Tampilkan postingan dengan label bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bali. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2008

[Bali] Day 5 : What A Holiday! Kamipun Terjebak Banjir Bandang di Pasuruan!!


Pagi itu kita ke Sanur berbarengan dengan rombongan SMP something dari Jawa.

Sebelumnya ijinkanlah aku menyebut seseorang, kepada siapa aku mendedikasikan postingan ini, dia yang tak lelah menanyakan kapan aku posting Bali Day 5 walaupun aku sedang nungguin Bea yang 4 hari opname di RS...
Kasihan Mas Yudi (http://yudexelex.multiply.com) yang memang sangat hobi membaca ini, pasti dia sudah benar2 kehabisan bahan bacaan... **menghela napas** :-D
Monggo Mas, meniko postinganipun, mugi dipun midangetaken... :-)

:::::.....
[Bali] Day 5 : What A Holiday! Kamipun Terjebak Banjir Bandang di Pasuruan!!

Rabu, 30 Januari 2008

Selepas Subuh saat anak-anak masih tidur, aku pergi menemani mas Iwan yang pingin hunting foto sunrise di Sanur. Sekembalinya, packing dan ketika jam menunjukkan pukul 9 (WIB) kamipun bertolak untuk kembali ke Surabaya dengan perjalanan darat.

Banyaknya pantai yang kita temui selama perjalanan di pesisir selatan Pulau Bali, hujan deras di sepanjang perjalanan, pengalaman menyeberang dengan ferry yang menyenangkan, anak-anak selam di pelabuhan Gilimanuk yang membuat Abe melongo, beberapa kali anak-anak rewel karena bosan, pemandangan PLTU Paiton di malam hari yang gemerlap dan fantastis, semua seperti sekelebat adegan pembuka untuk dokumentari kami hari itu. Waktu 12 jam, dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam serasa bagaikan sedetik saja, ketika kemudian kami memasuki adegan utama kami malam itu. Malam yang terasa panjang, mencekam dan sangat menegangkan!

Hujan masih turun dengan deras. Praktis dari tadi pagi hujan tak berhenti turun. Waktu makan malam di Rawon Nguling menjelang masuk Pasuruan, semangat kami semua yang sebelumnya sempat didera kebosanan dan kelelahan terpompa kembali. Betapa tidak, 2 jam lagi kami akan sampai kerumah. Sudah homesick berat!

Lalu, Metro News di TV RM Rawon Nguling mengabarkan informasi kalau beberapa sungai di Pasuruan meluap malam itu dan jalan-jalan utama sudah mulai tergenang air. Kitapun dengan bergegas beranjak dari tempat makan yang terkenal sampai rawonnya jadi menu rapat kabinet Presiden di Istana Negara itu. Mas Iwan dengan was-was mengambil resiko untuk meneruskan saja perjalanan, mumpung genangan belum tinggi pikirnya. Selain itu, jarak kerumah pun hanya tinggal 2 jam saja perjalanan.

Hujan makin mengkhawatirkan. Sekitar 5 km menjelang kota Pasuruan, jalanan gelap gulita. Rupanya listrik dipadamkan total dimana-mana menyusul banjir. Kita semakin was-was melihat kondisi pemadaman yang panjang, mungkinkah banjir sudah parah??

Dan benar saja, di gang-gang yang kita lewati sudah terlihat aliran air membanjir dengan deras. Di jalan raya banyak titik2 genangan yang semakin lama semakin tinggi. Genangan-genangan ini tidak hanya berupa genangan air tenang, tetapi merupakan aliran deras air yang jelas-jelas bandang!!

Di sekitar BCA Pasuruan, kelihatan jelas ada sungai yang meluber, arusnya benar-benar deras menuju kedua arah samping, dan kejalan! Ngeri sekali lihat arusnya yang deras!!

Waktu sampai di perempatan dekat alun-alun Pasuruan, genangan di jalan sudah sekitar 30 cm, setinggi lutut orang dewasa. Dan airnya masih mbandang!! Bukan permukaan yang tenang, tapi arus yang mengerikan derasnya. Sudah kelihatan suasana panik warga disepanjang jalan yang kita lewati. Juga para pengendara motor, apalagi yang membawa mobil sedan. Untunglah Innova kami cukup tinggi.

Rute ke Surabaya dialihkan ke jalan lain, kami pun mengikuti. Warga sudah banyak berkerumun diluar rumah, beberapa kelihatan mulai mengumpulkan barang-barang untuk diselamatkan. Suasana masih gelap gulita, hanya ada penerangan dari lampu kendaraan yang lewat dengan resah. Rupanya sudah ada komando untuk mengungsi. Duhhh!

Yang paling menakutkan untuk dilihat bukanlah ketinggian air di jalan, tetapi bahwa air itu mengalir dengan arus yang sangat deras! Benar-benar deras!! Sewaktu kecil, sebelum dibangun waduk Niyama, kota kelahiranku Tulungagung dikenal dengan banjirnya. Dan walaupun itu sudah 30 tahun berlalu, aku masih bisa dengan jelas memahami bahwa, INI BENER-BENER BANJIR BANDANG!!!

MASYAALLAH....BENAR-BENAR LENGKAP CERITA LIBURAN KITA YA!!!

Keluar dari jalan utama ke rute yang disarankan, genangan memang menghilang. Timbul sedikit harapan bisa sampai dirumah sebelum tengah malam. Sekarang kita berada sekitar 2 km sebelum Keraton (tempat yang terkenal sebagai pusat mebel kayu Pasuruan itu). Tetapi semenit kemudian jalan macet total!! Dan aneh! Jalur yang berlawanan dengan kita suepiiii...PI!! Nggak tampak sebiji mobil pun melintas!

Mas Iwan pun keluar untuk mengumpulkan informasi. Suasana diluar ramai, banyak yang keluar dari mobil dan terlibat perbincangan serius dalam rangka bertukar informasi. Ternyata apa yang dikhawatirkan Mas Iwan benar, bahwa jauh didepan sana, ada aliran sungai lagi yang meluap! Kabarnya di Keraton air sudah setinggi 2 meter! Sebuah mobil Panther yang menjadi pembawa berita keadaannya sudah dudul, cukup menjadi bukti untuk kita semua.

Di mobil suasana ikut tegang. Untung Bea sudah tidur. Abe tak henti bertanya “ada apa?” dan akupun tak henti menjelaskan dengan nada yang tak pasti bercampur tegang. Rupanya Abe merasakan ketegangan itu, karena setelah satu pertanyaan terjawab, bukannya berhenti tetapi rentetan pertanyaan lain langsung mengikuti.

Sempat ada ide untuk putar balik ke arah Probolinggo untuk menginap saja, tetapi ternyata ada kabar datang bahwa disanapun, tinggi air sudah se-dada orang dewasa.

KITA BENAR-BENAR TERJEBAK!!
Didepan, arah Kraton air sudah 2 meter! Di belakang, arah Probolinggo juga sama! Di kanan adalah pantai yang pasang, sumber segala banjir bandang malam itu. Ke arah kiri, berputar ke Malang kabarnya juga keadaan setali tiga uang karena banyak anak sungai yang harus dilewati dan juga meluap!!

Untunglah kemudian didekat situ, belok sebentar ada Rumah Makan “Kurnia”. Kitapun memutuskan parkir disitu sembari mencari-cari informasi. Didepan RM yang akhirnya memutuskan untuk buka 24 jam malam itu –pemiliknya bener2 baik dan welcome pada kami semua- jalanan sudah lengang, sama sekali tak ada mobil melintas dari 2 arah.

Rencananya, kami akan “menginap” di parkiran RM Kurnia. Besok, atau kalau kita beruntung jam 2 pagi (sesuai perkiraan orang-orang), ketika air laut sudah surut barulah kita lanjutkan perjalanan. Selama ngepos di parkiran itu –bersama sekitar 25 mobil lainnya- banyak hal yang kami jumpai.

Ada satu mobil Kijang berisi satu keluarga yang mengungsi. Rumahnya didekat alun-alun, dan ketika dia mengungsi tinggi air sudah 1 meter! (itu nyaris kira2 hanya 10 menit setelah kami lewat disitu! Masyaallah!!) Mesin mobilnya sudah blebek2 waktu dibuka, beruntung mereka bisa nyampai ditempat itu. Sebuah mobil lagi datang, berisi satu keluarga pengungsi, bercerita bahwa neneknya masih ketinggalan di atas genting rumahnya yang ditengah kota, tanpa mereka berdaya untuk putar balik mengambilnya sekarang. Mereka hanya bisa berdoa supaya si nenek bertahan sampai banjir surut, dan bahwa banjirnya nggak tambah tinggi menenggelamkan atap rumah. Duuhhhh....!!!!

Satu lagi kisah tragis melibatkan mas Iwan yang dudul kumat paranoidnya mempersiapkan pelampung buat anak-anak. Kubilang tragis karena demi itu, dia harus membongkar ludes isi mobil untuk mengambil pelampung anak2 yang berada di paling bawah tumpukan barang2. Persis orang buka pasar kaget di tempat perlindungan bencana jadinya.

Selebihnya, kami mencoba membuat acara menunggu banjir surut bisa tenang dengan cara kita masing-masing. Makan dan ngopi di RM yang seperti mendapat hikmah dari musibah ini, menggelar alas piknik yang baru kita beli di Bali, dan ngobrol sana-sini dengan sesama “korban” yang berlindung disitu. Acara ngobrol yang sangat berguna, karena dari situlah Mas Iwan –nggak tahu gimana caranya- tiba-tiba menginstruksikan kita untuk siap-siap meneruskan perjalanan. Waktu itu hampir Pukul 1.00 dini hari.

Ternyata dia berhasil menggaet seorang satpam yang mengaku tahu jalan alternatif ke Surabaya, lewat jalan tikus yang menuju ke Pandaan. Kabarnya hanya akan melewati satu sungai, dan sungai itu berada di tempat paling jauh dari sumber bandang. Resiko masih besar, karena walaupun sungai itu akan surut paling duluan, toh kita tidak tahu pasti apakah benar-benar sudah surut atau belum.

Kita pun nekad berangkat dengan dipandu Pak Satpam yang bersepeda motor itu. Dag dig dug tentu. Apalagi kemudian kita melihat, dibelakang kita banyak sekali mobil yang ikut, nyaris semua yang menuju Surabaya ikut. Duhhh kalo sampai nanti salah, kita yang harus bertanggungjawab nih.

Lewat jalan kecil dan gang-gang berliku, suasananya sangat mencekam. Listrik masih padam gelap gulita. Di sepanjang jalan, tak ada kendaraan lain kecuali iring2an kita itu. Kemudian Pak Satpam melepas kita, hanya menyisakan tunjukan jarinya ke suatu arah dari sebuah perempatan. Dengan iringan terimakasih dan sejumlah uang dari semua mobil yang ikut, Pak Satpam pun balik, dan kita sekali lagi tambah dag dig dug melewati jalanan yang gelap dan bertabur aura ancaman bencana. Masyaalloh, sungguh mencekam!!

Kita pun akhirnya melewati sungai yang dikhawatirkan, dan alhamduillah sudah surut!! Di sekitar sungai tampak banyak warga berkerumun, juga mobil polisi yang lampu sirinenya menyala tanpa suara. Hati kami semua miris demi mendengar komentar Mas Iwan “kayaknya ada korban yang meninggal disitu”.

Setelah setengah jam yang terasa seperti beberapa tahun, mulai tampaklah tanda arah jalan. Betapa kami bersyukur membaca tulisan “Sukorejo” dan betapa Mas Iwan heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia yang selama ini sering pergi Sby-Pandaan-Pasuruan tetapi kok tidak pernah tahu dan lewat daerah ini?? Khas egoistis seorang paranoid-decision maker yang heroik, yang tak akan bisa menerima dan memaafkan ketidaktahuannya akan sesuatu yang bisa jadi penting seperti jalan tembus ini.

Kalimat syukur tak henti kami ucapkan. Akhirnya jalan ke Surabaya terbuka lebar dan aman. Di radio Suara Surabaya FM kami dengar sudah ada rekan dibelakang yang melaporkan rute yang berhasil kita tempuh ini. Supaya pengendara lain yang masih terjebak, bisa mengikuti rute kita menuju ke Surabaya –ataupun Malang.

Sebagai akhir cerita, tepat jam 3.00 pagi akhirnya kita sampai dirumah. Alhamdulillaahhh.... WHAT THE HECK OF A DAY!!! LIBURAN YANG AMAT AMAT BERKESAN!! And now finally, we’re home...save and sound.. Alhamdulillah...Dalam sholat malam itu sebelum kita ambruk di tempat tidur, tuntas segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melindungi perjalanan kita.

:::::.....

Besoknya, masih ditengah ributnya telpon dari/ke Abah/Mbah Sul dan Kakung/Uti membahas cerita terjebak banjir kemarin, ketika ditanya “Siapa mau pergi ke Bali lagi??”

“Sayaaaaa....!!!” jawab Abe dan Bea.
“Okeeeee insyaalloh kalo sakit pinggang Ibuk udah sembuh, kita ke Bali lagi yeeee”..sahut Ibuk sambil mbatin heran “Nggak ada mati2nye nih anak2” :-D

Subhanallohh
:::::.....

Salah satu berita tentang banjir itu bisa dibaca disini:
http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=157553 (by googling)

TAMAT
(pffhh...akhirnya....) :D

Jumat, 15 Februari 2008

[Bali] Day 4 : Pasar Sukowati, Cuaca Buruk, Clara Dan Audi Yang Bikin Gemass!!


Poto keluarga didepan pasar, aneh juga ya??? hihihi

Photo by Mbak Prapti by Sony P100

Selasa, 29 Januari 2008

Jam 9 cabut dari hotel, sarapan nasi goreng (ala diangetin) yang dibeli tadi malam dari Sunset Food Court (http://sunsetfoodcourt.com/). What a lovely place to eat and hang-out. Suasananya bikin semangat Mas Iwan untuk buka restoran tumbuh lagi (setelah kejadian dudul 2005 yang memadamkan semangat itu).

Tujuan hari ini jelas : Pasar Sukowati!. Sebenarnya gak seberapa hobi shopping, tapi oleh-oleh harus dibeli, so I guess this would be the right place. Sampe disana masih sepi (rupanya kita agak terlalu kepagian), tapi beruntung deh karena walaupun sepi, kios-kios udah pada buka. Selama disitu, tertangkap obrolan para pedagang tentang cuaca yang tidak seperti biasanya, panas dan lembab yang nggak karuan!

Sesi pertama, mbak2 dipersilahkan belanja dulu. Anak-anak, setelah beli satu mainan kodok2an, menghabiskan waktu menunggu di innercourt tengah pasar. Setelah lebih 1 jam (rupanya mbak keasyikan belanja, hueheh), gantian Bapak dan Ibuk. Yang paling penting, oleh-oleh buat Bu Guru-nya Bea dan Ustadz-nya Abe (lagi!), buat adik2/ipar2/ponakan2, dan karyawannya Bapak. Setelah itu Ibuk pingin sekali beli alas piknik dan baju2 sehari2 buat kita.

Untungnya, kita langsung nemu penjual yang cocok dan enak diajak tawar-menawar. (Kata brosur online sebuah travel kan memang kegiatan tawar menawar adalah salah satu hal yang paling seru di Indonesia! Salah satunya di Sukowati ini). Hehe. Setelah kita borong dagangannya (cie borong, hihi gayanya... tapi bener kok, untuk karyawan Bapak aja udah 60 potong sendiri, lumayan akhirnya bisa dapet harga bagus, gile harga sampe bisa turun 80% alias dapet “cuma” seperlima dari harga yang ditawarkan), tiba-tiba Mas Iwan dapat kejutan. Pak Nyoman si penjual tiba-tiba saja tanpa permisi memasangkan “udeng” Bali ke kepala Mas Iwan, dan menyematkan bunga kamboja ditelinganya.

Langsung ge-er tuh, kabarnya itu adalah perlakuan orang Bali kalau memberikan penghormatan kepada orang lain, bahwa dia secara simbolis mengangkat kita sebagai “saudara”nya (katanya lho, entah benar atau cuma Mas Iwan yang ke ge-er an aja :-D). Singkatnya anak-anak juga ngiri, dan Bu Komang istrinya dengan senang hati memberikan “udeng”nya untuk anak-anak juga. Sempat puas towel2 Bea (karena katanya dia nggak punya anak cewe), trus foto-foto deh, buat kenang2an. Sempat saling crita2 keluarga masing2, orangnya cepet akrab dan menyenangkan. “Kalau ke Bali lagi, mampir kesini ya??” pesennya berkali-kali.

Sip! Habis dari Sukowati, kita melongok ke Sanur. Hanya “melongok” karena saat itu jam 1 siang! Or else, kita bakalan benar-benar kaya gorengan gosong! Tetapi terbukti, ternyata keluarga ini tidak bisa “hanya” melongok kalau itu menyangkut pantai. Anak-anak udah gatel aja pingin nyemplung. Demi mengalihkan perhatian, akhirnya Bapak memutuskan untuk sewa perahu motor dan keliling seputar pantai. Seru! Habis itu, dengan badan lengket kita pun balik ke apartemen untuk mandi.

Sorenya, kita berencana mengunjungi Kakung Badrus (http://bravobadrus.multiply.com). Beliau adalah adiknya Bapakku yang sudah lama tinggal di Bali dan adalah GM-nya Hotel Ayodya (dulu Hilton) Nusa Dua.

Sebelumnya kita pingin mampir dulu melihat pantai di gugusan Nusa Dua. Sayangnya hujan deras mengguyur dengan tiba-tiba. Duh, jadi ingat kata-kata Bu Komang tadi di Sukowati, bahwa sejatinya di Bali jarang sekali ada hujan. Tumben-tumbennya ya! Cuaca Bali benar-benar kalap hujan dimana-mana! Bli Gede (http://lensahati.multiply.com) malah cerita kalau ada teman yang menghubungkan hujan di Bali dengan kematian Pak Harto (ah masak sih? jujur saja aku udah rada males berurusan dengan kematian Pak Harto, huehheh)

Yahhhhh kecewa juga deh, karena cuma bisa menikmati pinggir pantai dari dalam mobil. Di Nusa Dua sebenarnya banyak sekali permainan dan wahana pantai yang bisa dinikmati. Dari kano, jetski sampai banana boat. Tambah lagi daftar dendam kesumat untuk kembali kesini :-(

Sebenarnya Kakung Badrus beserta keluarga lebih banyak tinggal didalam hotel sehari-harinya. Ketika telepon untuk janjian tadi, ternyata Uti Titin istrinya sedang berada dirumahnya di Taman Mumbul sedangkan Kakung sepertinya sedang sangat sibuk di hotel (sedang in-charge dan kebetulan sedang kedatangan tamu rombongan dalam jumlah besar). Oke deh, kita memutuskan untuk meluncur ke Taman Mumbul aja. Ternyata ada kejutan besar! Tante Wulan, putri sulung Kakung Badrus, yang setelah menikah tinggal di Jakarta, ternyata sedang pulang ke Bali!

Abe dan Bea langsung bersorak semangat begitu tahu akan ketemu lagi dengan Clara dan Audi (anak2nya Wulan). Clara (4tahun) dan Audi (3 tahun) benar-benar sangat menggemaskan! Kalo nggak percaya, lihat aja di foto, merekalah sepupu yang selalu berhasil membuat Bea (yang montok itu) jadi kelihatan mungil. Hahahaha!

We’re having soooo much fun! Rumah jadi meriah dengan jeritan anak-anak. Abe tentu saja jadi pembuat ulah tunggal, jadi monster yang mengejar-ngejar ketiga calon korban yang “ginuk-ginuk” dan kalo berteriak bisa bikin kaca jendela bergetar. Alamakkk!! It’s nothing but chaos there!! :-D

Duuhhhh maaf ya Uti Titin, kita berkunjung ternyata hanya membuat kacau rumah dan berantakan! Tapi jelas-jelas terlihat betapa senangnya anak-anak berkumpul dengan saudara yang karena tinggal berjauhan, jadi jarang bertemu. Kangen jadi terobati dan hampir 3 jam kemudian, pamitpun jadi hal yang sangat sulit dan lama untuk dilakukan. Anak-anak susah putus bermain dan yang dewasa susah putus ngobrol.

Goodbye Clara, Audi, kita besok rencana pulang ke Surabaya ya....semoga kita cepat bertemu kembali. Karena kesibukan Kakung Badrus dan Tante Era (adik Tante Wulan satu-satunya) di hotel yang sampai larut malam, kitapun nggak sempat menunggu mereka pulang. Maaf ya...thx so much for having us there!

Belum lagi sampai di apartemen, anak-anak udah ketiduran di mobil. What a lovely day, along with Clara and Audi. We love being with them so much.
Hari ini hari terakhir kita di Bali karena besok pagi, kita akan pulang kembali ke Surabaya. Udah rindu rumah juga ya... :-)

Next!
Day 5 : Layaknya sebuah film, hari terakhir liburan kita merupakan bagian adegan puncak full-thriller yang akan sangat menegangkan! It’s such a life-death situation if you ask my hiperbolic mind! :-D Wuah! Silakan tunggu postingannya (hang-on, tinggal satu itu aja...yang posting disini diam-diam udah capek juga hihihi).

Senin, 11 Februari 2008

[Bali] Day 3 : Pemakaman Ditengah Liburan Membawa Kami Kembali


sepulangnya, kayaknya hanya ini deh cita2 Abe... :-)

Photo by Mbak Prapti with Sony P100

Senin, 28 Januari 2008

Spoiler : Bagi yang belum baca cerita sebelumnya, mohon dengan sangat untuk membaca dulu disini http://cikicikicik.smaboy.com/images/46/

Kulihat saja dari tadi malam. Mas Iwan resah. Telpon sana, telpon sini. Jalan ngalor, balik lagi ngidul (atau ngetan-ngulon aku tak tau, wong dirumah sendiri saja sampe sekarang masih pake acara mikir kalo ditanya arah angin, apalagi disini). Garuk2 kepala, cubit2 dagu.

Acara di semua channel TV lokal non-stop menyiarkan berita persemayaman dan rencana penguburan Presiden Soeharto. Setelah tanya sana-sini (termasuk ortu dan ustadz), timbang begini-begitu (berat mana antara Pak Harto dan istri cempluknya ini), ukur manfaat-mudharat dari setiap pilihan (juga menyangkut pilihan antara Pak Harto yang sudah almarhum dan istri yang masih bisa ngomel), akhirnya Mas Iwan memutuskan untuk menunda kepergian ke Astana Giribangun Solo sampe sehabis liburan. Dengan begitu, janji masih bisa dia tepati somehow (sambil dalam hati istghfar terus :-D) dan perjalanan dengan anak-anak masih bisa diselamatkan.

:-D

What can I say? Aku cuma bisa tersenyum lebar tanpa henti (pasti seperti Anda juga sekarang ini kan?). Bukan tanda kemenangan lho (apalagi melawan Pak Harto alm, ugh aku tentu bukan tandingan beliau lah), tetapi lebih kepada rasa syukur karena rupanya dibalik euforia dudul suami 10 tahun lalu sudah tidak ada lagi bahaya laten apapun. Apalagi PKI (maklum suasana di TV lagi full soal Pak Harto jaman taun ‘66 nih :-D).

Tapi kalo dilihat-lihat lagi, pagi tadi itu sebenarnya sama dudulnya....

Now here we are, setelah menempuh perjalanan sejauh 500 km lebih dari Surabaya ke Bali, dengan niat menikmati habis-habisan alam indah Pulau Dewata, dan yang kita lakukan seharian hanyalah duduk-duduk nonton TV di apartemen yang kita sewa lumayan mahal ini. Ya! Inilah jalan tengah yang dimaksud Mas Iwan. Jalan tengah yang membawa 2 konsekuensi.

Satu. Sudah diputuskan dengan murah hatinya (paling nggak dibanding kalo kita benar2 pulang, ya kan? :-D), bahwa kita nggak bakalan meninggalkan apartemen sebelum siaran langsung acara penguburan Pak Harto paripurna. Dua. Bahwa ada beberapa tempat yang terpaksa harus mengalah menyingkir tercoret dari list tujuan liburan kita. Itu agar supaya Bapak bisa “menghadiri” pemakaman (dari jauh) dengan khidmat. Jadi ketika Pak Harto dikubur, terkubur juga kesempatan kita kali ini untuk mengunjungi Kintamani, Ubud, Uluwatu, Benoa, Jimbaran, alamaakkkk... :-((( Semoga suatu hari nanti kita masih diberi kesempatan untuk kesana.

Tapi memang harus kuakui, aku pun “menikmati” semua prosesi pemakaman Pak Harto. Yang dengan gengsi tak seberapa kutunjukkan ke Mas Iwan :-D. Yang agak mengganjal tentu adalah anak-anak.

“Bapak, kita boleh renang di kolam yaaa????” tanya Abe-Bea
“Boleehhh puas-puasin deh pagi ini renang!” jawab Bapak
“Asyiikkk” jawab anak-anak polos, kasian, mereka nggak tahu apa yang terjadi. Lebih kasihan lagi karena kemudian si Bapak mengerem mendadak.
“Eiittsss!!!! Tunggu dulu!!! Ada syaratnya!!!” (Oh, come on mas...??)
“Ibuk, siapkan kamera!” (kena juga nih??)

Ternyata syaratnya adalah...well, daripada dijelaskan, akan lebih dramatis kalau dilihat langsung, jadi silakan lihat foto pertama di bawah sana! Astaganaga si Bapak! Huahahahahahah anak-anakpun melakukan prosesi singkat “Upacara Penghrmatan” yang disuruh Jendralnya dengan wajah setengah khidmat setengah bloon tak paham akan apa yang terjadi (lihat aja wajah Bea):-D

Selepas Ashar baru kita cabut, tujuan ke Joger Pabrik Kata-Kata. Alamak penuhnya disanaaaaa, sampe mau bernapas pun rasanya harus kehabisan napas karena rebutan O2 dengan banyak orang!!

Selesai dengan Joger, jadwal baru tidaklah amat mengecewakan karena sore ini anak-anak akan mendapat kesempatan lagi ke Pantai Kuta. Tidak seperti hari pertama kemarin, kali ini sudah full-equipment emang niat nyemplung! Abe langsung tertarik ketika ditawari belajar surfing (for the first time ever, off course!). Jadilah, perkenalannya dengan Om Edo, pelatih surfing asal Medan menjadi sesuatu yang amat mengesankan buat Abe.

Abe berhasil “mengendarai” ombak di percobaan yang ke-2, which is amazing (according to Om Edo) dan kita semua bersorak dengan penuh kebanggaan. Senyum Abe yang lebar kayaknya membuat ujung bibirnya sampai mendekati telinga, sehingga entah berapa liter sudah air laut memenuhi esofagus dan karena kulihat ketawa Abe sampai tergelak-gelak, maka si air itu hanya akan mengalir lebih masuk lagi kedalam tubuhnya. Ironisnya, tepat ketika Abe terbatuk-batuk demi menelan secangkir lagi air laut, hampir 2 jam kemudian (masih dengan papan seluncur terikat di tubuhnya), Om Edo berujar “He’s natural” :-D

Bea juga ikut2an minta papan, dan apa yang terpampang kemudian adalah orang-orang sekitar pada ketawa gemas melihat tingkah Bea dan papannya. Beberapa bule mendekat hanya untuk mencowel perut atau pipinya. Oya, menyangkut ini ada beberapa hal yang menarikku dan menjadi catatan tersendiri, tentang bule, ah kapan2 aku tulis dan posting disini ah..insyaAlloh :-)

Ketika kembali ke mobil, nyaris kehabisan waktu Maghrib, semua berbincang seru di mobil! Topik utama tentu saja adalah keberhasilan Abe yang membuatnya kecanduan ingin surfing lagi. Topik yang lebih utama dan bikin dagelan tentu saja adalah Bea yang bukannya surfing, malah asyik “menggembalakan” papan surfing-nya.

Kembali ke Kuta definitely over the top!! Exceed my expectancy mengingat dudulnya jadwal hari ini. Terimakasih ya Bapak... Maaf kalo dari kemarin banyak omelan dari Ibuk... ^_^

:::::.....

Next!
Day 4 : Semua anggota keluarga kalap! Bahkan Pulau Dewata pun juga ikut-ikutan kalap! Kalap apa dan bagaimana, to be continued... :-)

Sabtu, 09 Februari 2008

[Bali] Day 2: Sejuknya Pegunungan, Akankah Memanggil Kita Untuk Pulang? (Bagian 2)


kabut yang menyelimuti pegunungan

Photo by Me with SE K810i cameraphone

Masih di hari yang sama dengan kisah ini (http://cikicikicik.smaboy.com/images/45/), hari ke-2 kita di Bali...

Keluar dari Kebun Raya “Eka Karya”, dengan membawa kenangan sekaligus dendam dibawah siraman hujan, kita menuju ke list tempat selanjutnya, yaitu Taman Ayun dan Tanah Lot. Perjalanan penuh kabut selama menuruni gunung, sangat kami nikmati....(maklum karena tinggal di Surabaya, pemandangan kabut sejuk adalah suatu kemewahan buat kami, lihat saja cerita ini http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/25 ).

Tepat ketika kabut menipis, tak disangka tak diduga, kami mendapat terjangan kabut dalam bentuk lain. Kali ini bentuknya sangat jauh dari kesan sejuk, dan rasanya pun menyesakkan. Kabutnya benar-benar telak membuat hati kami menciut, memampat menyesakkan dada.

Kabut itu datang secara kejamnya melalui sebuah panggilan telepon dari Abah (bapak mertuaku, kakek Abe-Bea) yang mengabarkan sebuah berita.

Barusan tadi, hari ini Minggu, Tanggal 27 Januari 2008, Pukul 13.10 Bpk. H.M. Soeharto meninggal dunia.

Wajah mas Iwan waktu mengabarkan berita itu padaku, sama anehnya dengan wajahku yang mendengarnya. Kami berpandangan seperti “tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan”. Di sisi lain, ada pandangan “menyalahkan” yang kontan kulemparkan ke mas Iwan, tak peduli lagi dengan pandangan “penuh penyesalan” yang terbentuk di wajahnya yang sama sekali tidak membantu.

Dadaku langsung sesak memikirkan kelangsungan dan kelanjutan liburan yang baru saja mulai hangat2nya ini, sebuah kesesakan yang sebenarnya tidak perlu kalau saja kejadian dudul 10 tahun yang lalu itu tidak terjadi....

Sekarang marilah kita sejenak kembali ke 10 tahun yang lalu. Ketika suasana di negeri ini panas, kalut berdebu dan berasap ditengah pergolakan Perjuangan Reformasi melawan tirani kekuasaan yang sudah bersinggasana selama 32 tahun. Waktu yang memang terlalu lama untuk bisa dihadapi manusia manapun yang masih punya tekad untuk terus menjejakkan kaki dan hatinya sebagai “human being” di Bumi ini. Ya, lebih tepatnya marilah kita kembali ke 21 Mei 1998, ketika keputusan pengunduran diri Presiden Soeharto berhasil menggetarkan republik ini sampai ke urat nadi pelosok seluruh negerinya.

Ketika itu, euforia para mahasiswa yang disebut-sebut sebagai lokomotif perubahan, membahana setinggi langit ketujuh. Atmosfer diatas negeri ini dipenuhi oleh adrenalin yang meletup-letup, membuat kemampuan berfikir logis menjadi merosot anjlok digantikan dengan merajanya sifat impulsif di setiap nuansa dan aliran darahnya. Tak terkecuali sekelompok mahasiswa di sebuah kantor Himpunan Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil UPN Veteran Surabaya.

Si Ketua Himpunan, mahasiswa semester 8, rupanya paling parah terkena serangan euforia. Tetapi nuansa euforianya sedikit lain dengan kebanyakan mahasiswa waktu itu yang rata-rata rasa bencinya kepada Pak Harto telah mengurat daging. Pengalamannya menikah muda ketika semester 4 lalu mungkin membuatnya lebih bisa merasakan obyektifitas berpikir tentang dunia ini, walaupun kalau dipikir-pikir lagi, kok nggak ada hubungannya ya! (:-D).

Bagaimanapun, dalam benak si Ketua ini, di sisi tertentu, tak akan sempat ada rasa benci untuk Pak Harto, karena ada sebagian hatinya yang juga dipenuhi rasa kagum atas pribadi Presiden ke-2 RI itu. Juga atas tingginya penghargaan terhadap falsafah Jawa, yang seperti semua falsafah kuno lainnya, sangat dalam artinya dan di jaman sekarang ini, jarang bisa diselami dengan sedemikian anggunnya seperti yang dilakukan Pak Harto.

Walaupun dia berdiri paling depan dalam setiap demo, menjinjing TOA yang menjadikannya paling lantang menyerukan agar Soeharto lengser, tetapi ketika itu terjadi, perasaan yang menguasainya juga bertabur keharuan, bahwa ternyata secara pribadi Pak Harto masih mempunyai kebesaran hati yang mengagumkan sehingga masih cukup untuk menegakkan tubuh beliau ketika mengumumkan pengunduran diri itu dengan sikap yang anggun, khas persis seperti seorang pemimpin dan negarawan yang besar.

Dalam hati sang ketua himpunan ini, euforia datang berdesak-desakan dengan adrenalin yang menjadi puncak perjuangan berbulan-bulan demo dan meninggalkan dunia usaha yang baru saja dirintisnya, di sana-sini tersembul rasa keharuan, kekaguman, rasa bangga, dan rasa hormat yang tinggi untuk sesosok Pak Harto.

Yang jelas, dia pasti sudah trance ke dunia impulsif ketika kemudian dihadapan rekan-rekan seperjuangan demo, dikelilingi gegap gempita kemenangan ketika Pak Harto akhirnya benar-benar lengser, terucap janji dari mulutnya...

“Kalau sampai Pak Harto meninggal ketika aku masih hidup, maka aku berjanji akan berangkat ke Solo untuk menghadiri pemakamannya”

Atau yang jelas, ketika itu dia pasti tidak mendapat setitik pun petunjuk, bahwa di masa depan, Pak Harto akan meninggal dunia bersamaan dengan ketika dia sedang mendampingi anak-istrinya yang baruuu saja menginjakkan kaki untuk berlibur di Pulau Dewata...

Oke, sekarang mari kita kembali lagi ke masa kini, dengan suasana yang pasti Anda semua bisa membayangkannya...atau mungkin tidak! &*#(@**@_#*!()!#+_)+_#(+@)#$*(*

“Trus gimana? Apa Mas akan tetep berangkat ke Solo? Pemakamannya besok pagi kan...?”
“Aku juga bingung! Biar aku pikir dulu, kalo perlu ya nanti malam aku cari tiket pesawat ke Solo, tapi yang aku pikirkan, sehabis pemakaman mana gampang cari tiket kembali ke Denpasar? Bandaranya besok pasti ditutup untuk umum kalo memang dilewati jenazah. Paling parah ya aku ngebis ke Semarang atau gimana, trus baru naik pesawat ke Denpasar.”

“Alamak...” melihat wajahnya, aku sudah nggak tega deh mau ndudul2in janjinya seperti yang dulu sering kulakukan. Apalagi kalau melihat wajahku sendiri.
“Paling parah, aku baru bisa kembali ke Denpasar Hari Selasa”
“Hallah! Kita lho mau pulang ke Surabaya Hari Rabu! Mending sekalian aja kita semua pulang sekarang”, aku juga sudah impulsif, karena dikuasai kepanikan dan emosi, hikss...hikss...

“Ya itu juga yang aku pikirin! Meninggalkanmu sendirian sama anak-anak di Bali?? Walaupun cuma sehari tapi aku nggak akan tega melakukannya! Kalau pulang sekarang, anak-anak pasti kecewa –ibuknya juga-, dan rasanya rugi kalo sudah jauh-jauh kesini, tapi cuma disini sehari semalam thok.”

Perjalanan ke Taman Ayun dan Tanah lot, jadi terasa hambar....(jadi maklum kalo nggak ada banyak foto, hanya ada beberapa, itupun dengan wajahku yang tak ceria). Rasa hatiku sudah tak menentu membayangkan liburan yang berantakan disaat sedang seru-serunya...

Ketika hampir 2 minggu Pak Harto dirawat di RS, banyak kali aku –seperti juga teman2 kuliahnya yang pada nelpon mengingatkan janjinya- menggoda Mas Iwan karena itu berarti dia harus bersiap-siap untuk pergi ke Solo. Sampai bosan, dan akhirnya aku berhenti sendiri karena ternyata Pak Harto tak jua meninggal.

Ketika kita berangkat ke Bali, manalah aku mengira bahwa beliau ternyata benar-benar memilih waktu yang amat tepat untuk menghadap Allah SWT.... Hikss...

:-(((((((

:::::....

Next! :
Akankah kelanjutan liburan kita benar-benar terkubur bersama dengan jasad Jenderal Besar Bpk. HM Soeharto? (Bersambung....)

Selasa, 05 Februari 2008

[Bali] Day 2 : Sejuk Pegunungan, Akankah Memanggil Kita Untuk Pulang? (Bagian 1)


Photo by Mas Iwan with Olympus E500

(Duhhh bagian paling susah ternyata adalah memilih-milih foto untuk diposting, karena jumlahnya yang bergambreng-gambreng! Hikss...)

Minggu, 27 Januari 2008

Tujuan hari ini : Bedugul – Kebun Raya Eka Karya – Pura Taman Ayun - Tanah Lot.
Cabut dari hotel jam 9 pagi dan perut sudah terisi sarapan roti, kita langsung menyusuri jalan kearah Bedugul.

Setelah melewati satu jam pertama, Abe mulai bosan. Tetapi tidak lama karena kemudian jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok khas pegunungan. Pemandangan sepanjang jalan indah sekali. Di kanan kiri didepan setiap rumah atau bangunan berjejer penjor (umbul-umbul) bambu dengan ornamen janur yang sudah kecoklatan mengering, artistik sekali. Tebakanku pasti ini sisa-sisa Hari Raya Galungan dan Kuningan yang baru saja beberapa hari yang lalu dirayakan.

Setelah perjalanan selama sekitar 2 jam, mata kita langsung terbelalak takjub demi melihat pemandangan Danau Beratan muncul dari jajaran pegunungan yang kita lihat. Suasananya bener-bener persis seperti penggambaran di novel-novel terkenal tentang alam ciptaan Allah yang maha indah.

Semua puas foto-foto. Ibuk dan anak-anak puas jadi model untuk Bapak yang hunting habis-habisan. Mbak Pin dan Mbak Prapti puas karena bisa foto dengan latar belakang seperti di kalender-kalender yang selama ini hanya bisa mereka lihat (ini persisnya kata mereka lho, yaitu perpaduan danau dan Pura di Bedugul itu maksudnya). Bapak dengan iseng malah bilang, “Minta tolong Ibuk aja untuk edit fotonya, dikasih kalender dan di print banyak, nanti biar bisa dibagi-bagikan ke seluruh saudara dan tetangganya di kampung di Magetan sana.” Hahahaha. Boleh juga tuh idenya :-D Mbak sampai ngakak tertawa.

Mbak Prapti –yang memang suka celemotan keceplosan kalo ngomong- sampai bilang “Mbak Pin, taruhan berapa, satu kampung cuman kita berdua yang pernah pergi ke Bali.”
“Iya kok!” sahut Mbak Pin dudul, diajak taruhan kok malah setuju.
-gubrax-

“Walah, kok tau? Memangnya kamu udah pernah tanya2 ke orang sekampungmu?” tanya Ibuk.
“Loh, iya Buk! Kampung kita kan kecil, jadi kita kenal semua orang, dan memang nggak ada yang pernah pergi ke Bali!” jawab Prapti meyakinkan.

Bukan salah Ibuk kalo selanjutnya, keisengan Bapak semakin menjadi. Tiap mbak foto-foto, Bapak pasti nyeletuk. Yang fotonya mau dipasang di kantor Kelurahan si mbak lah, kantor Kecamatan lah, di terminal Magetan lah, sampe Abe juga nyeletuk “dipasang di bis gede-gede kaya iklan ya mbak?” wahahahahaha :-D yang jelas kita ikut senang campur geli melihat mbak2 pada keluar “katrok”nya begitu, karena itu kan pertanda kalo mbak2 are having so much fun! :D

Oya, kalo di album ini ada foto kita berempat sekeluarga, itu semua hasil jepretan Mbak Prapti lho (yaay!! tepuk tangan dong). Untuk keperluan begini, selama 4 tahun ini tinggal dirumah kita, secara berkala Mbak memang mendapat kursus singkat bagaimana memakai kamera, dari kamera hp, pocket sampe SLR. Khusus berguru dari -tentu saja- fotografer amatiran in the house alias Bapak dan Ibuk :-D.

Puas menikmati suasana di Bedugul kita bermaksud cari tempat makan dan sholat. Kalau ada satu hal yang tidak bisa kita lakukan di Bali, itu jelas adalah Wisata Kuliner. Dengan menu “babi guling” bertebaran dimana-mana, tentu tak banyak pilihan tempat makan halal buat kita. Kalaupun ada, sulit untuk memenuhi selera anak-anak karena pilihan biasanya hanya berkisar di masakan Padang yang pedas dan warung Jawa yang tak tahu bagaimana rasa masakannya. Kayanya beberapa hari ini anak-anak akan susah jauh dari seputar fast-food macam McD, KFC atau Pizza Hut. Ya sudahlah, nothing perfect anyway, kind of emergency. Disiasati dengan banyak membujuk anak-anak makan buah-buahan sajalah. Untung dimana-mana ada salak Bali yang kecut segarnya disuka sama semua.

Putar-putar sekitar Bedugul, tak juga menemukan tempat makan yang sreg buat semua. Akhirnya demi melongok persediaan roti yang masih cukup, kita memutuskan untuk makan di mobil or (for better) menemukan tempat piknik. Tadi sepintas Bapak membaca didekat situ ada Kebun Raya Eka Karya (Bali Botanical Garden). Kitapun meluncur kesitu.

Ketika pertama masuk gerbang bertiket Rp. 10.000/orang itu, tak ada yang istimewa. Ah, ini sih hanya kebun biasa, tak ada binatang maupun tanaman yang fantastis atau apa. Tetapi ketika kita memutar ke kanan ke sisi lain, arah kembali ke pintu masuk tadi, mata kita serta merta terbelalak demi melihat hamparan rumput yang sangat luas dan hijau segaaarrrr!

Duuhhhh!!! Segaaaarr sekali! Sejauh yang kita lihat hanya hijaunya padang rumput dengan beberapa pohon peneduh yang sebenarnya perlu nggak perlu (karena hawa sejuk pegunungan membuat suasana seteduh mendung, sama sekali tidak terik dan sangat sempurna untuk piknik). Dibawah setiap pohon banyak sekali orang-orang yang piknik (tak heran parkir mobil penuh berjejer).

Langsung pada “ndeprok” di rumput, nyiapin sandwich buat semua. Abe-Bea sudah kalap lagi, kali ini berlarian mengitari padang rumput hijau yang seluas pandang. Agak jauh disana tampak ada tempat permainan outdoor. Demi melihat anak2 yang meluncur di flying-fox atau yang bergelantungan di rope-ladder, Abe udah langsung bertekad, sehabis makan nanti akan langsung kesitu! Duuhh anak2 bener2 menemukan tempat mereka disini.

Tapiii........

Baruuuuu aja gigitan pertama kudaratkan di sandwichku, tiba-tiba BRESS!!!! Hujan datang tanpa pengumuman sama sekali sebelumnya. MasyaAllah! It looks like quite impossible to distinguish between mountainous-nuance air and rapid-cloudiness in this beautiful greeny place! Kalau ada ungkapan “mendung tak berarti hujan”, maka sepertinya disini berlaku “tak ada mendung bukan berarti tak akan ada hujan”.

Ugghh!! Kulihat semua orang –seperti juga kita- panik membereskan peralatan piknik masing2. Banyak lho keluarga yang kulihat membawa panci2 besar! Juga tenda-tenda kecil. Semua langsung buru2 memasukkan barang-barang tadi ke mobil masing-masing karena hujan benar2 deras!!

Sesampai di mobil kita, terdengar dengungan menyesal dari jok depan sampai jok belakang. Sayang sekali yaaaa???? “Kita tunggu sebentar siapa tahu hujan cepat reda,” kata Bapak, tetapi setelah 15 menitan kita menunggu tampaknya hujan malah semakin deras. Mobil-mobil lain kulihat juga satu demi satu meninggalkan tempat piknik.

Yah...pasrah deh... Sambil dalam hati kita bertekad akan kembali lagi kesini suatu saat nanti (semoga ada jodoh dan umur), kitapun melewati bagian museum biji2an dan museum anggrek yang –tentu saja- tak bisa kita kunjungi lagi. Hikss... Semoga kita masih punya kesempatan kembali ke tempat indah ini dan memuaskan hasrat piknik menikmati indahnya alam pegunungan. Kalo perlu seharian!! Or even more!!

:::::.....

(Maap maap, berhubung tulisannya sudah cukup panjang sampai disini –dan foto2pun juga sudah segambreng- maka bersambung aja dulu ya :-D. Tentang peristiwa dudul menyangkut soal dudul si Bapak yang mengancam kelanjutan liburan kita itu, akan bisa diketahui di bagian selanjutnya, just stay tune! ;-D)

Sabtu, 02 Februari 2008

[Bali] Day 1 : Tersesat Indahnya Pantai Kuta


Fotonya ditaruh didepan biar jadi judul album dan muncul di inbox hueheheh

Photo by Mas Iwan with Olympus E500

Sabtu, 26 Januari 2008

Dari Bandara Juanda Surabaya, pesawat berangkat jam 10.55 dan mendarat 11.45 WIB di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Dengan alasan yang kamipun tidak tahu kenapa, kami memutuskan untuk tetap memakai Waktu Indonesia Barat di semua penunjuk waktu kita selama di Bali.

Selama di airport sampai di penerbangan tadi, tidak ada yang istimewa terjadi. Abe-Bea cerewet tak pernah berhenti ngomong, tanya ini itu all the time, tak sabaran di semua proses menuju ke pesawat dan menjadikan semua bagian airport tempat bermain yang atraktif dan eksploratif sampai beberapa kali bikin aku deg2an terutama Bea yang masih balita (bergelantungan di setiap palang pembatas di ruang tunggu dan sempat berdiri2 di kursi pesawat). Sekali lagi, hari yang biasa (baru akan menjadi istimewa jika –misalnya- anak2ku tiba-tiba menjadi pendiam, pelamun dan puas hanya mendengarkan sepatah dua patah kata2 orangtuanya). Hehe...

Dari bandara Ngurah Rai, segera setelah berkumpul dengan mobil yang berisi Mbak Pin, Mbak Prapti dan Om Komo (begitulah kami memanggil Pak Solichin, salah satu sopir gudang) yang sudah berangkat lewat darat sejak tadi malam, kitapun berniat menuju hotel untuk “ngepos” terlebih dahulu. Bapak yang selamanya tidak pernah terbiasa duduk di kursi penumpang langsung saja pegang stir (kata banyak orang, inilah enaknya kerja sopir sama Bapak, karena kalau pergi sama Bapak, Pak Sopir malah akan lebih sering duduk di kursi penumpang :-D)

Nah! Disinilah kedudulan berawal....
(dan rentetan snare drum yang dipukul getar pun mulai berbunyi sebagai musik latar :-D)

Selama ini keperluan kantor mas Iwan sehari-hari bisa dibilang hanya sebatas saku bajunya, yang berisi komunikator dan pulpen. Maksimal sampe tas ranselnya deh, yang –biasanya- berisi laptop dan bendel2 laporan keuangan bulanannya. Dimanapun dia berada, disitulah dia bekerja. Termasuk siang ini. Sejurus setelah mendarat dan handphone ON lagi, seperti tak putus panggilan telepon dia lakukan (atau terima). Aku sudah terbiasa melihat ini. Sebagai gambaran saja, dia sudah terbiasa menyetir, sambil telepon dijepit oleh telinga dan bahu (dia benci handsfree) dan tangannya sambil menyetir sambil menulis di secarik kertas diatas stir mobil. Kalo saja kampanye melarang berhandphone sambil menyetir sudah benar-benar diterapkan, suamiku tercinta pasti akan sudah tertangkap di jam2 pertama.

Yang aku tidak terbiasa, adalah bahwa hari ini kami di Bali, tentu saja aku buta jalan dan rute. Aku juga kadung tidak terbiasa “kritis” soal jalan bila yang menyetir adalah mas Iwan. Buat apa? Dia sudah bak peta berjalan dan meskipun ini Bali, toh dia sudah beberapa kali ngubek-ngubek Bali dengan menyetir sendiri. Kalo kata iklan : sudah terbukti. :-D

Yang lain masih dengan amazing menikmati nuansa baru atmosfer Bali, dan Mas Iwan masih asyik dengan teleponnya ketika lama kemudian Om Komo bilang “Nggak kebablasen tah boss dalane?” (Nggak kebablasan nih jalannya?)

“Haa??” Si Bapak langsung celingukan lihat pinggir jalan kanan kiri dan seperti baru terkena lemparan batu di bagian yang tepat di otaknya (yaitu di lokus tempat keluarnya mr.insight alias pencerahan), diapun dengan suara meyakinkan mengumumkan,

“Kita tersesat!!!!

-gubraxxx- (ini adalah waktu dimana dalam film kartun atau komik Ninja Boy, kepala semua orang tiba-tiba menghilang dari layar kaca atau buku karena pingsan, dan hanya menyisakan kepala si pembuat ulah dan beberapa garis lengkung-lengkung pendek disekitarnya, tanda baru saja ada gerakan yang mendadak, mengejutkan dan dramatis)

Yang paling panik bereaksi tentu Abe “Gimana niiihhh???”
Bea cuman membeo “Kita tersesat ya?? Ibuk, kita tersesat lhooo”

Welcome to Bali everyone!

Rupanya ketika bertelepon, mas Iwan terlewat melihat bangunan ruko yang dia ingat sebagai penanda dekat tempat menginap kita, dan kita pun sudah jauuuh kebablasan melewati Jl. Bypass Ngurah Rai - Sanur, hampir 20 km dan ditambah lagi jalan kembar yang minim tempat berputar membuat acara tersesatnya menjadi 1 jam lebih! Puas deh Bapak “diomeli” sama dirinya sendiri, dan juga anaknya, dan juga istrinya, dan juga ketawa “maklum” om Komo (yang bagi Bapak pasti terdengar seperti omelan juga).

Karena tak ingin kehilangan dhuhur sampai ke penginapan, makan siangpun cukup beli di drive-thru McDonald dan kita pun bergegas menuju tempat menginap. Omelan untuk Bapak berubah menjadi pujian begitu kita sampai di tempat menginap pilihannya. Berbentuk apartemen dengan 2 kamar, masing-masing dengan kamar mandi dan TV didalamnya, livingroom dengan TV (lagi), dan dengan pantry yang lumayan lengkap, looks perfect!

Sehabis makan, anak-anak langsung kalap demi melihat kolam renang pas didepan kompartemen kita. Membujuk mereka untuk menunggu matahari agak condong kebarat rasanya seperti merangkak naik tebing curam saja beratnya. Begitu terik mereda anak-anak langsung menceburkan diri ke kolam renang. Setelah berenang, lapar lagi, makan lagi, baru anak-anak agak tenang.

Sorenya, habis Ashar kita pergi ke Pantai Kuta. Anak-anak –jelas- kalap lagi! Bapak juga kalap dengan kameranya. Terakhir kali aku kesini 4 tahun lalu, ketika menghadiri pernikahan sepupuku disini. Waktu itu Abe baru 2 tahun dan aku sedang hamil Bea 5 bulan. Tak urung kalimat tasbih meluncur berkali-kali, terutama dari mulut mbak yang baru pertama kali kesini. Seneng juga rasanya melihat mbak sama kalapnya dengan anak-anak :-D

Rencana awal untuk “hanya” duduk2 dan jalan2 di pantai, buyar! Hampir dua jam lamanya kemudian, nyaris maghrib ketika akhirnya aku berhasil “menggeret” anak-anak keluar dari air. Kukira akan gampang mengajak mereka keluar karena sudah cukup lama berenang di pantai (sambil nunggu Bapak yang pingin hunting foto sunset). Toh sebelum ke Kuta mereka juga sudah berenang di hotel. Tetapi ternyata mulutku pun harus berbusa bahkan lebih banyak dari busa deburan ombak sebelum akhirnya mereka mau masuk kemobil lagi. Dohhh!!

Sebelum sampai ke hotel, Bea sudah ketiduran diperjalanan –padahal belum mandi!- dan Abe sudah kelihatan persis seperti pisang goreng, lengket dan coklat gelap. Hahaha. Bea pun terpaksa dimandiin dalam keadaan tidur (can you imagine that??).

Sehabis menidurkan anak-anak yang – pasti- sudah gempor, aku ikut menemani mas Iwan mengantar Om Komo ke Terminal Ubung untuk kemudian kembali ke Surabaya dengan bus patas. Sempat menikmati suasana malam di jalanan sepanjang Bypass Ngurah Rai - Sanur-Denpasar-Ubung, sambil beli kebutuhan logistik di Circle-K terdekat, mampir di RM Padang untuk makan dan bungkus nasi Padang buat mbak2.

Sesampainya di hotel kita pun ikut nggelosor menyusul anak-anak yang sudah terbawa mimpi...mimpi “tersesat” di keindahan Pantai Kuta...

:::::.....

Next!

Day 2 : Baru saja hari kedua kita di Bali, gara-gara soal dudul si Bapak, nasib liburan kita sudah terancam buyar berakhir dan berantakan! Ada apa gerangan, tunggu kelanjutan cerita dudulnya! :-((

(To Be Continued)

Kamis, 24 Januari 2008

[Pamit] It's Gonna Be Our First Roadtrip Holiday Ever :-)

Dari dulu kala, aku sangat mengidamkan suatu saat bisa mengajak anak-anak liburan roadtrip. Maksudku bener-bener liburan dan bener-bener roadtrip!

Bener2 liburan maksudnya, ada waktu lumayan panjang –min 5 hari lah- dan bukan sekedar liburan weekend yang cuma 1-2 hari.

Bener-bener roadtrip maksudnya, ya selama itu kita menyusuri kota demi kota dengan perjalanan darat. Bukannya ambil tiket pesawat, menuju ke suatu kota/hotel/apapun sebagai tempat jujugan, menghabiskan waktu disitu, untuk kemudian pulang lagi dengan pesawat. Melainkan kita semua bermobil menyusuri sepanjang jalan darat yang kita lewati, menikmati suasana kota demi kotanya, mencoba makanan-makanan khas dan menghirup aura udara dari kota satu ke kota lain.

 

Tahun-tahun yang lalu, setiap liburan yang kita lakukan adalah selalu pulang kampung, menghabiskan waktu liburan sekolah Abe ke rumah Kakung/Uti di Tulungagung. Itu karena suami masih menganggap Bea terlalu kecil untuk perjalanan roadtrip yang panjang dan –pastinya- melelahkan.

 

Tahun ini, we’re gonna give ourselves a try. Bea yang sudah 3,5 tahun, dinilai sudah cukup kuat untuk sebuah paket roadtrip seminggu. Abe pun sudah terlalu lama menunggu. Liburan sekolah yang seminggu lebih dan tidak dalam high-season (satu keuntungan sekolah di SD swasta) memberi keuntungan extra, karena terus terang saja, aku males sekali pergi ke tempat2 liburan ketika high-season, misalnya libur akhir tahun kemarin itu. Mending dirumah saja membenamkan diri dengan buku dan internet (sejujurnya, kalo nggak memikirkan anak2, inilah liburan paling favoritku wakakakak) daripada terbenam di lautan sesama pelancong di tempat liburan.

 

Hasil polling ke mbak2 ART menunjukkan bahwa mereka pun memilih ikut. Rencanapun dibuat, dan tujuan ditetapkan : Bali. Si Bapak pun sudah bersiap jadi full-time driver, guide sekaligus sponsor utama (yaay! asyik tabungan ibuk utuh! Hueheheheh don’t we just love him so much??).

 

Dua hari menjelang keberangkatan (rencana Jumat dini hari)....

“Yakin Bea kuat?” mas Iwan adalah salah satu dari berjuta suami2 di dunia ini yang menurut pandangan istrinya, terlalu protektif sama anak-anak.

“Yakin!” dan aku adalah salah satu dari berjuta istri2 yang merasa bahwa anak-anak adalah makhluk Allah yang paling kuat dan gampang beradaptasi, tergantung bagaimana si ibu membiasakannya. Dan musuh kami tentunya adalah sikap over-protektif yang slogan utamanya adalah “Jangan Ini!” dan “Jangan Itu!”. Kami adalah para ibu yang tak akan lelah meneriakkan “Go For It!”, meskipun seringkali terdengar agak naif dan memaksakan. Masalah anak-anak capek, flu atau batuk itu urusan kemudian, kan bisa diobati. :-D

 

Mas Iwan belum yakin... Kelihatan banget kok. Wah bisa-bisa acara liburan roadtrip ke Bali batal berantakan nih... Heran, padahal kan bapaknya “raja jalanan”, kenapa khawatir anaknya capek di jalanan? Tahun lalu kayaknya sudah pernah terjadi kebimbangan yang kaya gini, dan perjalanan ke Jogja pun sudah sukses batal! Kalau begini terus, kapan anak2 bisa jalan2 lihat dunia???

Akhirnya, diambillah jalan tengah. Kita berempat berangkat naik pesawat. Sebelumnya, mbak2 ditemani pak sopir, pergi duluan pake mobil. Sehingga, acara roadtrip kita secara resmi –hallah- baru akan dimulai ketika pesawat yang kita tumpangi dari Surabaya mendarat di Airport Ngurah Rai dan mas Iwan menggantikan posisi pak sopir yang langsung balik lagi ke Surabaya. Nanti, pulangnya barulah kita bisa menikmati rangkaian kota-kota yang terbentang memisahkan Bali-Surabaya. 

“Bisa lumayan menghemat tenaga Bea” kata si Bapak.

Itupun dengan perjanjian, bahwa kalau sewaktu-waktu Bea terlihat dudul karena capek, maka pulangnya Ibuk nggak boleh protes kalau si Bapak memutuskan membeli 3 tiket pesawat Denpasar-Surabaya. Satu untuk Ibuk dan 2 untuk anak-anak. Dan Bapak? Bapak berarti akan roadtrip sendiri bersama mbak2...kan harus nyupirin mobilnya?? &#&(#*!@_*#!@&$%&*$* 

Ya sudahlah...-batin Ibuk-...masih bisa roadtrip selama di Bali. Dari pantai, pedesaan sampai pegunungan, semoga Bea (dan semuanya) sehat-sehat saja. Karena bisa dibilang, Ibuk “mempertaruhkan” pendapat dan stamina anak-anaknya didepan Bapak. Kalau sampai terbukti salah, kayaknya si Bapak akan lebih protektif lagi tuh sama anak-anak. I don’t want that to happen for sure! :-(

Minta doanya ya, besok siang (Sabtu, 26/1/2008) kita berangkat. Semoga liburannya lancar sampai kembali kerumah minggu depan. Hari ini seharian packing karena barang2 dan koper harus berangkat duluan, bersamaan dengan mbak2 dan mobil, nanti malam. Maaf juga kalau seminggu kedepan nggak banyak online. Walaupun suami selalu membawa online-kit nya kemana-mana, tetapi kalo sudah seharian capek sama anak2 main di pantai, pedesaan dan pegunungan, kayaknya kalo ada waktu luang Ibuk bakalan molor aja deh... :-D 


Have a nice week everyone... :-)

:::::.....