Senin, 08 Oktober 2007

Menikah Muda Part 7 : Cerita Roller-Coaster Yang Kuharap Tak Akan Pernah Berakhir

 


Cerita sebelumnya bisa dibaca di Menikah Muda Part 1, Part 2, Part 3, Part 4,  Part 5 , dan Part 6

 

Hemm...seperti juga –aku yakin- semua penulis skenario cerita2 bersambung atau filem2 bersekuel yang lain, episode terakhir selalu membawa beban tersendiri ya...hehe. Untungnya, aku tidak harus bersusah payah mendorong imajinasiku untuk menciptakan sebuah cerita, karena untuk cerita yang satu ini, ALLAH Yang Maha Kuasa sendiri yang ternyata telah menentukan alurnya untukku...memanduku dengan keajaiban-keajaiban yang bahkan semakin ajaib karena kurasakan sendiri dengan segenap hati dan jiwaku...seluruh hidupku hingga saat ini...dalam setiap detik dan setiap detil-nya. Subhanalloh...

 

*****

Semenjak kelahiran Abe hampir 6 tahun yang lalu, roller coaster kehidupan pernikahan kami praktis agak “melandai”. Meminjam istilah orang (bukan istilah saya lho), kami bisa dibilang sudah mapan. Aku sebenarnya kurang prefer dengan istilah “mapan” ini karena memang rupanya banyak orang hanya mengukur kemapanan seseorang dari kondisi ekonomi saja.

 

Bagiku, kata-kata “mapan” seharusnya bermakna jauuuh lebih dalam daripada itu. Dan kami, jelas-jelas aku pribadi setengah menolak disebut mapan, karena jujur, aku tidak mau kehilangan desiran si roller-coaster itu. Aku masih sangat menginginkan insting, kepekaan dan kebutuhanku untuk merasakan liuk-liukan hikmah dalam hidup ini. Nggak tahu ya, rumah tangga yang mapan?? Adakah itu?? Kesannya bagiku kok statis dan membosankan ya??

 

Atau mungkin benar juga kata seorang sepupuku yang selalu komentar bahwa aku selalu lebih suka memilih jalan yang sulit dan berliku daripada jalan yang lempeng dan gampang. Sepupuku ini sering sekali berkomentar begini ketika dari kecil dia melihat –misalnya- aku akan lebih memilih memanjat pohon jambu daripada mengambil buahnya dengan tongkat. Atau ketika ada acara selamatan di rumah nenek dulu, aku akan selalu tiba di dapur dan kemudian terlihat malah asyik melakukan pekerjaan yang justru tidak disukai banyak orang (banyak teman yang sampai sekarang heran ketika mengetahui aku suka sekali memarut kelapa, atau menyetrika, atau cuci2 piring kotor, pokoknya pekerjaan yang kebanyakan orang tidak menyukainya :D). Atau, memilih untuk menikah sehabis lulus SMA, bukannya fokus saja mikir kuliah sembari senang-senangnya bergaul dengan teman sebaya, khas dunia remaja...(sehabis akad nikahku, tanpa bicara sepatah katapun, sepupuku ini hanya memelukku dengan tangis haru dan pandangan matanya menyiratkan “AKU SAMA SEKALI TIDAK HERAN DENGAN KEPUTUSANMU MENIKAH SEKARANG!!!”

 

Entahlah, apa ada hubungannya ya? Hehe... Yang jelas, label “mapan” yang diberikan banyak orang untuk keluarga kami sekarang, bagiku it’s just another challenge, roller-coaster dalam bentuk yang lain...!!

 

BERSYUKUR, JELAS-JELAS SAMA SULITNYA DENGAN BERSABAR...!!!

 

*****

“Ngomong-ngomong, kenapa suamimu menolak untuk mempunyai anak lagi? Padahal kamu mengaku masih ingin hamil dan mempunyai anak lagi?” ini juga pertanyaan yang sering kudapat.

Nah, inilah salah satu bukti bahwa Allah SWT masih menyayangiku. Tanpa diberi ujian, apalah arti sebuah hamba bagi penciptaNya kan? :-)

So it’s all about another roller-coaster in my life.

 

Ketika hamil Abe, itu merupakan saat yang sangat menggembirakan. Selain itu, dari tes awal kehamilan, ternyata ditemukan juga bahwa kadar gula darahku juga merangkak naik tak terkendali. Diabetes Gestasional. Itu vonis dokter untukku. Diabetes kehamilan. Yang katanya hanya akan berlaku selama kehamilan saja dan memang tak mengherankan karena aku memang punya keturunan diabetes dari pihak bapakku. Kata dokter, setelah melahirkan biasanya akan menghilang (walaupun dengan mengalami diabetes kehamilan, maka praktis si ibu akan meningkat resikonya mengidap diabetes mellitus yang menetap).

 

Tetapi rupanya, yang terekam dalam di benak suamiku adalah bagian ini :

Setiap hari selama 9 bulan aku harus menyuntik diriku sendiri dengan insulin. Obat secara oral jelas out of question karena akan membahayakan si janin. Kadang-kadang di waktu tertentu aku harus menyuntik 2 kali sehari. Layaknya seorang junkies, aku harus menenteng alat suntik kemanapun aku pergi, termasuk ke kampus waktu itu. Resiko pecah ketuban dini yang kemudian benar-benar terjadi pada Abe, memaksaku untuk melahirkan secara caesar karena jalan lahir yang sama sekali tidak membuka walaupun air ketuban sudah habis. Resiko si bayi lahir besar (karena terlalu banyak menyerap gula dari darah si ibu) juga terjadi ketika 2,5 tahun kemudian Bea lahir dengan berat badan 4,7 kilogram!! Caesar lagi?? Ya jelaslah!! :D

 

Ketika aku masih teler di ruang operasi pun, suami juga sudah harus menerima kabarn dokter bahwa –sesuai resiko bayi2 yang lahir dari ibu diabetesi- anak-anak lahir kuning dan parah!! Bea malah nyaris harus menerima tranfusi darah karena kadar bilirubinnya yang sangat tinggi!! Anak-anak juga mengalami hipoglikemik begitu lahir. Pankreas mereka yang terbiasa mengeluarkan insulin dalam jumlah banyak untuk menormalkan kadar gula yang tinggi selama dalam kandungan, menjadikan kadar gula mereka drop begitu lahir dan lepas dari si ibu. Bukan rahasia lagi kalau hipoglikemik sangat beresiko untuk menyebabkan koma. Mas Iwan, ternyata cukup trauma.

 

Setelah melahirkan Abe, rupanya si roller-coaster yang bernama “diabetes” ini menghilang dari tubuhku. Tetapi tidak setelah melahirkan Bea. So, aku pun akan naik roller-coaster yang ini untuk seumur hidupku. SubhanAlloh...

 

Tentu, ada masa-masa menghujam ketika di malam-malam insomniaku, aku menangis tersedu-sedu sambil memandangi anak-anakku yang masih balita lelap tertidur. Aku manusia biasa yang sadar tidak punya kendali atas umur, dan menderita penyakit ini membuatku tak urung bertanya-tanya akankah aku bisa mendampingi anak-anak sampai mereka dewasa nanti?? Dan tentu saja, ada masa-masa menggetarkan ketika selesai menghujam, ada semacam perasaan trance dihatiku, kepasrahan yang begitu dalam pada Sang Pengatur Hidup, setelah lebih dalam aku bisa menyadari apa makna sebuah penyakit bagi manusia. Penyakit adalah ujian dari Allah SWT tanda Sang Pencipta masih menyayangi kita. Penyakit akan membuat kita lebih sulit untuk meninggalkanNya. Penyakit yang diterima dengan ikhlas akan meluruhkan dosa-dosa kita....Subhanalloooohh Ya Allah...

 

Singkat cerita, walaupun sekarang kondisi tubuhku kurasa fit sekalipun, suami dengan tanpa kompromi menolak untuk memberiku ijin hamil kembali. Keputusannya ini didukung tak kurang oleh barisan dokter kandungan, dokter anak, mertua, dan –paling tak bisa kubantah- Ibukku sendiri... Ibarat orang negosiasi, posisiku untuk ingin hamil kembali sangat lemah.. :D

 

Tapi bahkan Abe dan Bea pun sudah lebih dari cukup bagi kami. Sepasang laki-laki dan perempuan pula. Apalagi mengingat penantian untuk Abe yang panjang, rasanya akan terdengar sedikit “serakah” dan kurang bersyukur kalau aku harus selalu meneteskan air liur tiap kali melihat teman yang mempunyai anak lebih dari 2 kan? Inilah takdir Allah...

Yang agak dudul, suami percaya pasti ada alasan kenapa dulu si bapak misterius dari Mekkah hanya meminta 2 nama untuk dipakai sebagai nama anak-anak kami (baca kisah si bapak misterius ini disini). Hehehe...

 

*****

 

Seiring waktu, banyak yang bertanya padaku, akankah aku merekomendasikan seseorang untuk menikah muda? Setelah semua yang telah aku lalui?

Jujur, sampai detik inipun, aku masih terjebak diantara jawaban “Tidak” dan “Ya”

 

“TIDAK”, karena sungguh, mau tidak mau, ini adalah sebuah keputusan yang membawa kepada perjuangan yang tidak mudah dan resiko yang besar (walaupun semua pernikahan pasti juga begitu ya).

 

Aku juga tidak akan bisa merumuskan “formula rahasia” pernikahan kami sampai saat ini. Kurasa karena kita berduapun masih terus mencari, dan bahan komposisi formulanya akan terlalu banyak : Takdir Allah (tentu saja!), keberuntunganku menemukan orang yang tepat (takdir Allah juga ya?), doa2 lirih nan tulus dari Ibundaku dan dari benakku sendiri yang tanpa terasa terucap tiap detik ketika dari kecil lagi aku memimpikan untuk menikah muda (yang karena takdir Allah juga terkabulkan), dan masih buanyakkk lagi!! Jadi menyarankan seseorang untuk menikah muda begitu saja, menurutku kurang bijaksana juga (walaupun sekali lagi aku juga paham bahwa secara syariat agama Islam, memang disarankan untuk menyegerakan menikah).

 

“YA”, karena demi Allah, ini adalah sebuah petualangan yang sangat menggetarkan hati yang aku yakin, setelah merasakan sendiri, tak akan ada seorangpun yang akan menolaknya! Seperti ada bagian dalam diriku yang seakan-akan ingin mengajak semua orang yang kutemui untuk bisa mendapatkan kesempatan merasakan petualangan ajaib dan penemuan banyak hal luar biasa didalamnya. Resiko besar yang menyertainya, secara mengejutkan ternyata membawaku kepada petualangan yang lebih seru dan menggetarkan hati lagi! Kebesaran Allah ada dimana-mana!! Di setiap waktu!!

Dan hikmahnya dalam hidup...masyaAllah...hikmah yang bisa kuambil selama ini tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya! Bergulung-gulung ombak hikmah berupa pelajaran hidup... Bergunung-gunung tumpukan hikmah berupa kenikmatan hidup...

 

Maha Suci Allah..!!

 

*****

Ini mungkin akhir dari postinganku tentang pengalamanku menikah di usia muda. Tetapi, cerita kami “Menikah Muda” ini, kuharap tidak akan pernah berakhir. Kami berdua ingin “Menikah Tua” juga bersama...naik roller-coaster  selama mungkin berdua... :D

 

Dalam keremangan doa malam kami, hanya ada satu ending yang akan sanggup kami terima...

 

Kami bisa tetap menjadi jodoh didunia.....dan juga di akhirat nanti..... ^_^

(Aminn Ya Allahumma Amiinnn...)

 

*****

Untuk pembaca, teman-teman dan sahabat-sahabatku, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (kalian sama-sama nyata-nya buatku), yang telah banyak memberikan dukungan, komentar, apapun itu...terimakasih!!

 

Hatiku kini sudah menjadi milik kalian juga, dan cerita ini jelas-jelas telah kita tulis bersama-sama.... ^_^

 

(Tidak Bersambung Lagi) :-D

 

 

 

90 komentar:

  1. mbak wahida, saya baca semua ceritanya. mengagumkan. saya percaya kalau rahmat tuhan itu datang pada orang yang memang mempersiapkan diri untuk menerimanya. terima kasih atas sharing ini. selamat merayakan idul fitri bersama keluarga. semoga semua kembali fitri, kembali suci - damai di hati dan di bumi bagi semua makhluk ciptaanNya. salam,y.

    BalasHapus
  2. ...dan komentar mas yanuar membuktikan bahwa rahmat Tuhan akan sampai kemana saja...berantai, bersambung, bertularan tiada hentinya...

    terimakasih banyak mas, komentar Anda selalu saja berhasil membesarkan hati...selamat idul fitri juga, apa tahun ini idul fitri benar-benar akan jauh dari si kecil?? insyaalloh berkumpul atau tidak, sama-sama akan menyimpan hikmah.. :-)

    BalasHapus
  3. Lama saya tercenung membaca akhir tulisan mb wahida sambil megingat kembali tulisan2 sebelumnya. Kalau sebelumnya saya menyimpan banyak komentar yang ingin saya utarakan, kini tiba-tiba semuanya menguap entah kemana. Mau tidak mau..saya membayangkan kisah hidup saya sendiri.

    Saya menikah pada usia sekitar 6 tahun di atas usia mb wahida. Saya sama sekali tidak merasa terlambat menikah, karena saat itulah kesiapan saya hadir. Namun terus terang..saya harus angkat topi untuk kesiapan mb Wahida dan suami menikah dalam usia yang sangat muda.

    Saya mengenal banyak teman perempuan yang menikah muda sepantaran mb Wahida, tapi suami mereka sudah berusia jauh di atas mereka. Sedangkan mb wahida dan mas Iwan, boleh dikatakan sebaya. Inilah yang membuat kekaguman saya timbul.

    Usia putri sulung saya sekarang yg sudah 17 th lebih beberapa bulan. Kalau dia menikah seusia mb Wahida, berarti saya tak lama lagi akan punya mantu nih (he..he...ibu-nya belum siap lho).

    Apakah saya setuju/menolak ide menikah muda ? Saya lebih memilih tidak menjawab ya atau tidak secara umum, karena bagi saya hal ini sangat tergantung kepada mereka akan menjalani. Dan ini sifatnya sangat unik bagi setiap individu.

    Eh..ternyata panjang juga nih komentar saya. Anyway, trims atas sharing pengalaman hidup yang sangat menarik dan penuh liku ini. It seems that the distance between us become shorter and shorter. Big hugs for you..

    BalasHapus
  4. terima kasih, mbak.

    idul fitri, seperti halnya natal, sudah menjadi tradisi bagi keluarga besar kami berdua karena kami dari dua keluarga yang beragam agama dan keyakinannya. jadi meski saya sekeluarga penganut katolik, idul fitri selalu punya arti tersendiri, karena disanalah kami semua yang tersebar-sebar ini bisa berkumpul, berbagi kabar, dan tentu berbagi rasa. kami percaya bahwa rahmat tuhan yang diwartakan melalui agama adalah jalan ikhtiar yang membawa umat manusia ini menemukan kemanusiaannya dalam hubungannya dengan tuhan dan sesamanya.

    melihat keadaan kami (saya, ira dan kedua anak kami) yang kini berjauhan, mbak wahida benar, mudah-mudahan baik berkumpul ataupun tidak, keduanya akan menyimpan hikmah. kami sebenarnya ingin merayakan misa natal bersama-sama tahun ini --entah di inggris atau di indonesia. tetapi nampaknya tidak bisa karena saya harus menyelesaikan thesis saya. semoga tuhan segera memberi jalan agar kami bisa segera berkumpul lagi, entah di manchester, atau di solo/yogya. sekali lagi selamat merayakan idul fitri 1 syawal 1428H. salam kenal buat mas iwan dan buat kedua keponakan - abe dan bea.

    salam, y.

    BalasHapus
  5. Ujian beruntun memang mengajarkan agar sabar dan bersyukur ya Mbak. Salut dan selamat untuk Mbak & suami yang telah berhasil melewatinya, meski tentunya masih akan ada rollercoaster berikutnya (dan nggak takut kan? Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan). Untuk Abe & Bea, kalian beruntung terlahir dari orangtua yang semangat juangnya tinggi dan selalu mencari hikmah di balik halamgan.

    BalasHapus
  6. Syanti Dewi Erawati8 Oktober 2007 pukul 14.51

    salut banget deh mba.. ketabahan yg membuahkan hasil setelah melalui banyak ujian sekarang tinggal menikmati perjuangan itu, rahasia Illahi ...

    baca posingan kali ini membuat tie berpikir.... mungkin ketika mba menjalaninya dulu ..
    selalu menerima semua ujian dengan sabar sehingga mba lulus ujian hiii , dan teringat akan pengalaman pahit yg tie rasakan mudah2an dibalik semua yg tie jalani ada rahasia Illahi yg indah untuk tie dan akang.... amiin...

    sekalian mba..selamet hari raya idul fitri mohon maaf lahir bathin yah...

    BalasHapus
  7. Huaaa..
    *ceritanya terharu*

    BalasHapus
  8. Baca dr depan ahh... :)

    BalasHapus
  9. duhhh saya kok juga baru kepikir usia k'lila sekarang udah 17 ya mbak...hehe kesannya cerita saya kok jadi rada horor menakuti gini hihihi....
    walaupun dulu ibu saya sendiri menikah di usia muda (bahkan lebih muda dari saya), masalah menerima menantu, ibu mana sih yang siap menyerahkan anaknya kepaa orang lain?? saya pun tidak akan menjamin, di usia Bea 17 tahun nanti, apakah saya akan lebih siap dari mbak Lily... hehe :-)

    BalasHapus
  10. betul sekali mbak, ini juga yang menjadi poin tulisan saya...walaupun saya tahu bahwa dalam syariat agama kita dianjurkan untuk menyegerakan menikah, tetapi rasanya kurang bijaksana juga kalau kita lantas menganjurkan begitu saja tanpa mempertimbangkan individu yang menjalaninya...

    saya pribadi tidak akan sanggup memikul tanggung jawab kalau misalnya seseorang mengikuti jejak saya dan suami (atas saran saya, misalnya) dan ternyata apa yang terjadi di kemudian hari tidak seperti yang diharapkan...

    BalasHapus
  11. lhooooooooo koooqqqq????? *protes keras*
    duh mbaaakkk padahal ini yang kutunggu-tunggu lhooooooo :o

    BalasHapus
  12. saya doakan yang terbaik untuk mas yanuar dan keluarga... :-) thesis mas yang unik memang pantas mendapat perjuangan yang berliku kan? :-D

    salam saya untuk keluarga, sekali lagi terimakasih.. :-)

    BalasHapus
  13. terimakasih doanya La, begitu juga dengan rumah tangga Lala berdua, saya selalu merasa syahdu kalau melihat pasangan yang baru menikah seperti kalian...mengingatkan masa-masa indah (dan tidak indah :D) yang ternyata sekian tahun kemudian menjadi cerita harta karun berdua yang sangat berharga...

    kamu baru saja memasuki roller-coastermu La, just enjoy your ride with your beloved ones...*hug* :-) I wish you all the best..

    BalasHapus
  14. insyaAlloh pasti tie...itu janji Allah yang tak akan teringkari...you just need to believe...

    selamat idul fitri juga buat syantie sekeluarga, mohon maaf lahir dan batin, salam kami sekeluarga dari surabaya *hug*

    BalasHapus
  15. salut, hanya ada segelintir laki-laki yang punya kepekaan untuk bisa merasa dan mengungkapkan rasa haru, seperti wahyu... :-)

    terimakasih :-)

    BalasHapus
  16. duuhhhh semoga tyas diberi kesabaran...karena saya kurang berbakat kalo disuruh menulis cerita yang singkat dan pendek :-(

    terimakasih perhatiannya ya tyas.. :-)

    BalasHapus
  17. (Tidak Bersambung Lagi) :-D
    huaaa...... mama it's over....
    (biasanya pake tamat atau the end atau sampai jumpa, ini ada satu lagi tidak bersambung lagi=kalo ada produser sinetron bisa dipake dijiplak)

    BalasHapus
  18. (Tidak Bersambung Lagi) :-D
    huaaa...... mama it's over....
    (biasanya pake tamat atau the end atau sampai jumpa, ini ada satu lagi tidak bersambung lagi=kalo ada produser sinetron bisa dipake dijiplak)

    BalasHapus
  19. yakin, pasti kapan kapan ada episode lanjutannya

    BalasHapus
  20. wah berarti harus cepat-cepat didaftarkan di komisi HAKI dong ya mas..? hehe

    BalasHapus
  21. *gubrax*

    duhhhhh...... :-S

    BalasHapus
  22. lho koqq....? *dilarang protes*
    Ternyata setelah ditulis komentar saya banyak juga bukan ? Komentar yang lain biar saya sampaikan lain kali. Sedikit demi sedikit...seperti bayar kredit, gitu (he..he..)

    BalasHapus
  23. Yulyani "Iweddudul" Dewi8 Oktober 2007 pukul 21.38

    MENIKAH MUDA ITU NIKMAT BIAR BERLUKU TAPI BANYAK BAROKAHNYA karena menjauhi mudharatnya mba (dari pada berbuat yang haraml wong yang halal mudah kok ya mba ) hehehe kalo masalah semua penikahan pasti mendulang badai tapi dnegan percaya diri dan saling mendukung badai itu pasti berlalu khan ;)

    BalasHapus
  24. tya sampe spechless nie..pokoke salut buat mbak ama mas Iwan yg mampu meredam egoisme masing2..sehingga masih mampu menjalani kehidupan pernikahan yg penuh liku, dr awal menikah (usia muda) hingga saat ini dan mudah2an hingga maut memisahkan...:-) amiiin amiiiiin....

    BalasHapus
  25. *~yulianti ismail~*9 Oktober 2007 pukul 10.35

    Masya Allah, salut buat Mba dan suami, semoga menjadi samara selalu ya, dan bahagia dunia akhirat.

    BalasHapus
  26. ini bener-bener penyiksaan...huehehehehe

    jadi, siapa nih yang jadi tukang kreditnya? aku atau mbak lily hayo..? :b

    BalasHapus
  27. terimakasih dukungannya mbak Dewi... :-)

    BalasHapus
  28. thx doanya adik cantik, semoga mautpun tak mampu memisahkan kita berdua...amin :-)

    BalasHapus
  29. terimakasih banyak mbak Yuli...sungguh dukungan yang membesarkan hati :-) aminn

    BalasHapus
  30. Aduh ternyata dari cerita-ceritamu aku gak nyangka dibalik semua itu masih ada ujian yg lain...yaitu saat mengandung mengalami diabetes gestasional...bener-bener gak kebayang...Kamu begitu kuat aku kagum banget. Insya Allah kita semua masih diberi kesempatan Allah untuk membesarkan anak-anak tercinta sampai menjadi orang yg berguna ...amin.....

    BalasHapus
  31. amiinnnn...kita hanya menjalankan cerita yang sudah ditulis Yang Maha Kuasa ya mbak...terimakasih.. dan selamat hari raya juga, mohon maaf lahir batin untuk mbak irma sekeluarga :-)

    maaf lama baru bisa reply, ini baru aja bisa online setelah seminggu hectic dengan acara mudik dan lebaran :-)

    BalasHapus
  32. Menjalani hidup memang berliku2..jalan yg harus ditempuhnya pun ada kerikil ada juga yg sdh beraspal...Tapi menjalani hidup dalam petualangan eRTe memang mencengangkan,mengagumkan dan mendebarkan juga mengasyikan dan menggembirakan (kumplit deh !)..Setiap yg kita lalui baik itu kebahagiaan maupun kesedihan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umatNya.. !! Selamat menikmati hidup berumah tangga seperti roller coaster ya mbak..meliuk2 menikmati setiap debaran jantung dalam kebahagiaan. TFS Semoga kita tetap bisa menjadi sahabat dunia maya di MP ya..!!! *hugh*

    BalasHapus
  33. duhhhh terimakasih banyak mbak lussy...kita semua sama2 dalam perjalanan perjuangan dan pembelajaran dalam hidup ini...saya selama ini diam2 juga belajar banyakkkk dari hidup mbak lussy lewat blog2nya, tentang orangtuamu, adik2mu, hidupmu, semua menyimpan hikmah yang besar buat saya pribadi...sekali lagi terimakasih

    mbak lussy jelas2 salah satu teman yang tumbuh semakin dekat dihati saya walaupun hanya lewat MP ini *hug terharu* ^_^

    BalasHapus
  34. wow..., tidak banyak yang sanggup melewati semua ini di usia muda, apalagi dengan kondisi belum punya pekerjaan tetap. Terimakasih buat pengalamannya, sungguh ini jadi pelajaran hidup yang berarti sekali. Selamat Hari Raya Idul Fitri.

    BalasHapus
  35. eehhh pengantin baru apakabar? :D
    ada pasangan yang memutuskan menikah setelah matang, ada pula pasangan yang matang setelah menjalani pernikahan, "doing after learning" dan "learning by doing" menurutku sama saja Bet, bagaimanapun marriage is one big challenge for every person commited to :-)
    terimakasih ya :-)

    BalasHapus
  36. Ibu satu ini emang TOB.. pas jaman kuliah dulu disaat aku dan teman2 lain sibuk rentang-renteng , lirak sana sini..dia sudah punya gandengan sehidup semati. sering ngilang krn "sibuk"dg yayangnya..dan menikah menjadi pilihannya. *yg ga mungkin bgt aku lakukan krn aku masi suka TP saat itu*hehehe...

    BalasHapus
  37. alaaah widaa....*towel wida dengan genit* kowe lak yo ngono to ndhisik??? hihihihihihi *wink*

    hehe becanda lho (buat suaminya wida...) heh heh heh

    trims ya wid, kamu dulu biarpun cuma sekampus sebentar sama aku, tapi ternyata perhatian juga ya, hehe...thx juga udah ninggal komentar, secara kamu juga semacam "saksi hidup" (halah bahasane!) proses pernikahanku dulu... *i am not gonna cry, you know...hiksss*

    :-)

    BalasHapus
  38. duh...aku juga jadi tersentuh sama komentarnya nih mbak... *hug* terimakasih ya :-)

    BalasHapus
  39. all about love..... terimakasi dah berbagi mbak... malam ini saya menmbacanya sampai selesai

    BalasHapus
  40. sama-sama bli :-)

    iya tau kok, sampe ngetik komentarnya dudul ejaannya...pertanda bli sudah melolo gara2 maksa baca ceritaku *kasian...* makasih ya bli, coba bli Gede adalah ibu2 gitu, pasti udah dikasi tuliasan *hug* gini....wakakakakakakak

    BalasHapus
  41. Setelah berbulan2... Akhirnya tamat juga aku baca critamu, mbak :D...
    and I love it!!
    banyak banget pelajaran yang bisa kuambil, terutama dlm mngambil sikap thd suami *malu deh*.
    Very very inspiring deh pokoknya!!...
    salut untuk mbak & mas... Aku juga meng amini doanya (yang baris2 terakhir)... Dan doa yang sama kupanjatkan untuk aku & suamiki tentunya :D
    amiinnn...

    BalasHapus
  42. suhanalloh...yang juga mengagumkan adalah kesabaran dan ketelatenan Mbak untuk membaca ceirta ini...sampe berulan-bulan rek! terimakasih banyak...harapan ku juga semoga bermanfaat... :-)

    semoga rumah tangga Mbak selalu mendapat karunia dan berkah dari Allah SWT dan semoga menjadi jodoh dunia akhirat, amiinnn **hug* :-)

    BalasHapus
  43. Berbulan2nya itu gara2 aku ga ol aja kok mbak... Bukan mbacanya!... Bacanya sih cuma dlm itungan menit. Hihi...
    Makasih yo mbake...
    *hug* juga!! :D

    BalasHapus
  44. huehehehe okeeeee **bersyukur karena nggak jadi menyusahkan orang** :-)

    BalasHapus
  45. Ga apa bu.... allah swt sepertinya sangat sayang sama ibu.... sehingga terus memberi ujian.... untuk lebih meningkatkan lagi keridloan ibu pada-Nya. (jadi punya temen sesama diabetes.... aku sjk umur 30 th).... semoga kita mau terus berupaya dan bersabar menjalaninya.

    BalasHapus
  46. wahida ariffianti29 Maret 2008 pukul 20.49

    wah, toss dulu kalo gitu Pak :-D
    kalo ada dokter yang diabetesi gini, suka bandel juga gak Pak?? :-)

    iya, butuh waktu lama sebelum akhirnya saya bisa mensyukuri penyakit ini Pak... :-)
    wah, ini kerja rodi ya, baca berlama-lama cerita pernikahan saya 1-7 ??? :-D terimakasih banyak sudah sudi membaca...dan berkomentar! :-)

    BalasHapus
  47. dokter juga manusia.... bandel juga... sampai dokterku (istriku).... sering mlotot saking sayang sama suaminya. cerita ibu sangat menarik.... dan bisa bikin yang bacanya penasaran.... (asal jangan jadi arwah penasaran).... bahkan aku ingin menunjukkannya pada anak-anak dan istri. (seperti kisah tak sampai....ku).... banyak pengalaman dan pengetahuan yang ibu bagi mll blog-blognya. (aku koq jadi lebih seneng membaca dibanding menulis ya???)

    BalasHapus
  48. wahida ariffianti30 Maret 2008 pukul 02.40

    waduuhhhh malu saya Pak, masak anak istri semua disuruh baca ini, hihihihi :-D

    sebenarnya awalnya gara2 harus banyak cerita setiap kenalan seseorang Pak, makanya daripada capek2, saya tulis saja, pampang disini... :-D

    salam untuk seluruh keluarga, dan memang kok ya, rasanya semakin cerewet pasangan mengingatkan kita untuk disiplin, semakin sebal lah kita, sekaligus juga menunjukkan semakin sayangnya mereka kepada kita... :-)

    BalasHapus
  49. wahida ariffianti17 Mei 2008 pukul 17.25

    copy paste?? kalo menurut Tyka itu adalah sama dengan mengambil manfaat, tentu saja boleh, monggo lho... :-)

    terimakasih doanya Tyka, doa yang sama buat kamu ya.. :-)

    BalasHapus
  50. mbak... kagum neh ama cerita serialnya :D hehe salam kenal ya :)

    BalasHapus
  51. wahida ariffianti19 Mei 2008 pukul 15.24

    salam kenal juga shamam...wah namanya indah sekali lhoo.. :-)

    makasih banyak sudah menyempatkan baca ya..hehe :-)

    BalasHapus
  52. Subhanallah...... kereeenn bangett Mbak cerita perjalanan hidup 'nikah muda' nya sangat menyentuh, dan terharu smbl gregetan membacanya ^__^ *secara masih single =))* salam knal yaa Mbak, sun sayang tuk anak-anaknya yg ganteng dan cantik (Abe & Bea) :)

    BalasHapus
  53. wahida ariffianti25 Mei 2008 pukul 20.25

    subhanalloh... aku amazing juga dengan reaksi diah... :-)
    makasih sudah menyempatkan mampir, biar single tapi udah gregetan membaca tentang pernikahan, hehe semoga Allah memilihkan jodoh terbaik untuk diah, aminnn :-)
    iya, salam balik untuk tante diah **abe sampe bingung karena kebetulan dia punya banyak 'tante diah' hehehehe** :-D

    BalasHapus
  54. tante shamam pasti baru satu kan? hehe peluk cium buat A&B (singkatan Abe & Bea) hehe

    BalasHapus
  55. wahida ariffianti25 Mei 2008 pukul 20.45

    hahahaha iya! namanya unik banget... :-)
    ah mau mampir ah ke tante shamam... :-D

    BalasHapus
  56. salam Mbak, seriiiiiing deh liat hedsotnya. Baru sekarang masuk kemari, dan masya Allah....ceritanya!!!
    very inspiring!!
    terima kasih banyak ya sudah berbagi....
    mau sering dateng lagi aaaah ^_^
    salam kenal untuk Abe en Bea dari Tante Adjeng dan Adek Chemy :-)

    BalasHapus
  57. wahida ariffianti1 Juni 2008 pukul 18.19

    aduh akhirnya mampir juga ya.. hihihi saya malah belum pernah mampir kesitu nih.. :-)
    cerita2 disini hanyalah cerita keseharian kok... :-)
    makasih banyak, dan salam kenal juga tante Adjeng dan adek Chemy... dari headshot aja udah kliatan lucunya si adek hehe...

    BalasHapus
  58. subhanallah ... mbak baru saja rampung baca serial newly wed ini 1-7 usai tracing link-mu dari Komunitas Rindu Tanah Suci, nduk ...

    mbak terharu bener ... luar biasa cita-cita nekadnya ... dan mbak juga yakin bahwa Allah itu tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang memiliki cita-cita mulia ... bukankah menanamkan sebuah cita-cita untuk menikah saja sudah berpahala kebaikan ...

    kisah2 "ajaib"mu di tanah suci saat haji pertamamu ... hmmm ... membuat mbak makin meyakini keghaiban-Nya ... mungkin ... dia itu Nabi Khidir ... mungkin dia itu ... entahlah ... wallahu'alam bissawab ... yang pasti agregately ... kisahmu ini indah sekali :-)

    *dibukuin aja nduk ... entitled: "Nikah Muda, Siapa Takut" hehe*

    BalasHapus
  59. wahida ariffianti10 Juni 2008 pukul 15.24

    duhhhh komentar Mbak Ratna itu selalu membesarkan hati ya...semoga kepalaku nggak ikut besar hehehe suwun nggih mbakne...

    yahhh kalo sebagai yang menjalani mungkin semua terasa mengalir saja Mbak, tapi memang in the end of the day, buanyakkk sekali yang harus kami syukuri...
    tentang dugaan siapa yang kami temui di tanah suci itu, saya setuju kalo itu memang bentuk kegaiban Allah, makanya kami nggak mau mengira-ngira, biarlah itu menjadi rahasia-Nya saja

    dibukukan? hehehe sudah banyak yang menyarankan begitu...wah tapi ada nggak penerbit yang berminat ya?? hehehehe

    BalasHapus
  60. pernah nyoba gak nduk? gaya menulismu ini meluncur dan asyik ... mbak yakin pasti ada penerbit yang tertarik :-) sekarang siapin aja dulu dalam satu file. kan pastinya gak cukup part 1-7 ... tambahin dengan sejuta pengalaman yang belum sempet di-share dalam serial seru 1-7 ... piye? ayo ah nduk ... pasti bea & abe kelak bangga lho ...

    motivasi mbak pingin nulis memoar haji juga salah satunya supaya bisa "berkomunikasi" dengan keturunan mbak yang tidak akan semapt mbak temui kelak ... paling tidak mereka akan baca pengalaman sederhana leluhurnya ini ... begitu pula dengan anak-cucu-cicit kedua permatamu itu ... pasti mereka bangga dan haru membaca kisah petualangan seru buyut mereka ...

    ya ya ya ya nduk ... seriusin ya ... di MP ini banyak penulis senior yang bisa dimintai bantuan untuk menilai tulisan kita sebelum meluncur ke penerbit. mbak yakin, modal-mu sudah besar (gaya dan tema cerita) ... ayolah nduk ... nanti tak info sapa2 yang bisa dimintai bantuan untuk mbaca ya :-)

    semangggggaaaattt!!!

    BalasHapus
  61. wahida ariffianti11 Juni 2008 pukul 06.50

    **cuma bisa melongo-longo**

    oh ya ya..**masih melongo manggut2** ya..ya..insyaallah mbak.... **si mbak pintar sekali memberi semangatnya**

    BalasHapus
  62. wahida ariffianti11 Juni 2008 pukul 06.50

    duuhh ini sangat menginspirasi.... :-)

    BalasHapus
  63. dhadhine piye nduk? wis ... saiki dikumpulke sing rapi ... terus ditoto ... kerahkan bakatmu yang disadari maupun tidak ... poles dikit2 ... mbak yakin bener ada penerbit yang tertarik ... bismillah saja nduk ...

    BalasHapus
  64. Akhirnya selesai sudah bagian 7-nya. Gimana kalo buat kisah bersambung lagi...?. Hanya saja saya kagum bercampur heran yang amat sangat he he. Masih muda banyak sekali pencapaian yang luar biasa. Tetapi dalam pencapaian itu banyak juga ditemui kisah mengharukan yang terjadi --seperti dalam episode 7 ini---. Ternyata Mba Wahida ini seangkatan dengan saya ya 95-ers. Tp anak saya baru 2,5 th.
    Sampai sekarang saya masih mendapati kesan Mba sebagai seorang yang meletup-;etup keinginannya, tantangan-holics, suka tantangan.
    Istri saya selalu menasehati saya untuk selalu berhati-hati dalam segala hal; karena--katanya-- sekarang tubuh saya bukanlah milik saya sendiri; tetapi istri saya, anak saya juga akan merasakan kesedihan yang sama apabila saya sakit. Pun demikian dengan istri. Saya termasuk orang yang mikir2 panjang apabila ada keinginan nambah anak. Kecintaan terhadap istri saya, masa penantian di ruang isolasi persalinan anak pertama ----yang ternyata kehamilannya pre eclamsia--- agak membuat trauma untuk persalinan berikutnya. Alhamdulillah saya mendapat istri yang tangguh menghadapi rasa sakit, shg tetap bersalin normal.
    Tetapi kecintaan terhadap istri juga, Alhamdulillah sekarang hamil yang kedua. Doakan ya kelahirannya lancar

    BalasHapus
  65. mbak.. ternyata aku cuma baca sampe episode 2, 3 sampe akhir baru aku kelarin kemarin karna slama ini aku suka baca blog nya dari postingan terbaru baru ke prev gitu.


    sedih yang menggigit, sedikit sesak nafas karna konflik batin dan sujud syukur yg dalam atas nikmat yang diberikan oleh-NYA.. smua akan membuat kita smua makin dewasa ya mbak.. bagi kaum yang berfikir tentunya..

    huff.. aku no komen lagi untuk serial menikah muda mbak.. karna ternyata teriakan tarzanku di part 1 ato 2 itu ga mewakili seluruh perasaan. ga cukup hanya "pengen nikaaah" yg terlontar karena semestinya banyaaaaaaaaaaaaaaak yang harus di persiapkan ya? dan mungkin aku hanya punya tekad aja untuk saat ini..

    mencoba menikmati roller-coasterku sendiri .. :-)

    BalasHapus
  66. Dulu juga pernah punya pikiran begitu, tapi ya...sampai sekarang belum juga...hehehehehe

    BalasHapus
  67. Alhamdulillah selesai sudah membaca novel mini yang indah di dunia maya.
    *tersenyum sambil meluruskan punggung* (pegeeel bow..pijitin dong Bu..;p)

    Hanya do'a yang bisa kutitip untuk saudariku disini :
    "Semoga Allah selalu menaungi keberkahan dalam rumah tangga kalian, menjadikannya sbg panutan keluarga Rabbani bagi masyarakat, dan menumbuhkan keturunan tangguh yang siap berjuang bagi kemuliaan dienul Islam." InsyaAllah...

    *peluk Wahida*

    BalasHapus
  68. aduh vienna...kamulah yang justru buat aku terharu dengan kmenmu **ngelap airmata sambil mijitin punggung vienna yang udah keras kaya papan** ^_^

    terimakasih atas doa yang indah...bener-bener indahh **mengamini sekuat tenaga**

    **berpelukan dengan masih sambil mijit2 punggung vienna**

    BalasHapus
  69. aaaahhhhhhhh aku jadi kangen mbak ratnaaaaaaaaaaaaaa

    BalasHapus
  70. **aduh maap replynya telat banget krn baru baca! long story.. :-(**

    bersambung lagi?? oh noo kasian yang baca hehe
    terimakasih apresiasinya mas
    dan subhanallah...cerita kehadiran anandamu ternyata juga berliku ya, titip salam untuk istrinya dan semoga kehamilan kali ini bisa berjalan dengan baik, aminnn

    memang benar tubuh kita sekarang bukan milik kita sendiri, kata-kata yang bagus :-)

    BalasHapus
  71. benar Cha, tekad yang sekuat baja bukan berarti tanpa resiko dan konsekuensi
    itu yang harus kita sadari
    kalo kita sudah siap, maka tak akan ada kata menyesal walaupun mungkin semua berjalan tidak seperti yang kita bayangkan, kita akan tetap siap menerimanya dengan ikhlas dan penuh hikmah

    doaku untuk Ocha ya, semoga kamu selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidup *walaupun yang terbaik itu belum tentu selalu hal yang kita inginkan** Allah akan menjadi pengatur dan sutradara terbaik buat kita, kita tinggal menikmati peran kita :-)

    **peluk juga buat Ocha**

    BalasHapus
  72. hehehehe itu roller-coaster a la dirimu mas, jadi nikmati juga :-)

    BalasHapus
  73. yaah..tamat deh :(
    Da, makasih banget... aku beruntung bisa ikut baca seluruh postingan Menikah Muda-mu ini. Banyak sekali pelajaran dan hikmah yg bisa aku ambil. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yg berlipat.. *hugs lagiii*

    BalasHapus
  74. lho??? hahahaha dudul, sing nulis yo kesel barang rek :-b

    **senyum**
    sama-sama mbak...semoga tulisan sekelumit ini bener2 bisa membawa manfaat...terimakasih doanya, aminnnnn...... I just couldn't help but love you more now :-)

    **hugs back till we drop**

    BalasHapus
  75. Makasih udah nge-link salah satu episode kisah menikah mudamu ini di jurnal yang terkini, jadi aku sempet baca semua episodenya tanpa harus merasakan deg-degan, penasaran, harap2 cemas, pengen marah, ngirim2 PM, telepon sampe ingin saat itu juga terbang ke Surabaya untuk memaksa dirimu segera posting episode berikutnya di tiap episode kisah itu seperti yang mungkin dialami oleh temen-temen yang ngikutin kisah ini saat episode2 kisah ini diposting *hhhhhh....narik nafas dulu ah....kalimatnya puanjang banget sih barusan* :p

    Secara keseluruhan, kisahmu hanya bisa membuat aku berulang-ulang menyebut kebesaran Allah SWT. Kisah (baca:skenario) yang luar biasa (maaf, aku nggak nemu kata lain yang lebih sepadan, jadi di episode lain aku juga menyebut kata ini) yang disediakan oleh Allah SWT untuk orang-orang yang luar biasa.


    BalasHapus
  76. wahida ariffianti25 Maret 2009 pukul 13.54

    **iya mbak, aku juga berpikir takjub, itu kalimat yang sangat panjang yang barusan kauucapkan.....hehe**

    semua skenario adalah luar biasa mbak, aku percaya itu...tinggal bagaimana yang menjalaninya bisa menggali berkah dan memaknai setiap langkah yang menjadi pilihannya itu juga....selama ini kami selalu berusaha belajar dari apapun yang ada didepan kita, termasuk keluarga2 mana yang bisa dicontoh (seperti kemesraan mb wiwie-suami contohnya heuheuh beneran loh, bukan hanya karena foto headshot, aku bisa merasakan itu dengan jelas)

    ah...jadi ngelantur mbak..... :-D
    jadi kapan ke surabaya?? hueheuhue

    BalasHapus
  77. mbaaak..... aku membaca lagi serial ini lohhh.. hehe.. serial yang mengenalkan aku padamuuu... hiks hiks dan masih saja terharu membacanyaa... :D

    eh eh trnyata angkatan 95 toh. beda 5 thn ama aku tp kok ra ketok blas yo? padahal anak sudah dua tp penampilan dan aura masih macam mahasiswa. awet enom berarti, hihihi...

    BalasHapus
  78. wahida ariffianti15 Mei 2009 pukul 00.15

    oalah Tyka....lagi kurang kerjaan tah?? hehehe
    makasih!! hanya itu yang bisa terucap untukmu...**hugs**

    dan untuk soal awet enom iku, ALAH GUOMBAALLLLL!!!!!!! **melet** huehueheuheuhe

    BalasHapus
  79. Retno Setianingtias6 Juni 2009 pukul 17.30

    Uda siap2 nunggu bukunya terbit . Wajib jadi bukuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!

    BalasHapus
  80. Oktaviani Ratu Menrosa20 November 2009 pukul 05.41

    Fffffffiiiuuuhhh tamat jg episode Menikah Muda ini..............lanjutin baca episode2 yg lain aaaaahhhhh dan menunggu semua tulisan jadi buku..........

    BalasHapus
  81. Assalamualaikum mbak, aku dah khatam bacanya.. dulu waktu msh smp, pny cita2 nikah muda. Eh lulus sma dilamar, tp br umur 20 menikah. Baca serial ini, menjadikan inspirasi buat aku, bahwa terlalu byk hal yg seharusnya aku syukuri dari pernikahanku saat ini. Aku sampe terharu bacanya, inget2 awal2 menikah dulu *smp sekarang pun msh suka labil* ... makasih ya mbak tulisannya... wish someday I could be wonder women like you :D

    *pssst, maaf ya soal foto2 yg diupload di FB, bener aku gak ngerti, kerjaan iseng suami :D*

    BalasHapus
  82. subhanallah... seru! seru banget! gara-gara dikasih link sama temen ke postingan ini, aku jadi membaca seluruh episode. Terima kasih telah berbagi hikmah, semoga menjadi tambahan bekal buat kami yang baru 5 bulan menaiki 'roller coaster' rumah tangga. Salam kenal! :)

    BalasHapus
  83. wahida ariffianti21 April 2010 pukul 17.50

    Vani, aku ikut lega kamu sudah tamat, panjang banget yak?? *sigh n hug*
    menunggu tulisan jadi buku???? *gubraks*

    BalasHapus
  84. wahida ariffianti21 April 2010 pukul 17.50

    *gubrax lagi* :-D
    btw, tks!

    BalasHapus
  85. wahida ariffianti21 April 2010 pukul 17.52

    you are a wonder woman already mbaaa....mb May adalah orang yang sangat menyenangkan untuk diperhatikan *lho?* bener lohhh ternyata punya cita2 menikah muda juga ya? heheheh

    soal foto? hahahahaha iya biar aja tuh mas Denni ama mas Iwan sambit2an segala sesuatu, kita tinggal jalan2 aja yuk wkwkwkkwkw :-D

    BalasHapus
  86. wahida ariffianti21 April 2010 pukul 17.53

    salam kenal mbakje...wah selamat atas pernikahannya yaa...mudah2an langgeng dan samara, jodoh dunia akhirat... amiinn :-)

    BalasHapus
  87. amiiin... terima kasih doanya. salam kenal juga ;)

    BalasHapus
  88. bahagianya..bisa ikut membaca lengkap tulisan mbak wahida tentang menikah muda ini...very inspiring...

    BalasHapus
  89. Subhanallah, sangat inspiratif sekali kisah nikah di usia muda (dari part 1 - 6) Bu Wahida. Semoga bisa menjadi bekal buat saya (khususnya) dan orang lain yg jg ingin menikah di usia muda.

    Jazakumullah khoir

    BalasHapus