Wah sekarang sudah ada editor yang mengejar-ngejar dan ngoprak-ngoprak postingan lanjutan kisah pernikahanku hueheheheh (terimakasih perhatiannya temans, specially tya dan mas yudi kalian lah penyemangat bagi mood menulisku yang hari-hari ini lagi dudul, well maklum Ramadhan banyak rutinitas khusus –alasan.com- hehehe)
Oke, ini dia Bagian ke-3...
Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1 dan Part 2
***
Mengapa kupilih dia menjadi suamiku?
Karena dialah laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta, itu sudah pasti. Bagaimana dia bisa membuatku jatuh cinta? Well, I’ll tell you why...yang pasti bukan cinta pada pandangan pertama karena meskipun percaya, tetapi aku tahu pasti bahwa “love at a first sight” is definitely not for me..it just won’t work on me... :D
Masalah agama, tidak usah ditanya lagi merupakan suatu keharusan yang mutlak, tentu saja. Sholat tertib dan lain sebagainya ibarat seleksi adalah tahap pertama yang sudah dilewati si mas. Tetapi lebih khusus lagi, ada sifatnya yang waktu itu ternyata sanggup menawan hatiku dan membangkitkan kekaguman dalam diriku. Lebih dari cowo-cowo lain yang pernah mendekatiku.
“Dia adalah orang yang tanpa ragu akan mendahulukan dirinya sendiri ketika menghadapi kesusahan, dan sebaliknya, dia orang yang juga tanpa ragu akan mendahulukan orang lain ketika menghadapi kesenangan”. Kenyataan ini kusaksikan dengan mata pikiran dan hatiku sendiri ketika selama lebih 2 minggu berkegiatan di Pondok Pesantren Liburan tempat kami bertemu, melalui bagaimana cara dia memperlakukan orang lain (khususnya anak-anak kecil dan orang tua). Menunjukkan sebuah rasa tanggungjawab yang luar biasa.
Bagiku cukup sudah, itulah syarat utama untuk menjadi seorang laki-laki sejati dimataku. Seorang suami dan imam yang pantas kelak, seorang figur ayah dan laki-laki yang akan menjadi panutan anak-anakku nantinya. Walaupun waktu itu dari luar penampilan dan cara bergaulnya tidak berbeda dengan remaja seusianya yang lain, tetapi ketika aku melihat kedalam dirinya, bahkan ketika masih berumur 18 tahunpun, dimataku dia adalah sosok laki-laki dewasa yang matang dan sejati.
Laki-laki yang akan bisa dan mau diajak untuk segera menikah.... :-)
***
Kami pulang dari perjalanan haji (1997) dengan membawa segudang rencana berdua. Setidaknya ada 3 poin rencana besar : kerjaan, anak dan kuliah. Kami (terutama aku tentu saja :D) ingin secepatnya menimang bayi, apalagi setelah haji selesai, maka akupun bebas untuk hamil. Kuliah sambil ngurusin anak? Well, no problemo karena memang aku sudah siap (paling nggak secara mental). Bagaimana caranya? Well, we’ll figure it out somehow, wong memang sudah niat, insyaAlloh pasti akan ada jalan, begitu pikirku saat itu :D
Saat itu kami masih tinggal menumpang dirumah mertua. Sebelumnya, sudah sejak SMA si mas sudah terbiasa bekerja. Dari yang sifatnya membantu usaha orangtua maupun proyek “apa saja” yang dia kerjakan bersama beberapa temannya di “Gang Molen”. Dari event organizer, usaha sablon sampai order membuat panggung, semua mereka kerjakan. Aku masih ingat betul, mas kawin dan biaya akad nikah kami dulu adalah hasil dari proyek si mas membuat dekorasi panggung untuk acara off-air dangdut nya Indosiar :D
Dengan sifat mandiri dan tanggungjawab yang dimiliki suami (sifat yang dulunya telah membuatku jatuh cinta padanya), sebenarnya aku tidak heran ketika sehabis menikah, keluar ultimatum ini : “Mulai detik ini, aku suamimu yang akan bertanggungjawab penuh atas kamu. Maka perlakukanlah aku sebagaimana seorang laki-laki dengan memutuskan ketergantunganmu secara finansial dari orangtuamu, seberat apapun itu!” Maka resmilah, hasil kerja serabutannya yang dulu hanya menjadi tambahan uang saku buat dia, sekarang menjadi tulang punggung keuangan kami berdua. Dan kalau merujuk pada jumlahnya, setelah diambil untuk biaya kuliah kami berdua, tinggal sedikit saja yang akan tersisa (kalau tidak mau dikatakan hampir habis).
Secara ide, aku setuju sekali dan tak urung merasa menjadi istri yang bangga. Tetapi ternyata dalam prakteknya, hal ini seringkali memicu pertengkaran diantara kami. Keteguhan suami dengan ultimatumnya itu, kadang-kadang karena keadaan dan kebutuhanku, kurasakan sebagai hal yang keras kepala dan egoistis seorang laki-laki. Sepeserpun, dia nggak mau memakai tabungan yang sudah kupunya sejak sebelum menikah (kecuali untuk kebutuhan buku kuliahku, dia masih mengijinkan, untuk buku, bukan untuk SPP). Bukan hanya aku, tetapi orangtua dan mertua seringkali harus sedikit mengelus dada karena sepertinya mas ini alergi menerima bantuan uang walaupun sekedarnya.
“Kita harusnya sudah cukup malu karena masih tinggal menumpang di rumah bapak dan ibu,” begitu dia selalu membujukku. Niat kita untuk mengontrak atau kost memang tidak kesampaian karena ibu mertua keburu menangis memohon kami untuk tinggal dirumah beliau. “Mungkin akan lebih mudah kalau orangtua kita miskin, tetapi dengan kondisi ekonomi orangtua kita yang cukup berada, kita harus lebih kuat lagi dalam berjuang menghindarkan diri kita dari kemanjaan dan ketergantungan seperti ini... Ayolah, nduk, ini rumah tangga kita sendiri
Siapapun pasti tahu (khususnya wanita hehe), awal-awal tinggal dengan ibu mertua merupakan sesuatu yang challenging. Bahkan dengan mertua sebaik mertuaku, aku masih sering merasa homesick. Rindu keluarga di kampung, terutama ibuku. Sebelum menikah, setiap weekend aku selalu pulang kampung ke Tulungagung (ingat
Maka dimulailah masa-masa yang menguji kesabaran itu...
Kerinduanku pada rumah dan keluarga di kampung, seringkali berujung dengan tangisan sendu sendiri di kamar kami. Mas sering menolak untuk pulang ke Tulungagung karena sekedar ongkos bus pun seringkali tak punya. Mending kita simpan untuk bensin motor buat kuliah dan kerja, selalu begitu alasannya. Tabunganku yang kukumpulkan waktu sebelum menikah, out of question, tak layak dipakai.
Beberapa kali aku lepas kontrol dan menyebut mas kepala batu, keras kepala (astaghfirullah) dan dijawabnya dengan memberikan 2 pilihan “Terserah kamu, kamu sabar sampai aku dapatkan uang untuk ongkos kita ke Tulungagung, atau kamu pulang saja sekarang sendiri.” Seringkali aku dengan emosional berniat berangkat saja sendiri ke kampung, tetapi untungnya Allah masih melindungi dan itu tidak pernah sampai terjadi.
Waktu itu, mas baru saja keluar dari Gang Molen, dan memutuskan untuk memulai usahanya sendiri. “Teman-teman di Molen berjalan cepat, sedangkan aku perlu berlari cepat sekarang,” alasannya. Dalam hati aku pun sering merasa bersalah, karena merasa membuatnya berada dalam tanggungjawab dan beban yang teramat besar gara-gara menikahiku. Ketika teman-teman seusianya sedang seru-serunya “gaul” sana-sini, Mas Iwan menghabiskan waktunya untuk banting tulang mencari nafkah bagi kami. Pagi kuliah, siang sampai sore dihabiskannya di proyek tempatnya bekerja di salah satu dosennya di Teknik Sipil. Seringkali malam baru pulang, ketika aku sudah terlelap tidur. Ketika di akhir pekan kuliah libur, itu adalah waktu berharga yang bisa dihabiskannya untuk...bekerja diluar
Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja, homesick dan keinginanku pulang kampung semakin jarang aku ungkapkan. Aku sungguh tidak tega. Waktu dimana kemudian tiba-tiba dia menawarkan untuk pulang kampung (biasanya sebulan sekali, pernah sampe 3 bulan) selalu kusambut dengan air mata haru dan rasa syukur yang tidak terkira. Tak kubayangkan, pulang menemui ibukku yang dulu menjadi rutinitas tiap akhir pekanku, bisa begitu nikmatnya kurasakan...
Aku paling suka perjalanan pulang kampung bersama mas waktu itu. Saat itulah, di bus, selama 4 jam perjalanan kita bisa punya waktu mengobrol panjang lebar. Tentang apa saja. Kelak, sampai sekarang pun kebiasaan mengobrol dalam kendaraan ini masih menjadi aktivitas yang kami berdua sangat sukai. Bedanya, dulu di bus aku bisa dengan bebas sandaran di bahu mas, sedangkan sekarang tidak karena dia harus menyetir (dua-dua nya menyimpan kenikmatan sendiri karena berarti sekarang kita sudah bisa membeli mobil sendiri
Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja juga yang akhirnya membuatku memutuskan untuk menghabiskan waktuku di kegiatan kampus. Daripada menghabiskan waktu merenungi diri sendiri yang meskipun baru menikah tapi sering ditinggal suami sampai malam bahkan berhari-hari (untung waktu itu belum ada istilah “jablai” ya :D). Dunia organisasi yang sudah kuakrabi sejak SMP pun menjadi pelampiasan yang positif. Kepengurusan di Senat yang praktis banyak kutinggalkan setelah menikah, akhirnya menjadi rumah kedua lagi buat aku.
Aku membayangkan, waktu itu pasti mertuaku sering mengernyitkan dahi campur prihatin melihat kesibukan kami berdua. Kulihat Mas Iwan sering menenangkan hati ibunya bahwa kami baik-baik saja, dan harap maklum karena memang lagi sibuk2nya di kampus.
Di tengah ritme kesibukan kami yang luar biasa dan intensitas pertemuan kami yang sangat terbatas itulah, muncul kabar gembira. Sepulang dari kegiatan PsychoCamp (program orientasi senat untuk mahasiswa baru) di daerah
Semua menyambut dengan antusias. Orangtua dan mertua (mau punya cucu pertama!), adik-adik, ipar dan teman-teman di kampus (mau punya ponakan pertama!), dan tentu saja kami berdua (tentu saja ini akan jadi anak kami yang pertama
Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa kegembiraan dan antusias kami semua waktu itu adalah awal dari sebuah ujian besar dalam sejarah rumah tangga kami...
(to be continued...:D)