengan orangtua yang tidak mulus, banyak sekali pokoknya! Dan dia merasa sebagai manusia biasa, lama-lama bisa habis kesabarannya menghadapi besarnya semua cobaan itu. Apa kata ustadz? “Sebagai seorang hamba manusia, seumur hidup kita, jangan sampai sedetikpun kita lupa dengan kalimat ALLAHU AKBAR! Allah Maha Besar! Dia lah yang benar-benar Sang Maha Besar! Kalo kita selalu ingat bahwa Allah adalah yang Paling Besar, maka niscaya semua hal yang lainnya akan terasa kecil! ^_^


:::.....

Semoga bermanfaat...

Foto ilustrasi dicomot dari http://wordvoodoo.blogspot.com

Senin, 24 Desember 2007

PC Ngadat, Virus, Kematian dan Stress (Apa Hubungannya??)

Udah 4 hari ini PC rumah ngadat, nggak mau start karena kena virus (well, ini kata Om Budi di telepon lho, dia temen baik suami yang selalu membantu kita kalo ada masalah komputer, benar-benar temen baik –literally- karena memang sangat baik orangnya, hehe).

 

Aduh agak susah juga nge-trace darimana datangnya si virus, mengingat pemakai PC ini bervariasi, dari golongan umur 3 tahun sampai dengan 30 tahun! Dan Abe pun sudah biasa masuk website2 secara mandiri (dengan program filter safety untuk anak2 tentunya), tetapi bahkan ketika aku meninggalkannya didepan PC untuk pergi ke kamar mandi pun, tetap ada kemungkinan Abe masuk website dudul yang mungkin sudah terinfeksi virus. So, it’s sort of useless to try to find out where the virus came from. Hanya bisa pasrah menunggu Om Budi pulang dari liburan deh...Padahal kemarin sempat nulis sesuatu yang udah siap posting, duh it must wait then.

 

Mau online ya hanya bisa ngandalin laptop si Mas. Padahal lagi si Mas pergi ke Bali selama 3 hari karena ada undangan temen yang menikah di Bedugul. Warnet depan kompleks? Nggak banget deh, karena kebetulan si mbak2 pengasuh juga pada pergi belibur bareng semua karyawan ke Jogja. Trus apa mau ajak anak-anak pergi ke warnet?? Bakalan ancur tuh warnet diserang monster2 kecil ku itu, apalagi salah satu monsternya sudah kecanduan internet juga dan sudah 2 hari nggak online...bisa 'sakaw' Abe di warnet...hihihihi.

 

Makanya kemarin ketika suami pulang, duh gembiranya....kusambut dengan sukacita....akhirnya....laptop dataaanggg...!! **looh?? kok laptopnya??** :-D

 

Anyway...

Tadi pagi ada berita duka. Ada saudara dari suami yang meninggal. Seorang ibu berumur 52 tahun yang sudah beberapa waktu sakit liver. Aku sangat trenyuh demi melihat kesedihan suaminya yang ditinggalkan. Duhhh melasnya.... :-((

 

Tak bisa kuhentikan, aku jadi langsung inget pesen suami yang selalu mengingatkan aku untuk tak lelah menjaga kesehatan (in terms of my diabetic condition). Mas Iwan selalu berkali-kali bilang gini “temanilah aku hidup sampai tua dan anak-anak dewasa nanti” terutama kalo aku lagi lalai berpola hidup sehat... Astaghfirullah... Tadi ketika melihat Pak Umar meratapi kepergian almh istrinya ke makam, bel di otak ini langsung nyaring berbunyi...TENG! TENG! TENG! Hikss...

 

Dengan otak yang belnya masih berdentang-dentang nyaring, barusan waktu buka2 lemari buku, entah kenapa tangan ini kok langsung menarik salah satu textbook waktu kuliah dulu (padahal bagian lemari yang berisi buku2 textbook ini paling jarang tersentuh lho hihihi). Sesuatu mengingatkan aku tentang peristiwa kematian pasangan hidup...hemm hemmm hemm...**serius membolak-balik buku setebal bantal yang dulu benar2 sering jadi bantal di kamar kost ku** huehehehehe. Setelah sebelumnya kucari-cari keyword “stressor” di index buku teks matakuliah Psikologi Umum-ku dulu ini, akhirnya kutemukan juga bagan yang kucari...

 

Nah....benar kan??

Dalam buku “Essentials of Understanding Psychology”-nya Robert S. Feldman ini memang disebutkan bahwa “peristiwa kematian pasangan hidup” merupakan stressor (pemicu stress) dengan nilai tertinggi yang berpotensi bisa menyebabkan penyakit di masa depan.

 

Jadi menurut buku ini, kita bisa memprediksi separah apa penyakit yang bisa kita derita di masa depan dengan cara melihat stressor yang pernah terjadi di masa lalu. Salah satu rumusnya dengan mengalikan (poin stressor x berapa kali stressornya pernah terjadi selama hidup kita). Dengan catatan: maximal stressor terjadi 4 kali selama hidup, kalo lebih ya...si bagan nggak tanggungjawab kali, berarti udah parah banget itu...hihihi.

 

Scoring : Hasil di tiap stressor kemudian dijumlahkan. Kalau hasilnya diatas 1435, maka berarti kita berada di kategori stress tinggi dan (menurut Marx, Garrity and Bowers; 1975) menempatkan kita dalam resiko menderita penyakit (yang bisa dipicu stress) di masa depan. Tetapi disebutkan juga bahwa ini tidak selalu terjadi, hanya beresiko (iya lah, takutnya karena terlanjur sudah mengalami banyak stress di masa lalu, kita malah tambah stress dengan perhitungan ini sehingga si penyakit yang awalnya hanya berupa resiko, malah benar2 terjadi!)

 

Namanya juga cuma teori... :-D

 

Berikut ini daftar stressor selengkapnya, siapa tahu berguna. Atau untuk iseng aja juga boleh. Kutambahkan juga perhitungan ala aku sebagai contoh, jadi nanti di akhir tulisan kita akan bisa tahu seberapa tinggikah tingkat stress ku? **berdebar-debar**

 

(Mumpung aku lagi rajin nih, karena waktu kuliah dulu pun nggak bakalan serajin ini lho wekekekekek jadi silakan disimak baik-baik yah :-D).

Bismillahirrohmaanirrohim... (menyerahkan nasib kebenaran translating English-Indo ku “hanya” pada Allah semata :-S)

 

Stressor (poin)

-          Kematian pasangan hidup (87)                ; aku 0 x 87 = 0

-          Menikah (77)                                         : aku 1 x 77 = 77

-          Kematian anggota keluarga dekat (77)    : aku 2 x 77 = 154 (kedua nenekku)

-          Perceraian (76)                                      : aku 0 x 76 = 0 (naudzubillahi min dzalik)

-          Berpisah dengan suami/istri (74)            : aku 0 x 74 = 0 (naudzubillah lagi)

-          Kematian teman dekat (68)                    : aku 1 x 68 = 68 (mbak Lely)

-          Hamil / kehamilan pasangan (68)           : aku 3 x 68 = 204

-          Luka atau penyakit serius (65)               : aku 1 x 65 = 65 (vonis DM hikss)

-          Dipecat dari tempat kerja (62)               : aku 0 x 62 = 0

-          Putus tunangan/hub.serius (60)              : aku 0 x 60 = 0

-          Kesulitan masalah seksual (58)               : aku 0 x 58 = 0 (^_^)

-          Proses rujuk dengan pasangan (58)         : aku 0 x 58 = 0

-          Perubahan konsep-diri mendadak (57)    : aku 0 x 57 = 0

-          Perubahan kesehatan atau perilaku mendadak dari anggota keluarga (56) : aku 1 x 56 = 56 (bapak pernah sakit keras waktu aku SD, benar2 keras :-(( )

-          Bertunangan (bersiap u menikah) (54)    : aku 1 x 54 = 54

-          Perubahan kondisi finansial yang mendadak (53) : aku 0 x 53 = 0

-          Hutang/pinjaman diatas $10.000 (52)    : aku 0 x 52 = 0 (mas mgkn tp aku gak! :D)

-          Terlibat penggunaan narkoba (52)          : aku 0 x 52 = 0

-          Konflik/perubahan nilai hidup (50)          : aku 1 x 50 = 50 (menikah, tentu saja)

-          Argumen/konflik besar dg pasangan (50): aku 0 x 50 = 0 (sering tp gak besarlah)

-          Kehadiran anggota keluarga baru (50)     : aku 3 x 50 = 150 (suami dan kelahiran anak2)

-          Masuk kuliah (50)                                  : aku 1 x 50 = 50 (org cuma S1 :-D)

-          Pindah sekolah pd level yg sama (50)      : aku 0 x 50 = 0

-          Pindah kerja ke line yang berbeda (50)   : aku 0 x 50 = 0

-          Perubahan besar dlm kemandirian dan tanggungjawab (49) : aku 2 x 49 = 98 (wkt kost kuliah n menikah)

-          Perubahan tggjwb dlm kerjaan (47)        : aku 2 x 47 = 94 (jadi ibu pekerjaan jg kan?)

-          Perubahan penggunaan alkohol (46)        : aku 0 x 46 = 0

-          Perubahan kebiasaan pribadi (45)           : aku 3 x 45 = 135 (susah nih, ya udah anggap aja 3 :-D)

-          Masalah dengan sekolah (44)                  : aku 0 x 44 = 0 (murid yang baik kok :-D)

-          Bekerja sambil sekolah (43)                   : aku 1 x 43 = 43 (biar resminya mas yg kerja tp stressnya ikut dapat tuh :-D)

-          Perubahan besar di aktivitas sosial (43)  : aku 1 x 43 = 43 (minimal sekali pasti lah)

-          Punya masalah dengan mertua (42)         : aku 0 x 42 = 0 (thank God :-D)

-          Perubahan menyangkut jam dan suasana kerja (42) : aku 0 x 42 = 0

-          Perubahan tempat tinggal (42)               : aku 4 x 42 = 168

-          Pasangan kerja dan tinggal di kota lain (41) : aku 0 x 41 = 0

-          Perubahan jurusan studi (41)                  : aku 0 x 41 = 0

-          Perubahan kebiasaan berkencan (41)      : aku 0 x 41 = 0 (off course!!)

-          Pencapaian prestasi pribadi (40) : aku 4 x 40 = 160 (lebih beberapa lah, dari urusan lomba menulis, turnamen badminton waktu SD sampai melahirkan anak, duhh baru tau yg kaya gini bisa dianggap bikin stress juga ya hihihi)

-          Masalah dengan boss (38)                      : aku 0 x 38 = 0

-          Perubahan besar jumlah teman sekolah (38) : aku 1 x 38 = 38 (waktu SD diikutkan kelas akselerasi, habis kelas 4 langsung bergabung dgn anak2 kelas 6, dan memang benar, bikin stress!!)

-          Perubahan besar cara dan jumlah rekreasi (37) : aku 1 x 37 = 37 (dulunya org rumahan banget, sejak ada anak2 jadi pingin menunjukkan seisi dunia ke mereka :-D)

-          Perubahan cara dan jumlah beribadah (36): aku 1 x 36 = 36 (for the better, i hope)

-          Perubahan kebiasaan tidur (36)              : aku 4 x 36 = 144 (minimal! Pasti lebih apalagi kalo lagi ada bayi newborn in the house)

-          Melakukan perjalanan/liburan (33)                     : aku 4 x 33 = 132 (lebih kali yaaa dan somehow, it is! kind of stressing :-D)

-          Perubahan besar pada kebiasaan makan (30)      : aku 4 x 30 = 120 (off course! :-D)

-          Perubahan besar intensitas kumpul keluarga (26): aku 4 x 26 = 104 (apalagi kalo suami sering kerja luar kota hikss)

-          Dibuktikan terlibat dalam kejahatan ringan (22) : aku 0 x 22 = 0 (masyaalloh jgn sampai deh..)

 

Dan setelah dijumlah....**eng ing eeeng!!!**

jumlahnya adalah : 2160

 

**wecks...**

 

padahal score bar nya 1435...hueheheheh ternyata hidupku terkategori dalam tipe stressor tinggi...! :-D

 

padahal aku gak kerja lho...banyak yang menyangkut stress dalam pekerjaan yang bernilai 0 karena aku kan nggak kerja??

 

^#*@(#*@(#*)@#_)(@#&#@

 

**sekarang aja tambah stress kalo liat keatas...panjangnya postingan yang iniiii....!!! :-D

**yang nulis aja jadi stress, apalagi yang baca ya??? Maap..maap... :-(

 

^#*@!&)(*!@)(*!)(@*)!@)&

 

PENTING!! :

Ada satu hal yang jauh lebih penting daripada keberadaan poin2 stressor ini, yaitu yang disebut MANAJEMEN STRESS. Kalo masih ada mood insyaalloh besok aku kutipkan juga dari si textbook ya, just stay tune....huehehehehe