Minggu, 23 September 2007

Menikah Muda Part 3 : Kerikil Yang Mulai Menguji Kesabaran

Wah sekarang sudah ada editor yang mengejar-ngejar dan ngoprak-ngoprak postingan lanjutan kisah pernikahanku hueheheheh (terimakasih perhatiannya temans, specially tya dan mas yudi kalian lah penyemangat bagi mood menulisku yang hari-hari ini lagi dudul, well maklum Ramadhan banyak rutinitas khusus –alasan.com- hehehe)

 

Oke, ini dia Bagian ke-3...

Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1 dan Part 2

***

 

 

Mengapa kupilih dia menjadi suamiku?

Karena dialah laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta, itu sudah pasti. Bagaimana dia bisa membuatku jatuh cinta? Well, I’ll tell you why...yang pasti bukan cinta pada pandangan pertama karena meskipun percaya, tetapi aku tahu pasti bahwa “love at a first sight” is definitely not for me..it just won’t work on me... :D

 

Masalah agama, tidak usah ditanya lagi merupakan suatu keharusan yang mutlak, tentu saja. Sholat tertib dan lain sebagainya ibarat seleksi adalah tahap pertama yang sudah dilewati si mas. Tetapi lebih khusus lagi, ada sifatnya yang waktu itu ternyata sanggup menawan hatiku dan membangkitkan kekaguman dalam diriku. Lebih dari cowo-cowo lain yang pernah mendekatiku.

 

“Dia adalah orang yang tanpa ragu akan mendahulukan dirinya sendiri ketika menghadapi kesusahan, dan sebaliknya, dia orang yang juga tanpa ragu akan mendahulukan orang lain ketika menghadapi kesenangan”. Kenyataan ini kusaksikan dengan mata pikiran dan hatiku sendiri ketika selama lebih 2 minggu berkegiatan di Pondok Pesantren Liburan tempat kami bertemu, melalui bagaimana cara dia memperlakukan orang lain (khususnya anak-anak kecil dan orang tua). Menunjukkan sebuah rasa tanggungjawab yang luar biasa.

 

Bagiku cukup sudah, itulah syarat utama untuk menjadi seorang laki-laki sejati dimataku. Seorang suami dan imam yang pantas kelak, seorang figur ayah dan laki-laki yang akan menjadi panutan anak-anakku nantinya. Walaupun waktu itu dari luar penampilan dan cara bergaulnya tidak berbeda dengan remaja seusianya yang lain, tetapi ketika aku melihat kedalam dirinya, bahkan ketika masih berumur 18 tahunpun, dimataku dia adalah sosok laki-laki dewasa yang matang dan sejati.

 

Laki-laki yang akan bisa dan mau diajak untuk segera menikah.... :-)

 

***

 

Kami pulang dari perjalanan haji (1997) dengan membawa segudang rencana berdua. Setidaknya ada 3 poin rencana besar : kerjaan, anak dan kuliah. Kami (terutama aku tentu saja :D) ingin secepatnya menimang bayi, apalagi setelah haji selesai, maka akupun bebas untuk hamil. Kuliah sambil ngurusin anak? Well, no problemo karena memang aku sudah siap (paling nggak secara mental). Bagaimana caranya? Well, we’ll figure it out somehow, wong memang sudah niat, insyaAlloh pasti akan ada jalan, begitu pikirku saat itu :D

 

Saat itu kami masih tinggal menumpang dirumah mertua. Sebelumnya, sudah sejak SMA si mas sudah terbiasa bekerja. Dari yang sifatnya membantu usaha orangtua maupun proyek “apa saja” yang dia kerjakan bersama beberapa temannya di “Gang Molen”. Dari event organizer, usaha sablon sampai order membuat panggung, semua mereka kerjakan. Aku masih ingat betul, mas kawin dan biaya akad nikah kami dulu adalah hasil dari proyek si mas membuat dekorasi panggung untuk acara off-air dangdut nya Indosiar :D

 

Dengan sifat mandiri dan tanggungjawab yang dimiliki suami (sifat yang dulunya telah membuatku jatuh cinta padanya), sebenarnya aku tidak heran ketika sehabis menikah, keluar ultimatum ini : “Mulai detik ini, aku suamimu yang akan bertanggungjawab penuh atas kamu. Maka perlakukanlah aku sebagaimana seorang laki-laki dengan memutuskan ketergantunganmu secara finansial dari orangtuamu, seberat apapun itu!” Maka resmilah, hasil kerja serabutannya yang dulu hanya menjadi tambahan uang saku buat dia, sekarang menjadi tulang punggung keuangan kami berdua. Dan kalau merujuk pada jumlahnya, setelah diambil untuk biaya kuliah kami berdua, tinggal sedikit saja yang akan tersisa (kalau tidak mau dikatakan hampir habis).

 

Secara ide, aku setuju sekali dan tak urung merasa menjadi istri yang bangga. Tetapi ternyata dalam prakteknya, hal ini seringkali memicu pertengkaran diantara kami. Keteguhan suami dengan ultimatumnya itu, kadang-kadang karena keadaan dan kebutuhanku, kurasakan sebagai hal yang keras kepala dan egoistis seorang laki-laki. Sepeserpun, dia nggak mau memakai tabungan yang sudah kupunya sejak sebelum menikah (kecuali untuk kebutuhan buku kuliahku, dia masih mengijinkan, untuk buku, bukan untuk SPP). Bukan hanya aku, tetapi orangtua dan mertua seringkali harus sedikit mengelus dada karena sepertinya mas ini alergi menerima bantuan uang walaupun sekedarnya.

 

“Kita harusnya sudah cukup malu karena masih tinggal menumpang di rumah bapak dan ibu,” begitu dia selalu membujukku. Niat kita untuk mengontrak atau kost memang tidak kesampaian karena ibu mertua keburu menangis memohon kami untuk tinggal dirumah beliau. “Mungkin akan lebih mudah kalau orangtua kita miskin, tetapi dengan kondisi ekonomi orangtua kita yang cukup berada, kita harus lebih kuat lagi dalam berjuang menghindarkan diri kita dari kemanjaan dan ketergantungan seperti ini... Ayolah, nduk, ini rumah tangga kita sendiri kan??” begitu dia selalu menguatkan hatiku, dan kalo dia sudah memanggilku dengan sebutan “Nduk” begini, rasanya aku sudah luluh kehabisan rasa untuk menjawab.

 

Siapapun pasti tahu (khususnya wanita hehe), awal-awal tinggal dengan ibu mertua merupakan sesuatu yang challenging. Bahkan dengan mertua sebaik mertuaku, aku masih sering merasa homesick. Rindu keluarga di kampung, terutama ibuku. Sebelum menikah, setiap weekend aku selalu pulang kampung ke Tulungagung (ingat kan betapa aku adalah anak rumahan??). Perjalanan dengan bus selama 3-4 jam itu sudah jadi rutinitas bagiku setiap Jumat sore. Setelah menikah, masa-masa adaptasi tinggal dirumah ibu mertua menjadikan kebutuhanku untuk pulang kampung, bertemu ibukku dan nge-charge diri secara emosional semakin menjadi-jadi.

 

Maka dimulailah masa-masa yang menguji kesabaran itu...

 

Kerinduanku pada rumah dan keluarga di kampung, seringkali berujung dengan tangisan sendu sendiri di kamar kami. Mas sering menolak untuk pulang ke Tulungagung karena sekedar ongkos bus pun seringkali tak punya. Mending kita simpan untuk bensin motor buat kuliah dan kerja, selalu begitu alasannya. Tabunganku yang kukumpulkan waktu sebelum menikah, out of question, tak layak dipakai.

 

Beberapa kali aku lepas kontrol dan menyebut mas kepala batu, keras kepala (astaghfirullah) dan dijawabnya dengan memberikan 2 pilihan “Terserah kamu, kamu sabar sampai aku dapatkan uang untuk ongkos kita ke Tulungagung, atau kamu pulang saja sekarang sendiri.” Seringkali aku dengan emosional berniat berangkat saja sendiri ke kampung, tetapi untungnya Allah masih melindungi dan itu tidak pernah sampai terjadi.

 

 

Waktu itu, mas baru saja keluar dari Gang Molen, dan memutuskan untuk memulai usahanya sendiri. “Teman-teman di Molen berjalan cepat, sedangkan aku perlu berlari cepat sekarang,” alasannya. Dalam hati aku pun sering merasa bersalah, karena merasa membuatnya berada dalam tanggungjawab dan beban yang teramat besar gara-gara menikahiku. Ketika teman-teman seusianya sedang seru-serunya “gaul” sana-sini, Mas Iwan menghabiskan waktunya untuk banting tulang mencari nafkah bagi kami. Pagi kuliah, siang sampai sore dihabiskannya di proyek tempatnya bekerja di salah satu dosennya di Teknik Sipil. Seringkali malam baru pulang, ketika aku sudah terlelap tidur. Ketika di akhir pekan kuliah libur, itu adalah waktu berharga yang bisa dihabiskannya untuk...bekerja diluar kota! Waktu itu dia sedang menjajaki usaha berdagang, dan survei yang dia lakukan bisa memakan waktu 2-3 hari perjalanan ke luar kota. Hanya sekali aku diijinkan ikut (itupun setelah bujuk rayu kulancarkan), tetapi tidak pernah lagi karena selain pertimbangan biaya yang membengkak, kondisi fisikku tidak sanggup mengimbangi ritme kerjanya yang luar biasa (siapa yang bisa? pikirku waktu itu).

 

Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja, homesick dan keinginanku pulang kampung semakin jarang aku ungkapkan. Aku sungguh tidak tega. Waktu dimana kemudian tiba-tiba dia menawarkan untuk pulang kampung (biasanya sebulan sekali, pernah sampe 3 bulan) selalu kusambut dengan air mata haru dan rasa syukur yang tidak terkira. Tak kubayangkan, pulang menemui ibukku yang dulu menjadi rutinitas tiap akhir pekanku, bisa begitu nikmatnya kurasakan...

 

Aku paling suka perjalanan pulang kampung bersama mas waktu itu. Saat itulah, di bus, selama 4 jam perjalanan kita bisa punya waktu mengobrol panjang lebar. Tentang apa saja. Kelak, sampai sekarang pun kebiasaan mengobrol dalam kendaraan ini masih menjadi aktivitas yang kami berdua sangat sukai. Bedanya, dulu di bus aku bisa dengan bebas sandaran di bahu mas, sedangkan sekarang tidak karena dia harus menyetir (dua-dua nya menyimpan kenikmatan sendiri karena berarti sekarang kita sudah bisa membeli mobil sendiri kan :D)

 

Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja juga yang akhirnya membuatku memutuskan untuk menghabiskan waktuku di kegiatan kampus. Daripada menghabiskan waktu merenungi diri sendiri yang meskipun baru menikah tapi sering ditinggal suami sampai malam bahkan berhari-hari (untung waktu itu belum ada istilah “jablai” ya :D). Dunia organisasi yang sudah kuakrabi sejak SMP pun menjadi pelampiasan yang positif. Kepengurusan di Senat yang praktis banyak kutinggalkan setelah menikah, akhirnya menjadi rumah kedua lagi buat aku.

 

Aku membayangkan, waktu itu pasti mertuaku sering mengernyitkan dahi campur prihatin melihat kesibukan kami berdua. Kulihat Mas Iwan sering menenangkan hati ibunya bahwa kami baik-baik saja, dan harap maklum karena memang lagi sibuk2nya di kampus.

 

Di tengah ritme kesibukan kami yang luar biasa dan intensitas pertemuan kami yang sangat terbatas itulah, muncul kabar gembira. Sepulang dari kegiatan PsychoCamp (program orientasi senat untuk mahasiswa baru) di daerah Malang selama 3 hari, aku mendapati bahwa aku hamil.... :-)

 

Semua menyambut dengan antusias. Orangtua dan mertua (mau punya cucu pertama!), adik-adik, ipar dan teman-teman di kampus (mau punya ponakan pertama!), dan tentu saja kami berdua (tentu saja ini akan jadi anak kami yang pertama kan!). Teman-teman di kampus sudah sibuk membuat jadwal siapa yang sedang off kuliah untuk jagain anakku waktu diajak ke kampus :D (duh...I miss u guys all now hiks). Mertua sudah menyiapkan banyak rencana apa yang akan dilakukan bersama cucunya nanti saat aku harus kuliah. Orangtuaku malah sudah merencanakan membeli rumah supaya bisa sering-sering menginap di Surabaya (rumah yang tentu saja Mas Iwan sudah menolak untuk tinggali, kecuali dia boleh mengontrak dari Bapakku :-S). Kehamilaku baru menginjak 2 bulan ketika dada semua orang sudah penuh dengan semangat dan rencana untuk bayiku nantinya. Sambil tersenyum mengelus perutku, aku selalu bilang pada si kecil “kamu sungguh beruntung...”

 

Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa kegembiraan dan antusias kami semua waktu itu adalah awal dari sebuah ujian besar dalam sejarah rumah tangga kami...

 

(to be continued...:D)

 

Sabtu, 22 September 2007

[Amazing Camille Allen] Making Babies




Sebagian dari karya-karya baby sculpture dari Camille Allen, seorang seniman yang sangat mencintai bayi (sama dong kita..hehe sok akrab banget nih :D). Seniman asal Canada berusia 25 tahun ini sekarang sudah menikah dan belum memiliki anak, makanya getol banget ya bikin patung-patung bayi..

duhhh....imutnya....amazing banget, ngeliatnya serasa geli gemes gimanaaaa gitu

:D

for anything more, go to this link : www.camilleallen.com

Sabtu, 15 September 2007

Menikah Muda Part 2 : Newlywed Yang Menggetarkan Hati


Ini lanjutan dari cerita hidupku (cie). Mudah-mudahan mengandung hikmah untuk diambil semua...

 

Menikah Muda Part 1 dapat dibaca disini :D

 

Tak bisa kupungkiri, masa-masa newlywed benar-benar yang terindah, dan menjadi masa “pacaran” kita yang benar-benar menggetarkan hati.

 

Banyak kejadian lucu mengingat walaupun aku punya banyak teman cowo, tetapi jelas sekali pengalamanku menghadapi laki-laki sebelumnya hanyalah sebatas perlakuan sebagai teman, tidak melibatkan tetek bengek keintiman (apalagi erotisme) khas suami-istri. Ini juga yang menjadi olok-olok seru sahabat2 cewekku, karena aku yang dikenal paling lugu urusan cowo, eh kok ternyata paling dulu menikah. Seorang sahabat mengingatkan lagi kejadian lucu di bangku kelas 2 SMP ketika guru pelajaran agama kami menjelaskan bahwa tanda seorang laki-laki baligh adalah mengalami “mimpi indah”, dan dengan lugunya, didepan teman2 yang lain aku tanya ke salah satu temen cowokku waktu itu “eh, kalo mimpi indah itu kamu jadi apa? Superman atau Batman?” :D Puas aku diketawain seisi kelas waktu itu.

 

Pernikahan “dini” ku tak urung cukup membuat geger teman2, apalagi teman2 SMA yang tidak pernah melihatku “dekat” dengan cowo manapun selama masa sekolah. Banyak juga saudara dan teman orangtua yang mempertanyakan, tak sedikit yang memprotes, bahkan banyak pula yang curiga kalau aku menikah karena telah hamil. Yah, nggak heran, mengingat latar belakang pendidikan dan sebagainya, keputusan menikah begitu lulus SMA memang layak dianggap aneh waktu itu.

 

Masa-masa indah newlywed masih berlanjut beberapa bulan kemudian, ketika kami diberi kesempatan untuk pergi menunaikan ibadah haji berdua. ONH-nya hadiah pernikahan dari orangtua. Bagi banyak orang (termasuk bpk2/ibu2 teman serombongan haji) adalah hal yang sangat seru melihat kita pasangan remaja yang baru menikah, dan (mereka menyebutnya) berbulan madu di tanah suci. Bagi kami sendiri, dibanding acara bulan madu, tanpa diduga perjalanan haji kami waktu itu lebih mirip sekolah, ajang training, semacam pendidikan dan pelajaran khusus bagi perjalanan rumah tangga kami nantinya.

 

Kejadian2 “ajaib” yang banyak hanya kami dengar terjadi ketika seseorang berada di tanah suci dan masih sulit untuk kupercaya, ternyata banyak sekali kami lihat dan alami  dan hampir semuanya bertema “suami-istri”. Dari sepasang suami-istri yang suka sekali bertengkar sampai-sampai jatuh talak di kamar pondokan (bayangkan, mereka sedang berhaji!), seorang istri yang suka melawan suaminya dan akhirnya sempat hilang selama 3 hari gara-gara tidak menuruti kata-kata suaminya, sampai dengan romantisme pasangan manula yang sangat kompak dan kelihatan masih sangat menggairahkan bagi satu sama lain, semua menjadi pelajaran berharga buat kami yang waktu itu baru saja memasuki gerbang pernikahan. Banyak tauladan yang kita lihat, untuk dicontoh dan juga dihindari. Sering sekali setelah menyaksikan suatu kejadian, kontan kita berdua saling berpandangan penuh arti, dan serta merta dalam hati berjanji untuk tak henti memantapkan niat dan tekad karena Allah SWT, dalam mengarungi bahtera kami berdua nantinya.

 

Pernah suatu kali kita sedang mengobrol santai membahas pekerjaan si mas yang masih serabutan, dan berandai-andai sekaligus merencanakan tentang nasib ekonomi keluarga kecil yang baru kami bangun ini. Obrolan ringan dan santai, penuh khayalan khas pasangan muda (ciee hehe). Seperti, bagaimana nikmatnya kalau suatu hari nanti kita bisa membeli rumah sendiri, saat itu malah kami sedikit eyel2an karena mas mengungkapkan keinginannya untuk membangun rumah yang ada menaranya (kaya masjid), dan saya menganggap itu sangat konyol :D. Saat itu hampir ashar di pelataran masjidil haram ketika kami sampai pada kesimpulan betapa khayalnya kami, mengingat pekerjaan mas pun masih serabutan. Pekerjaan-pekerjaan khas mahasiswa gitulah... :D.

 

Tiba-tiba, ada seorang Bapak yang mengaku jamaah haji dari sebuah daerah di Madura mendekat. Sama dengan hampir semua orang, dia berkomentar sangat mendukung dengan pernikahan kami. Dengan bijak dia menasihati bahwa urusan rezeki, semua Allah yang mengatur, dan ketika manusia sudah menggenapkan separuh agamanya dengan menikah, Allah berjanji akan mencukupkan apapun kebutuhan. (Bingung juga, apa dia memang menguping obrolan kami ya? Perasaan, nggak ada orang didekat2 kami sebelumnya...). Tak lama kemudian dia menunjuk ke suatu arah, dan dia pun mulai bercerita tentang Biir Zam-Zam, titik dimana air zam-zam dulunya pertama kali memancar. Tak banyak jamaah yang tahu keberadaan sepetak lingkaran marmer bertanda khusus diantara pintu masuk sumur zam-zam dan Ka’bah itu. Si Bapak ini kemudian memberikan secarik kertas berisi lafal do’a dan menyuruh kita berdua untuk membaca do’a ini diatas tanda Biir Zam-Zam ketika selesai kami tawaf. Kami masih persis ingat betul pesannya, “Panjatkanlah do’a ini kepada Allah di tanda Biir Zam-Zam itu. InsyaAlloh, biar kata kamu nanti cuma jualan PAKU sekalipun, orang-orang yang membelinya akan merasa membeli emas...”. Ketika kami masih mencoba membaca tulisan di secarik kertas itu, si Bapak pun sudah pergi menghilang entah kemana, tanpa kami pun mengetahui sekedar siapa namanya.

 

Saat itu, bahkan ketika kami memanjatkan doa seperti yang dinasihatkan si Bapak itu, tentu saja sama sekali tidak ada satupun dari kami yang tahu atau mengira, bahwa sampai detik ini pun, nafkah yang kita dapat untuk hidup keluarga kita adalah hasil dari usaha suami yang distributor PAKU!!

 

Termasuk didalamnya, satu kejadian “ajaib” terjadi pada kami berdua melibatkan sesosok wajah bercahaya berbaju jubah putih yang “misterius”. Suatu siang yang terik kami berdua mengalami hari yang sial (belakangan kita setuju hari itu bukanlah hari sial, malah sebaliknya). Dengan berjalan kaki dan lupa bawa dompet (sehingga kehabisan uang setelah sekedar uang yang kami bawa di kantong habis), kami tersesat di sebuah jalan sepi ditengah padang pasir. Ini agak mengherankan karena biasanya suami sangat teliti mengingat jalan. Setelah hampir 4 jam berlalu, sudah menjelang malam dan kami belum juga menemukan arah kembali. Jalanan sepi tak meninggalkan banyak orang ataupun bus/taksi yang bisa kami tumpangi. Lapar, lelah, tak ada uang sepeserpun dan sedikit putus asa, suami memutuskan untuk duduk istirahat.

 

Nggak jelas darimana asalnya, tiba-tiba saja si sosok ini menghampiri kami berdua. Kulihat dia membawa tas kresek hitam yang kelihatan penuh. Setelah berkenalan (dia mengaku orang Pakistan yang bekerja di Saudi) dia mendoakan rumah tangga kami dan mengungkapkan betapa gembira dan bersyukurnya dia melihat 2 orang yang masih sangat muda tetapi sudah mau menikah. Tak disangka, diapun menyerahkan kresek hitamnya, “sebagai hadiah” katanya. Diapun berlalu, meninggalkan kami yang melongo saling pandang demi melihat kresek yang penuh dengan buah-buahan, minuman dan roti. Si kresek itulah yang kemudian memberi kami energi untuk berjalan kembali, dan ajaib, tak kurang dari 1 jam kemudian, kita sudah berhasil menemukan jalan pulang.

 

Oya, sebelum menyerahkan kreseknya, sosok berwajah mengagumkan itu membuat kami berjanji membawa pulang 2 nama yang kelak akan kami pakai menjadi nama anak-anak kami. Omar dan Namira. Sepasang nama laki-laki dan perempuan. Sekarang, sepasang anak kamipun sudah menyandang nama titipan itu. Omar Charis Atthabrizi (Abe) dan Namira Bai’atifa Azzahra (Bea). Yang lucu (dan agak ajaib), bertahun kemudian setelah kami tanya sana-sini ke teman yang mengerti Bahasa Arab, ternyata kata-kata Omar merujuk kepada makna “Singa” sedangkan Namira pada makna “Singa Betina”. MasyaAlloh…(ternyata aku melahirkan sepasang “singa” ya… :D)

 

Hal-hal yang dulu kurang kupercaya (karena hanya kudengar dari cerita orang) ternyata memang nyata terjadi didepan mata kepalaku sendiri menimpa kami. Dan bukan hanya yang kutulis disini, masih ada beberapa cerita “ajaib” lainnya (terlalu panjang kalau ditulis semua kayaknya ya...:D). Apapun itu, perjalanan haji kami yang pertama ini sungguh suatu nikmat anugerah Allah SWT yang akan terus terasa nikmat dan hikmahnya sampai kapanpun...

 

Ide menikah muda yang sudah bersarang dibenakku sejak lama bahkan sebelum aku tumbuh remaja, dalam prakteknya ternyata tidak seindah dan semudah yang kubayangkan sebelumnya. Setelah masa newlywed yang menggetarkan hati, dimulailah babak baru dalam pernikahan kami. Babak yang akan paling banyak menunjukkan arti sebuah pernikahan. Sisi baru yang menguji semuanya… penyatuan 2 hati menjadi 1 bahtera kehidupan yang bernama Rumah Tangga.

 

Bagaimana itu? Perasaan postingan ini udah teralu panjang deh... Bersambung dulu aja ya… :D

 

Selasa, 11 September 2007

Taman Safari II Prigen


turis Abe dari Jepang ya..? :D

Tgl. 1-2 September 2007 kebetulan aku ada acara wisata rohani di Hidayatullah Batu bersama walimurid Al-Hikmah lainnya, meninggalkan suami dan anak-anak dirumah (hiks).

Serunya, Sabtu 2 September si bapak mengajak anak-anak jemput ibuk, trus dari Hidayatullah kita meluncur ke Taman Safari II Prigen di Pasuruan....waahhh ternyata memang sudah lama kita nggak kesini yaa..nggak terasa, terakhir kesini Bea masih blum jalan. :D

Abe semangat sekali...Bea agak2 melongo lihat para binatang berkeliaran tepat diluar kaca jendela mobil, dan akhirnya beberapa kali minta peluk takut2-tapi pingin-lihat gitu hihi lucu deh Bea...

Yang paling seru tentu saja Gajah Show !! Nah ini dia beberapa fotonya... :-)

Sabtu, 08 September 2007

Menikah Muda Part 1 : Jawaban dari Do'a Ibunda


Tiap kali dapet kenalan baru dan obrolan sampai ke masalah perkawinan (kapan nikah, udah berapa lama, anak sudah berapa dll), aku selalu berhasil membuat orang lain melongo. Itu setelah mereka tahu kalau 11 tahun yang lalu, aku menikah waktu umur 19 tahun sementara suami 20 tahun. Dan akhirnya berulang-ulang saya harus cerita panjang lebar tentang sejarah pernikahanku. Nah, daripada begitu, mending ditulis aja di blog ya, kalau nanti ada lagi yang tanya, biar langsung aja kusuruh buka blog ini dan baca sendiri huehehehe. Silakan betah2in deh bacanya, cos this will be a loooong story.. :b

 

Kok bisa ??  <======biasanya ini reaksi pertama :D

Bisa dong. Wong sudah cita-cita. Ini semua berawal dari ibuku sendiri. Beliau menikah muda juga (18 tahun) dan dengan berlalunya waktu, dari kecil aku sudah menyadari kalau menikah muda itu banyak asyiknya ya. Waktu aku sudah SMP, ibuku masih “cukup gaul” dan banyak energi untuk anak-anaknya. Maksudnya, generation gap nya nggak terlalu jauh gitu lho hehe. Thus, bukan hal yang rumit juga kalau akhirnya aku pun bercita-cita untuk bisa menikah muda.

 

Enteng jodoh banget ya??

Nah kalo urusan ini jangan tanya aku. Masalah bagaimana aku bisa menemukan jodoh dengan cepat, bagiku juga sama misteriusnya. Semua rahasia Allah. Yang pasti aku sangat bersyukur karena ternyata jalanku sangat dimudahkan. Aku nggak tahu apa ini ada hubungannya atau tidak, tapi sejak aku kecil beranjak abg gitu, ibuku selalu wanti-wanti, katanya kalau mau jodohnya lancar, jangan pernah suka bermain-main dengan cowo. Beliau percaya karma bahwa (misalnya) kalo kita sering ganti2 pacar, biasanya dapetnya suami tidak akan seperti yang diharapkan. Benar atau tidaknya ya aku nggak tahu, kasus per orang kan beda-beda hehe. Aku sih nggak terlalu mau percaya 100 persen sama karma itu. Yang jelas, aku pun memutuskan untuk tidak mau pacaran sebelum lulus SMA (padahal konon banyak yang ngajak tuh ehm ehm..hihihihi ge-er banget ya :D)

Oya, berhubungan dengan masalah ini, seringkali sekarang2 ini aku dicurhati teman2 yang kebetulan masih jomblo. Habis itu biasanya mereka trus tanya, “apa dong resepnya gampang ketemu jodoh?”.....nah kalo sudah gini gantian aku yang pusing jawabnya.... Nggak ada resep!! Yang terjadi di hidupku juga mengalir begitu saja. Kata orang mah jodoh memang urusannya sama nasib. Rahasia Allah.

Yang menarik, belakangan setelah beberapa tahun aku menikah, ibuku mengakui bahwa ada satu doa yang dari dulu kala tak pernah lupa dia panjatkan ke Allah. Doa itu adalah supaya aku (anak cewe satu2nya) dimudahkan jodohnya, diberikan jodoh yang baik, baik dimata Allah dan baik dimata manusia. Beliau bilang, alangkah sengsaranya dia kalau seandainya putrinya harus mendapat suami yang tidak baik, jahat, pemalas, dlsb, rasanya akan percuma membesarkan anak dengan penuh kasih sayang kalau pada akhirnya dia harus menghabiskan sisa hidupnya bersama suami (jodoh) yang tidak baik. Mengharukan ya? Hihi. Sekarang pun, aku mencontoh beliau dan mendoakan yang sama untuk anak-anakku (terutama Bea) :D

 

Gimana proses ketemunya??

Wah, kalo disuruh nulis, kasihan yang baca nanti. Bakal bosan! Kalah deh pokoknya novel2 picisan hueheheh. Yang pasti ya itu tadi, semua serba dimudahkan (masyaAllah)... Padahal pertama-pertama ketemu si mas dulu, sebelnya bukan main karena dia suka sekali mendebat apa saja yang keluar dari mulutku. Apalagi kita pertama ketemu di forum Pesantren Liburan (di daerah Ponorogo, waktu itu aku baru saja naik kelas 3 SMA), jadi sehari-hari dia seperti nggak kehabisan bahan untuk mendebatku...padahal aku paling nggak suka kalo diajak berdebat!

Kuasa Allah juga yang bisa membalik-balikkan hati manusia, diakhir acara pesantren liburan yang cuma selama 2 minggu itu, bukan sebal lagi yang ada di hati ini. Next time I know, about 8 months later, it officially became the first romance for both of us. Hehe..bener deh, bagian yang ini nggak usah ditulis, bisa2 sepanjang satu buku novel sendiri! :D

 

Trus, proses menikahnya??

Sebelumnya, biar kujelaskan dulu model pacaran kita selama aku masih belum lulus SMA (di Tulungagung) dan si mas di Surabaya. Ketemunya sebulan sekali. Hari Minggu pagi jam 8 biasanya dia sudah sampai dirumah (berangkat subuh bo!! hehe). Apa yang langsung dilakukannya begitu sampai dirumahku? Dia bebas pilih, mau duduk sendiri tak berteman di ruang tamu, atau gabung di ruang keluarga dengan aku (plus 2 adik laki2ku yang masih SD dan 2 sepupuku) untuk nonton Doreamon! :D Karena, jangan harap aku mau mengorbankan jadwal nonton Doraemonku untuk nemenin pacar, nggak akan! Hahaha!

Dan percayalah, begitu dia masuk ke ruang keluarga dirumahku (pada Hari Minggu pula), maka sama saja dia harus ngapelin 8 orang sekaligus sepanjang hari (bapakku, ibukku, aku, 2 adikku, nenekku, dan 2 sepupu yang tinggal dirumahku). Mau ajak pergi berdua? Sebelum minta ijinpun dia sudah tahu kalo bapakku nggak akan ngasih. Kalopun bapak ngasih, akunya juga belum tentu mau, jadi si mas ternyata cukup mengerti untuk tidak meminta huehehehehe... what can I say? I was really such a family-homy girl hehe... Ini berlangsung selama sekitar 4 bulan sebelum kemudian aku lulus sekolah (jadi ceritanya, tekad untuk nggak pacaran sebelum lulus SMA gagal tercapai dong...hihihi).

 

Selepas SMA, sudah lama aku mengincar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran di Bandung. It said to be the best for Clinical and Developmental Faculty of Psychology in Indonesia.

“Wah.. Kita jauhan lagi dong..katanya cita2 mau nikah muda, kok mau kuliah di Bdg lho?” tanya si mas yang waktu itu sudah kuliah Teknik Sipil di UPNV Surabaya.

I was like, suddenly hit by a bus that time....oh iya ya...?

Singkat cerita, setelah beberapa hari istikharah, waktu apply untuk UMPTN pilihan pertamaku adalah Fakultas Psikologi Universitas Airlangga di Surabaya. Banyak teman2 sekolah yang protes, kenapa nggak jadi ke Undip, padahal dari nilai hasil UMPTN kemudiannya, jelas2 aku masuk grade disana. Well, I dunno, it just felt so right for me to do it that time...thats all. Membayangkan kuliah psikologi di Unpad memang seru! Tetapi ketika terbayang lagi cita2 menikah muda yang kayanya sudah didepan mata, dan bahwa untuk itu maka aku harus kuliah di Surabaya saja, I’ll go for it instantly!!

Well, it’s just the matter of priority, right? :D

 

Ada kejadian lucu waktu Ospek di Psikologi Unair. Waktu itu beberapa mhs baru (termasuk aku) dipanggil dosen dan kakak kelas untuk maju kedepan dan ditanya tentang alasan “kenapa memilih kuliah di psikologi?”

“Kepingin menambah percaya diri saya,” jawab seorang teman (oh, Mida, do u read this? Hihi)

“Ingin jadi Psikolog yang hebat,” jawab seorang yang lain

“Maklum, mau masuk ke kedokteran tapi nggak ketrima, jadi pelariannya kesini,” jawab yang lain lagi :D

Waktu giliranku untuk menjawab, dengan polos kubilang “Karena saya bercita-cita jadi Ibu Rumah Tangga..!!” Geerrr...semua jadi ketawa.

Hari itu aku pun puas jadi bahan olok2an senior. “Hari gini...mana ada cowo yang mau sama cewe tradisional kaya kamu, maunya jadi ibu rumah tangga saja??? Nggak pengen maju!! Paling cuma bisa ngabisin duit suamimu!! Bisa-bisa diculik kalangan feminis kamu!!” seru seorang senior. Hehe, maklum lagi masa2 ploncoan...belakangan dia juga ngaku kalau menurutnya cita2ku itu bener2 “original” (ini persisnya kata yang dia pakai)...hehe. Kujawab saja, “Iya mas, dan mudah sekali diwujudkan, tinggal menikah, punya anak, tercapai deh!” :D

 

Sadar bahwa putri satu2nya berada jauh di Surabaya (satu kota dengan si pacar lagi), orangtuaku nggak perlu waktu lama untuk mengingatkanku pada cita2 awal (nikah muda itu tadi :D). Si mas pun, sudah mafhum bahwa nggak akan lama sebelum aku mendesaknya untuk menikahiku (hahahaha ngebet banget sih kesannya?? Abis gimana lagi? Sekarang setelah lulus SMA, nggak ada alasan lagi untuk menunda kan? *alasan.com* hihihi).

Nah...Masalahnya, calon mertua waktu itu belum mafhum karena rupanya si mas tidak pernah mengungkapkan kepada mereka tentang cita2ku ini...(“biarlah kalau sudah mau terjadi, baru aku ngomong” gitu katanya).

Mereka sempat shock begitu si anak laki2 sulung mereka yang masih 20 taun, minta nikah!! Si mas cerita, selama seminggu, beliau2 seperti orang linglung, kesana-kesini minta pendapat orang2 yang dituakan, ustadz dan lain-lain. Alhamdulillah, setelah sampai pada kesimpulan bahwa memang sebaiknya yang namanya menikah itu harus disegerakan, dan melihat keadaan kita yang sudah berhubungan seperti ini menjadikan hukumnya WAJIB untuk segera menikah, maka ijinpun turun...

 

Hari Jumat, 3 Mei 1996 dengan semata-mata ijin dan kuasa Allah SWT juga lah akhirnya kami pun menikah.... Waktu itu, saya masih berumur 19 tahun dan duduk di bangku kuliah semester 2. Sedangkan suami berumur 20 tahun dan semester 4.

 

:-)

 

Yang paling mengharukan adalah selesai akad nikah, ketika sungkem pada ibuku, kita berdua menangis lama....(subhanAlloh...inilah jawaban Allah atas doa2mu, Ibu..)

 

***

(Ingin tahu bagaimana kami menjalani waktu2 pertama pernikahan kami? Membentuk rumah tangga dan keluarga baru di usia yang masih sangat muda tentu sangat beresiko karena emosi yang masih labil. Bagaimana kami harus bergelut dengan masalah finansial dan ekonomi sementara di sisi lain jadwal kuliah, tugas dan praktikum di kampus sedang sibuk2nya? Well...biar nggak capek dan bosan bacanya, tunggu saja di postingan berikutnya ya... ;-) hehehe)

 

 


Sisi Lain Ramadhan


Marhaban Yaa Ramadhan. Tentang betapa istimewanya Bulan Ramadhan dan seribu alasan kenapa kita sangat patut menyambut datangnya Ramadhan dengan sukacita, aku yakin semua sudah baca. Semoga kita semua bisa mendapatkan dan meraih keutamaan2 Ramadhan itu ya…amin.

 

Nah, ini dia salah satu sisi lain dari Ramadhan…

 

I’m talking about tradition!

Sadar atau tidak, dalam tugas sehari-hari sebagai seorang ibu rumah tangga, PASTI ada satu-dua (atau lebih) kebiasaan2, the way we do things, kebiasaan2 kecil, little details….yang kita warisi dari ibu kita jaman dulu ketika kita kecil. Seringkali kita mempunyai kebiasaan dalam mengatur rumah tangga yang membuat kita tiba-tiba mengernyitkan dahi bila memikirkannya…karena tiba-tiba, seringkali kita sadar betapa persisnya kita melakukan ini itu seperti ibuk (atau bapak) kita dulu melakukannya. Ini sesuatu yang mungkin tidak ada dalam petunjuk kehidupan jaman modern sekarang, dan karenanya kita tidak dengan sadar berniat untuk melakukannya di waktu kini. Tapi tetap saja kita melakukanya, tetap saja hal itu bisa memberikan insight ketika kita menghadapi masalah tertentu, baik itu dengan anak-anak maupun tugas-tugas rumah tangga lainnya…

 

Contoh…

Tiap anak-anak tengelam dalam tantrum yang tidak berkesudahan, seraya membujuk dengan sabar aku selalu gendong mereka ke kamar mandi, trus guyur dengan air banyak-banyak berkali-kali sampai mereka ‘terpaksa’ harus menarik napas dalam-dalam (karena diguyur air dingin bo!). Setelah mereka kelelahan dan kedinginan, sambil banyak-banyak memeluk dan membujuk mereka, aku akan pakaikan baju dan (ini yang amazingly persis sama ibukku) bedakin mereka banyak-banyak!! Hehehe…sampe kaya badut gitu, dari ujung kepala ke ujung kaki!!

Hasilnya? Anak-anak kecapekan, kedinginan, rileks oleh guyuran air dingin, hangat oleh pelukan ibuk dan ditambah harum bedak, biasanya habis itu si tantrum sukses menghilang dan hanya menyisakan acara minum susu ditemani hangatnya pelukan ibu dan harumnya bedak yang menyebar bahkan ke seluruh rumah (saking banyaknya) hihihi…

Now, where would we find that kind of trick in any parental magazine or website, huh?? :D

Membuatku berpikir juga, tradisi apa ya yang kira-kira nanti akan diwarisi Bea kalau dia sudah jadi ibu rumah tangga juga? :D

 

Begitu juga kalo Ramadhan !

Ada beberapa tradisi yang secara begitu saja, tanpa perencanaan dan berjalan begitu saja, kuwariskan dari ibuk. Ini dia salah satunya :

 

Menu sahur pertama kami selalunya adalah IKAN SARDEN! Dimasak pedas bumbu bawang putih dan dicampur santan dan irisan sayuran. Entah bagaimana dulu awalnya, yang jelas, bukan hanya dirumahku saja, dirumah kami di kampung menu ini pun masih berlaku sampai sekarang. Dan sekuat apapun aku mencoba berniat menyiapkan menu lain jauh-jauh hari, kerinduanku dengan suasana Ramadhan masa kecil selalu membuatku berakhir dengan sahur Ikan Sarden di hari pertama :D

 

Jangan tanya tentang segala warning kesehatan untuk mengurangi makanan2 processed, I know! Di hari2 biasa selain bulan Ramadhan pun, kita jarang sekali menyajikan menu ini kalau tidak terpaksa. But the point is, I just can't help to do it anyway! Mungkin juga dulu tradisi ini bermula ketika jenis-jenis makanan semacam sarden kalengan ini lagi booming di Indonesia (tahun-tahun 80-an gitu kan?). Yang jelas, membayangkan nikmatnya sahur hari pertama, yang terlintas di benak adalah berarti menu ikan sarden santan pedas!! :D 

 

Wujud rindunya aku dengan masa kecil?  Mungkin ya…Yang jelas, untuk menu sahur hari pertama kami, 2 kaleng sarden sudah terbeli… :D

 

Bagaimana dengan Anda? Let’s share, pasti semua punya tradisi Ramadhan keluarga yang bisa membantu kita memberi nuansa yang beda ketika Ramadhan kan

 

(Tak lupa kami sekeluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan untuk semua teman-teman di MP, mohon maaf lahir batin…semoga kita selalu diberikan semangat untuk ikhlas beribadah karena Allah SWT…)

 

(Jadi ingat salah satu line yang pernah kubaca : Sudah Siapkah Kita Kalau Ternyata Ini Adalah Ramadhan Terakhir Buat Kita?)

Jumat, 07 September 2007

[This is Funny] Ada Apa Dengan Mr. Chen?


Setiap kali suami mendapat surat bisnis berbahasa Inggris, dia selalu minta aku untuk menuliskan balasannya, karena dia merasa style Englishnya chattingan banget (ada ya? English style chattingan?? hihi). Bagaimanapun aku mencoba meyakinkannya bahwa his English is fine (in term of writing), tetap saja tidak cukup membuatnya mau menulis sendiri suratnya. Takut salah diartikan orang lain, katanya. Atau jangan-jangan memang niatnya cuma pingin kasih2 tugas ke istrinya aja ya? Hehe..

 

Nah, suatu hari ada surat dari Mr. Chen, salah satu kolega di Beijing. Waktu itu, suami pas di kantor dan aku dirumah. Via YM, suamipun seperti biasa memberikan tugas untuk membalas surat itu. Setelah balasan selesai aku ketik sesuai pesanan, kukirim lagi via email kekantornya suami. Sebentar kemudian dia bilang surat sudah dikirim ke Mr. Chen (disertai kata2 terimakasih, dll macam2 gombal itulah hueheheh).

 

Besoknya, ketika aku sedang dijalan, tiba-tiba si mas telepon. Kaget juga karena setelah salam, suara yang terdengar adalah dia ketawa ngakak parah sekali. Setelah agak mereda, dia pun cerita kenapa dia sampe ketawa ngakak. Dia bilang bahwa Mr. Chen sudah membalas kembali suratnya, dan ini membuat suami sadar akan sesuatu.

 

Rupanya tanpa periksa lagi sana-sini, draft surat berupa email yang saya tulis kemarinnya, langsung saja dia forward ke Mr. Chen. Dan celakanya, subject nya pun tidak digantinya juga! Kami memang biasa usil dan iseng satu sama lain, dan di kolom subject suratnya kemarin aku tulis :

 

Surat Cinta Untuk Mr. Chen !!

 

HAHAHAHAHAHAHAHAHAH :D

 

Kontan akupun ikut ngakak…sampe lamaaaa kita nggak bisa berhenti ngakak berdua di telepon!

“Gitu kok ya kemarin nggak diperiksa lagi sih???” protesku masih sambil ngakak nggak tertahankan

“Lha aku ya udah percaya aja sama kamu,” kata si mas (juga masih ngakak)

“Mas dudul!!”

“Lha kamu juga, iseng banget to bikin subjectnya??”

“Berdoa saja Mr. Chen nggak ngerti Bhs. Indonesia!! Kalo sampe dikira hombreng ya bukan salahnya Mr. Chen!!”

 

Sekarang, kalau handphone si mas berbunyi dan ternyata yang telepon adalah Mr. Chen, dia jadi langsung deg2an ingat surat itu....Ada Apa Dengan Mr. Chen?? :D

 

Hahahahahaha

Ada-ada aja….

 

(catatan: yang diatas itu bukan fotonya Mr. Chen lho..hihi :D)