Dari dulu kala, aku sangat mengidamkan suatu saat bisa mengajak anak-anak liburan roadtrip. Maksudku bener-bener liburan dan bener-bener roadtrip!
Bener2 liburan maksudnya, ada waktu lumayan panjang –min 5 hari lah- dan bukan sekedar liburan weekend yang cuma 1-2 hari.
Bener-bener roadtrip maksudnya, ya selama itu kita menyusuri
Tahun-tahun yang lalu, setiap liburan yang kita lakukan adalah selalu pulang kampung, menghabiskan waktu liburan sekolah Abe ke rumah Kakung/Uti di Tulungagung. Itu karena suami masih menganggap Bea terlalu kecil untuk perjalanan roadtrip yang panjang dan –pastinya- melelahkan.
Tahun ini, we’re gonna give ourselves a try. Bea yang sudah 3,5 tahun, dinilai sudah cukup kuat untuk sebuah paket roadtrip seminggu. Abe pun sudah terlalu lama menunggu. Liburan sekolah yang seminggu lebih dan tidak dalam high-season (satu keuntungan sekolah di SD swasta) memberi keuntungan extra, karena terus terang saja, aku males sekali pergi ke tempat2 liburan ketika high-season, misalnya libur akhir tahun kemarin itu. Mending dirumah saja membenamkan diri dengan buku dan internet (sejujurnya, kalo nggak memikirkan anak2, inilah liburan paling favoritku wakakakak) daripada terbenam di lautan sesama pelancong di tempat liburan.
Hasil polling ke mbak2 ART menunjukkan bahwa mereka pun memilih ikut. Rencanapun dibuat, dan tujuan ditetapkan :
Dua hari menjelang keberangkatan (rencana Jumat dini hari)....
“Yakin Bea kuat?” mas Iwan adalah salah satu dari berjuta suami2 di dunia ini yang menurut pandangan istrinya, terlalu protektif sama anak-anak.
“Yakin!” dan aku adalah salah satu dari berjuta istri2 yang merasa bahwa anak-anak adalah makhluk Allah yang paling kuat dan gampang beradaptasi, tergantung bagaimana si ibu membiasakannya. Dan musuh kami tentunya adalah sikap over-protektif yang slogan utamanya adalah “Jangan Ini!” dan “Jangan Itu!”. Kami adalah para ibu yang tak akan lelah meneriakkan “Go For It!”, meskipun seringkali terdengar agak naif dan memaksakan. Masalah anak-anak capek, flu atau batuk itu urusan kemudian,
Mas Iwan belum yakin... Kelihatan banget kok. Wah bisa-bisa acara liburan roadtrip ke
Akhirnya, diambillah jalan tengah. Kita berempat berangkat naik pesawat. Sebelumnya, mbak2 ditemani pak sopir, pergi duluan pake mobil. Sehingga, acara roadtrip kita secara resmi –hallah- baru akan dimulai ketika pesawat yang kita tumpangi dari Surabaya mendarat di Airport Ngurah Rai dan mas Iwan menggantikan posisi pak sopir yang langsung balik lagi ke Surabaya. Nanti, pulangnya barulah kita bisa menikmati rangkaian kota-kota yang terbentang memisahkan Bali-Surabaya.
“Bisa lumayan menghemat tenaga Bea” kata si Bapak.
Itupun dengan perjanjian, bahwa kalau sewaktu-waktu Bea terlihat dudul karena capek, maka pulangnya Ibuk nggak boleh protes kalau si Bapak memutuskan membeli 3 tiket pesawat Denpasar-Surabaya. Satu untuk Ibuk dan 2 untuk anak-anak. Dan Bapak? Bapak berarti akan roadtrip sendiri bersama mbak2...
Ya sudahlah...-batin Ibuk-...masih bisa roadtrip selama di
Minta doanya ya, besok siang (Sabtu, 26/1/2008) kita berangkat. Semoga liburannya lancar sampai kembali kerumah minggu depan. Hari ini seharian packing karena barang2 dan koper harus berangkat duluan, bersamaan dengan mbak2 dan mobil, nanti malam. Maaf juga kalau seminggu kedepan nggak banyak online. Walaupun suami selalu membawa online-kit nya kemana-mana, tetapi kalo sudah seharian capek sama anak2 main di pantai, pedesaan dan pegunungan, kayaknya kalo ada waktu luang Ibuk bakalan molor aja deh... :-D
Have a nice week everyone... :-)
:::::.....