Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2008

[..::LOMBOK::..] Part 3 : Snorkling (LAGI?? OH NO!) dan Ayam Taliwang Yang Menawan


salah satu sudut private beach di Senggigi Beach Hotel

Jumat, 8 Februari 2008.

Hari ini, pagi sampai sore kita memutuskan untuk stay di hotel saja, menikmati segala suasana dan fasilitas Senggigi Beach Hotel. Sesuai dengan namanya, hotel berbintang empat ini memiliki area private beach yang sangat indah. Terletak di semenanjung kecil, menjadikan hotel ini selaksa dikelilingi garis Pantai Senggigi.

Deretan kursi malas lebar yang setengahnya penuh bule berjemur dan area pantai yang bersih dan steril (bahkan dijaga beberapa satpam hotel yang akan mencegah siapapun selain tamu hotel untuk menikmati suasana pantai disitu), jadi terasa kurang fun. Kita pun bergeser keluar dari area private beach hotel, dan menemukan beberapa perahu kecil kano berjejer.

Yang pasti aku sudah kapok nyemplung. Mas Iwan langsung menyewa perahu kano dan asyik menyusuri Pantai Senggigi. Kemarin sore ketika para istri masih tidur siang panjang, dia sudah mencoba canoing bersama Mas Yosep. Mbak Daning juga memutuskan ikut, tapi tidak dengan Mas Yosep. Konon, karena kemarin sore Mas Yosep sempat mencoba kano dan berakhir dengan kepala benjol karena kano fiber itu terbalik dan jatuh lagi menimpa kepalanya. Akibatnya, setiap kali kano Mbak Daning agak ketengah, suaminya akan berteriak-teriak memberi peringatan supaya minggir lagi. Trauma ya?

Melihat Mas Iwan dan Mbak Daning asyik ber-kano, aku jadi geli sendiri. Aku menyewa tikar dan memilih meneruskan bacaanku, “Paradise”-nya Abdulrazak Gurnah. Sedangkan Mas Yosep serius mengawasi Mbak Daning dan terus-terusan mencegahnya terlalu ketengah sampai Mbak Daning jengkel. Kami seperti kombinasi dua pasangan yang sama-sama tidak serasi. Yang satu bersemangat berpetualang dilaut, sedangkan pasangannya terserang semacam alergi air laut. Hehe...

Selesai berkano, kali ini kita kembali ke private beach lagi. Aku teruskan membaca, dan Mbak Daning meneruskan berenang di pantai. Aku seperti menemukan sisi lain yang ternyata penuh advanture dari dirinya yang selama kukenal sangat kalem dan nggak banyak omong itu. Sepertinya dalam liburan ini terungkap, bahwa motto Mbak Daning adalah “sedikit bicara, banyak aksi”. Sama sekali berbalik 180 derajat dengan aku.

Gara-gara ngobrol dengan satpam hotel, akhirnya ketahuanlah bahwa di sebelah lain hotel, ada pantai yang bagus untuk snorkling. Mas Iwan langsung ON lagi! Sekali lagi, ini bedanya mental pengusaha dan mental emak2. Aku memutuskan urat ketertarikanku pada snorkling sejak kemarin dan memilih menunggu saja disitu, sambil baca.

Sehabis sholat Jumat, sorenya Mas Anom datang lagi ke hotel, kali ini mengajak Nina, calon istri yang rencananya akan dia nikahi April nanti. She’s really really a doll!! Dia manis sekali dan sangat ramah. Nina yang dosen English di Univ. Mataram sama sekali nggak tampak seperti Bu Dosen, tetapi lebih tampak seperti mahasiswa, eh bukan ding, lebih tepatnya anak SMA, atau SMP sekalian!! Huehehehehe. Lebih bagus lagi, dia terbukti bisa bertahan melawan gojlokan Mas Yosep dan kita semua. Hihihihi good girl!

Kita makan ayam taliwang ASLI DAN LANGSUNG DARI SUMBERNYA!! Subhanalloh...Nyammmmmm2x sekali....apalagi acara makan kita sore itu adalah makan siang yang tertunda, maka kami pun selayaknya monster pemakan ayam yang rakus. Subhanalloh...lagi-lagi bumbu yang enak dan merasuk menjadi perbincangan. Memang orang Lombok membumbui masakan dengan cara disuntikkan tuh kayaknya!! **keukeuh**

Sehabis makan kita belanja oleh-oleh di Toko Phoenix dan Pasar Seni. Tak terlalu malam kita kembali ke hotel dan say goodbye to the lovely Nina, wishing her luck on her upcoming wedding, on April.

Acara malam ini packing dikamar, karena besok jam 3 pagi WITA kita harus cabut dari hotel, mengejar pesawat yang take off jam 5. Kenapa harus pagi buta, lagi-lagi gara2 aku yang harus menghadiri reuni akbar Fak. Psikologi Unair di Surabaya jam 10 paginya. Sehabis packing, para istri leyeh2 di kamar sementara Mas Anom kembali lagi bersama Mas Slamet dan mengajak Boys Night Out para suami. Kabarnya mau nyari jagung bakar, tapi ternyata jadinya nongkrong di kafe depan hotel gara-gara hujan turun. Oalah...

Oya, bicara makanan karena suatu dan lain hal, keinginan menyantap Sate Bulayak pun harus gagal, yah...kecewa deh, tapi gak papa, anggap saja ini jadi motivasi untuk kita bisa balik kesini lagi...(tapi syaratnya: sama anak-anak yaa????) :-b

Malam itu kita juga say goodbye sama Mas Anom dan Mas Slamet, karena besok pagi, kita akan diantar mobil hotel ke bandara. Duuhhhh we cannot thankful enough to them. Terimakasih banyak sudah menjamu kami dengan begini baiknya ya Mas... Jangan kapok, dan ingat, Mas Iwan masih punya janji untuk mengajak Mas Anom snorkling di Pantai Kenjeran Surabaya. Untuk melihat hamparan sampah, beha bekas dan celana kolor bekas yang terhampar di sepanjang dasar Pantai Kenjeran Surabaya....that would be awesome!!

:-D

:::::.....

Selama di pesawat menuju Surabaya kita semua full tidur, maklum tadinya sebelum jam 3 udah pada bangun.

Tadi ketika menunggu boarding di Bandara Selaparang, Mas Yosep sudah mengungkapkan niatnya, pokoknya nanti ketika bertemu dengan teman-teman sekantornya, dia akan bercerita dengan berapi-api tentang Lombok, dan terutama tentang SENORKELING. Betapa asyiknya bersnorkling, betapa cantiknya para ikan-ikan yang jinak mendekati, betapa bermacam-macam jenis ikannya, ada yang besar dan ada yang besar sekali.

Dan untuk mendukung ceritanya itu, dia harus teliti mewawancarai dan mencatat pengalaman Mas Iwan, menghapalkan jenis-jenis ikannya, dan menceritakannya dengan penuh penghayatan, seolah-olah dia merasakan sendiri pengalaman itu... Hahahahahaah

:::::.....

(Selesai)

Cerita lain perjalanan kita ke Lombok bisa dilihat di blognya Mas Anom, di http://nikmatinhidup.blogspot.com

Dan untuk Mas Yudi ( http://yudexelex.multiply.com ), sekarang habis sudah simpenan catatan perjalananku...Sumpah!! :-D

[..::LOMBOK::..] Part 2 : Snorkling Yang Romantis Dan Memberi Definisi Baru


Sudahlah...aku tak kuasa berkomentar lagi.. **menghela napas panjaaang**

Anyway, kemudian nyemplunglah kita...

Benarlah apa kata mereka tentang pengalaman pertama, bahwa itu akan selalu berkesan!! Begitu kami berempat nyemplung dan terlihat sangat ahli dengan peralatan snorkling kami (ahli? well anggap saja hari ini adalah hari kebalikan), Mas Anom dan Mas Slamet yang menunggu di pantai, tak hentinya tergelak tertawa terpingkal-pingkal melihat kita!!

Ada yang terjungkal-jungkal seperti jungkitan padahal sudah pake pelampung di badan (itu aku dan justru pelampung itulah yang jadi pusat jungkitannya), ada yang terus2an menyalahkan alatnya mungkin rusak dan airnya bocor atau kaki kodok yang tidak ditakdirkan untuk dipakai manusia (itu juga aku), ada juga yang walaupun dudul panik jerit-jerit, tetapi begitu dengar kata “ayo foto” langsung secara ajaib bisa menguasai diri di dalam air dan langsung bergaya “cheese” untuk kamera (well, sekali lagi, hihihi ini juga aku).

Pelajaran hari ini : kalau mau snorkling, pastikan Anda bisa berenang! Atau paling tidak, sudah terbiasa menguasai diri didalam air. Kalau tidak, Anda akan menjadi orang yang ketika kamera mati, nyaris seperti jungkitan yang mau tenggelam dan ketika kamera menyala untuk memfoto, persis seperti ahli snorkling tingkat dunia! Kata orang Jawa : oleh gayane thok!

Mbak Daning jauh lebih progressing. Well, dia memang bisa berenang (alasan! hahaha). Paling tidak, dia sudah berhasil berjalan agak ketengah dan sempat melihat seekor ikan besar mendekatinya. Setelah satu jam Mas Iwan juga sudah membanggakan pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan bergerombol yang indah sekali. Aku, masih saja berkutat dengan penyesuaian keseimbangan tubuh dengan semua alat-alat ini (percayalah, waktu itu memang sudah satu jam berlalu). Masih bertahan di kedalaman pantai dibawah satu meter, sehingga setiap kali Mas Anom memanggil kami dari pantai untuk berfoto, masih memungkinkan aku untuk langsung berdiri dan –sekali lagi- bergaya seperti ahli snorkling tingkat dunia!

Yang juga melas adalah Mas Yosep. Teknik sudah dikuasainya dengan baik, dia pun sudah mendapat keberanian untuk pergi ketengah, tetapi kenapa oh kenapa –sekali lagi, setelah satu jam lamanya- tak ada seekorpun ikan mau terlihat olehnya??? Yang besar maupun yang kecil (yang kecil aja nggak mau, apalagi yang besar) **menghela napas**. Kesimpulanku satu, bahwa hanya Tuhan yang tahu sebabnya... Akhirnya, didorong oleh kekecewaan dan rasa tertolak oleh para penghuni laut, moodnya jadi turun, dan teknik yang tadi sudah dikuasai, dudul hanya tinggal kenangan berbuah beberapa ratus cc air laut asin yang sekarang ngendon dengan manis di perutnya. Bikin tambah mual, katanya.

Detik itu, ada satu momen dimana secara bersama-sama aku dan Mas Yosep saling berpandangan, seperti menemukan insight bersama-sama. Kami seperti baru mendapat pencerahan dan siap merumuskan suatu teori definisi baru (kami bahkan secara resmi membuat semacam pakta berdua) bahwa : SENORKELING, adalah suatu aktivitas yang KHAYAL untuk dilakukan. Titik.

Tetapi Mas Iwan tak menyerah. Bagaimanapun aku mengatakan “titik, pokoknya khayal, titik” dia tetap nggak menyerah. Dia ngotot mencari cara supaya aku bisa melihat minimal satu saja ikan didasar laut. “Rugi kalo nggak, Nduk. Baguuussss sekali, dan kita sudah pergi sejauh ini kesini”. Hati kecilku mengiyakan, tetapi hati besarku (baca : pinggul dan pahaku) sudah dudul lemas. Mas Iwan memaksa melatih gerakan kaki berenang sekali lagi. Ampun Gusti, sekali2nya aku “belajar berenang”, harus pake pelampung dan kaki kodok yang berat ini, dan pelatih yang tak sabar untuk segera menyuruhku menyelam. Hikss..kurikulumnya terlalu berat untukku.

Oke, kita pake cara lain. Apalagi? Oh sudahlah mas...(inilah bedanya, mental entrepeneur dengan mental ibu2 rumah tangga hikss). Kali ini Mas Iwan memutuskan untuk menggandengku ketengah. Instruksinya sederhana dan jelas “just follow me, I will lead you there”.

Dan adegan selanjutnya, aku seperti terlempar kedalam sebuah filem drama romantis, dimana ada seorang laki-laki heroik yang melenggang menggandeng (atau lebih tepatnya di cerita ini, menggelandang) pujaan hatinya. Menunjukkan seluruh isi dan keindahan dunia kepada si wanita yang baru keluar dari tempurung kelapa hidupnya selama ini di sebuah gua tengah hutan. Tangan mas Iwan, yang kiri menggandeng tanganku, yang kanan mengacung2kan botol berisi roti memancing ikan2 mendekat. Seperti Superman ketika untuk pertama kalinya mengajak Lois Lane terbang ke angkasa, merangkul seluruh tubuh Lois Lane dalam perlindungannya yang aman dan menunjukkan padanya segenap luar angkasa.

Seperti sebuah puisi, “Percayalah padaku, dalam genggaman tanganku kamu akan aman, dan akan kutunjukkan padamu seluruh keindahan jagat raya ini, sayang...” (suiitt suiiitt)

Akhirnya tak lama kemudian datanglah momen itu, dalam bentuk sekilas ekor ikan berwarna putih keperakan melintasi ekor mataku. Hanya sekilas....dan hanya bagian ekor! Prestasi yang fantastis bukan?? Rupanya karena aku terlalu sibuk umek dengan alat yang sudah mulai terisi air, aku jadi telat mengikuti telunjuk Mas Iwan. Sejurus setelah melihat ikan itu, kami saling berpandangan...”ohh my darling....kita berhasil sayang...” Kami pun terus bergandengan menyusuri pantai semakin ketengah dengan wajah dan tubuh menghadap kebawah, dibawah permukaan air bersiap menerima lagi pemandangan terindah. (Jangan muntah dulu ya, para pembaca sekalian :-D)


Lois Lane yang ini, sayangnya sudah lama membuktikan bahwa dia adalah aktris yang sangat buruk kalau harus bermain di filem romantis. Dan aku, sedetik itu rupanya lupa diri dengan himbauan yang sangat kupercaya sekian lama, “Jangan terlena dengan manisnya cinta, karena bisa menutup pandangan mata kita”. Juga motto kami berdua : the most romantic thing about us, is being totally NOT romantic at all. Untuk sesaat aku khilaf terseret arus manis dan indahnya Cinta di Pantai Gili Nanggu...membuatku percaya bahwa inilah momen romantis kita berdua, selayaknya adegan Rose dan Jack yang berdiri di haluan kapal Titanic.

Tiba-tiba. Brukkk!!!! Sumpah mati, kukira aku akhirnya mendapat kesempatan untuk menyenggol seekor ikan besar berwarna kemerahan di kananku. Ikan lumba-lumba kalo perlu, karena dia besar sekali!!
Kaget, karena panik secangkir air laut masuk ke selang snorklingku, diiringi repetan suara panik ibu-ibu separuh baya dari arah ikan itu.

“Eee...ee...ee...aduhhh...maap Mbak. Aduh...udah deh gak papa tabrak aja saya Mbak, saya ngerti kok wong saya memang nggak bisa berenang ini, duh ini gimana ya.... Aduhhhh memang udah nggak waktunya nenek2 kaya saya main yang aneh-aneh gini...wong berenang saja nggak bisa kok ya aneh-aneh snorkling”. Repetan panjang dan latah yang menurutku luar biasa, mengingat dia harus berjuang melawan alat-alat yang -aku setuju-, sangat merepotkan ini.

“Eh maaf Bu...” suaraku blebekan bercampur air karena selang masih terpasang dimulut.
“Udah gak papa Mbak. Saya juga udah mau mentas dari tadi sebenarnya... Monggo-mongo...!! Aduh reekkk...!! Iki piye tooo???”

Aduh...Ibu... ternyata kita berdua adalah 2 jungkitan yang berasal dari pabrik yang sama, di Surabaya sana. Dan petualangan senorkeling ini disini, seriously, memang sudah benar-benar waktunya berakhir untuk kita berdua...

:::::....
Perjalanan sepulangnya sungguh kasihan buat Mbak Daning. Ketika naik ke kapal, sudah 2 kali dia muntah. Ketika mendarat, sekali lagi dia muntah, menyebabkan Mas Yosep dengan dudul mulai percaya kata-kata kejam kita semua “Wah kok sudah muntah2? Sudah ngidam nih kayaknya”. Hahahahaha maap ya Mbak, bener2 teman yang dudul nih kita semua, liat orang muntah malah digodain.

Untungnya, perjalanan darat kembali ke hotel lebih cepat rutenya. Mbak Daning pun untungnya bisa tertidur di mobil. Tadi ketika melihat kita pada agak mabok sampe ada yang muntah, Mas Slamet mendapatkan lagi satu kesimpulan baru. Tentang lagu “Nenek moyangku, orang pelaut” itu, berdasarkan kesimpulannya, dia dengan rela hati mengatakan “Ya sudahlah, biar mereka saja yang jadi orang pelaut, kita nggak perlu ikut-ikut deh”. Hihihihi.

Sesampai di hotel, begitu Mas Anom dan Mas Slamet pamit, kita pun tiiiduuurrrrrr......tidur siang yang sangat panjaaaangggggg dan aku bermimpi digandeng Superman melihat dunia bawah laut, mimpi yang lumayan buruk.

:::::.....

Malamnya, pas perayaan Tahun Baru Imlek, pihak hotel mengadakan perayaan. Kita yang nggak ikutan, masih bisa nongkrong sambil makan malam di kafe depan, menikmati suguhan pesta kembang api yang seru. Aku jadi sangat rindu anak-anak, tahu betapa mereka pasti heboh melihat kembang apinya. Apalagi di jalan, ada serombongan pertunjukan barongsai yang membuat suasana jalan Senggigi Beach malam itu jadi meriah dan riuh rendah.

Abe, Bea, sudah pada bobokkah kalian, sayang...?

:::::.....

(Bersambung)

Jumat, 29 Februari 2008

[..::LOMBOK::..] Part 1 : Dari Menega ke Gili Nanggu


iseng

Bismillah, aku akan coba agak pede menulis catatan perjalananku kali ini, dengan menyingkirkan batasan “panjang tulisan” yang selama ini membelengguku setiap ngeblog. Karena ternyata, banyak hal dari perjalanan ke Lombok ini yang menarik untuk kutulis, karena ini adalah kunjungan pertamaku ke pulau bersimbol cicak ini dan secara tidak langsung akan menjadi semacam dokumentari pribadiku.

Mohon maaf untuk yang membaca, yang bisa kulakukan hanyalah berusaha membuat tulisanya semenarik mungkin untuk meminimalisasi kebosanan Anda. So God speed ;-D

:::::.....

[LOMBOK TRIP] Part 1 : Dari Menega ke Gili Nanggu

Dua hari setelah pulang dari Bali, Jumat pagi ketika seisi rumah masih serasa babak belur, Mas Iwan sudah on trip lagi! Nggak tahu dimana suamiku ini membuang urat capeknya, baru melihatnya berangkat saja sakit pinggangku sudah berdenyut-denyut lagi (untunglah kali ini dia mau mengajak sopir). Tujuannya jelas ke Solo, memenuhi janji yang tertunda. Janji yang ini lho http://cikicikicik.smaboy.com/images/46 , ingat kan?? Hehe...

Dari Solo lanjut ke Tulungagung demi jadwal rutinnya inspeksi kantor dan gudang disana, Minggu malam barulah dia pulang. Dan hari itu, Rabu, 6 Februari 2008 ketika senja sudah mulai buram, tiba-tiba Mas Iwan dan aku sudah turun dari pesawat, menjejakkan kaki di Bandara Selaparang, Mataram.

Ya, hanya seminggu setelah pulang dari Bali, tiba-tiba sekarang kita berdua sudah berada di Lombok. Untuk kedua kalinya aku meninggalkan anak-anak dirumah bersama in-laws. Apa kubilang kan? Sekali melakukannya (ketika ke Jakarta dulu itu), akan lebih mudah terjadi lagi. Mas Iwan bilang ini hal yang perlu though, itung2 latihan berpisah sementara dengan anak-anak, sehingga aku tidak lagi punya alasan menolak ajakannya umroh berdua.

Still, I’m not feeling comfort just any yet. Trying hard, disela-sela banyak telpon kerumah, aku pun memutuskan untuk menikmati perjalanan ini sambil dalam hati berkesimpulan, bahwa untuk pasangan yang sudah mempunyai anak, istilah “second honeymoon” tanpa anak-anak ternyata cukup menyiksa. Baru saja turun pesawat, aku sudah rindu anak-anak dan sibuk membayangkan bagaimana tingkah mereka kalau berada disini.

Anyway. Kepergian ke Lombok ini atas undangan this lovely couple, dear friends of our family, Mas Yosep dan Mbak Daning. Undangan “double-date” nya sendiri sudah lama, dan kami selalu menggantung jawabannya (so sorry Mas, Mbak..) sekali lagi dengan satu alasan dari pihakku : berat ninggalin anak-anak. Mbak Yosep dan Mbak Daning sekarang ini bisa dibilang masih newlywed, sedang giat2nya program hamil dan tak tanggung-tanggung, untuk “memaksa” kita menerima undangannya, they directly handed us 2 flight tickets to Mataram that date. So we (or I) have nothing left to say, but got packing and take our butts off to that plane!

Waktu itu rencana ada cuti bersama yang berbuah weekend panjang, tapi tiba-tiba dibatalkan pemerintah. Akhirnya Mas Yosep-Mbak Daning pun dengan sukses memilih meneruskan perjalanan ke Lombok dan harus mengambil jatah cuti tahunannya, gimana lagi udah kadung beli tiket, dan mumpung ada yang sampai hati meninggalkan anak-anaknya (hiks hiks...)

Turun dari pesawat, kita berempat dijemput sahabat Mas Yosep sejak SMP, namanya Mas Anom ( http://rumahkomik.blogspot.com/ ). Dan by the way, ternyata Mas Anom inilah yang menjadi alasan kenapa Mas Yosep ngotot mengajak kita kesini. Mumpung Mas Anom masih bertugas di Lombok alias mumpung tersedia guide dan host gratis (ampun, dudul deh...hehe).

Perjalanan Mataram menuju Sengigi (tempat kita menginap) kurang berorientasi keluar (maklum malam hari, dan lampu-lampu Kota Mataram pun ternyata tidak segemerlap Surabaya). Kita lewatkan waktu dengan chit-chat berkenalan dengan Mas Anom. And he turned out to be such a nice person to hang out. Kesimpulannya, dia tenang2 saja menerima dirinya “dimanfaatkan” sebagai guide gratisan. (Hihihi makasih yaa).

Langsung nyari tempat makan malam. Our first culinary-layoff, a fantastic seaside-seafood restaurant called “Menega”. Suasana temaram pinggir pantai yang romantis, nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan citarasa makanannya. Cumi bakarnya, it was like THE BEST I’ve ever had so far!! Bumbunya top habis, merasuk dengan pas dan dalam sampai2 aku curiga itu bumbu “disuntikkan” kedalam seafoodnya (:D) dan Mas Iwan yang memang kritikus ulung kalo urusan makanan (baca: pilih-pilih :-b), ternyata berpendapat sama dengan ikan bakarnya! Setelah memutuskan rencana untuk besok, dengan perut kekenyangan, kita pun menuju Senggigi Beach Hotel, sampai disana sekitar Pukul 9 malam dan langsung beristirahat. Mas Anom pun pamit pulang.

Besoknya, Kamis 7 Februari 2008, Jam 9 pagi Mas Anom sudah nongol di hotel, kali ini mengajak seorang teman, Mas Slamet yang lucu dan njawani. We all got along with each other so well instantly. Kita langsung cabut ke tujuan kita hari ini.

Pulau Gili Nanggu...

Dengan pede yang luar biasa ngawurnya, kita langsung bertekad menyambut tantangan Mas Anom untuk mencoba snorkling. Kubilang ngawur karena selain ini akan menjadi yang pertama buat kami semua (not to mention that I cannot swim!), lidah kami juga masih dengan medoknya menyebut aktivitas itu dengan “senor..keling”. Bahkan, demi Tuhan aku merasa yakin bahwa ketika menyanggupi ajakan Mas Anom malam itu di Menega, Mas Yosep sebenarnya sedang melamun memandang laut yang gelap sembari bilang “Ok, terserah kamu ajalah Nom, kita ikut mau diajak apapun”. Hahaha! Tapi kabarnya pemandangan dasar laut di Gili Nanggu adalah salah satu yang terindah, so we’re in!

Sebagai persiapan, sebelum keluar dari Mataram kita mampir di salah satu deretan warung pinggir jalan yang menjual “Nasi Balap”, sebutan untuk nasi bungkus di Lombok. Satu lagi sebutan yang agresif dan sadis untuk nasi bungkus. Di Tulungagung namanya “sego bantingan”, di Jogja-Jateng “sego kucing”, di Surabaya “sego sadukan”, entah kenapa kok semuanya bernuansa sadis agresif ya??

Dengan mengikuti rumus nasi bungkus, porsi 1 orang sama dengan 2-3 bungkus, kamipun membeli satu kresek besar berisi 20 bungkus lebih! Rumus apaan tadi?? Ini sih 6 orang2 yang pada takut kelaparan semua namanyaaa!! Hahaha. Dengan satu kresek lainnya penuh dengan krupuk, kayaknya akan menjadi menu makan siang yang sempurna di pinggir pantai nanti ketika kita selesai ber-senorkeling. Tak lupa kamipun menyiapkan roti tawar yang nantinya dimasukkan kedalam botol plastik minuman, dan akan menjadi umpan supaya para makhluk laut yang nanti kami lihat mau mendekat ke kita. Thanks to Mas Anom yang memberi semua pengetahuan ini.

Setelah itu selama hampir 3 jam kami disuguhi perjalanan yang menantang. Tepatnya menantang kekuatan stabilitas kimia tubuh kita (baca: ketahanan mabok). Menuju ke Gili Nanggu kita harus melewati perjalanan naik turun gunung yang mempunyai tingkat perkelokan yang lumayan berat. Mas Anom bahkan cerita, tak ada yang mau menempuhnya di malam hari (+ gelap karena sama sekali nggak ada lampu jalan yang cukup) dan karenanya wanti-wanti kita nanti harus sudah kembali sebelum gelap.

Yang sangat menawan hatiku disepanjang perjalanan adalah banyaknya Pohon Kelapa!! Dimana-mana mereka bahkan merumpun dengan lebat! Pemandangan jurang di kanan atau kiri jalan berisi pohon kelapa yang kelihatan dari ketinggian dan kejauhan membentuk semacam pulau, rimbunan daunnya yang berbentuk khas dan jujur saja, tiba-tiba membuatku rindu masa kecil. Masa kecilku kuhabiskan ditengah2 kebun kelapa kakek, yang sekarang sudah banyak tumbang berganti semen dan bangunan gudang-gudang milik Bapakku, bahkan di kota sekecil Tulungagung pun sudah sulit menemukan kebun kelapa. Kata Mas Iwan, Kepulauan Nusa Tenggara memanglah salah satu penghasil kopra.

Setelah 2 jam rollercoaster didarat, kita harus melanjutkan dengan menyeberang, rollercoaster di laut. Kita pun sampai di sebuah pelabuhan kecil (aku ragu apakah itu pantas disebut pelabuhan, saking kecilnya), menyewa peralatan snorkling dan berangkat dengan kapal bermotor. Yang ini lebih dahsyat lagi goncangannya, bukan dari kelokan jalan yang naik turun, tetapi ombak yang menggulung. Padahal bapak pemilik kapal cerita kalau laut sedang lumayan tenang, tetapi kulihat setelah 15 menit (baru separuh perjalanan) wajah kita berempat sudah berubah warna antara keunguan dan kehijauan. Ekspresi pun jadi aneh, seperempat ngantuk, seperempat mual, seperempat seperti stress berpikir dengan kaku, dan empat perempat persis orang mabok! Mbak Daning paling parah. Aku mencoba terus mengajak mengobrol, which is not a hard thing to do (what can I do, I am a chatty person :D). Dan ini bukan hanya kulakukan untuk makhluk-makhluk mirip manusia tapi berwajah ungu dan hijau disekitarku itu, tetapi juga untuk diriku sendiri, yang pasti tak kalah ungu dan hijaunya. Obrolan ternyata lumayan berhasil untuk mendistraksi rasa mual yang sempat menyemprot sekali-kali. Siapa tahu teknik ini suatu saat bisa dibuktikan secara ilmiah, mengatasi mabok perjalanan dengan terapi mengobrol. Hahaha.

Pulau Gili Nanggu kecil saja, bahkan dari tempat berdiri, kita akan bisa melihat separuh lingkaran pantainya. Pasirnya putih, agak kasar tetapi sangat berkilauan, indah sekali. Waktu kita datang suasana masih sepi, hanya terlihat 4 kapal lainnya. Penumpangnya kemungkinan adalah beberapa pasang bule yang sedang berjemur disitu. Disitu juga ada sebuah hotel yang menyediakan cottage dengan arsitektur khas Lombok. Rumah panggung dengan teras terbuka di bawah panggungnya. Dihubungkan dengan tangga monyet dari kayu, diatasnya terdapat ruangan utama berupa attic tepat dibawah atap sirap yang menggelembung. Kecil saja, tetapi bahkan dari luar kelihatan sangat eksotik dan menarik. Secara langsung , model bangunan seperi inilah yang membangun suasana Lombok di kepalaku selama ini, persis seperti yang kulihat di brosur2 dan gambar2 Pulau Lombok.

Begitu sampai, agak terlalu semangat kita pun langsung action (maunya..), tetapi ternyata terganjal urusan celana pendek Mas Iwan yang rupanya ketinggalan nggak ikut terbawa ransel kita (my fault hiksss). Walaupun disitu ada satu hotel yang lengkap dengan toko souvenir yang menjual celana, ternyata tak membantu karena stok ukuran untuk Mas Iwan kosong! Ada satu biji saja yang cukup di badannya, tetapi itu adalah celana pendek cewek dan sangat centil. Warnanya perpaduan krem dan oranye muda, dengan motif bunga kamboja lengkap dengan tali temali dan rimpel kecil dipinggir bawahnya. Persis celana2 yang kupilihkan buat Bea gitu! Jadi jangan bayangkan jadinya, dan maklumi juga kalau di foto manapun, tak akan bisa terlihat bagian pinggang kebawah Mas Iwan disana. Itu semata-mata adalah aturan main dari pengarah gayanya (baca : Mas Iwan sendiri). Hahahaha! Walaupun merasa bersalah, jangan salahkan aku –dan kami semua- kalau hal ini menjadi bahan kepingkal-pingkalan kami semua! :D

Lebih seru lagi ketika ada sebuah keluarga yang terdiri seorang ibu paruh baya dan 6-7 anak abg yang bergabung dengan kami di pantai itu. Rasanya kalau nggak memperdulikan kesopanan, pasti lebih banyak lagi manusia yang terpingkal-pingkal saat itu.

:::::.....

Anyway, kemudian nyemplunglah kita, suatu permulaan akan kedudulan yang tak terkira...

(Bersambung)

Minggu, 24 Februari 2008

[Bali] Day 5 : What A Holiday! Kamipun Terjebak Banjir Bandang di Pasuruan!!


Pagi itu kita ke Sanur berbarengan dengan rombongan SMP something dari Jawa.

Sebelumnya ijinkanlah aku menyebut seseorang, kepada siapa aku mendedikasikan postingan ini, dia yang tak lelah menanyakan kapan aku posting Bali Day 5 walaupun aku sedang nungguin Bea yang 4 hari opname di RS...
Kasihan Mas Yudi (http://yudexelex.multiply.com) yang memang sangat hobi membaca ini, pasti dia sudah benar2 kehabisan bahan bacaan... **menghela napas** :-D
Monggo Mas, meniko postinganipun, mugi dipun midangetaken... :-)

:::::.....
[Bali] Day 5 : What A Holiday! Kamipun Terjebak Banjir Bandang di Pasuruan!!

Rabu, 30 Januari 2008

Selepas Subuh saat anak-anak masih tidur, aku pergi menemani mas Iwan yang pingin hunting foto sunrise di Sanur. Sekembalinya, packing dan ketika jam menunjukkan pukul 9 (WIB) kamipun bertolak untuk kembali ke Surabaya dengan perjalanan darat.

Banyaknya pantai yang kita temui selama perjalanan di pesisir selatan Pulau Bali, hujan deras di sepanjang perjalanan, pengalaman menyeberang dengan ferry yang menyenangkan, anak-anak selam di pelabuhan Gilimanuk yang membuat Abe melongo, beberapa kali anak-anak rewel karena bosan, pemandangan PLTU Paiton di malam hari yang gemerlap dan fantastis, semua seperti sekelebat adegan pembuka untuk dokumentari kami hari itu. Waktu 12 jam, dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam serasa bagaikan sedetik saja, ketika kemudian kami memasuki adegan utama kami malam itu. Malam yang terasa panjang, mencekam dan sangat menegangkan!

Hujan masih turun dengan deras. Praktis dari tadi pagi hujan tak berhenti turun. Waktu makan malam di Rawon Nguling menjelang masuk Pasuruan, semangat kami semua yang sebelumnya sempat didera kebosanan dan kelelahan terpompa kembali. Betapa tidak, 2 jam lagi kami akan sampai kerumah. Sudah homesick berat!

Lalu, Metro News di TV RM Rawon Nguling mengabarkan informasi kalau beberapa sungai di Pasuruan meluap malam itu dan jalan-jalan utama sudah mulai tergenang air. Kitapun dengan bergegas beranjak dari tempat makan yang terkenal sampai rawonnya jadi menu rapat kabinet Presiden di Istana Negara itu. Mas Iwan dengan was-was mengambil resiko untuk meneruskan saja perjalanan, mumpung genangan belum tinggi pikirnya. Selain itu, jarak kerumah pun hanya tinggal 2 jam saja perjalanan.

Hujan makin mengkhawatirkan. Sekitar 5 km menjelang kota Pasuruan, jalanan gelap gulita. Rupanya listrik dipadamkan total dimana-mana menyusul banjir. Kita semakin was-was melihat kondisi pemadaman yang panjang, mungkinkah banjir sudah parah??

Dan benar saja, di gang-gang yang kita lewati sudah terlihat aliran air membanjir dengan deras. Di jalan raya banyak titik2 genangan yang semakin lama semakin tinggi. Genangan-genangan ini tidak hanya berupa genangan air tenang, tetapi merupakan aliran deras air yang jelas-jelas bandang!!

Di sekitar BCA Pasuruan, kelihatan jelas ada sungai yang meluber, arusnya benar-benar deras menuju kedua arah samping, dan kejalan! Ngeri sekali lihat arusnya yang deras!!

Waktu sampai di perempatan dekat alun-alun Pasuruan, genangan di jalan sudah sekitar 30 cm, setinggi lutut orang dewasa. Dan airnya masih mbandang!! Bukan permukaan yang tenang, tapi arus yang mengerikan derasnya. Sudah kelihatan suasana panik warga disepanjang jalan yang kita lewati. Juga para pengendara motor, apalagi yang membawa mobil sedan. Untunglah Innova kami cukup tinggi.

Rute ke Surabaya dialihkan ke jalan lain, kami pun mengikuti. Warga sudah banyak berkerumun diluar rumah, beberapa kelihatan mulai mengumpulkan barang-barang untuk diselamatkan. Suasana masih gelap gulita, hanya ada penerangan dari lampu kendaraan yang lewat dengan resah. Rupanya sudah ada komando untuk mengungsi. Duhhh!

Yang paling menakutkan untuk dilihat bukanlah ketinggian air di jalan, tetapi bahwa air itu mengalir dengan arus yang sangat deras! Benar-benar deras!! Sewaktu kecil, sebelum dibangun waduk Niyama, kota kelahiranku Tulungagung dikenal dengan banjirnya. Dan walaupun itu sudah 30 tahun berlalu, aku masih bisa dengan jelas memahami bahwa, INI BENER-BENER BANJIR BANDANG!!!

MASYAALLAH....BENAR-BENAR LENGKAP CERITA LIBURAN KITA YA!!!

Keluar dari jalan utama ke rute yang disarankan, genangan memang menghilang. Timbul sedikit harapan bisa sampai dirumah sebelum tengah malam. Sekarang kita berada sekitar 2 km sebelum Keraton (tempat yang terkenal sebagai pusat mebel kayu Pasuruan itu). Tetapi semenit kemudian jalan macet total!! Dan aneh! Jalur yang berlawanan dengan kita suepiiii...PI!! Nggak tampak sebiji mobil pun melintas!

Mas Iwan pun keluar untuk mengumpulkan informasi. Suasana diluar ramai, banyak yang keluar dari mobil dan terlibat perbincangan serius dalam rangka bertukar informasi. Ternyata apa yang dikhawatirkan Mas Iwan benar, bahwa jauh didepan sana, ada aliran sungai lagi yang meluap! Kabarnya di Keraton air sudah setinggi 2 meter! Sebuah mobil Panther yang menjadi pembawa berita keadaannya sudah dudul, cukup menjadi bukti untuk kita semua.

Di mobil suasana ikut tegang. Untung Bea sudah tidur. Abe tak henti bertanya “ada apa?” dan akupun tak henti menjelaskan dengan nada yang tak pasti bercampur tegang. Rupanya Abe merasakan ketegangan itu, karena setelah satu pertanyaan terjawab, bukannya berhenti tetapi rentetan pertanyaan lain langsung mengikuti.

Sempat ada ide untuk putar balik ke arah Probolinggo untuk menginap saja, tetapi ternyata ada kabar datang bahwa disanapun, tinggi air sudah se-dada orang dewasa.

KITA BENAR-BENAR TERJEBAK!!
Didepan, arah Kraton air sudah 2 meter! Di belakang, arah Probolinggo juga sama! Di kanan adalah pantai yang pasang, sumber segala banjir bandang malam itu. Ke arah kiri, berputar ke Malang kabarnya juga keadaan setali tiga uang karena banyak anak sungai yang harus dilewati dan juga meluap!!

Untunglah kemudian didekat situ, belok sebentar ada Rumah Makan “Kurnia”. Kitapun memutuskan parkir disitu sembari mencari-cari informasi. Didepan RM yang akhirnya memutuskan untuk buka 24 jam malam itu –pemiliknya bener2 baik dan welcome pada kami semua- jalanan sudah lengang, sama sekali tak ada mobil melintas dari 2 arah.

Rencananya, kami akan “menginap” di parkiran RM Kurnia. Besok, atau kalau kita beruntung jam 2 pagi (sesuai perkiraan orang-orang), ketika air laut sudah surut barulah kita lanjutkan perjalanan. Selama ngepos di parkiran itu –bersama sekitar 25 mobil lainnya- banyak hal yang kami jumpai.

Ada satu mobil Kijang berisi satu keluarga yang mengungsi. Rumahnya didekat alun-alun, dan ketika dia mengungsi tinggi air sudah 1 meter! (itu nyaris kira2 hanya 10 menit setelah kami lewat disitu! Masyaallah!!) Mesin mobilnya sudah blebek2 waktu dibuka, beruntung mereka bisa nyampai ditempat itu. Sebuah mobil lagi datang, berisi satu keluarga pengungsi, bercerita bahwa neneknya masih ketinggalan di atas genting rumahnya yang ditengah kota, tanpa mereka berdaya untuk putar balik mengambilnya sekarang. Mereka hanya bisa berdoa supaya si nenek bertahan sampai banjir surut, dan bahwa banjirnya nggak tambah tinggi menenggelamkan atap rumah. Duuhhhh....!!!!

Satu lagi kisah tragis melibatkan mas Iwan yang dudul kumat paranoidnya mempersiapkan pelampung buat anak-anak. Kubilang tragis karena demi itu, dia harus membongkar ludes isi mobil untuk mengambil pelampung anak2 yang berada di paling bawah tumpukan barang2. Persis orang buka pasar kaget di tempat perlindungan bencana jadinya.

Selebihnya, kami mencoba membuat acara menunggu banjir surut bisa tenang dengan cara kita masing-masing. Makan dan ngopi di RM yang seperti mendapat hikmah dari musibah ini, menggelar alas piknik yang baru kita beli di Bali, dan ngobrol sana-sini dengan sesama “korban” yang berlindung disitu. Acara ngobrol yang sangat berguna, karena dari situlah Mas Iwan –nggak tahu gimana caranya- tiba-tiba menginstruksikan kita untuk siap-siap meneruskan perjalanan. Waktu itu hampir Pukul 1.00 dini hari.

Ternyata dia berhasil menggaet seorang satpam yang mengaku tahu jalan alternatif ke Surabaya, lewat jalan tikus yang menuju ke Pandaan. Kabarnya hanya akan melewati satu sungai, dan sungai itu berada di tempat paling jauh dari sumber bandang. Resiko masih besar, karena walaupun sungai itu akan surut paling duluan, toh kita tidak tahu pasti apakah benar-benar sudah surut atau belum.

Kita pun nekad berangkat dengan dipandu Pak Satpam yang bersepeda motor itu. Dag dig dug tentu. Apalagi kemudian kita melihat, dibelakang kita banyak sekali mobil yang ikut, nyaris semua yang menuju Surabaya ikut. Duhhh kalo sampai nanti salah, kita yang harus bertanggungjawab nih.

Lewat jalan kecil dan gang-gang berliku, suasananya sangat mencekam. Listrik masih padam gelap gulita. Di sepanjang jalan, tak ada kendaraan lain kecuali iring2an kita itu. Kemudian Pak Satpam melepas kita, hanya menyisakan tunjukan jarinya ke suatu arah dari sebuah perempatan. Dengan iringan terimakasih dan sejumlah uang dari semua mobil yang ikut, Pak Satpam pun balik, dan kita sekali lagi tambah dag dig dug melewati jalanan yang gelap dan bertabur aura ancaman bencana. Masyaalloh, sungguh mencekam!!

Kita pun akhirnya melewati sungai yang dikhawatirkan, dan alhamduillah sudah surut!! Di sekitar sungai tampak banyak warga berkerumun, juga mobil polisi yang lampu sirinenya menyala tanpa suara. Hati kami semua miris demi mendengar komentar Mas Iwan “kayaknya ada korban yang meninggal disitu”.

Setelah setengah jam yang terasa seperti beberapa tahun, mulai tampaklah tanda arah jalan. Betapa kami bersyukur membaca tulisan “Sukorejo” dan betapa Mas Iwan heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia yang selama ini sering pergi Sby-Pandaan-Pasuruan tetapi kok tidak pernah tahu dan lewat daerah ini?? Khas egoistis seorang paranoid-decision maker yang heroik, yang tak akan bisa menerima dan memaafkan ketidaktahuannya akan sesuatu yang bisa jadi penting seperti jalan tembus ini.

Kalimat syukur tak henti kami ucapkan. Akhirnya jalan ke Surabaya terbuka lebar dan aman. Di radio Suara Surabaya FM kami dengar sudah ada rekan dibelakang yang melaporkan rute yang berhasil kita tempuh ini. Supaya pengendara lain yang masih terjebak, bisa mengikuti rute kita menuju ke Surabaya –ataupun Malang.

Sebagai akhir cerita, tepat jam 3.00 pagi akhirnya kita sampai dirumah. Alhamdulillaahhh.... WHAT THE HECK OF A DAY!!! LIBURAN YANG AMAT AMAT BERKESAN!! And now finally, we’re home...save and sound.. Alhamdulillah...Dalam sholat malam itu sebelum kita ambruk di tempat tidur, tuntas segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melindungi perjalanan kita.

:::::.....

Besoknya, masih ditengah ributnya telpon dari/ke Abah/Mbah Sul dan Kakung/Uti membahas cerita terjebak banjir kemarin, ketika ditanya “Siapa mau pergi ke Bali lagi??”

“Sayaaaaa....!!!” jawab Abe dan Bea.
“Okeeeee insyaalloh kalo sakit pinggang Ibuk udah sembuh, kita ke Bali lagi yeeee”..sahut Ibuk sambil mbatin heran “Nggak ada mati2nye nih anak2” :-D

Subhanallohh
:::::.....

Salah satu berita tentang banjir itu bisa dibaca disini:
http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=157553 (by googling)

TAMAT
(pffhh...akhirnya....) :D

Jumat, 15 Februari 2008

[Bali] Day 4 : Pasar Sukowati, Cuaca Buruk, Clara Dan Audi Yang Bikin Gemass!!


Poto keluarga didepan pasar, aneh juga ya??? hihihi

Photo by Mbak Prapti by Sony P100

Selasa, 29 Januari 2008

Jam 9 cabut dari hotel, sarapan nasi goreng (ala diangetin) yang dibeli tadi malam dari Sunset Food Court (http://sunsetfoodcourt.com/). What a lovely place to eat and hang-out. Suasananya bikin semangat Mas Iwan untuk buka restoran tumbuh lagi (setelah kejadian dudul 2005 yang memadamkan semangat itu).

Tujuan hari ini jelas : Pasar Sukowati!. Sebenarnya gak seberapa hobi shopping, tapi oleh-oleh harus dibeli, so I guess this would be the right place. Sampe disana masih sepi (rupanya kita agak terlalu kepagian), tapi beruntung deh karena walaupun sepi, kios-kios udah pada buka. Selama disitu, tertangkap obrolan para pedagang tentang cuaca yang tidak seperti biasanya, panas dan lembab yang nggak karuan!

Sesi pertama, mbak2 dipersilahkan belanja dulu. Anak-anak, setelah beli satu mainan kodok2an, menghabiskan waktu menunggu di innercourt tengah pasar. Setelah lebih 1 jam (rupanya mbak keasyikan belanja, hueheh), gantian Bapak dan Ibuk. Yang paling penting, oleh-oleh buat Bu Guru-nya Bea dan Ustadz-nya Abe (lagi!), buat adik2/ipar2/ponakan2, dan karyawannya Bapak. Setelah itu Ibuk pingin sekali beli alas piknik dan baju2 sehari2 buat kita.

Untungnya, kita langsung nemu penjual yang cocok dan enak diajak tawar-menawar. (Kata brosur online sebuah travel kan memang kegiatan tawar menawar adalah salah satu hal yang paling seru di Indonesia! Salah satunya di Sukowati ini). Hehe. Setelah kita borong dagangannya (cie borong, hihi gayanya... tapi bener kok, untuk karyawan Bapak aja udah 60 potong sendiri, lumayan akhirnya bisa dapet harga bagus, gile harga sampe bisa turun 80% alias dapet “cuma” seperlima dari harga yang ditawarkan), tiba-tiba Mas Iwan dapat kejutan. Pak Nyoman si penjual tiba-tiba saja tanpa permisi memasangkan “udeng” Bali ke kepala Mas Iwan, dan menyematkan bunga kamboja ditelinganya.

Langsung ge-er tuh, kabarnya itu adalah perlakuan orang Bali kalau memberikan penghormatan kepada orang lain, bahwa dia secara simbolis mengangkat kita sebagai “saudara”nya (katanya lho, entah benar atau cuma Mas Iwan yang ke ge-er an aja :-D). Singkatnya anak-anak juga ngiri, dan Bu Komang istrinya dengan senang hati memberikan “udeng”nya untuk anak-anak juga. Sempat puas towel2 Bea (karena katanya dia nggak punya anak cewe), trus foto-foto deh, buat kenang2an. Sempat saling crita2 keluarga masing2, orangnya cepet akrab dan menyenangkan. “Kalau ke Bali lagi, mampir kesini ya??” pesennya berkali-kali.

Sip! Habis dari Sukowati, kita melongok ke Sanur. Hanya “melongok” karena saat itu jam 1 siang! Or else, kita bakalan benar-benar kaya gorengan gosong! Tetapi terbukti, ternyata keluarga ini tidak bisa “hanya” melongok kalau itu menyangkut pantai. Anak-anak udah gatel aja pingin nyemplung. Demi mengalihkan perhatian, akhirnya Bapak memutuskan untuk sewa perahu motor dan keliling seputar pantai. Seru! Habis itu, dengan badan lengket kita pun balik ke apartemen untuk mandi.

Sorenya, kita berencana mengunjungi Kakung Badrus (http://bravobadrus.multiply.com). Beliau adalah adiknya Bapakku yang sudah lama tinggal di Bali dan adalah GM-nya Hotel Ayodya (dulu Hilton) Nusa Dua.

Sebelumnya kita pingin mampir dulu melihat pantai di gugusan Nusa Dua. Sayangnya hujan deras mengguyur dengan tiba-tiba. Duh, jadi ingat kata-kata Bu Komang tadi di Sukowati, bahwa sejatinya di Bali jarang sekali ada hujan. Tumben-tumbennya ya! Cuaca Bali benar-benar kalap hujan dimana-mana! Bli Gede (http://lensahati.multiply.com) malah cerita kalau ada teman yang menghubungkan hujan di Bali dengan kematian Pak Harto (ah masak sih? jujur saja aku udah rada males berurusan dengan kematian Pak Harto, huehheh)

Yahhhhh kecewa juga deh, karena cuma bisa menikmati pinggir pantai dari dalam mobil. Di Nusa Dua sebenarnya banyak sekali permainan dan wahana pantai yang bisa dinikmati. Dari kano, jetski sampai banana boat. Tambah lagi daftar dendam kesumat untuk kembali kesini :-(

Sebenarnya Kakung Badrus beserta keluarga lebih banyak tinggal didalam hotel sehari-harinya. Ketika telepon untuk janjian tadi, ternyata Uti Titin istrinya sedang berada dirumahnya di Taman Mumbul sedangkan Kakung sepertinya sedang sangat sibuk di hotel (sedang in-charge dan kebetulan sedang kedatangan tamu rombongan dalam jumlah besar). Oke deh, kita memutuskan untuk meluncur ke Taman Mumbul aja. Ternyata ada kejutan besar! Tante Wulan, putri sulung Kakung Badrus, yang setelah menikah tinggal di Jakarta, ternyata sedang pulang ke Bali!

Abe dan Bea langsung bersorak semangat begitu tahu akan ketemu lagi dengan Clara dan Audi (anak2nya Wulan). Clara (4tahun) dan Audi (3 tahun) benar-benar sangat menggemaskan! Kalo nggak percaya, lihat aja di foto, merekalah sepupu yang selalu berhasil membuat Bea (yang montok itu) jadi kelihatan mungil. Hahahaha!

We’re having soooo much fun! Rumah jadi meriah dengan jeritan anak-anak. Abe tentu saja jadi pembuat ulah tunggal, jadi monster yang mengejar-ngejar ketiga calon korban yang “ginuk-ginuk” dan kalo berteriak bisa bikin kaca jendela bergetar. Alamakkk!! It’s nothing but chaos there!! :-D

Duuhhhh maaf ya Uti Titin, kita berkunjung ternyata hanya membuat kacau rumah dan berantakan! Tapi jelas-jelas terlihat betapa senangnya anak-anak berkumpul dengan saudara yang karena tinggal berjauhan, jadi jarang bertemu. Kangen jadi terobati dan hampir 3 jam kemudian, pamitpun jadi hal yang sangat sulit dan lama untuk dilakukan. Anak-anak susah putus bermain dan yang dewasa susah putus ngobrol.

Goodbye Clara, Audi, kita besok rencana pulang ke Surabaya ya....semoga kita cepat bertemu kembali. Karena kesibukan Kakung Badrus dan Tante Era (adik Tante Wulan satu-satunya) di hotel yang sampai larut malam, kitapun nggak sempat menunggu mereka pulang. Maaf ya...thx so much for having us there!

Belum lagi sampai di apartemen, anak-anak udah ketiduran di mobil. What a lovely day, along with Clara and Audi. We love being with them so much.
Hari ini hari terakhir kita di Bali karena besok pagi, kita akan pulang kembali ke Surabaya. Udah rindu rumah juga ya... :-)

Next!
Day 5 : Layaknya sebuah film, hari terakhir liburan kita merupakan bagian adegan puncak full-thriller yang akan sangat menegangkan! It’s such a life-death situation if you ask my hiperbolic mind! :-D Wuah! Silakan tunggu postingannya (hang-on, tinggal satu itu aja...yang posting disini diam-diam udah capek juga hihihi).

Senin, 11 Februari 2008

[Bali] Day 3 : Pemakaman Ditengah Liburan Membawa Kami Kembali


sepulangnya, kayaknya hanya ini deh cita2 Abe... :-)

Photo by Mbak Prapti with Sony P100

Senin, 28 Januari 2008

Spoiler : Bagi yang belum baca cerita sebelumnya, mohon dengan sangat untuk membaca dulu disini http://cikicikicik.smaboy.com/images/46/

Kulihat saja dari tadi malam. Mas Iwan resah. Telpon sana, telpon sini. Jalan ngalor, balik lagi ngidul (atau ngetan-ngulon aku tak tau, wong dirumah sendiri saja sampe sekarang masih pake acara mikir kalo ditanya arah angin, apalagi disini). Garuk2 kepala, cubit2 dagu.

Acara di semua channel TV lokal non-stop menyiarkan berita persemayaman dan rencana penguburan Presiden Soeharto. Setelah tanya sana-sini (termasuk ortu dan ustadz), timbang begini-begitu (berat mana antara Pak Harto dan istri cempluknya ini), ukur manfaat-mudharat dari setiap pilihan (juga menyangkut pilihan antara Pak Harto yang sudah almarhum dan istri yang masih bisa ngomel), akhirnya Mas Iwan memutuskan untuk menunda kepergian ke Astana Giribangun Solo sampe sehabis liburan. Dengan begitu, janji masih bisa dia tepati somehow (sambil dalam hati istghfar terus :-D) dan perjalanan dengan anak-anak masih bisa diselamatkan.

:-D

What can I say? Aku cuma bisa tersenyum lebar tanpa henti (pasti seperti Anda juga sekarang ini kan?). Bukan tanda kemenangan lho (apalagi melawan Pak Harto alm, ugh aku tentu bukan tandingan beliau lah), tetapi lebih kepada rasa syukur karena rupanya dibalik euforia dudul suami 10 tahun lalu sudah tidak ada lagi bahaya laten apapun. Apalagi PKI (maklum suasana di TV lagi full soal Pak Harto jaman taun ‘66 nih :-D).

Tapi kalo dilihat-lihat lagi, pagi tadi itu sebenarnya sama dudulnya....

Now here we are, setelah menempuh perjalanan sejauh 500 km lebih dari Surabaya ke Bali, dengan niat menikmati habis-habisan alam indah Pulau Dewata, dan yang kita lakukan seharian hanyalah duduk-duduk nonton TV di apartemen yang kita sewa lumayan mahal ini. Ya! Inilah jalan tengah yang dimaksud Mas Iwan. Jalan tengah yang membawa 2 konsekuensi.

Satu. Sudah diputuskan dengan murah hatinya (paling nggak dibanding kalo kita benar2 pulang, ya kan? :-D), bahwa kita nggak bakalan meninggalkan apartemen sebelum siaran langsung acara penguburan Pak Harto paripurna. Dua. Bahwa ada beberapa tempat yang terpaksa harus mengalah menyingkir tercoret dari list tujuan liburan kita. Itu agar supaya Bapak bisa “menghadiri” pemakaman (dari jauh) dengan khidmat. Jadi ketika Pak Harto dikubur, terkubur juga kesempatan kita kali ini untuk mengunjungi Kintamani, Ubud, Uluwatu, Benoa, Jimbaran, alamaakkkk... :-((( Semoga suatu hari nanti kita masih diberi kesempatan untuk kesana.

Tapi memang harus kuakui, aku pun “menikmati” semua prosesi pemakaman Pak Harto. Yang dengan gengsi tak seberapa kutunjukkan ke Mas Iwan :-D. Yang agak mengganjal tentu adalah anak-anak.

“Bapak, kita boleh renang di kolam yaaa????” tanya Abe-Bea
“Boleehhh puas-puasin deh pagi ini renang!” jawab Bapak
“Asyiikkk” jawab anak-anak polos, kasian, mereka nggak tahu apa yang terjadi. Lebih kasihan lagi karena kemudian si Bapak mengerem mendadak.
“Eiittsss!!!! Tunggu dulu!!! Ada syaratnya!!!” (Oh, come on mas...??)
“Ibuk, siapkan kamera!” (kena juga nih??)

Ternyata syaratnya adalah...well, daripada dijelaskan, akan lebih dramatis kalau dilihat langsung, jadi silakan lihat foto pertama di bawah sana! Astaganaga si Bapak! Huahahahahahah anak-anakpun melakukan prosesi singkat “Upacara Penghrmatan” yang disuruh Jendralnya dengan wajah setengah khidmat setengah bloon tak paham akan apa yang terjadi (lihat aja wajah Bea):-D

Selepas Ashar baru kita cabut, tujuan ke Joger Pabrik Kata-Kata. Alamak penuhnya disanaaaaa, sampe mau bernapas pun rasanya harus kehabisan napas karena rebutan O2 dengan banyak orang!!

Selesai dengan Joger, jadwal baru tidaklah amat mengecewakan karena sore ini anak-anak akan mendapat kesempatan lagi ke Pantai Kuta. Tidak seperti hari pertama kemarin, kali ini sudah full-equipment emang niat nyemplung! Abe langsung tertarik ketika ditawari belajar surfing (for the first time ever, off course!). Jadilah, perkenalannya dengan Om Edo, pelatih surfing asal Medan menjadi sesuatu yang amat mengesankan buat Abe.

Abe berhasil “mengendarai” ombak di percobaan yang ke-2, which is amazing (according to Om Edo) dan kita semua bersorak dengan penuh kebanggaan. Senyum Abe yang lebar kayaknya membuat ujung bibirnya sampai mendekati telinga, sehingga entah berapa liter sudah air laut memenuhi esofagus dan karena kulihat ketawa Abe sampai tergelak-gelak, maka si air itu hanya akan mengalir lebih masuk lagi kedalam tubuhnya. Ironisnya, tepat ketika Abe terbatuk-batuk demi menelan secangkir lagi air laut, hampir 2 jam kemudian (masih dengan papan seluncur terikat di tubuhnya), Om Edo berujar “He’s natural” :-D

Bea juga ikut2an minta papan, dan apa yang terpampang kemudian adalah orang-orang sekitar pada ketawa gemas melihat tingkah Bea dan papannya. Beberapa bule mendekat hanya untuk mencowel perut atau pipinya. Oya, menyangkut ini ada beberapa hal yang menarikku dan menjadi catatan tersendiri, tentang bule, ah kapan2 aku tulis dan posting disini ah..insyaAlloh :-)

Ketika kembali ke mobil, nyaris kehabisan waktu Maghrib, semua berbincang seru di mobil! Topik utama tentu saja adalah keberhasilan Abe yang membuatnya kecanduan ingin surfing lagi. Topik yang lebih utama dan bikin dagelan tentu saja adalah Bea yang bukannya surfing, malah asyik “menggembalakan” papan surfing-nya.

Kembali ke Kuta definitely over the top!! Exceed my expectancy mengingat dudulnya jadwal hari ini. Terimakasih ya Bapak... Maaf kalo dari kemarin banyak omelan dari Ibuk... ^_^

:::::.....

Next!
Day 4 : Semua anggota keluarga kalap! Bahkan Pulau Dewata pun juga ikut-ikutan kalap! Kalap apa dan bagaimana, to be continued... :-)

Sabtu, 09 Februari 2008

[Bali] Day 2: Sejuknya Pegunungan, Akankah Memanggil Kita Untuk Pulang? (Bagian 2)


kabut yang menyelimuti pegunungan

Photo by Me with SE K810i cameraphone

Masih di hari yang sama dengan kisah ini (http://cikicikicik.smaboy.com/images/45/), hari ke-2 kita di Bali...

Keluar dari Kebun Raya “Eka Karya”, dengan membawa kenangan sekaligus dendam dibawah siraman hujan, kita menuju ke list tempat selanjutnya, yaitu Taman Ayun dan Tanah Lot. Perjalanan penuh kabut selama menuruni gunung, sangat kami nikmati....(maklum karena tinggal di Surabaya, pemandangan kabut sejuk adalah suatu kemewahan buat kami, lihat saja cerita ini http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/25 ).

Tepat ketika kabut menipis, tak disangka tak diduga, kami mendapat terjangan kabut dalam bentuk lain. Kali ini bentuknya sangat jauh dari kesan sejuk, dan rasanya pun menyesakkan. Kabutnya benar-benar telak membuat hati kami menciut, memampat menyesakkan dada.

Kabut itu datang secara kejamnya melalui sebuah panggilan telepon dari Abah (bapak mertuaku, kakek Abe-Bea) yang mengabarkan sebuah berita.

Barusan tadi, hari ini Minggu, Tanggal 27 Januari 2008, Pukul 13.10 Bpk. H.M. Soeharto meninggal dunia.

Wajah mas Iwan waktu mengabarkan berita itu padaku, sama anehnya dengan wajahku yang mendengarnya. Kami berpandangan seperti “tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan”. Di sisi lain, ada pandangan “menyalahkan” yang kontan kulemparkan ke mas Iwan, tak peduli lagi dengan pandangan “penuh penyesalan” yang terbentuk di wajahnya yang sama sekali tidak membantu.

Dadaku langsung sesak memikirkan kelangsungan dan kelanjutan liburan yang baru saja mulai hangat2nya ini, sebuah kesesakan yang sebenarnya tidak perlu kalau saja kejadian dudul 10 tahun yang lalu itu tidak terjadi....

Sekarang marilah kita sejenak kembali ke 10 tahun yang lalu. Ketika suasana di negeri ini panas, kalut berdebu dan berasap ditengah pergolakan Perjuangan Reformasi melawan tirani kekuasaan yang sudah bersinggasana selama 32 tahun. Waktu yang memang terlalu lama untuk bisa dihadapi manusia manapun yang masih punya tekad untuk terus menjejakkan kaki dan hatinya sebagai “human being” di Bumi ini. Ya, lebih tepatnya marilah kita kembali ke 21 Mei 1998, ketika keputusan pengunduran diri Presiden Soeharto berhasil menggetarkan republik ini sampai ke urat nadi pelosok seluruh negerinya.

Ketika itu, euforia para mahasiswa yang disebut-sebut sebagai lokomotif perubahan, membahana setinggi langit ketujuh. Atmosfer diatas negeri ini dipenuhi oleh adrenalin yang meletup-letup, membuat kemampuan berfikir logis menjadi merosot anjlok digantikan dengan merajanya sifat impulsif di setiap nuansa dan aliran darahnya. Tak terkecuali sekelompok mahasiswa di sebuah kantor Himpunan Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil UPN Veteran Surabaya.

Si Ketua Himpunan, mahasiswa semester 8, rupanya paling parah terkena serangan euforia. Tetapi nuansa euforianya sedikit lain dengan kebanyakan mahasiswa waktu itu yang rata-rata rasa bencinya kepada Pak Harto telah mengurat daging. Pengalamannya menikah muda ketika semester 4 lalu mungkin membuatnya lebih bisa merasakan obyektifitas berpikir tentang dunia ini, walaupun kalau dipikir-pikir lagi, kok nggak ada hubungannya ya! (:-D).

Bagaimanapun, dalam benak si Ketua ini, di sisi tertentu, tak akan sempat ada rasa benci untuk Pak Harto, karena ada sebagian hatinya yang juga dipenuhi rasa kagum atas pribadi Presiden ke-2 RI itu. Juga atas tingginya penghargaan terhadap falsafah Jawa, yang seperti semua falsafah kuno lainnya, sangat dalam artinya dan di jaman sekarang ini, jarang bisa diselami dengan sedemikian anggunnya seperti yang dilakukan Pak Harto.

Walaupun dia berdiri paling depan dalam setiap demo, menjinjing TOA yang menjadikannya paling lantang menyerukan agar Soeharto lengser, tetapi ketika itu terjadi, perasaan yang menguasainya juga bertabur keharuan, bahwa ternyata secara pribadi Pak Harto masih mempunyai kebesaran hati yang mengagumkan sehingga masih cukup untuk menegakkan tubuh beliau ketika mengumumkan pengunduran diri itu dengan sikap yang anggun, khas persis seperti seorang pemimpin dan negarawan yang besar.

Dalam hati sang ketua himpunan ini, euforia datang berdesak-desakan dengan adrenalin yang menjadi puncak perjuangan berbulan-bulan demo dan meninggalkan dunia usaha yang baru saja dirintisnya, di sana-sini tersembul rasa keharuan, kekaguman, rasa bangga, dan rasa hormat yang tinggi untuk sesosok Pak Harto.

Yang jelas, dia pasti sudah trance ke dunia impulsif ketika kemudian dihadapan rekan-rekan seperjuangan demo, dikelilingi gegap gempita kemenangan ketika Pak Harto akhirnya benar-benar lengser, terucap janji dari mulutnya...

“Kalau sampai Pak Harto meninggal ketika aku masih hidup, maka aku berjanji akan berangkat ke Solo untuk menghadiri pemakamannya”

Atau yang jelas, ketika itu dia pasti tidak mendapat setitik pun petunjuk, bahwa di masa depan, Pak Harto akan meninggal dunia bersamaan dengan ketika dia sedang mendampingi anak-istrinya yang baruuu saja menginjakkan kaki untuk berlibur di Pulau Dewata...

Oke, sekarang mari kita kembali lagi ke masa kini, dengan suasana yang pasti Anda semua bisa membayangkannya...atau mungkin tidak! &*#(@**@_#*!()!#+_)+_#(+@)#$*(*

“Trus gimana? Apa Mas akan tetep berangkat ke Solo? Pemakamannya besok pagi kan...?”
“Aku juga bingung! Biar aku pikir dulu, kalo perlu ya nanti malam aku cari tiket pesawat ke Solo, tapi yang aku pikirkan, sehabis pemakaman mana gampang cari tiket kembali ke Denpasar? Bandaranya besok pasti ditutup untuk umum kalo memang dilewati jenazah. Paling parah ya aku ngebis ke Semarang atau gimana, trus baru naik pesawat ke Denpasar.”

“Alamak...” melihat wajahnya, aku sudah nggak tega deh mau ndudul2in janjinya seperti yang dulu sering kulakukan. Apalagi kalau melihat wajahku sendiri.
“Paling parah, aku baru bisa kembali ke Denpasar Hari Selasa”
“Hallah! Kita lho mau pulang ke Surabaya Hari Rabu! Mending sekalian aja kita semua pulang sekarang”, aku juga sudah impulsif, karena dikuasai kepanikan dan emosi, hikss...hikss...

“Ya itu juga yang aku pikirin! Meninggalkanmu sendirian sama anak-anak di Bali?? Walaupun cuma sehari tapi aku nggak akan tega melakukannya! Kalau pulang sekarang, anak-anak pasti kecewa –ibuknya juga-, dan rasanya rugi kalo sudah jauh-jauh kesini, tapi cuma disini sehari semalam thok.”

Perjalanan ke Taman Ayun dan Tanah lot, jadi terasa hambar....(jadi maklum kalo nggak ada banyak foto, hanya ada beberapa, itupun dengan wajahku yang tak ceria). Rasa hatiku sudah tak menentu membayangkan liburan yang berantakan disaat sedang seru-serunya...

Ketika hampir 2 minggu Pak Harto dirawat di RS, banyak kali aku –seperti juga teman2 kuliahnya yang pada nelpon mengingatkan janjinya- menggoda Mas Iwan karena itu berarti dia harus bersiap-siap untuk pergi ke Solo. Sampai bosan, dan akhirnya aku berhenti sendiri karena ternyata Pak Harto tak jua meninggal.

Ketika kita berangkat ke Bali, manalah aku mengira bahwa beliau ternyata benar-benar memilih waktu yang amat tepat untuk menghadap Allah SWT.... Hikss...

:-(((((((

:::::....

Next! :
Akankah kelanjutan liburan kita benar-benar terkubur bersama dengan jasad Jenderal Besar Bpk. HM Soeharto? (Bersambung....)

Selasa, 05 Februari 2008

[Bali] Day 2 : Sejuk Pegunungan, Akankah Memanggil Kita Untuk Pulang? (Bagian 1)


Photo by Mas Iwan with Olympus E500

(Duhhh bagian paling susah ternyata adalah memilih-milih foto untuk diposting, karena jumlahnya yang bergambreng-gambreng! Hikss...)

Minggu, 27 Januari 2008

Tujuan hari ini : Bedugul – Kebun Raya Eka Karya – Pura Taman Ayun - Tanah Lot.
Cabut dari hotel jam 9 pagi dan perut sudah terisi sarapan roti, kita langsung menyusuri jalan kearah Bedugul.

Setelah melewati satu jam pertama, Abe mulai bosan. Tetapi tidak lama karena kemudian jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok khas pegunungan. Pemandangan sepanjang jalan indah sekali. Di kanan kiri didepan setiap rumah atau bangunan berjejer penjor (umbul-umbul) bambu dengan ornamen janur yang sudah kecoklatan mengering, artistik sekali. Tebakanku pasti ini sisa-sisa Hari Raya Galungan dan Kuningan yang baru saja beberapa hari yang lalu dirayakan.

Setelah perjalanan selama sekitar 2 jam, mata kita langsung terbelalak takjub demi melihat pemandangan Danau Beratan muncul dari jajaran pegunungan yang kita lihat. Suasananya bener-bener persis seperti penggambaran di novel-novel terkenal tentang alam ciptaan Allah yang maha indah.

Semua puas foto-foto. Ibuk dan anak-anak puas jadi model untuk Bapak yang hunting habis-habisan. Mbak Pin dan Mbak Prapti puas karena bisa foto dengan latar belakang seperti di kalender-kalender yang selama ini hanya bisa mereka lihat (ini persisnya kata mereka lho, yaitu perpaduan danau dan Pura di Bedugul itu maksudnya). Bapak dengan iseng malah bilang, “Minta tolong Ibuk aja untuk edit fotonya, dikasih kalender dan di print banyak, nanti biar bisa dibagi-bagikan ke seluruh saudara dan tetangganya di kampung di Magetan sana.” Hahahaha. Boleh juga tuh idenya :-D Mbak sampai ngakak tertawa.

Mbak Prapti –yang memang suka celemotan keceplosan kalo ngomong- sampai bilang “Mbak Pin, taruhan berapa, satu kampung cuman kita berdua yang pernah pergi ke Bali.”
“Iya kok!” sahut Mbak Pin dudul, diajak taruhan kok malah setuju.
-gubrax-

“Walah, kok tau? Memangnya kamu udah pernah tanya2 ke orang sekampungmu?” tanya Ibuk.
“Loh, iya Buk! Kampung kita kan kecil, jadi kita kenal semua orang, dan memang nggak ada yang pernah pergi ke Bali!” jawab Prapti meyakinkan.

Bukan salah Ibuk kalo selanjutnya, keisengan Bapak semakin menjadi. Tiap mbak foto-foto, Bapak pasti nyeletuk. Yang fotonya mau dipasang di kantor Kelurahan si mbak lah, kantor Kecamatan lah, di terminal Magetan lah, sampe Abe juga nyeletuk “dipasang di bis gede-gede kaya iklan ya mbak?” wahahahahaha :-D yang jelas kita ikut senang campur geli melihat mbak2 pada keluar “katrok”nya begitu, karena itu kan pertanda kalo mbak2 are having so much fun! :D

Oya, kalo di album ini ada foto kita berempat sekeluarga, itu semua hasil jepretan Mbak Prapti lho (yaay!! tepuk tangan dong). Untuk keperluan begini, selama 4 tahun ini tinggal dirumah kita, secara berkala Mbak memang mendapat kursus singkat bagaimana memakai kamera, dari kamera hp, pocket sampe SLR. Khusus berguru dari -tentu saja- fotografer amatiran in the house alias Bapak dan Ibuk :-D.

Puas menikmati suasana di Bedugul kita bermaksud cari tempat makan dan sholat. Kalau ada satu hal yang tidak bisa kita lakukan di Bali, itu jelas adalah Wisata Kuliner. Dengan menu “babi guling” bertebaran dimana-mana, tentu tak banyak pilihan tempat makan halal buat kita. Kalaupun ada, sulit untuk memenuhi selera anak-anak karena pilihan biasanya hanya berkisar di masakan Padang yang pedas dan warung Jawa yang tak tahu bagaimana rasa masakannya. Kayanya beberapa hari ini anak-anak akan susah jauh dari seputar fast-food macam McD, KFC atau Pizza Hut. Ya sudahlah, nothing perfect anyway, kind of emergency. Disiasati dengan banyak membujuk anak-anak makan buah-buahan sajalah. Untung dimana-mana ada salak Bali yang kecut segarnya disuka sama semua.

Putar-putar sekitar Bedugul, tak juga menemukan tempat makan yang sreg buat semua. Akhirnya demi melongok persediaan roti yang masih cukup, kita memutuskan untuk makan di mobil or (for better) menemukan tempat piknik. Tadi sepintas Bapak membaca didekat situ ada Kebun Raya Eka Karya (Bali Botanical Garden). Kitapun meluncur kesitu.

Ketika pertama masuk gerbang bertiket Rp. 10.000/orang itu, tak ada yang istimewa. Ah, ini sih hanya kebun biasa, tak ada binatang maupun tanaman yang fantastis atau apa. Tetapi ketika kita memutar ke kanan ke sisi lain, arah kembali ke pintu masuk tadi, mata kita serta merta terbelalak demi melihat hamparan rumput yang sangat luas dan hijau segaaarrrr!

Duuhhhh!!! Segaaaarr sekali! Sejauh yang kita lihat hanya hijaunya padang rumput dengan beberapa pohon peneduh yang sebenarnya perlu nggak perlu (karena hawa sejuk pegunungan membuat suasana seteduh mendung, sama sekali tidak terik dan sangat sempurna untuk piknik). Dibawah setiap pohon banyak sekali orang-orang yang piknik (tak heran parkir mobil penuh berjejer).

Langsung pada “ndeprok” di rumput, nyiapin sandwich buat semua. Abe-Bea sudah kalap lagi, kali ini berlarian mengitari padang rumput hijau yang seluas pandang. Agak jauh disana tampak ada tempat permainan outdoor. Demi melihat anak2 yang meluncur di flying-fox atau yang bergelantungan di rope-ladder, Abe udah langsung bertekad, sehabis makan nanti akan langsung kesitu! Duuhh anak2 bener2 menemukan tempat mereka disini.

Tapiii........

Baruuuuu aja gigitan pertama kudaratkan di sandwichku, tiba-tiba BRESS!!!! Hujan datang tanpa pengumuman sama sekali sebelumnya. MasyaAllah! It looks like quite impossible to distinguish between mountainous-nuance air and rapid-cloudiness in this beautiful greeny place! Kalau ada ungkapan “mendung tak berarti hujan”, maka sepertinya disini berlaku “tak ada mendung bukan berarti tak akan ada hujan”.

Ugghh!! Kulihat semua orang –seperti juga kita- panik membereskan peralatan piknik masing2. Banyak lho keluarga yang kulihat membawa panci2 besar! Juga tenda-tenda kecil. Semua langsung buru2 memasukkan barang-barang tadi ke mobil masing-masing karena hujan benar2 deras!!

Sesampai di mobil kita, terdengar dengungan menyesal dari jok depan sampai jok belakang. Sayang sekali yaaaa???? “Kita tunggu sebentar siapa tahu hujan cepat reda,” kata Bapak, tetapi setelah 15 menitan kita menunggu tampaknya hujan malah semakin deras. Mobil-mobil lain kulihat juga satu demi satu meninggalkan tempat piknik.

Yah...pasrah deh... Sambil dalam hati kita bertekad akan kembali lagi kesini suatu saat nanti (semoga ada jodoh dan umur), kitapun melewati bagian museum biji2an dan museum anggrek yang –tentu saja- tak bisa kita kunjungi lagi. Hikss... Semoga kita masih punya kesempatan kembali ke tempat indah ini dan memuaskan hasrat piknik menikmati indahnya alam pegunungan. Kalo perlu seharian!! Or even more!!

:::::.....

(Maap maap, berhubung tulisannya sudah cukup panjang sampai disini –dan foto2pun juga sudah segambreng- maka bersambung aja dulu ya :-D. Tentang peristiwa dudul menyangkut soal dudul si Bapak yang mengancam kelanjutan liburan kita itu, akan bisa diketahui di bagian selanjutnya, just stay tune! ;-D)

Sabtu, 02 Februari 2008

[Bali] Day 1 : Tersesat Indahnya Pantai Kuta


Fotonya ditaruh didepan biar jadi judul album dan muncul di inbox hueheheh

Photo by Mas Iwan with Olympus E500

Sabtu, 26 Januari 2008

Dari Bandara Juanda Surabaya, pesawat berangkat jam 10.55 dan mendarat 11.45 WIB di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Dengan alasan yang kamipun tidak tahu kenapa, kami memutuskan untuk tetap memakai Waktu Indonesia Barat di semua penunjuk waktu kita selama di Bali.

Selama di airport sampai di penerbangan tadi, tidak ada yang istimewa terjadi. Abe-Bea cerewet tak pernah berhenti ngomong, tanya ini itu all the time, tak sabaran di semua proses menuju ke pesawat dan menjadikan semua bagian airport tempat bermain yang atraktif dan eksploratif sampai beberapa kali bikin aku deg2an terutama Bea yang masih balita (bergelantungan di setiap palang pembatas di ruang tunggu dan sempat berdiri2 di kursi pesawat). Sekali lagi, hari yang biasa (baru akan menjadi istimewa jika –misalnya- anak2ku tiba-tiba menjadi pendiam, pelamun dan puas hanya mendengarkan sepatah dua patah kata2 orangtuanya). Hehe...

Dari bandara Ngurah Rai, segera setelah berkumpul dengan mobil yang berisi Mbak Pin, Mbak Prapti dan Om Komo (begitulah kami memanggil Pak Solichin, salah satu sopir gudang) yang sudah berangkat lewat darat sejak tadi malam, kitapun berniat menuju hotel untuk “ngepos” terlebih dahulu. Bapak yang selamanya tidak pernah terbiasa duduk di kursi penumpang langsung saja pegang stir (kata banyak orang, inilah enaknya kerja sopir sama Bapak, karena kalau pergi sama Bapak, Pak Sopir malah akan lebih sering duduk di kursi penumpang :-D)

Nah! Disinilah kedudulan berawal....
(dan rentetan snare drum yang dipukul getar pun mulai berbunyi sebagai musik latar :-D)

Selama ini keperluan kantor mas Iwan sehari-hari bisa dibilang hanya sebatas saku bajunya, yang berisi komunikator dan pulpen. Maksimal sampe tas ranselnya deh, yang –biasanya- berisi laptop dan bendel2 laporan keuangan bulanannya. Dimanapun dia berada, disitulah dia bekerja. Termasuk siang ini. Sejurus setelah mendarat dan handphone ON lagi, seperti tak putus panggilan telepon dia lakukan (atau terima). Aku sudah terbiasa melihat ini. Sebagai gambaran saja, dia sudah terbiasa menyetir, sambil telepon dijepit oleh telinga dan bahu (dia benci handsfree) dan tangannya sambil menyetir sambil menulis di secarik kertas diatas stir mobil. Kalo saja kampanye melarang berhandphone sambil menyetir sudah benar-benar diterapkan, suamiku tercinta pasti akan sudah tertangkap di jam2 pertama.

Yang aku tidak terbiasa, adalah bahwa hari ini kami di Bali, tentu saja aku buta jalan dan rute. Aku juga kadung tidak terbiasa “kritis” soal jalan bila yang menyetir adalah mas Iwan. Buat apa? Dia sudah bak peta berjalan dan meskipun ini Bali, toh dia sudah beberapa kali ngubek-ngubek Bali dengan menyetir sendiri. Kalo kata iklan : sudah terbukti. :-D

Yang lain masih dengan amazing menikmati nuansa baru atmosfer Bali, dan Mas Iwan masih asyik dengan teleponnya ketika lama kemudian Om Komo bilang “Nggak kebablasen tah boss dalane?” (Nggak kebablasan nih jalannya?)

“Haa??” Si Bapak langsung celingukan lihat pinggir jalan kanan kiri dan seperti baru terkena lemparan batu di bagian yang tepat di otaknya (yaitu di lokus tempat keluarnya mr.insight alias pencerahan), diapun dengan suara meyakinkan mengumumkan,

“Kita tersesat!!!!

-gubraxxx- (ini adalah waktu dimana dalam film kartun atau komik Ninja Boy, kepala semua orang tiba-tiba menghilang dari layar kaca atau buku karena pingsan, dan hanya menyisakan kepala si pembuat ulah dan beberapa garis lengkung-lengkung pendek disekitarnya, tanda baru saja ada gerakan yang mendadak, mengejutkan dan dramatis)

Yang paling panik bereaksi tentu Abe “Gimana niiihhh???”
Bea cuman membeo “Kita tersesat ya?? Ibuk, kita tersesat lhooo”

Welcome to Bali everyone!

Rupanya ketika bertelepon, mas Iwan terlewat melihat bangunan ruko yang dia ingat sebagai penanda dekat tempat menginap kita, dan kita pun sudah jauuuh kebablasan melewati Jl. Bypass Ngurah Rai - Sanur, hampir 20 km dan ditambah lagi jalan kembar yang minim tempat berputar membuat acara tersesatnya menjadi 1 jam lebih! Puas deh Bapak “diomeli” sama dirinya sendiri, dan juga anaknya, dan juga istrinya, dan juga ketawa “maklum” om Komo (yang bagi Bapak pasti terdengar seperti omelan juga).

Karena tak ingin kehilangan dhuhur sampai ke penginapan, makan siangpun cukup beli di drive-thru McDonald dan kita pun bergegas menuju tempat menginap. Omelan untuk Bapak berubah menjadi pujian begitu kita sampai di tempat menginap pilihannya. Berbentuk apartemen dengan 2 kamar, masing-masing dengan kamar mandi dan TV didalamnya, livingroom dengan TV (lagi), dan dengan pantry yang lumayan lengkap, looks perfect!

Sehabis makan, anak-anak langsung kalap demi melihat kolam renang pas didepan kompartemen kita. Membujuk mereka untuk menunggu matahari agak condong kebarat rasanya seperti merangkak naik tebing curam saja beratnya. Begitu terik mereda anak-anak langsung menceburkan diri ke kolam renang. Setelah berenang, lapar lagi, makan lagi, baru anak-anak agak tenang.

Sorenya, habis Ashar kita pergi ke Pantai Kuta. Anak-anak –jelas- kalap lagi! Bapak juga kalap dengan kameranya. Terakhir kali aku kesini 4 tahun lalu, ketika menghadiri pernikahan sepupuku disini. Waktu itu Abe baru 2 tahun dan aku sedang hamil Bea 5 bulan. Tak urung kalimat tasbih meluncur berkali-kali, terutama dari mulut mbak yang baru pertama kali kesini. Seneng juga rasanya melihat mbak sama kalapnya dengan anak-anak :-D

Rencana awal untuk “hanya” duduk2 dan jalan2 di pantai, buyar! Hampir dua jam lamanya kemudian, nyaris maghrib ketika akhirnya aku berhasil “menggeret” anak-anak keluar dari air. Kukira akan gampang mengajak mereka keluar karena sudah cukup lama berenang di pantai (sambil nunggu Bapak yang pingin hunting foto sunset). Toh sebelum ke Kuta mereka juga sudah berenang di hotel. Tetapi ternyata mulutku pun harus berbusa bahkan lebih banyak dari busa deburan ombak sebelum akhirnya mereka mau masuk kemobil lagi. Dohhh!!

Sebelum sampai ke hotel, Bea sudah ketiduran diperjalanan –padahal belum mandi!- dan Abe sudah kelihatan persis seperti pisang goreng, lengket dan coklat gelap. Hahaha. Bea pun terpaksa dimandiin dalam keadaan tidur (can you imagine that??).

Sehabis menidurkan anak-anak yang – pasti- sudah gempor, aku ikut menemani mas Iwan mengantar Om Komo ke Terminal Ubung untuk kemudian kembali ke Surabaya dengan bus patas. Sempat menikmati suasana malam di jalanan sepanjang Bypass Ngurah Rai - Sanur-Denpasar-Ubung, sambil beli kebutuhan logistik di Circle-K terdekat, mampir di RM Padang untuk makan dan bungkus nasi Padang buat mbak2.

Sesampainya di hotel kita pun ikut nggelosor menyusul anak-anak yang sudah terbawa mimpi...mimpi “tersesat” di keindahan Pantai Kuta...

:::::.....

Next!

Day 2 : Baru saja hari kedua kita di Bali, gara-gara soal dudul si Bapak, nasib liburan kita sudah terancam buyar berakhir dan berantakan! Ada apa gerangan, tunggu kelanjutan cerita dudulnya! :-((

(To Be Continued)

Kamis, 24 Januari 2008

[Pamit] It's Gonna Be Our First Roadtrip Holiday Ever :-)

Dari dulu kala, aku sangat mengidamkan suatu saat bisa mengajak anak-anak liburan roadtrip. Maksudku bener-bener liburan dan bener-bener roadtrip!

Bener2 liburan maksudnya, ada waktu lumayan panjang –min 5 hari lah- dan bukan sekedar liburan weekend yang cuma 1-2 hari.

Bener-bener roadtrip maksudnya, ya selama itu kita menyusuri kota demi kota dengan perjalanan darat. Bukannya ambil tiket pesawat, menuju ke suatu kota/hotel/apapun sebagai tempat jujugan, menghabiskan waktu disitu, untuk kemudian pulang lagi dengan pesawat. Melainkan kita semua bermobil menyusuri sepanjang jalan darat yang kita lewati, menikmati suasana kota demi kotanya, mencoba makanan-makanan khas dan menghirup aura udara dari kota satu ke kota lain.

 

Tahun-tahun yang lalu, setiap liburan yang kita lakukan adalah selalu pulang kampung, menghabiskan waktu liburan sekolah Abe ke rumah Kakung/Uti di Tulungagung. Itu karena suami masih menganggap Bea terlalu kecil untuk perjalanan roadtrip yang panjang dan –pastinya- melelahkan.

 

Tahun ini, we’re gonna give ourselves a try. Bea yang sudah 3,5 tahun, dinilai sudah cukup kuat untuk sebuah paket roadtrip seminggu. Abe pun sudah terlalu lama menunggu. Liburan sekolah yang seminggu lebih dan tidak dalam high-season (satu keuntungan sekolah di SD swasta) memberi keuntungan extra, karena terus terang saja, aku males sekali pergi ke tempat2 liburan ketika high-season, misalnya libur akhir tahun kemarin itu. Mending dirumah saja membenamkan diri dengan buku dan internet (sejujurnya, kalo nggak memikirkan anak2, inilah liburan paling favoritku wakakakak) daripada terbenam di lautan sesama pelancong di tempat liburan.

 

Hasil polling ke mbak2 ART menunjukkan bahwa mereka pun memilih ikut. Rencanapun dibuat, dan tujuan ditetapkan : Bali. Si Bapak pun sudah bersiap jadi full-time driver, guide sekaligus sponsor utama (yaay! asyik tabungan ibuk utuh! Hueheheheh don’t we just love him so much??).

 

Dua hari menjelang keberangkatan (rencana Jumat dini hari)....

“Yakin Bea kuat?” mas Iwan adalah salah satu dari berjuta suami2 di dunia ini yang menurut pandangan istrinya, terlalu protektif sama anak-anak.

“Yakin!” dan aku adalah salah satu dari berjuta istri2 yang merasa bahwa anak-anak adalah makhluk Allah yang paling kuat dan gampang beradaptasi, tergantung bagaimana si ibu membiasakannya. Dan musuh kami tentunya adalah sikap over-protektif yang slogan utamanya adalah “Jangan Ini!” dan “Jangan Itu!”. Kami adalah para ibu yang tak akan lelah meneriakkan “Go For It!”, meskipun seringkali terdengar agak naif dan memaksakan. Masalah anak-anak capek, flu atau batuk itu urusan kemudian, kan bisa diobati. :-D

 

Mas Iwan belum yakin... Kelihatan banget kok. Wah bisa-bisa acara liburan roadtrip ke Bali batal berantakan nih... Heran, padahal kan bapaknya “raja jalanan”, kenapa khawatir anaknya capek di jalanan? Tahun lalu kayaknya sudah pernah terjadi kebimbangan yang kaya gini, dan perjalanan ke Jogja pun sudah sukses batal! Kalau begini terus, kapan anak2 bisa jalan2 lihat dunia???

Akhirnya, diambillah jalan tengah. Kita berempat berangkat naik pesawat. Sebelumnya, mbak2 ditemani pak sopir, pergi duluan pake mobil. Sehingga, acara roadtrip kita secara resmi –hallah- baru akan dimulai ketika pesawat yang kita tumpangi dari Surabaya mendarat di Airport Ngurah Rai dan mas Iwan menggantikan posisi pak sopir yang langsung balik lagi ke Surabaya. Nanti, pulangnya barulah kita bisa menikmati rangkaian kota-kota yang terbentang memisahkan Bali-Surabaya. 

“Bisa lumayan menghemat tenaga Bea” kata si Bapak.

Itupun dengan perjanjian, bahwa kalau sewaktu-waktu Bea terlihat dudul karena capek, maka pulangnya Ibuk nggak boleh protes kalau si Bapak memutuskan membeli 3 tiket pesawat Denpasar-Surabaya. Satu untuk Ibuk dan 2 untuk anak-anak. Dan Bapak? Bapak berarti akan roadtrip sendiri bersama mbak2...kan harus nyupirin mobilnya?? &#&(#*!@_*#!@&$%&*$* 

Ya sudahlah...-batin Ibuk-...masih bisa roadtrip selama di Bali. Dari pantai, pedesaan sampai pegunungan, semoga Bea (dan semuanya) sehat-sehat saja. Karena bisa dibilang, Ibuk “mempertaruhkan” pendapat dan stamina anak-anaknya didepan Bapak. Kalau sampai terbukti salah, kayaknya si Bapak akan lebih protektif lagi tuh sama anak-anak. I don’t want that to happen for sure! :-(

Minta doanya ya, besok siang (Sabtu, 26/1/2008) kita berangkat. Semoga liburannya lancar sampai kembali kerumah minggu depan. Hari ini seharian packing karena barang2 dan koper harus berangkat duluan, bersamaan dengan mbak2 dan mobil, nanti malam. Maaf juga kalau seminggu kedepan nggak banyak online. Walaupun suami selalu membawa online-kit nya kemana-mana, tetapi kalo sudah seharian capek sama anak2 main di pantai, pedesaan dan pegunungan, kayaknya kalo ada waktu luang Ibuk bakalan molor aja deh... :-D 


Have a nice week everyone... :-)

:::::.....

Rabu, 11 Juli 2007

Liburan Kuliner di Kampung

Gara-gara modem dirumah Kakung dudul, jadi gak bisa online deh…ini ngeblog aja musti ke warnet loh…hi hi hi. Tapi hebat, warnet di Tulungagung udah pada bagus dan rame nih…

Berikut ini journal selama beberapa hari liburan di kampung di Tulungagung…(full acara makan pokoknya)

 

Hari Minggu, 8 Juli 2007, pagi jam 8 kita meluncur ke Tulungagung. Perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari biasanya karena tidak ada Bapak yang suka godain anak2 (dan godain Ibuk juga hihihi) dan melucu di sepanjang perjalanan. Pagi tadinya si Bapak  plus Om Jess dan Om Kus memang berangkat ke Bogor dengan mobil Om Kus. Kangen ya…sebenarnya tadi malam (Selasa malam) Bapak udah ada di Surabaya, tapi baru nanti sore nyusul ke Tulungagung.

Sesampainya di Tulungagung tengah hari, Ibuk yang kelaparan (karena tadi pagi nggak sempat sarapan sendiri) langsung disambut “Sego Bantingan” ala Tulungagung he he aduh nikmatnya…Setelah hampir setahun booming, rupanya Sego Bantingan masih ngetrend juga rupanya (dan nikmatnya tak sedikitpun berkurang).

Fyi, sego Bantingan ini kalo di Surabaya disebut “Sego Sadhukan”, di daerah lain pun punya nama khas sendiri-sendiri, dari “Sego Kucing” (di Jogja) sampai “Nasi Lempar”. Ha ha ha aku pertamanya geli banget liat namanya yang konyol dan beberapa berbau vandalisme gitu.

Itu istilah2 lain dari Nasi Bungkus yang sebenarnya (maksudnya nasinya sekepal -makanya disebut nasi kucing, maksudnya seporsinya kucing he he-, trus lauknya juga sekedar telur separo atau ayam sepotong keciillll, plus sekelumit mie goreng, sambel goreng sekedarnya, pokoknya semua ala kadarnya). Harganya juga dibanting alias murah meriah (di Tulungagung cuma Rp. 1500 tapi dijamin nikmatnya masyaAlloh…) mungkin ini kenapa dikasih nama sego bantingan ya ha ha ha

Secara resmi, dimulailah liburan yang penuh petualangan kuliner ala kampung halaman tercinta ha ha ha. Sorenya, karena pas banyak sodara yang (katanya Emi) punya gawe, jadinya sampai malam menu kita adalah nasi2 hantaran yang khas old fashioned ala kampung gitu!! Aduh mak nyuss… Sambal goreng kentang+ubi yang kering dan pedas, mie goreng bumbu bawang dengan potongan kubis yang lebar2 dan taburan bawang goreng, sayur ‘lotho’ (kacang merah khas daerah sini) yang coklat pekat dan pedas, daging lapis berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu) plus (ini yang paling mak nyuss) tahu goreng yang dimasak santan dan pedaaasss (alamak bener2 siap2 tambah cempluk deh sepulang liburan ini hueheuheuh).

Menu untuk anak-anak, sorenya Mbak Upik beliin sate ayam ponorogo Ibu At (depan perumahan bea cukai kedungwaru) favorit anak-anak… Malam itu Ibuk dan anak-anaknya berangkat tidur dengan perut cempluk semua he he… Alhamdulillah…

 

Senin, 9 Juli 2007

Hal yang paling menyenangkan anak-anak ketika berlibur di Tulungagung, tentu saja adalah berkumpul dengan keluarga. Kakung-Uti, Asnan (Uwa)-Mbak Emi dan Sena-Aaliyah. Apalagi ini sedang menghitung hari, sebentar lagi si Aaliyah punya adik. Asnan-Emi yang 12 Juli tahun ini genap 5 tahun menikah, sudah ‘menghasilkan’ 3 anak lho (wah produktif ya he he). Btw, cerita selengkapnya tentang Asnan-Emi bisa dibaca disini.

Eh, ada lagi yang spesial lho. Entah disengaja atau tidak, setiap kita yang dari Surabaya dateng rame-rame gini, Bu Kipir (tukang masaknya Uti) selaluuuu menyajikan menu2 yang jadi favorit kita (eh, kalo dipikir2 lagi, mungkin juga karena nggak ada tuh namanya menu kampung yang nggak favorit, alias semua enak dan ngangeni hi hi hi). Seperti hari ini, dar pagi sebenarnya aku sudah mengincar beli lodho, tapi langsung kubatalkan demi tahu kalo Bu Kipir masak Pecel Lele. Apalagi anak-anak ternyata juga sudah enjoy dengan rawon masakan Uti. Wah…hi hi

Pecel Lele ala kampungku ini bukanlah paduan lele goreng+sambal+lalapan lho. Bukan! Pecel Lelenya dimasak dari lele yang dibakar asap (biasanya beli di pasar sudah dalam bentuk dibakar gitu), dengan bumbu sambal goreng putih (minus cabe merah) yang pedesss, belimbing dan tomat (kebayang kan segernya he he) dan santan kental. Alamaakk… Kenikmatan makannya jadi tambah sempurna demi melihat wajah Bu Kipir yang senyum2 bahagia dan puas karena masakannya dapat sambutan seperti yang diinginkannya…he he

Trus siangnya, ada menu segar, es dawet Pak Eko (depan BCATulungagung)…masyaalloh segarnya. Dawetnya P. Eko ini aku suka banget karena aroma pandan dari dawet hijaunya kental banget (aduh kalo dipikir lagi apa sih yang aku ndak suka?? Hi hi). Bea juga suka banget dawetnya, sampai2 tiap ada orang yang makan, dia langsung mendekat dengan wajah mupeng, “Es dawet ya? Bea mau…!!”

Malamnya, menu ganti lagi (wah). Sudah dari sore Abe wanti-wanti ndak mau makan, karena nanti malam mau makan Mie Goreng Kabayan (depan LP/penjara TA) kesukaannya. Asal tahu aja, Abe (dan juga Bea) seperti sudah ketagihan sama mie gorengnya P.Bayan ini, tak pernah sekalipun kunjungan ke Tulungagung terlewat tanpa sempat makan menu ini.

In the end of the day, dalam hati janji2 deh, besok kalo udah pulang ke Surabaya, porsi yoganya Ibuk bakal ditambah 2 kali lipat deh!! Ha ha ha

 

Selasa, 10 Juli 2007

Beberapa kali Emi sudah merasakan sakit pinggang. Wah kayaknya hari melahirkan bakal ndak lama lagi nih. Kubilang pada si jabang bayi didalam perut “ayo nak, kalo mau keluar cepetan aja gih, mumpung Ibuk Anti masih disini, jangan ntar Ibuk Anti pulang ke Sby trus kamu lahir..!!” He he.

Pagi-pagi (sesuai rencana), kuajak Bea beli lodho. Ada kejadian lucu. Waktu menunggu penjualnya menyiapkan lodho plus sayur lothonya yg superpedas itu (lebih bertindak sebagai sambel alih2 sayur saking pedesnya), tiba-tiba Bea nyeletuk dengan suara keras, cadel dan lucunya itu “Mana Odhol nyaaa??? Ituuu diaaaa odhoolnyaaaa…!!” sambil dengan semangat nunjukin panci besar berisi lodho ayam. Semua langsung ketawa ha ha. Dari pagi memang dia menjalani semacam latihan mengucapkan kata2 “lodho” dan seringkali kepeleset jadi “odhol”. Tahu kalo dikatawain, dia malu-malu bilang (menirukan ucapanku sebelumnya tiap kali dia kepeleset ngomong) “odhol nya di kamar mandi ya Buk? Buat gosok gigi yaa??” Ha ha ha. Hancur deh dia jadi sasaran cubitan beberapa ibu dan mbak2 yang juga lagi beli lodho.

Jangan minta aku tuliskan bagaimana nikmatnya nasi lodho ayam deh…satu2nya cara hanya satu : datanglah sendiri ke Tulungagung, dan makan nasi lodho disitu!! Sudah tak terhitung rasa rindu dendam muncul di hati (atau pikiran?atau lidah?atau perut?hehe) orang-orang asal Tulungagung yang merantau atau hidup di daerah lain (seperti aku ini). Juga tak terhitung lagi deh orang-orang daerah lain yang akhirnya jatuh hati dan merindu dendam juga sama makanan khas Tulungagung ini (seperti juga suamiku).

Pada penasaran? Biar aja…he he he

Sorenya ada kejutan lagi dari Bu Kipir (lama2 memang aku curiga bahwa dia memang benar2 sengaja masak2 yang kesukaanku tiap kali aku disini lho, sumpah! Hi hi mungkin dia juga ketagihan sama rasa puas yang dirasakannya tiap kali mataku terbelalak demi liat masakannya dan berlanjut dengan acara makanku yang sangat berseleran he he).

Punten Pecel. Satu lagi magnet asal Tulungagung yang  sudah teruji kehandalannya dalam membuat orang-orang yang pernah merasakannya, jadi ketagihan. Para perantau bisa-bisa memimpikannya di malam yang riuh di perkotaan. Anak-anak kost pada rindu ibunda dan kampung halaman Tulungagung Bersinar tercinta, dan para pendatang yang pernah merasakan, bisa-bisa bertekad menikah (atau besanan) saja sama orang Tulungagung biar lebih gampang merasakannya. Ha ha ha ha hiperbola banget ya!!!

Punten Pecel sebenarnya hampir sama dengan Nasi Pecel. Sambel kacangnya sama. Sayur2annya relatif sama (tapi yang paling oke untuk punten pastinya kembang turi doong). Lauknya juga sama, biasanya tempe goreng dan terasi kedele (terasi kedele ini, juga cuma ada di Tulungagung lho hi hi). Yang membedakan (dan yang membuat istimewa) adalah bahwa menu ini tidak menggunakan nasi biasa, tapi menggunakan punten. Punten ini adalah nasi yang dimasak ala nasi uduk (dengan bumbu santan, daun salam dan garam). Setelah masak dan tanak, dalam keadaan masih panas si nasi ini ditempatkan di lumpang beralas plastik, kemudian dijojoh (di pukul2) dengan ‘gedebog’ (bonggol batang pisang - bukan pohon lho, tapi batang) sampai lengket, lembut dan kalis menyerupai uli. Setelah dingin, baru kemudian dipotong2 kotak untuk kemudian disajikan dengan sayur, lauk, sambel pecel dan kerupuk unyil. Oya, khusus tentang kerupuk unyil ini, juga cuman ada di Tulungagung (alamak), kebetulan pabriknya deket rumahku dan huenaaakkkk nya nggak tertandingi kerupuk manapun didunia (hiperbola lagi deh ha ha).

Aku sendiri di Surabaya seringkali masak punten pecel. Tapi tetap saja tidak akan bisa sama dengan punten pecel yang dimasak di kampung. Bagaimana bisa sama, aku seringkali menjojoh pake alu batu (karena susah sekali mendapatkan gedebog di sby). Tempe surabaya juga berbeda dengan tempe di tulungagung. Kalo sambelnya sih beres karena aku selalu dikirimi Ibuk sambel bikinan Bu Kipir yang maut itu he he.

MasyaAlloh…nikmat sekali…(sekali lagi) tadi malam itu aku berangkat tidur dengan perut kosong (kebalikannya maksudnya hi hi hi)..

 

Hari ini, Rabu, 11 Juli 2007

Emi semakin sering merasakan sakit pinggangnya. Asnan sempat bilang, kalo sampe lahirnya si jabang bayi besok (tgl 12 Juli) berarti barengan sama 5th anniversary pernikahan mereka ya?? Pasti seru juga, 5 tahun pernikahan ditandai dengan kelahiran anak ketiga he he.

Abe udah semangat menyambut adik sepupu baru. Kalo dia memberi julukan Aaliyah ‘blokotito’ (ndak tau deh darimana dia dapat kata2 itu hi hi), maka si jabang bayi yang belum lahir, sudah disiapkannya julukan, yaitu ‘betita’…ha ha ha ada2 aja…

Rinduku sama mas iwan sudah hampir tak tertahankan (hikss), apalagi bulan2 ini memang dia sibuk banget, dari urusan buka gudang baru di Jember sampe lihat2 perkebunan sawit di balikpapan. Ini aja sebenarnya kepergian ke Bogor gak ada rencana yang khusus selain nemenin Om Kus, tapi karena sekalian pengen nonton bola Piala Asia di Senayan (alamak) jadinya dibelain pergi deh… Ah tinggal sebentar, nanti sore juga kan dia nyusul kesini hueheheh

Menu hari ini belum tahu, aku belum sempat ke dapur Bu Kipir di belakang dan sarapan…semacam agak2 protes deh dari tadi si perut…minta ke kamar mandi terus (ha ha ha). Kuputuskan untuk istirahat mengunyah barang sebentar hi hi. Tapi nanti kalo si mas udah datang, wah mana bisa kutolak, dia pasti ngajak makan diluar…nasi pecel plosokandang nduk!!... Bakwan depan golden swalayan yuuk!!...pingin sate kambing P. Nyoto (depan Barata) nih cay!!...alamaaakkkkk…..

 

(PS : sorry kalo gambarnya nggak nyambung sama isi postingannya ya…abisnya kangen…hikss..)