Tampilkan postingan dengan label lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lombok. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2008

CaMbok 4 : Mandalika Si Pasir Merica




:::::.....

Akhirnya kami sampai juga di Kuta Mandalika. Berada di Lombok Selatan, kabarnya pantai disini bagus dan sangat spesial. Yang buat kami penasaran terutama pasirnya, yang kabarnya seperti merica. Dari seluruh Nusantara, jenis pasir pantai yang seperti ini konon hanya bisa ditemui disini.

Pantai Kuta Mandalika Lombok sangat berbeda dengan Senggigi. Disini sepi sekali. Nama Mandalika diambil dari nama seorang Putri di kerajaan jaman dulu kala di daerah itu. Kisah Legenda sang putri yang kebingungan memilih karena dilamar 7 pangeran dan akhirnya memutuskan nyebur ke laut dan menjelma menjadi Nyale (cacing laut) ini menjadi legenda yang terkenal di masyarakat Sasak.

(Legenda selengkapnya silahkan baca disini : http://bahastra.multiply.com/journal/item/10/Putri_Mandalika_Legenda_dari_Lombok_ )

Ketika sebelum berangkat kami browsing hotel2 dan penginapan yang bagus disitu, hanya satu nama yang keluar, Novotel. Jadi sudah terbayang sepinya, tetapi begitu kami sampai disitu, ternyata kawasan ini bahkan jauh lebih sepi dari perkiraan kami. Tanya-tanya, radius 3 km dari Novotel memang tak ada apa-apa, hanya padang rumput tandus. Tak ada rumah penduduk, tak ada hotel sama sekali (paling dekat, ada beberapa hotel yang kecil, itupun masih lebih dari 3 km jaraknya dari Novotel) dan yang paling dramatis tidak ada warung sama sekali!

Ini yang telat kami antisipasi!

Jadi begini. Peraturan nomor satu, aku kalau menginap di hotel (apalagi yang bintang2 itu) tentu saja adalah siapin bawa bekal air minum dan sekedar makanan kecil. Tau sendiri kan seperti apa charge didalam hotel?? Dan dudulnya, nggak tahu kenapa, hari itu kami kehabisan persediaan minuman! Pikirku, ah nanti beli saja di warung dekat2 hotel, syukur-syukur kalo ada minimarket (seperti di Senggigi). Eh ternyata jangankan warung, rumah penduduk saja tidak ada. Weleh! Akhirnya selama di Novotel, kami terpaksa menelan mentah-mentah deh semua charge hotel untuk semua keperluan kami (ya, termasuk minum air mineral yang sebotol seharga 24 ribu itu hikss).

Tapi Novotel yang disitu memang bagus sekali. Suasananya sangat alami khas pinggir pantai dan sangat cocok untuk wisatawan keluarga dan anak-anak. Waktu sebelum berangkat kami hunting kamar via internet, hanya ada satu kamar yang tersisa untuk tanggal itu, di satu-satunya hotel di mandalika lagi. Maklum sedang high-season dan liburan musim panas bagi para wisatawan yang berasal dari negeri empat musim. Sebuah room villa, lengkap dengan private pool didalamnya dan tarif yang kurang masuk akal menurutku (tarif awalnya sudah ujubileh mahalnya, plus high season pula emak..) tetapi begitu melihat villa nya, aku jadi terjebak antara menyesal dan tidak. Tidak menyesal karena tempatnya bagus sekali, it makes all worthed. Menyesalnya?? huhhuuuuuuu anak-anak pasti akan histeris kegirangan kalau diajak kesini!! Hikss...semoga suatu saat ada kesempatan ajak Abe-Bea kesini ya... :-(

Dan kabar tentang pasir merica itu, ya Allah ternyata benar! Coba deh lihat di foto dibawah, pasirnya bener2 besaarr dan putiihhh! Aku sampai persis anak kecil kegirangan waktu pertama kali melihat dan memegangnya. Yang menimbulkan sensasi tersendiri adalah karena pasirnya besar-besar, maka rongga udara diantara butir pasirnya otomatis juga besar. Nah, begitu kita menginjakkan kaki disitu, kaki kita bakal AMBLES dengan dalamnya. Wah sekali lagi membayangkan, anak-anak pasti senang bermain pasir disini!

Penyesalan karena nggak ngajak anak-anak, berlanjut setelah Mas Iwan sedikit memaksa untuk foto-foto. Ini karena keinginannya hunting foto pantainya, harus terkubur karena mendung yang menggelayuti pantai tak henti-hentinya. Ahhhh aku capekkk difotooo!!! **hikss** Dan pasti yang melihat postingan, juga capeekk lihat wajahku mulu... Alamakkk..

Kesimpulannya, besok2 ke Lombok lagi, POKOKNYA AJAK ANAK-ANAK!! **ngotot**
InsyaAllah... :-)
Catatan album Lombok kali ini aku akhiri ya **udah mulai bosan** hihihihi
Selesai...

Jumat, 29 Agustus 2008

CaMbok 2 : The Three Gilis, Tiga Sekawan Andalan Pulau Lombok


menikmati coconut juice (baca: es santan) dari bale-bale di sepanjang pantai Gili Air

beautiful moment back then... :-)

::..

Inilah andalan wisata Pulau Lombok saat ini. Tiga Gili ini berada di gugusan pulau-pulau kecil di Lombok Barat. Kata gili dalam bahasa sasak memang artinya “pulau kecil”. Yang paling populer adalah 3 serangkai ini : Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Ketiganya sangat berdekatan dan dalam satu garis lurus, sehingga menjadi satu paket untuk dikunjungi. (Kalau ada waktu, senyambi baca postingan ini, coba deh search website2 atau foto2 Lombok).

Bila menginap di daerah Senggigi, ada 2 cara yang bisa ditempuh untuk sampai ke gili-gili itu. Pertama bisa lewat Bangsal, sebuah pelabuhan kecil yang terletak kira-kira 30 menit dari Senggigi. Dari situ, perjalanan dilanjutkan dengan kapal boat selama 45 menit lagi. Kapalnya sendiri bebas memilih, bisa naik public boat (biasanya berisi 12 orang, tiket pergi saja seharga 15 ribu per orang ) atau menyewa satu kapal seharga PP 350 ribu. Tetapi bila memilih untuk naik kapal umum, harus diperhatikan ada kemungkinan kita akan kesulitan untuk mencari kapal pulangnya, karena jam kapal (dari gili ke Bangsal) hanya terbatas sampai jam 2-3 sore saja.

Cara lain, bisa langsung sewa kapal dari Pantai Senggigi-Gili Trawangan. Perlu 1,5 jam perjalanan kapal boat, dan harga sewa (approx. 400 ribu) biasanya sudah PP plus kalau cuaca memungkinkan, kita bisa balik sore hari. Memang kalau ingin puas melewatkan waktu di gili sampai sore, biasanya memang menyewa kapal menjadi pilihan terbaik. Apalagi biasanya pemilik/pengemudi kapal juga bersedia menjadi guide selama di Gili, dan yang paling penting, barang bawaan kita di kapal akan lebih terjamin keamanannya. Cara ini yang kami pilih waktu itu walaupun dengan resiko perjalanan kapal akan lama sementara Mas Iwan kurang tahan terhadap angin laut.


GILI TRAWANGAN
Pada kunjungan pertama tahun lalu, aku hanya sempat pergi ke Gili Nanggu yang terletak agak jauh ke selatan Lombok. Gili Nanggu yang sepi dan damai sudah meninggalkan kesan mendalam buatku. Nah, konon kabarnya, Gili Trawangan inilah justru yang paling terkenal. Aku jadi exciting deg2an membayangkan seperti apa Gili Trawangan itu?

Rencananya kemarin, 3 hari di Lombok, 2 hari akan kami habiskan di Gili. Makanya Mas Iwan berniat menginap saja di Trawangan, apalagi waktu lihat websitenya, ada satu tempat menginap yang bagus sekali di Trawangan. Menyediakan kamar lumbung yang indah, Villa Ombak namanya. Dasar nasib, karena high-season hotel itu sudah full-booked, bahkan kata informannya, sekarang ini banyak wisatawan yang tidur di pinggir-pinggir pantai karena kehabisan kamar. Duuhh...Ya sudah, akhirnya kami pun dapat kamar di Holiday Inn Senggigi.

Tapi setelah sampai disana, ternyata hal ini malah membuatku sedikit bersyukur. Kesan pertamaku akan Gili Trawangan ternyata agak mengecewakan. Pantas kalau Trawangan terkenal, disini ramai sekali! Jauh dari kesan sepi damai yang sebelumnya aku bayangkan.

Kesan kedua?? Itu adalah waktu ketika aku sudah bisa menikmati pemandangan bawah pantai yang indahnya bukan main. Ya, akhirnya aku berhasil juga menguasai alat-alat berat snorkling yang dulu sempat membuatku kapok itu. Thanx to Mas Iwan yang sabar ngajari sampe bela2in beliin aku alat snorkling sendiri yang dirasa bagus dan cocok, dari Surabaya! Jangan salah, aku masih saja nggak bisa berenang. Tapi dengan bantuan vest pelampung dan tangan Mas Iwan yang menggeret tanganku sambil berenang sepanjang pantai, akhirnya bisa kunikmati juga pemandangan nan indah ini... Subhanalloh!

Keramaian pengunjung di pantai sama sekali tak terdengar lagi ketika yang terpapar didepan mata adalah terumbu karang dan ikan warna-warni yang bersliweran disekitar kami. Kami nyaris mentas ketika ternyata kami sangat beruntung, bertemu dengan jenis ikan yang selalu berombongan itu! Aduh aku sampai jerit-jerit ketika lewat ditengah-tengah rombongan ratusan ikan yang lumayan besar-besar berwarna perak itu. Aku takut mereka menabrak makhluk besar ber-vest ini dan kemudian terluka. Hahaha sungguh pikiran yang konyol. Tidak seperti aku, mereka kan bisa berenang dan menghindar?? Dan kalopun tertabrak, nggak akan terluka karena ini didalam air kan?? Paling akunya yang akan jerit-jerit kegelian nggak karuan ditabrak ikan-ikan itu! Hihihi.

Btw, teman-teman sudah baca belum pengalaman snorkling-ku yang pertama?? Ini kukopi lagi linknya :
http://cikicikicik.smaboy.com/images/51/

dan kalau ingat cerita itu, sungguh, aku merasa sangat beruntung akhirnya bisa merasakan serunya snorkling. Inilah yang kusebut sebuah keajaiban! Hahaha.



GILI MENO
Kira-kira 3 jam kita di Gili Trawangan, sekarang kita menuju Gili Meno. Kapal boat hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk sampai kesana. Dalam perjalanan ini, konon kabarnya yang bagus bukan pinggir pantainya, tapi agak ke tengah. Disanalah tempat banyak penyu tinggal. Memang, di antara dua pulau itu, kulihat banyak perahu berhenti, sementara penumpangnya nyebur ke laut yang cukup dalam itu untuk snorkling.

Yang bisa berenang (apalagi kalo bisa sedikit menyelam tanpa alat seperti Mas Iwan) tentu sangat menyenangkan. Tapi bagi aku, tentu sangat mengkhawatirkan. Pak pemilik boat datang dengan ide yang pasti buat dia sangat masuk akal untuk dilakukan. Tapi tidak untukku! Dengan sedikit ragu plus nekad, aku mencoba turun dari boat (percayalah, dengan susah payah!!), merembet ke kayu pemberat di kiri kapal dan berpegangan disana. Full equipment tentu saja! Lalu kapal akan berjalan pelan sehingga aku bisa “jalan” dan Mas Iwan melakukan hal yang sama dibelakangku (karena menjaga aku tentu). Ya Allah, memang dibawah sana, didalam lautan indahhh sekali. Apalagi ini pengalaman pertama bagiku, yang biasanya hanya kulihat di layar tivi, kini nyata terpapar didepan mataku. Pantas Mas Iwan bener2 jatuh cinta dengan snorkling!

Sekali lagi, dibawah laut memang luar biasa indah, tetapi diatas air luar biasa mengkhawatirkan, tanganku sudah mulai pegel karena menahan tubuh dan memeluk kayu besar yang basah dan licin itu! Aduhhhhh rasanya mau lepas aja itu pegangan! Tolooongg!! Maakk aku ditengah lautan dan tak bisa berenang maakkk!! Akhirnya kuputuskan untuk kembali naik ke kapal (lebih tepatnya, dinaikkan ke kapal oleh Mas Iwan hihi). Dan setelah semua naik ke kapal, barulah ketahuan betapa paniknya Mas Iwan. Dia mengaku ketakutan sekali melihatku, dan waktu menaikkan aku ke kapal, sempat minum air laut banyakkkk sekali. Duhhh maap ya semua, Pak pemilik kapal juga...(soalnya dia jadi merasa bersalah memberi ide kepada orang dudul ini hikss).

Acara di Gili Meno adalah makan siang! Waktu kami disini, udara sedang terik2nya dan panas2nya! Untunglah jus kelapa segera menyelamatkan dari dehidrasi. Jus kelapa?? Awalnya aku iseng aja pingin mencoba ini, ternyata rasanya seperti santan manis. Aneh juga pada awalnya, tapi lama2 oke juga hehe **buat aku apa sih yang nggak enak??** dan kulihat kanan kiri bule2 juga rata2 pesennya “coconut juice” ini. Walah mungkin mereka aji mumpung, mumpung berada di pulau tropis penghasil kelapa, jadi ya pesennya minum jus kelapa aja! Hehe..

Pantai di Gili Meno penuh dengan karang. Jangan coba-coba berjalan tanpa alas kaki tanpa mendapat luka-luka kecil di telapak kaki. Pulaunya juga jauh lebih kecil dan sepi dari Trawangan. Tapi ada tempat makan enak dan terkenal disini. Memang dalam tur 3 gili ini, rupanya Gili Meno memang di set sebagai tempat istirahat dan makan siang setelah puas menikmati gili trawangan. Habis makan siang pengunjung bisa melanjutkan snorkling lagi ke Gili Air. Atau kalau mau lebih lama, bisa juga berkeliling pulau naik Cidomo (kereta kuda khas Lombok). Bagaimanapun aku meminta untuk naik Cidomo, Mas Iwan menolak karena bagi dia ide naik sesuatu -apalagi kereta- yang ditarik binatang hanya masuk akal kalau bersama anak-anak (hahahah). Dia lebih memilih untuk foto-foto saja.


GILI AIR
Begitu turun dari kapal boat dan merasakan pasir pantai yang putih dan sangat lembuutt, aku memutuskan dari ketiga pulau yang kami kunjungi hari itu, Gili Air inilah favoritku! Suasananya tenang dan hei, banyak kulihat anak-anak disini. Sepertinya yang ini memang jadi jujugan families yang datang beramai-ramai dengan anak-anak. Pantas saja, selain pantainya cukup landai dan berombak tenang, pasirnya itu lhoo aduuhhh lembut sekali!

Disini nyebur lagi doongg! Mas Iwan juga mendapat kesempatan snorkling berdua dengan Pak Ramli (aku baru ingat, ini nama pak pemilik kapal boat hehe). Pak Ramli memang bener-bener anak pantai, dia bisa menyelam cukup lama dan dalam hanya dengan berbekal peralatan snorkling. Duh, mengingatkan aku pada cerita Deni si manusia ikan deh! Disini, Mas iwan cerita sempat ketemu dengan seekor penyu yang besar sekali! Ohh irinya. Katanya, Pak Ramli malah menyelam kedalam air dan berkejar-kejaran dengan si penyu. Aduhhh...padahal katanya jarang-jarang lho orang yang snorkling bisa ketemu penyu, apalagi yang sebesar itu. Pak Ramli bilang, itu pertanda keberuntungan. Hehe semoga saja deh.

Cukup ya cerita tentang 3 gili, sudah panjang nih. Foto-foto dibawah kebanyakan diambil di Gili Meno. Waktu aku nyebur snorkling nggak sempat kefoto karena kalo aku nyebur, itu berarti Mas Iwan ya nyebur juga! **alesyaannnn** :-D


Bersambung...

Rabu, 27 Agustus 2008

CaMbok 1 : Lombok Yang Siap Menggeliat


di Lombok, jus nanas bertebaran di mana mana dan kabarnya sangat digemari wisatawan

CaMbok = Catatan Lombok :-D
Kami berangkat ke Lombok pas di tanggal cantik lho, 20-08-2008.

Menghirup kembali keindahan Pulau Lombok, membuatku sekali lagi tak habis pikir. Selama ini banyak sekali orang Indonesia yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu liburan mereka untuk melancong ke luar negeri. Padahal kalau memang tujuannya menikmati alam, Nusantara kita begini indahnya, tak terkira bahkan berjuta wisatawan dari luar negeri pun berbondong untuk menikmati indahnya alam Nusantara Indonesia kita tercinta. Dan ini masih sebatas Lombok, belum tempat-tempat seantero dari Sabang sampai Merauke.

Khusus Mas Iwan ini sudah kunjungan yang kesekian (kebanyakan dia pergi berdua Mas Rendra “penjaga gawang” kantornya yang juga sahabatnya sejak SMA). Karena memang ada rencana untuk membuka usaha disini, maka yang menarik perhatiannya tentu saja bukan hanya indahnya alam Lombok. Dia juga harus mengenal lebih dalam masyarakat Lombok. Karena itu kesempatan sekecil apapun tak dia sia-siakan untuk mendapat info bagaimana denyut nadi kehidupan di Pulau Cicak ini. Menunggu di bandara, didalam taksi, di hotel, di pantai, di tempat makan semua dimanfaatkan untuk mengobrol dengan penduduk Lombok, dari petugas bandara, sopir taksi, satpam hotel, penjual souvenir asongan, tukang bakar di restoran seafood, guide yang baru kenal, pokoknya tak dibiarkan satu kesmepatanpun terlewatkan. Aku tentu merasa senang, karena dari mereka, tak jarang muncul cerita-cerita yang unik dan sangat menarik tentang Lombok.

Pulau Lombok sekarang-sekarang ini memang tampaknya sedang bersiap untuk menggeliat dan merentangkan lebar-lebar segenap keindahannya...


BANDARA UDARA INTERNASIONAL

“Kenapa Lombok tidak bisa seramai Bali? Padahal soal keindahan alam, sama sekali tidak kalah?”

Pertanyaan ini cukup sering dilontarkan Mas Iwan ke banyak orang. Jawabannya beragam, antara lain karena isu kurang aman yang dihembuskan beberapa kalangan. Kabarnya di Lombok rawan pencurian (lucunya, orang Lombok mencurigai orang-orang Bali yang menyebarkan isu ini karena takut tersaingi, aku sih ya nggak tahu pastinya gimana) atau karena masalah infrastruktur yang belum cukup memadai (contohnya, listrik disana sering banget padam lho, yang ini aku alami sendiri bahkan di hotel berbintang 5 sekalipun, hampir tiap hari mati lampu walaupun cuma sebentar), tetapi kebanyakan mengerucut kepada satu hal ini. Lombok tidak bisa seramai Bali karena Lombok sekarang ini hanya memiliki satu bandara yang itupun hanya melayani rute domestik yaitu Bandara Selaparang di Mataram. Ini membuat kebanyakan wisatawan mancanegara lebih memilih Bali.

Tapi hal ini tak akan lama. Sekarang ini sudah dibangung sebuah Bandara Internasional yang kabarnya akan menjadi terbesar ke-2 di Indonesia setelah Soekarno-Hatta di Jakarta. Usut punya usut, dari Bang Imping (guide sebuah tour service yang tidak sengaja kita kenal disana, orangnya sangat informatif sekali!) kami mendapat informasi bahwa bandara ini merupakan salah satu deal kerjasama pemerintah Lombok dengan seorang investor dari Uni Emirat Arab. Inverstor itu, adalah orang yang sama yang membangun Burj’ Al Arab Dubai, yang sekarang menjadi satu-satunya hotel bintang 7 didunia. Dan kenapa dia mau membantu pemerintah dalam membangun bandara ini?? Ternyata, tak lain karena dia berniat untuk membangun sebuah Hotel Bintang 7 di Lombok! Bahkan peletakan batu pertama hotelnya sudah dijadwalkan pertengahan 2009 nanti, ketika bandara internasionalnya resmi dibuka. Wow! Kemarin kami sempat lewat daerah tempat bandara akan dibangun, seluas 12.000 hektar di daerah Tanak Awu, Kabupaten Lombok Selatan, aktivitas pembangunan memang kami lihat sudah dimulai. Ini tentu hal yang sangat bagus untuk Lombok!



TAK SEBATAS SENGGIGI

Selama ini, kalau orang pergi ke Lombok, yang paling terkenal menjadi jujugan tentu saja daerah Senggigi. Daerah yang berada di Lombok Barat ini memang dekat dengan Mataram (hanya sekitar 30 menit perjalanan darat). Pantainya bagus. Dan yang lebih penting lagi, fasilitas dan infrastruktur sudah banyak, terutama hotel dan restoran. Berbagai macam bentuk penginapan sudah banyak berjajar di sepanjang Pantai Senggigi. Dari hotel yang menawarkan kamar beraneka suasana sampai villa dan cottage yang bernuansa tradisional Lombok (duh, cuci mata banget deh melihat bangunan-bangunan beratap sirap itu).

Di Senggigi, tempat yang tidak dibangun hotel, pastilah dibangun restoran dan tempat hiburan. Dari restoran seafood seaside (pinggir pantai) sampai bar-bar banyak bertebaran di Senggigi. Jangan heran kalau pada malam hari, terutama di seputar Jl. Raya Senggigi, banyak bule berseliweran di jalanan yang dipenuhi lampu hiasan maupun sign. Sepertinya di daerah ini, wisatawan asing (terutama dari Eropa dan Amerika) bisa mendapatkan pola wisata yang mereka inginkan. Pagi-siang-sore bermain, berenang, snorkling, dan berjemur di pantai (mencoklatkan kulit mati2an sementara yang orang Indonesia pada memutihkan kulit mati2an), sedangkan malam hari biasanya terpecah. Yang datang dengan keluarga (membawa anak-anak) umumnya mereka lebih memilih restoran atau di hotel saja (pihak hotel biasanya mengadakan event2 atau sekedar banquet dan buffet setiap malamnya). Yang datang tanpa anak-anak, biasanya lebih memilih cafe atau bar yang menyediakan live music dan minuman (beralkohol tentunya) dan buka sampai dini hari. Senggigi juga menyediakan banyak supermarket, toko dan warung (buat ibu2 tentu ini handy banget, misalnya sekedar beli air minum), ATM, warnet dan sebagainya. Intinya, semuanya ada di Senggigi.

Mungkin bagi yang pernah pergi ke Bali, Senggigi ini semacam Kuta-nya Lombok. Hingar bingar.

Bagi Mas Iwan (dan aku juga tentunya), justru bukan suasana ini yang kami cari. Mas Iwan memang jatuh cinta dengan kegiatan snorkling, apalagi di Lombok yang kabarnya terumbu karang dan kehidupan bawah pantainya paling indah di Indonesia. Tapi kami lebih terpesona lagi dengan Lombok justru ketika kami berada di pantai yang tenang dan sepi, atau ditengah pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitar Pulau Lombok. Kami sempat menginap di tempat-tempat ini, dan memang ketika malam hari, yang bisa kami dengar hanyalah suara jangkrik dan desau angin pantai. Damai sekali.

Dan kami sementara ini hanya sempat mengunjungi Lombok Barat dan Selatan lho!. Belum lagi alam di Lombok Utara (pegunungan Rinjani) atau Lombok Tengah yang kabarnya bertebaran air terjun indah. Atau Lombok Timur yang penduduk mayoritas muslimnya sangat unik, juga kabar bahwa disana banyak sekali dibangun masjid-masjid yang megah, bagus-bagus, bahkan beberapa sangat fantastis!

Itulah kenapa dalam hati, kabar dibangunnya airport dan hotel yang bintang 7 tadi itu, sempat menjadi dilema. Di satu sisi, ini akan sangat bagus karena pasti akan banyak investor menyusul ke Lombok. Bang Imping (the guide) malah mengatakan bahwa memang rencananya, Lombok 5 tahun ke depan akan bisa disejajarkan dengan Bali (dalam hal pariwisata tentunya). Lalu di sisi lain, kami jadi bertanya-tanya, akankah semua tempat akan menjadi seperti Senggigi?? Ah, apapun itu semoga akan masih banyak potensi alam Lombok yang dibiarkan alami. Aku nggak ingin Lombok kehilangan kedamaiannya karena ini yang membuat kami jatuh cinta...

Bersambung...

(Foto-foto dibawah, waktu kami masih ada di Senggigi)

Sabtu, 01 Maret 2008

[..::LOMBOK::..] Part 3 : Snorkling (LAGI?? OH NO!) dan Ayam Taliwang Yang Menawan


salah satu sudut private beach di Senggigi Beach Hotel

Jumat, 8 Februari 2008.

Hari ini, pagi sampai sore kita memutuskan untuk stay di hotel saja, menikmati segala suasana dan fasilitas Senggigi Beach Hotel. Sesuai dengan namanya, hotel berbintang empat ini memiliki area private beach yang sangat indah. Terletak di semenanjung kecil, menjadikan hotel ini selaksa dikelilingi garis Pantai Senggigi.

Deretan kursi malas lebar yang setengahnya penuh bule berjemur dan area pantai yang bersih dan steril (bahkan dijaga beberapa satpam hotel yang akan mencegah siapapun selain tamu hotel untuk menikmati suasana pantai disitu), jadi terasa kurang fun. Kita pun bergeser keluar dari area private beach hotel, dan menemukan beberapa perahu kecil kano berjejer.

Yang pasti aku sudah kapok nyemplung. Mas Iwan langsung menyewa perahu kano dan asyik menyusuri Pantai Senggigi. Kemarin sore ketika para istri masih tidur siang panjang, dia sudah mencoba canoing bersama Mas Yosep. Mbak Daning juga memutuskan ikut, tapi tidak dengan Mas Yosep. Konon, karena kemarin sore Mas Yosep sempat mencoba kano dan berakhir dengan kepala benjol karena kano fiber itu terbalik dan jatuh lagi menimpa kepalanya. Akibatnya, setiap kali kano Mbak Daning agak ketengah, suaminya akan berteriak-teriak memberi peringatan supaya minggir lagi. Trauma ya?

Melihat Mas Iwan dan Mbak Daning asyik ber-kano, aku jadi geli sendiri. Aku menyewa tikar dan memilih meneruskan bacaanku, “Paradise”-nya Abdulrazak Gurnah. Sedangkan Mas Yosep serius mengawasi Mbak Daning dan terus-terusan mencegahnya terlalu ketengah sampai Mbak Daning jengkel. Kami seperti kombinasi dua pasangan yang sama-sama tidak serasi. Yang satu bersemangat berpetualang dilaut, sedangkan pasangannya terserang semacam alergi air laut. Hehe...

Selesai berkano, kali ini kita kembali ke private beach lagi. Aku teruskan membaca, dan Mbak Daning meneruskan berenang di pantai. Aku seperti menemukan sisi lain yang ternyata penuh advanture dari dirinya yang selama kukenal sangat kalem dan nggak banyak omong itu. Sepertinya dalam liburan ini terungkap, bahwa motto Mbak Daning adalah “sedikit bicara, banyak aksi”. Sama sekali berbalik 180 derajat dengan aku.

Gara-gara ngobrol dengan satpam hotel, akhirnya ketahuanlah bahwa di sebelah lain hotel, ada pantai yang bagus untuk snorkling. Mas Iwan langsung ON lagi! Sekali lagi, ini bedanya mental pengusaha dan mental emak2. Aku memutuskan urat ketertarikanku pada snorkling sejak kemarin dan memilih menunggu saja disitu, sambil baca.

Sehabis sholat Jumat, sorenya Mas Anom datang lagi ke hotel, kali ini mengajak Nina, calon istri yang rencananya akan dia nikahi April nanti. She’s really really a doll!! Dia manis sekali dan sangat ramah. Nina yang dosen English di Univ. Mataram sama sekali nggak tampak seperti Bu Dosen, tetapi lebih tampak seperti mahasiswa, eh bukan ding, lebih tepatnya anak SMA, atau SMP sekalian!! Huehehehehe. Lebih bagus lagi, dia terbukti bisa bertahan melawan gojlokan Mas Yosep dan kita semua. Hihihihi good girl!

Kita makan ayam taliwang ASLI DAN LANGSUNG DARI SUMBERNYA!! Subhanalloh...Nyammmmmm2x sekali....apalagi acara makan kita sore itu adalah makan siang yang tertunda, maka kami pun selayaknya monster pemakan ayam yang rakus. Subhanalloh...lagi-lagi bumbu yang enak dan merasuk menjadi perbincangan. Memang orang Lombok membumbui masakan dengan cara disuntikkan tuh kayaknya!! **keukeuh**

Sehabis makan kita belanja oleh-oleh di Toko Phoenix dan Pasar Seni. Tak terlalu malam kita kembali ke hotel dan say goodbye to the lovely Nina, wishing her luck on her upcoming wedding, on April.

Acara malam ini packing dikamar, karena besok jam 3 pagi WITA kita harus cabut dari hotel, mengejar pesawat yang take off jam 5. Kenapa harus pagi buta, lagi-lagi gara2 aku yang harus menghadiri reuni akbar Fak. Psikologi Unair di Surabaya jam 10 paginya. Sehabis packing, para istri leyeh2 di kamar sementara Mas Anom kembali lagi bersama Mas Slamet dan mengajak Boys Night Out para suami. Kabarnya mau nyari jagung bakar, tapi ternyata jadinya nongkrong di kafe depan hotel gara-gara hujan turun. Oalah...

Oya, bicara makanan karena suatu dan lain hal, keinginan menyantap Sate Bulayak pun harus gagal, yah...kecewa deh, tapi gak papa, anggap saja ini jadi motivasi untuk kita bisa balik kesini lagi...(tapi syaratnya: sama anak-anak yaa????) :-b

Malam itu kita juga say goodbye sama Mas Anom dan Mas Slamet, karena besok pagi, kita akan diantar mobil hotel ke bandara. Duuhhhh we cannot thankful enough to them. Terimakasih banyak sudah menjamu kami dengan begini baiknya ya Mas... Jangan kapok, dan ingat, Mas Iwan masih punya janji untuk mengajak Mas Anom snorkling di Pantai Kenjeran Surabaya. Untuk melihat hamparan sampah, beha bekas dan celana kolor bekas yang terhampar di sepanjang dasar Pantai Kenjeran Surabaya....that would be awesome!!

:-D

:::::.....

Selama di pesawat menuju Surabaya kita semua full tidur, maklum tadinya sebelum jam 3 udah pada bangun.

Tadi ketika menunggu boarding di Bandara Selaparang, Mas Yosep sudah mengungkapkan niatnya, pokoknya nanti ketika bertemu dengan teman-teman sekantornya, dia akan bercerita dengan berapi-api tentang Lombok, dan terutama tentang SENORKELING. Betapa asyiknya bersnorkling, betapa cantiknya para ikan-ikan yang jinak mendekati, betapa bermacam-macam jenis ikannya, ada yang besar dan ada yang besar sekali.

Dan untuk mendukung ceritanya itu, dia harus teliti mewawancarai dan mencatat pengalaman Mas Iwan, menghapalkan jenis-jenis ikannya, dan menceritakannya dengan penuh penghayatan, seolah-olah dia merasakan sendiri pengalaman itu... Hahahahahaah

:::::.....

(Selesai)

Cerita lain perjalanan kita ke Lombok bisa dilihat di blognya Mas Anom, di http://nikmatinhidup.blogspot.com

Dan untuk Mas Yudi ( http://yudexelex.multiply.com ), sekarang habis sudah simpenan catatan perjalananku...Sumpah!! :-D

[..::LOMBOK::..] Part 2 : Snorkling Yang Romantis Dan Memberi Definisi Baru


Sudahlah...aku tak kuasa berkomentar lagi.. **menghela napas panjaaang**

Anyway, kemudian nyemplunglah kita...

Benarlah apa kata mereka tentang pengalaman pertama, bahwa itu akan selalu berkesan!! Begitu kami berempat nyemplung dan terlihat sangat ahli dengan peralatan snorkling kami (ahli? well anggap saja hari ini adalah hari kebalikan), Mas Anom dan Mas Slamet yang menunggu di pantai, tak hentinya tergelak tertawa terpingkal-pingkal melihat kita!!

Ada yang terjungkal-jungkal seperti jungkitan padahal sudah pake pelampung di badan (itu aku dan justru pelampung itulah yang jadi pusat jungkitannya), ada yang terus2an menyalahkan alatnya mungkin rusak dan airnya bocor atau kaki kodok yang tidak ditakdirkan untuk dipakai manusia (itu juga aku), ada juga yang walaupun dudul panik jerit-jerit, tetapi begitu dengar kata “ayo foto” langsung secara ajaib bisa menguasai diri di dalam air dan langsung bergaya “cheese” untuk kamera (well, sekali lagi, hihihi ini juga aku).

Pelajaran hari ini : kalau mau snorkling, pastikan Anda bisa berenang! Atau paling tidak, sudah terbiasa menguasai diri didalam air. Kalau tidak, Anda akan menjadi orang yang ketika kamera mati, nyaris seperti jungkitan yang mau tenggelam dan ketika kamera menyala untuk memfoto, persis seperti ahli snorkling tingkat dunia! Kata orang Jawa : oleh gayane thok!

Mbak Daning jauh lebih progressing. Well, dia memang bisa berenang (alasan! hahaha). Paling tidak, dia sudah berhasil berjalan agak ketengah dan sempat melihat seekor ikan besar mendekatinya. Setelah satu jam Mas Iwan juga sudah membanggakan pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan bergerombol yang indah sekali. Aku, masih saja berkutat dengan penyesuaian keseimbangan tubuh dengan semua alat-alat ini (percayalah, waktu itu memang sudah satu jam berlalu). Masih bertahan di kedalaman pantai dibawah satu meter, sehingga setiap kali Mas Anom memanggil kami dari pantai untuk berfoto, masih memungkinkan aku untuk langsung berdiri dan –sekali lagi- bergaya seperti ahli snorkling tingkat dunia!

Yang juga melas adalah Mas Yosep. Teknik sudah dikuasainya dengan baik, dia pun sudah mendapat keberanian untuk pergi ketengah, tetapi kenapa oh kenapa –sekali lagi, setelah satu jam lamanya- tak ada seekorpun ikan mau terlihat olehnya??? Yang besar maupun yang kecil (yang kecil aja nggak mau, apalagi yang besar) **menghela napas**. Kesimpulanku satu, bahwa hanya Tuhan yang tahu sebabnya... Akhirnya, didorong oleh kekecewaan dan rasa tertolak oleh para penghuni laut, moodnya jadi turun, dan teknik yang tadi sudah dikuasai, dudul hanya tinggal kenangan berbuah beberapa ratus cc air laut asin yang sekarang ngendon dengan manis di perutnya. Bikin tambah mual, katanya.

Detik itu, ada satu momen dimana secara bersama-sama aku dan Mas Yosep saling berpandangan, seperti menemukan insight bersama-sama. Kami seperti baru mendapat pencerahan dan siap merumuskan suatu teori definisi baru (kami bahkan secara resmi membuat semacam pakta berdua) bahwa : SENORKELING, adalah suatu aktivitas yang KHAYAL untuk dilakukan. Titik.

Tetapi Mas Iwan tak menyerah. Bagaimanapun aku mengatakan “titik, pokoknya khayal, titik” dia tetap nggak menyerah. Dia ngotot mencari cara supaya aku bisa melihat minimal satu saja ikan didasar laut. “Rugi kalo nggak, Nduk. Baguuussss sekali, dan kita sudah pergi sejauh ini kesini”. Hati kecilku mengiyakan, tetapi hati besarku (baca : pinggul dan pahaku) sudah dudul lemas. Mas Iwan memaksa melatih gerakan kaki berenang sekali lagi. Ampun Gusti, sekali2nya aku “belajar berenang”, harus pake pelampung dan kaki kodok yang berat ini, dan pelatih yang tak sabar untuk segera menyuruhku menyelam. Hikss..kurikulumnya terlalu berat untukku.

Oke, kita pake cara lain. Apalagi? Oh sudahlah mas...(inilah bedanya, mental entrepeneur dengan mental ibu2 rumah tangga hikss). Kali ini Mas Iwan memutuskan untuk menggandengku ketengah. Instruksinya sederhana dan jelas “just follow me, I will lead you there”.

Dan adegan selanjutnya, aku seperti terlempar kedalam sebuah filem drama romantis, dimana ada seorang laki-laki heroik yang melenggang menggandeng (atau lebih tepatnya di cerita ini, menggelandang) pujaan hatinya. Menunjukkan seluruh isi dan keindahan dunia kepada si wanita yang baru keluar dari tempurung kelapa hidupnya selama ini di sebuah gua tengah hutan. Tangan mas Iwan, yang kiri menggandeng tanganku, yang kanan mengacung2kan botol berisi roti memancing ikan2 mendekat. Seperti Superman ketika untuk pertama kalinya mengajak Lois Lane terbang ke angkasa, merangkul seluruh tubuh Lois Lane dalam perlindungannya yang aman dan menunjukkan padanya segenap luar angkasa.

Seperti sebuah puisi, “Percayalah padaku, dalam genggaman tanganku kamu akan aman, dan akan kutunjukkan padamu seluruh keindahan jagat raya ini, sayang...” (suiitt suiiitt)

Akhirnya tak lama kemudian datanglah momen itu, dalam bentuk sekilas ekor ikan berwarna putih keperakan melintasi ekor mataku. Hanya sekilas....dan hanya bagian ekor! Prestasi yang fantastis bukan?? Rupanya karena aku terlalu sibuk umek dengan alat yang sudah mulai terisi air, aku jadi telat mengikuti telunjuk Mas Iwan. Sejurus setelah melihat ikan itu, kami saling berpandangan...”ohh my darling....kita berhasil sayang...” Kami pun terus bergandengan menyusuri pantai semakin ketengah dengan wajah dan tubuh menghadap kebawah, dibawah permukaan air bersiap menerima lagi pemandangan terindah. (Jangan muntah dulu ya, para pembaca sekalian :-D)


Lois Lane yang ini, sayangnya sudah lama membuktikan bahwa dia adalah aktris yang sangat buruk kalau harus bermain di filem romantis. Dan aku, sedetik itu rupanya lupa diri dengan himbauan yang sangat kupercaya sekian lama, “Jangan terlena dengan manisnya cinta, karena bisa menutup pandangan mata kita”. Juga motto kami berdua : the most romantic thing about us, is being totally NOT romantic at all. Untuk sesaat aku khilaf terseret arus manis dan indahnya Cinta di Pantai Gili Nanggu...membuatku percaya bahwa inilah momen romantis kita berdua, selayaknya adegan Rose dan Jack yang berdiri di haluan kapal Titanic.

Tiba-tiba. Brukkk!!!! Sumpah mati, kukira aku akhirnya mendapat kesempatan untuk menyenggol seekor ikan besar berwarna kemerahan di kananku. Ikan lumba-lumba kalo perlu, karena dia besar sekali!!
Kaget, karena panik secangkir air laut masuk ke selang snorklingku, diiringi repetan suara panik ibu-ibu separuh baya dari arah ikan itu.

“Eee...ee...ee...aduhhh...maap Mbak. Aduh...udah deh gak papa tabrak aja saya Mbak, saya ngerti kok wong saya memang nggak bisa berenang ini, duh ini gimana ya.... Aduhhhh memang udah nggak waktunya nenek2 kaya saya main yang aneh-aneh gini...wong berenang saja nggak bisa kok ya aneh-aneh snorkling”. Repetan panjang dan latah yang menurutku luar biasa, mengingat dia harus berjuang melawan alat-alat yang -aku setuju-, sangat merepotkan ini.

“Eh maaf Bu...” suaraku blebekan bercampur air karena selang masih terpasang dimulut.
“Udah gak papa Mbak. Saya juga udah mau mentas dari tadi sebenarnya... Monggo-mongo...!! Aduh reekkk...!! Iki piye tooo???”

Aduh...Ibu... ternyata kita berdua adalah 2 jungkitan yang berasal dari pabrik yang sama, di Surabaya sana. Dan petualangan senorkeling ini disini, seriously, memang sudah benar-benar waktunya berakhir untuk kita berdua...

:::::....
Perjalanan sepulangnya sungguh kasihan buat Mbak Daning. Ketika naik ke kapal, sudah 2 kali dia muntah. Ketika mendarat, sekali lagi dia muntah, menyebabkan Mas Yosep dengan dudul mulai percaya kata-kata kejam kita semua “Wah kok sudah muntah2? Sudah ngidam nih kayaknya”. Hahahahaha maap ya Mbak, bener2 teman yang dudul nih kita semua, liat orang muntah malah digodain.

Untungnya, perjalanan darat kembali ke hotel lebih cepat rutenya. Mbak Daning pun untungnya bisa tertidur di mobil. Tadi ketika melihat kita pada agak mabok sampe ada yang muntah, Mas Slamet mendapatkan lagi satu kesimpulan baru. Tentang lagu “Nenek moyangku, orang pelaut” itu, berdasarkan kesimpulannya, dia dengan rela hati mengatakan “Ya sudahlah, biar mereka saja yang jadi orang pelaut, kita nggak perlu ikut-ikut deh”. Hihihihi.

Sesampai di hotel, begitu Mas Anom dan Mas Slamet pamit, kita pun tiiiduuurrrrrr......tidur siang yang sangat panjaaaangggggg dan aku bermimpi digandeng Superman melihat dunia bawah laut, mimpi yang lumayan buruk.

:::::.....

Malamnya, pas perayaan Tahun Baru Imlek, pihak hotel mengadakan perayaan. Kita yang nggak ikutan, masih bisa nongkrong sambil makan malam di kafe depan, menikmati suguhan pesta kembang api yang seru. Aku jadi sangat rindu anak-anak, tahu betapa mereka pasti heboh melihat kembang apinya. Apalagi di jalan, ada serombongan pertunjukan barongsai yang membuat suasana jalan Senggigi Beach malam itu jadi meriah dan riuh rendah.

Abe, Bea, sudah pada bobokkah kalian, sayang...?

:::::.....

(Bersambung)

Jumat, 29 Februari 2008

[..::LOMBOK::..] Part 1 : Dari Menega ke Gili Nanggu


iseng

Bismillah, aku akan coba agak pede menulis catatan perjalananku kali ini, dengan menyingkirkan batasan “panjang tulisan” yang selama ini membelengguku setiap ngeblog. Karena ternyata, banyak hal dari perjalanan ke Lombok ini yang menarik untuk kutulis, karena ini adalah kunjungan pertamaku ke pulau bersimbol cicak ini dan secara tidak langsung akan menjadi semacam dokumentari pribadiku.

Mohon maaf untuk yang membaca, yang bisa kulakukan hanyalah berusaha membuat tulisanya semenarik mungkin untuk meminimalisasi kebosanan Anda. So God speed ;-D

:::::.....

[LOMBOK TRIP] Part 1 : Dari Menega ke Gili Nanggu

Dua hari setelah pulang dari Bali, Jumat pagi ketika seisi rumah masih serasa babak belur, Mas Iwan sudah on trip lagi! Nggak tahu dimana suamiku ini membuang urat capeknya, baru melihatnya berangkat saja sakit pinggangku sudah berdenyut-denyut lagi (untunglah kali ini dia mau mengajak sopir). Tujuannya jelas ke Solo, memenuhi janji yang tertunda. Janji yang ini lho http://cikicikicik.smaboy.com/images/46 , ingat kan?? Hehe...

Dari Solo lanjut ke Tulungagung demi jadwal rutinnya inspeksi kantor dan gudang disana, Minggu malam barulah dia pulang. Dan hari itu, Rabu, 6 Februari 2008 ketika senja sudah mulai buram, tiba-tiba Mas Iwan dan aku sudah turun dari pesawat, menjejakkan kaki di Bandara Selaparang, Mataram.

Ya, hanya seminggu setelah pulang dari Bali, tiba-tiba sekarang kita berdua sudah berada di Lombok. Untuk kedua kalinya aku meninggalkan anak-anak dirumah bersama in-laws. Apa kubilang kan? Sekali melakukannya (ketika ke Jakarta dulu itu), akan lebih mudah terjadi lagi. Mas Iwan bilang ini hal yang perlu though, itung2 latihan berpisah sementara dengan anak-anak, sehingga aku tidak lagi punya alasan menolak ajakannya umroh berdua.

Still, I’m not feeling comfort just any yet. Trying hard, disela-sela banyak telpon kerumah, aku pun memutuskan untuk menikmati perjalanan ini sambil dalam hati berkesimpulan, bahwa untuk pasangan yang sudah mempunyai anak, istilah “second honeymoon” tanpa anak-anak ternyata cukup menyiksa. Baru saja turun pesawat, aku sudah rindu anak-anak dan sibuk membayangkan bagaimana tingkah mereka kalau berada disini.

Anyway. Kepergian ke Lombok ini atas undangan this lovely couple, dear friends of our family, Mas Yosep dan Mbak Daning. Undangan “double-date” nya sendiri sudah lama, dan kami selalu menggantung jawabannya (so sorry Mas, Mbak..) sekali lagi dengan satu alasan dari pihakku : berat ninggalin anak-anak. Mbak Yosep dan Mbak Daning sekarang ini bisa dibilang masih newlywed, sedang giat2nya program hamil dan tak tanggung-tanggung, untuk “memaksa” kita menerima undangannya, they directly handed us 2 flight tickets to Mataram that date. So we (or I) have nothing left to say, but got packing and take our butts off to that plane!

Waktu itu rencana ada cuti bersama yang berbuah weekend panjang, tapi tiba-tiba dibatalkan pemerintah. Akhirnya Mas Yosep-Mbak Daning pun dengan sukses memilih meneruskan perjalanan ke Lombok dan harus mengambil jatah cuti tahunannya, gimana lagi udah kadung beli tiket, dan mumpung ada yang sampai hati meninggalkan anak-anaknya (hiks hiks...)

Turun dari pesawat, kita berempat dijemput sahabat Mas Yosep sejak SMP, namanya Mas Anom ( http://rumahkomik.blogspot.com/ ). Dan by the way, ternyata Mas Anom inilah yang menjadi alasan kenapa Mas Yosep ngotot mengajak kita kesini. Mumpung Mas Anom masih bertugas di Lombok alias mumpung tersedia guide dan host gratis (ampun, dudul deh...hehe).

Perjalanan Mataram menuju Sengigi (tempat kita menginap) kurang berorientasi keluar (maklum malam hari, dan lampu-lampu Kota Mataram pun ternyata tidak segemerlap Surabaya). Kita lewatkan waktu dengan chit-chat berkenalan dengan Mas Anom. And he turned out to be such a nice person to hang out. Kesimpulannya, dia tenang2 saja menerima dirinya “dimanfaatkan” sebagai guide gratisan. (Hihihi makasih yaa).

Langsung nyari tempat makan malam. Our first culinary-layoff, a fantastic seaside-seafood restaurant called “Menega”. Suasana temaram pinggir pantai yang romantis, nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan citarasa makanannya. Cumi bakarnya, it was like THE BEST I’ve ever had so far!! Bumbunya top habis, merasuk dengan pas dan dalam sampai2 aku curiga itu bumbu “disuntikkan” kedalam seafoodnya (:D) dan Mas Iwan yang memang kritikus ulung kalo urusan makanan (baca: pilih-pilih :-b), ternyata berpendapat sama dengan ikan bakarnya! Setelah memutuskan rencana untuk besok, dengan perut kekenyangan, kita pun menuju Senggigi Beach Hotel, sampai disana sekitar Pukul 9 malam dan langsung beristirahat. Mas Anom pun pamit pulang.

Besoknya, Kamis 7 Februari 2008, Jam 9 pagi Mas Anom sudah nongol di hotel, kali ini mengajak seorang teman, Mas Slamet yang lucu dan njawani. We all got along with each other so well instantly. Kita langsung cabut ke tujuan kita hari ini.

Pulau Gili Nanggu...

Dengan pede yang luar biasa ngawurnya, kita langsung bertekad menyambut tantangan Mas Anom untuk mencoba snorkling. Kubilang ngawur karena selain ini akan menjadi yang pertama buat kami semua (not to mention that I cannot swim!), lidah kami juga masih dengan medoknya menyebut aktivitas itu dengan “senor..keling”. Bahkan, demi Tuhan aku merasa yakin bahwa ketika menyanggupi ajakan Mas Anom malam itu di Menega, Mas Yosep sebenarnya sedang melamun memandang laut yang gelap sembari bilang “Ok, terserah kamu ajalah Nom, kita ikut mau diajak apapun”. Hahaha! Tapi kabarnya pemandangan dasar laut di Gili Nanggu adalah salah satu yang terindah, so we’re in!

Sebagai persiapan, sebelum keluar dari Mataram kita mampir di salah satu deretan warung pinggir jalan yang menjual “Nasi Balap”, sebutan untuk nasi bungkus di Lombok. Satu lagi sebutan yang agresif dan sadis untuk nasi bungkus. Di Tulungagung namanya “sego bantingan”, di Jogja-Jateng “sego kucing”, di Surabaya “sego sadukan”, entah kenapa kok semuanya bernuansa sadis agresif ya??

Dengan mengikuti rumus nasi bungkus, porsi 1 orang sama dengan 2-3 bungkus, kamipun membeli satu kresek besar berisi 20 bungkus lebih! Rumus apaan tadi?? Ini sih 6 orang2 yang pada takut kelaparan semua namanyaaa!! Hahaha. Dengan satu kresek lainnya penuh dengan krupuk, kayaknya akan menjadi menu makan siang yang sempurna di pinggir pantai nanti ketika kita selesai ber-senorkeling. Tak lupa kamipun menyiapkan roti tawar yang nantinya dimasukkan kedalam botol plastik minuman, dan akan menjadi umpan supaya para makhluk laut yang nanti kami lihat mau mendekat ke kita. Thanks to Mas Anom yang memberi semua pengetahuan ini.

Setelah itu selama hampir 3 jam kami disuguhi perjalanan yang menantang. Tepatnya menantang kekuatan stabilitas kimia tubuh kita (baca: ketahanan mabok). Menuju ke Gili Nanggu kita harus melewati perjalanan naik turun gunung yang mempunyai tingkat perkelokan yang lumayan berat. Mas Anom bahkan cerita, tak ada yang mau menempuhnya di malam hari (+ gelap karena sama sekali nggak ada lampu jalan yang cukup) dan karenanya wanti-wanti kita nanti harus sudah kembali sebelum gelap.

Yang sangat menawan hatiku disepanjang perjalanan adalah banyaknya Pohon Kelapa!! Dimana-mana mereka bahkan merumpun dengan lebat! Pemandangan jurang di kanan atau kiri jalan berisi pohon kelapa yang kelihatan dari ketinggian dan kejauhan membentuk semacam pulau, rimbunan daunnya yang berbentuk khas dan jujur saja, tiba-tiba membuatku rindu masa kecil. Masa kecilku kuhabiskan ditengah2 kebun kelapa kakek, yang sekarang sudah banyak tumbang berganti semen dan bangunan gudang-gudang milik Bapakku, bahkan di kota sekecil Tulungagung pun sudah sulit menemukan kebun kelapa. Kata Mas Iwan, Kepulauan Nusa Tenggara memanglah salah satu penghasil kopra.

Setelah 2 jam rollercoaster didarat, kita harus melanjutkan dengan menyeberang, rollercoaster di laut. Kita pun sampai di sebuah pelabuhan kecil (aku ragu apakah itu pantas disebut pelabuhan, saking kecilnya), menyewa peralatan snorkling dan berangkat dengan kapal bermotor. Yang ini lebih dahsyat lagi goncangannya, bukan dari kelokan jalan yang naik turun, tetapi ombak yang menggulung. Padahal bapak pemilik kapal cerita kalau laut sedang lumayan tenang, tetapi kulihat setelah 15 menit (baru separuh perjalanan) wajah kita berempat sudah berubah warna antara keunguan dan kehijauan. Ekspresi pun jadi aneh, seperempat ngantuk, seperempat mual, seperempat seperti stress berpikir dengan kaku, dan empat perempat persis orang mabok! Mbak Daning paling parah. Aku mencoba terus mengajak mengobrol, which is not a hard thing to do (what can I do, I am a chatty person :D). Dan ini bukan hanya kulakukan untuk makhluk-makhluk mirip manusia tapi berwajah ungu dan hijau disekitarku itu, tetapi juga untuk diriku sendiri, yang pasti tak kalah ungu dan hijaunya. Obrolan ternyata lumayan berhasil untuk mendistraksi rasa mual yang sempat menyemprot sekali-kali. Siapa tahu teknik ini suatu saat bisa dibuktikan secara ilmiah, mengatasi mabok perjalanan dengan terapi mengobrol. Hahaha.

Pulau Gili Nanggu kecil saja, bahkan dari tempat berdiri, kita akan bisa melihat separuh lingkaran pantainya. Pasirnya putih, agak kasar tetapi sangat berkilauan, indah sekali. Waktu kita datang suasana masih sepi, hanya terlihat 4 kapal lainnya. Penumpangnya kemungkinan adalah beberapa pasang bule yang sedang berjemur disitu. Disitu juga ada sebuah hotel yang menyediakan cottage dengan arsitektur khas Lombok. Rumah panggung dengan teras terbuka di bawah panggungnya. Dihubungkan dengan tangga monyet dari kayu, diatasnya terdapat ruangan utama berupa attic tepat dibawah atap sirap yang menggelembung. Kecil saja, tetapi bahkan dari luar kelihatan sangat eksotik dan menarik. Secara langsung , model bangunan seperi inilah yang membangun suasana Lombok di kepalaku selama ini, persis seperti yang kulihat di brosur2 dan gambar2 Pulau Lombok.

Begitu sampai, agak terlalu semangat kita pun langsung action (maunya..), tetapi ternyata terganjal urusan celana pendek Mas Iwan yang rupanya ketinggalan nggak ikut terbawa ransel kita (my fault hiksss). Walaupun disitu ada satu hotel yang lengkap dengan toko souvenir yang menjual celana, ternyata tak membantu karena stok ukuran untuk Mas Iwan kosong! Ada satu biji saja yang cukup di badannya, tetapi itu adalah celana pendek cewek dan sangat centil. Warnanya perpaduan krem dan oranye muda, dengan motif bunga kamboja lengkap dengan tali temali dan rimpel kecil dipinggir bawahnya. Persis celana2 yang kupilihkan buat Bea gitu! Jadi jangan bayangkan jadinya, dan maklumi juga kalau di foto manapun, tak akan bisa terlihat bagian pinggang kebawah Mas Iwan disana. Itu semata-mata adalah aturan main dari pengarah gayanya (baca : Mas Iwan sendiri). Hahahaha! Walaupun merasa bersalah, jangan salahkan aku –dan kami semua- kalau hal ini menjadi bahan kepingkal-pingkalan kami semua! :D

Lebih seru lagi ketika ada sebuah keluarga yang terdiri seorang ibu paruh baya dan 6-7 anak abg yang bergabung dengan kami di pantai itu. Rasanya kalau nggak memperdulikan kesopanan, pasti lebih banyak lagi manusia yang terpingkal-pingkal saat itu.

:::::.....

Anyway, kemudian nyemplunglah kita, suatu permulaan akan kedudulan yang tak terkira...

(Bersambung)