Sabtu, 04 April 2009

Kenalan Dengan dr. Fang Yuukk!! (2)

Cerita menarik pertama yang dibawa oleh mas Dion (teman yang mengenalkan) tentang dr. Fang adalah kisah kepindahannya ke Indonesia.

Konon, di Tiongkok sana tepatnya di kota Guangzhou, ada seorang dokter sinshei yang bertahun-tahun menjadi langganan bos-bos besar Surabaya. Tak kurang dari bos Kedaung Group, Maspion, Jawapos Group dan Pasar Atum pun pernah menjadi langganannya.

Entah bagaimana ceritanya, si dokter yang juga menguasai akupungtur, terapi tenaga chikung sekaligus mendalami psikologi ini, akhirnya berhasil dibujuk untuk pindah ke Indonesia. Konon kepindahannya ke Surabaya ini atas sponsor bos Kedaung Group yang juga salah satu pendiri Masjid Cheng Hoo dan PITI (dulu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, sekarang menjadi Pembina Iman dan Tauhid Islam). Untuk dr. Fang, disediakannya rumah dan tempat praktek di klinik akupungtur tepat disamping Masji Cheng Hoo. Akupun belum menemukan keterangan pasti ataupun menanyakan langsung ke dr. Fang, tetapi yang jelas sekitar tahun 2000 itu jugalah dia mengikrarkan syahadat untuk masuk Islam.

Cerita kedua yang dulu diungkapkan mas Dion adalah, dokter satu ini dikenal memiliki diagnosa yang jitu. Konon kata mas Dion, sudah banyak cerita mengenai hal ini. Salah satunya terjadi pada mas Dion sendiri. Suatu hari pas ketemu dengan dr. Fang, dia pas mengeluh meriang dan kurang enak badan. Dengan memeriksa nadi, dr. Fang langsung mengungkapkan ada kemungkinan besar mas Dion terkena demam denggue. Ternyata memang 2 hari kemudian badan mas Dion panas, dan ketika hari ke-3 diperiksa darahnya di lab, hasilnya memang positif DBD.

Oke juga nih, pikirku waktu itu. Menurutku diagnosa sangat penting karena dengan diagnosa dokter akan bisa memilihkan jenis pengobatan yang tepat kan? Tapi kemudian ada cerita lagi...

"Kita dateng ke dokter aja mbak, nggak usah cerita apa-apa dia akan bisa melihat apa penyakit mbak."

Nah ini...masak sihhh?? Sudah kebiasaan ya, aku itu kalo mendengar sebuah cerita yang terasa terlalu fantastis, pasti bawaannya merengutkan alis dulu, meragukan.

Tapi baiklah, mengingat jauhnya Master Saeho di Jakarta, dan mengingat para bos besar saja sering bela2in pergi ke Tiongkok untuk berobat ke dia, bahkan akhirnya ada yang sampai rela "mbandani" dokter Fang untuk pindah ke Surabaya, rasanya pantas untuk dicoba deh..

HARI PERTAMA BERTEMU DOKTER FANG

Pas ada bapak-ibukku, dan akhirnya kami bertiga diantar mas Dion ke tempat praktek dr. Fang. Tempatnya ada didalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo di Jl. Gading Surabaya.

Mata yang ramah, itu kesan pertama yang kulihat. Melihatnya ngobrol dengan mas Dion dalam bahasa mandarin jadi sensasi tersendiri buat telinga (sambil diam2 menahan geli mendengar mas Dion fasih ngomong cungkok sementara selama kenal dia, kita biasa ngomong pake boso jowo :D).

Diagnosa pertama dilakukan pada Bapak. Bapak yang berangkat dengan mindset "saya pengidap diabetes" cukup surprised karena dokter malah menyinggung punggung Bapak. "Bapak sering sakit punggung?" dan memang iya. "Sering kaku di leher?" memang iya. "Itu dari MAAG Bapak.."

Ya Allah, kita bertiga berpandangan. Bapak memang punya gangguan maag kronis, sejak dia muda dulu. Sejak Bapak terkena DM belasan thn yg lalu, urusan maag memang cenderung terlupakan, padahal tanpa disadari, kaku leher dan sakit punggung itu masih sering dialami Bapak, sampai Bapak nyaris tiap hari berkubang koyo, minyak gosok, counterpain dan sejenisnya. Bapak malah fokus menangani diabetesnya, rajin olahraga, mengatur diet, dll.

"Kencing manis saya gimana dok?" ditengah2 pemeriksaan nadi Bapak tak tahan bertanya.

"Nggak terlalu masalah...Bapak rajin olahraga ya? Peredaran darah juga lancar, nggak masalah" kata dokter Fang.

Singkat cerita kami bertiga pun di tusuk jarum hari itu. Waktu pulang, Bapak berkali-kali mengungkapkan pengakuannya atas diagnosa dokter. "Kuakui jitu ya...soal maag itu aku sama sekali nggak kepikiran loh, ternyata semua masalah punggung dan leher itu dari maag...ah, sahabat lamaku..." ungkap Bapak.

Dan sudahlah...kalau aku masih ragu padahal Bapak yang master of criticus itu sudah mengakui, berarti aku nggak tahu diri namanya, hehe...

:::::.....

Hasil diagnosa Ibu tidak mengejutkan. Tanpa babibu Ibu hanya mengangguk2 ketika dr. Fang memeriksa nadi Ibu dan menyebutkan soal kolesterol dan beberapa gangguan yang memang sesuai dengan yang dialaminya selama ini.

Untukku, dr. Fang juga menghadiahkan kejutan soal jantungku yang agak melemah...yang otomatis menjelaskan kenapa aku gampang deg2an, keringat dingin dan lemas, seperti yang kusebut di tulisan tentang dr. Fang bagian 1 kemarin...

Kelak, ketika sudah banyak mengobrol dengan beliau, dr. Fang bercerita tentang serba-serbi akupungtur dan chikung yang dia pelajari. Dia sempat mengungkapkan keheranannya. Ada salah satu mantan pasiennya, yang kemudian tertarik dengan akupungtur. Banyak menimba ilmu tanya ini itu ke dr. Fang selama terapi, memutuskan pergi ke Tiongkok selama 3 bulan untuk kursus menusuk jarum (ya, hanya 3 bulan saja, bandingkan dengan dr. Fang yang belajar akupungtur sampai 4 tahun bahkan lebih), kemudian kembali ke Indonesia dan buka praktek disini. Tentu saja dengan tempat praktek mewah, tarif yang tinggi dan harga obat cina yang sampai puluhan juta (untuk satu paket obat untuk sebulan).

"Lucu ha..." begitu komentarnya sambil senyum dan geleng-geleng, dengan bahasa Indonesia yang kental berlogat Tiongkok.

Oh ya, ada satu tips menarik dari dr. Fang. Sekarang ini di Indonesia (khususnya yang aku lihat sendiri adalah Surabaya), memang menjamur tempat-tempat praktek akupungtur segala rupa. Bagaimana kita bisa tahu akupungturis mana yang baik dan (paling tidak) kompeten dengan ilmunya?

Dr. Fang pun menjelaskan 3 kata Tiongkok (jgn harap aku ingat kata2nya) yang menjadi pedoman para akupungturis dan chikung, untuk mendiagnosa gangguan kesehatan pasiennya. Tiga kata itu kira2 intinya "saya melihat, saya mendengar, dan saya merasakan".

Saya melihat : begitu seorang pasien datang, sesungguhnya seseorang yang menguasai ilmu chikung sudah bisa sedikit memperkirakan gangguan apa yang diderita pasien itu. Misalnya: daerah sekitar hidung memucat menandakan gangguan di organ A. Sekitar mata memerah menandakan organ B terganggu, dlsb. Apalagi kalau ada penampakan yang lebih jelas, misalkan wajah menghitam (tanda liver sudah parah) atau bibir menghitam (tanda pasokan oksigen kurang, itulah kenapa para perokok berbibir hitam, karena pasokan oksigen ke otak kurang, dan ini menjelaskan keherananku selama ini kenapa walaupun sama sekali tidak merokok tapi bibir Mas Iwan agak hitam, tentu karena asma nya kalau begitu).

Saya mendengar : ternyata suara seseorang juga bisa dipakai untuk mendeteksi gangguan kesehatan. Mau contoh yang gampang, ya aku sekarang ini, suaraku serak karena batuk, bindeng karena pilek. Konon, ada banyak model "serak" yang mengindikasikan banyak gangguan, dari yang sederhana (flu) sampai serak model pengidap kencing manis yang sudah berada dalam level keparahan tertentu.

Saya merasakan : akhirnya, memeriksa dan merasakan nadi pasien lah yang menjadi senjata diagnosa. Cara ini juga yang selalu kulihat dipakai Master Saeho dalam memeriksa pasiennya.

So, inti dari tipsnya, ketika Anda baru pertama kali datang ke seorang akupungturis atau ahli chikung, jangan katakan apa-apa tentang keluhan Anda. Mestinya, dia akan bisa tahu dengan sendirinya, kira2 gangguan kesehatan apa yang Anda derita. Kira2 organ tubuh mana dari Anda yang sedang mengalami gangguan. Bukan magic bukan sihir, tetapi dalam ilmu chikung Cina, hal-hal ini memang sudah ribuan tahun diajarkan.

Dan kalau ketika Anda datang ternyata yang Anda hadapi adalah pertanyaan "Gimana Pak/Bu, apa keluhannya?", maka mungkin lebih baik kalau Anda tidak usah datang lagi ke tempat prakteknya itu.

(Bersambung)

15 komentar:

  1. Arie - Bunda Icha Anakku Sayang4 April 2009 pukul 22.09

    Wah seru ceritanya.Ditunggu sambungannya.Jd pengen jg ni ktm dr Fang..:)

    BalasHapus
  2. Subhanallah...moga ilmu dr.Fang terus diberkahi...
    Jadi pengen ke dr.Fang rame2 *keinget ibu, kakak, suami, dll*

    BalasHapus
  3. heheheheeee.........
    pernah tusuk jarum genduk nida waktu kecil dulu, ga tega ngeliatnya, darikepala sampe kaki di tancepin jarum, disuruh jalan jalan sampe setengah jam-an...akhirnya ga balik lagi....

    BalasHapus
  4. wahida ariffianti6 April 2009 pukul 07.08

    hehe seru kaya crita kungfu gitu maksudnya?? haha
    ke surabaya aja mbak, nanti sekalian kopdar sama aku **halah** :-D

    BalasHapus
  5. wahida ariffianti6 April 2009 pukul 07.08

    hihihi pasti hebooohhhhhhhhh!!!!!!!! :-D

    BalasHapus
  6. wahida ariffianti6 April 2009 pukul 07.08

    aminnn... semoga ya mbak :-)

    BalasHapus
  7. wahida ariffianti6 April 2009 pukul 07.10

    kok disuruh jalan2??

    kemarin dr. Fang baru juga cerita, pasien terkecil yang dia tangani berumur 8 bulan....duh waktu nancepin jarumnya memang berasa gak tega, tapi trus titik tidurnya juga ditusuk, dan akhirnya pelan2 si bayi tertidur..

    nida kenapa memangnya waktu itu mas?

    BalasHapus
  8. aku dong udah kenalan.............

    BalasHapus
  9. mbaktyas  &nbsp8 April 2009 pukul 05.41

    mbakk... aku kepengen niyyy..
    dari ceritamu aja udah sreg..
    dokter perempuan, ilmunya tinggi, sakti (hehe).. trus muslimah pulak! hawhawhawww..

    BalasHapus
  10. Aku bacanya nggak berurutan nih Mbak. Wow, subhanallah ya... ternyata beliau muslimah.

    BalasHapus
  11. wahida ariffianti19 April 2009 pukul 17.31

    sombong.....
    **hahahaah**

    BalasHapus
  12. wahida ariffianti19 April 2009 pukul 17.32

    makanya aku rajin ke beliau juga salah satunya karena beliau perempuan dan muslimah pula mbak... itu credit poin yang sangat besar buatku :-)

    BalasHapus
  13. wahida ariffianti19 April 2009 pukul 17.32

    iya!! **geli banget liat orang2 pada kecele**

    BalasHapus
  14. tarif dokter n obatnya kisaran berapa mbak?

    BalasHapus
  15. wahida ariffianti4 April 2011 pukul 15.48

    Anto, sekali terapi Rp.100ribu, itu untuk tusuk jarum selama 30menit, atau bekam, atau apapun yang diperlukan. Kalau obatnya bermacam harga sesuai paket dan keluhannya.

    BalasHapus