Kamis, 27 September 2007

Menikah Muda Part 4 : Tabungan Kami di Dunia dan (hopefully) di Pintu Surga

Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1,  Part 2 dan Part 3
 
*****

 

Sepulang dari acara “PsychoCamp” sekitar Bulan Juli 1997. Ah, satu lagi acara yang menguras tenaga. Tentu saja. PsychoCamp adalah acara rutin Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi Unair dalam rangka orentasi mahasiswa barunya setiap tahun. Bertema alam, setiap tahun kemping diadakan selama 3 hari di hutan/bumi perkemahan. Acaranya tentu saja full outdoor activities khas emping macam hiking, outbond games (waktu itu yang namanya outbond belum seperti sekarang sih) sampai jurit malam dan api unggun.

 

PsychoCamp 1997 memberi warna beda bagiku dibanding tahun sebelumnya. Tahun 1995 posisiku sebagai mahasiswi baru, dan tahun 1996 aku absen karena harus mengambil cuti kuliah ketika pergi haji. Ditambah sedikit pelarian dari keadaan rumah tangga baruku (lihat di Part 3), maka di PsychoCamp 1997 itu semangatku selama kemping serasa membuncah sedikit melebihi yang seharusnya.

 

Ada bagian dalam diriku saat itu yang tanpa kusadari ternyata sangat merindukan berkegiatan dengan teman-teman (kuliah). Tahun sebelumnya terasa amat panjang, penuh gejolak dan perubahan yang cukup drastis dalam hidupku, dari urusan pernikahan sampai dengan pergi menunaikan haji. Belum lagi perubahan status dari sekedar mahasiswi menjadi juga seorang istri. Dari anak kost menjadi seorang menantu yang numpang dirumah mertua. Kalau ada yang membaca tulisanku ini merasa harus melongo melihat betapa cepat hidupku berubah dalam kurun waktu setahun itu, percayalah, aku juga!

 

Tetapi, bahkan puncak adrenalin pun ada batasnya. Setelah beberapa waktu exciting dengan segala perubahan yang terjadi, ada masa dimana kemudian aku merindukan sesuatu yang telah hilang (atau sebenarnya tidak hilang, hanya berubah). Teman-teman, kampus dan segala pernik khasnya, organisasi yang sejak SMP selalu menjadi rumah kedua, semua yang aku tahu harus banyak terkurangi begitu aku menikah.

 

Maka acara PsychoCamp 1997 itu serasa jadi momen kembaliku. Melepas kerinduanku akan serunya berkegiatan dan ngumpul dengan teman-teman. Energi yang kukeluarkan lewat pikiran dan semangatku waktu itu, tanpa kusadari melebihi kapasitas tenaga fisikku. Begitu pulang ke rumah (rumah mertua maksudnya :-D), aku sempat mengalami kelelahan yang cukup parah.

 

Sampai sekitar seminggu kemudian, kusadari bahwa si tamu bulanan sudah 3 minggu telat datang... Nggak mengkhawatirkan juga karena memang biasanya si tamu itu tidak teratur datangnya, kadang terlalu cepat, kadang juga bisa lama telat... Mas Iwan lah yang kemudian iseng pulang bawa testpack kehamilan...dan ternyata memang hasilnya POSITIF!

 

!!...Alhamdulillah...!! Kami semua tenggelam dalam rasa syukur yang dalam... :-)

 

Tentang bagaimana semua orang semangat, sudah kutulis juga di tulisan terdahulu (lihat Part 3). Si bayi sempat kujuluki “The First”, since he/she will be the first of everything (child, grandchild from both sides of family, nephew, everything). Bahkan ketika masih berusia 2 bulan dalam kandungan, dia sudah merebut hati semua orang dan menjadi tumpuan harapan kami semua. Tentu saja, terutama aku dan suami. Semua sudah penuh dengan rencana-rencana menyambut datangnya “The First” kami. “Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk dia, menabung sebanyak mungkin uang didunia ini untuk kalian berdua” kata suami waktu itu yang tak urung kutingkahi dengan ngeri khawatir. Masih mungkinkah ada yang namanya bekerja “lebih keras” lagi daripada dia waktu itu?

 

Tidak mengherankan jika kemudian awal kehamilanku menjadi sangat menyenangkan. Selain karena dari sebelum baligh pun aku sudah membayangkan betapa cool nya kalau aku nanti hamil, juga karena semua orang kelihatannya tidak ingin melakukan apa-apa kecuali memanjakanku. Aku bahkan sangat menikmati morning sick yang katanya menyebalkan itu :-D

 

Suatu sore kira-kira 2 bulan kemudian, sepulang kuliah aku dan mas sedang jalan ke toko buku. Saat pergi ke toilet, aku mendapat kejutan berupa flek merah yang cukup banyak. Jelas-jelas merah. Dan banyak! Tak terbayang panikku saat itu. Dengan motor kami langsung pergi ke dokter. Parahnya, antrian sedang banyak dan baru sekitar 4 jam kemudian aku tertangani dokter, itupun setelah mas memaksa-maksa suster penjaga dan mengatakan kalau ini keadaan darurat! Antrian di beberapa dokter2 kandungan senior di Surabaya memang sudah nggak masuk akal!

 

Singkat cerita akupun berakhir bedrest di RS malam itu... Ada hikmahnya juga antri lama, karena memberi waktu ibukku datang dari Tulungagung ketika aku masuk kamar RS. Sungguh hanya beliau yang bisa membuat tenang hatiku. Masih besar harapan, kata dokterku, asal aku bedrest. Sampai berapa lama? Salah satu dari sedikit dokter kandungan wanita yang senior itupun mengangkat bahu. Kita lihat saja nanti...Yang jelas, pasien disebelahku bercerita kalau dia harus bedrest total selama kehamilannya. Sudah 6 bulan dia “tinggal” di RS Darmo Surabaya. Beri kami kekuatan Ya Allah...begitu batinku terus. Saat itu akupun masih sempat memikirkan UTS yang sudah sebentar lagi. Beri aku kekuatan Ya Allah, aku ingin bisa ikut UTS atau kuliah akan molor lebih lama lagi karena semester sebelumnya aku sudah mengambil cuti.

 

Semua orang dengan berdebar mendoakan kami...Teman-teman kuliah tak ketinggalan menunggui di RS sambil secara sok tau menganalisa kenapa sampai aku keluar flek :D. Rata-rata menduga PsychoCamp lah sebabnya. (Percayalah, mereka memang benar2 teman yang patut dirindukan sampai sekarang :-D). Apa mau dikata, waktu itu memang aku belum sadar kalau aku hamil, dan memang aku beraktivitas selayaknya orang yang tidak hamil muda! Hiking naik turun bukit, ikut loncat2 selama games, dan banyak lagi. Yah...meskipun mungkin benar, yang pasti Allah pasti punya rencanaNya sendiri. Banyak juga kulihat ibu-ibu yang walaupun hamil muda tetapi tetap aktif bahkan bekerja, dan bayinya terbukti baik-baik saja. Semua ada ditangan Allah...

 

Setelah 4 hari bedrest pun, kabar gembira itu datang. Aku boleh pulang, asalkan tidak banyak bergerak dan rajin minum obat. Kuliah boleh, asalkan dalam rentang waktu seminggu kemudian, dan flek tidak keluar lagi. Dan aku hanya boleh naik turun tangga sekali sehari (ruang kelas di kampus ada di lt. 3).

 

Baru 2 hari aku dirumah, dan ibukku pun baru sore tadi pulang ke Tulungagung. Malamnya, kurasakan sakit yang semakin lama semakin amat sangat menjalar di punggung bawahku. Semalaman sakitnya bukan berkurang, malah bertambah hebat. Selama ini banyak yang selalu mengagumi kemampuanku menahan sakit, tapi yang ini benar-benar tak tertahankan lagi. Tengah malam, susah payah aku pergi ke kamar mandi. Untunglah, nggak ada flek. Tapi kenapa sakitnya tak kunjung berakhir juga? Sekilas, aku melihat wajah ibu mertua yang ikut menjagaku, sudah menggambarkan rasa sedih yang pasti. Akan keguguran kah aku?? Oh, tidak Ya Allah, aku tidak boleh berhenti berharap padaMu...batinku terus menerus sesering rasa sakit yang amat sangat itu menghampiri. Aku cek lagi, tak ada flek yang keluar. Mengingat itu aku menjadi agak tenang dan memutuskan untuk mencoba tidur. Berhasil, karena memang aku kelelahan menahan sakit.

 

Sekitar pukul 4.30 paginya, aku terbangun karena sakit yang kurasakan menjalar lagi, dan rasa mendesak yang membuatku setengah lari pergi ke kamar mandi. Di terangnya lampu kamar mandi, jelas kulihat benda itu teronggok lemah di lantai... Bukan flek, bukan...ini lebih dari itu...”The First”-ku...

 

Lama dan lemas aku terduduk diam di lantai kamar mandi. Dengan wajah beku kulihat benda merah berlendir sebesar bola tenis didepan mataku. Punggungku yang semalaman terasa sakit, juga terasa beku...Pikiranku, hatiku, rasanya sekujur tubuhku memang membeku...tak berasa apa-apa kecuali kelu...

 

Sampai kudengar kemudian adzan subuh sayup2 terdengar....”Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun...” bisikku lirih dan sendiri...dengan bibir yang kurasakan bergetar, kemudian membeku...

Yang kuingat selanjutnya suara mas yang terbangun, agak lama juga kemudian kudengar dia menyebut bisik lirih yang sama. Yang kemudian mengangkatku, menggendongku dan membaringkanku kembali ke kamar tidur.

 

“The First kita mas....”, bisikku sambil kupeluk lengannya, kusadari baru pecah tangisku melihat lengan mas yang basah oleh air mata...

 

Waktu itu sebuah Kamis pagi di akhir Oktober 1997...

 

 

****

 

Senin paginya, teman-teman menyambut dengan gembira ketika aku datang ke kampus untuk hari pertama Ujian Tengah Semester. Begitu gembiranya mungkin, sampai-sampai tak ada yang menyadari gelayut mendung yang tak biasa di wajahku yang sebelumnya selalu cerah.

“Ingat, cuma boleh naik turun tangga sekali lho,” salah seorang teman mengingatkan.

“Mas Iwan aja suruh gendong Wahida keatas,” goda teman yang lain.

“Nggak papa, asal hati-hati naiknya, aku tunggu di kantin bawah ya,” jawab mas Iwan seraya menitipkan istrinya.

 

Selesai ujian, ketika banyak teman mengerubutiku, barulah aku cerita kalau 3 hari yang lalu aku baru saja dikuret, untuk mengeluarkan ari-ari si kecil yang sudah diminta kembali oleh Allah...

 

Sampai detik ini ketika aku menulis cerita ini pun, masih teringat betul suasana syahdu di ruang kelas tempat UTS diadakan itu. Kita menangis bersama, mereka menguatkan hatiku, saling menyeka air mata masing-masing di bangku ruang kuliah, berdoa bersama dan... ah, sekarang pun kerinduanku pada teman-teman jadi bangkit kembali. Kelak, akhir-akhir ini ketika beberapa teman yang menghiburku dulu itu mendapat ujian dan cobaan dari Allah menyangkut keluarga dan anak2nya, aku tidak bisa memberikan perhatian seperti yang mereka dulu berikan padaku (karena sekarang kita sudah hidup berjauhan dengan keluarga masing-masing). Bahkan sekedar memeluk bahagia ketika mereka melahirkan pun terkadang hanya bisa dilakukan lewat sms, chat setelah 3 bulan kemudian atau hanya via email. Duuhhh aku benar2 benar rindu kalian, sahabat-sahabatku, kalian lah penguat hatiku dikala aku rapuh...

 

Ada seorang teman, aku memanggilnya mbak Lely. Dia lah yang paling paham soal agama diantara kami. Sambil memeluk dan mengelus pundakku, dia membisikkan kata-kata ini padaku, “Kalau ada seorang ibu yang ikhlas ketika anaknya diambil kembali oleh Allah SWT, InsyaAlloh, anak itu akan menjadi tabungan di akhirat kelak. Dia akan menunggu ibunya di pintu surga, dan akan terus menolak masuk sebelum Ibunya datang menjemput dan menemaninya memasuki jannah...maka Ikhlaskanlah...Sungguh Wahida, aku begitu iri denganmu!”

 

Mbak Lely yang sangat kuhormati, kukagumi dan kusayangi ini, akhirnya selamanya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang Ibu, karena sekitar tahun 2002 yang lalu, setelah baru saja 2 bulan menikah, mbak Lely meninggal karena kecelakaan lalu lintas yang dialaminya... (Ya Allah, doaku senantiasa untukmu mbak...)

 

Hikss... ^_^

 

(bersambung)

51 komentar:

  1. "Elly Lubis" Elly Lubis" Elly Lubis"27 September 2007 pukul 09.43

    horeee... diterusin..!! aku baca yah, mbakk :)

    BalasHapus
  2. "Elly Lubis" Elly Lubis" Elly Lubis"27 September 2007 pukul 09.45

    duh.... aku jadi nangisss :( bagus banget mbak menceritakannya...

    BalasHapus
  3. aduhhh aku nggak tanggungjawab ya... hehe

    sama kok elly, saking menghayatinya, tiap selesai menulis cerita Menikah Muda dari 1-4 trus membaca ulang, aku juga selalu nangis terharu...nggak terasa semua terjadi di hidupku... bener2 pahit manis kenangan yang buatku sangat berharga dan menguras emosi hikss....*emang dasar cengeng aja sih* :D thx ya

    BalasHapus
  4. "Elly Lubis" Elly Lubis" Elly Lubis"27 September 2007 pukul 09.55

    itu berarti menulisnya dari hati. betul2 dari ungkapan jiwa. kalo kata dosenku, jika kita menulis/bicara dari hati, maka akan sampai ke hati juga. duh... terusin dong mbaaak.!! aku tunggu lanjutannya.

    BalasHapus
  5. mbak wahida, aku melu nangis nih...ya sedih ya kagum sama mbak. Pny teman2 yg sangat perhatian pasti akan slalu dikangeni terus ya mbak. alur critanya bagus mbak..tak tunggu kelanjutannya ya..udah kyk baca diary aja nih...suka deh!!!

    BalasHapus
  6. Suka deh bacanya ^^
    Ayo terus mnulis mba ....!

    BalasHapus
  7. masyaAllah...orang-orang seperti kamu lah elly, yang rupanya benar-benar ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi penyemangatku menulis... *hug*...terimakasih ya :-)

    BalasHapus
  8. iya mbak luki, sekarang setelah pada berumah tangga, sayangnya kita jauh-jauhan tinggalnya...hikss..

    mbak luki baca deh komentar saya untuk elly dibawah, mbak persis seperti dia !*hug*
    :-)

    BalasHapus
  9. duh vivian...terimakasih banyak, kamu nggak beda dengan elly juga ya ternyata..hehehe :D

    BalasHapus
  10. Merinding & berkaca-kaca Mbak bacanya... Andai aku yang ada di posisi Mbak Wahida, belum tentu setabah itu.

    BalasHapus
  11. duh... ga bisa bicara apa2 mba... hanya saja pikiran tie menerawang teringat kejadian yg menimpa tie, pukul 4 subuh hari rabu tgl 3 Januari 2007 , Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun... masih begitu jelas dalam ingatan :((

    BalasHapus
  12. kadang-kadang ketika kita mengalami sendiri, rasanya tidak sesakit kelihatannya La, begitu biasanya kan? :-)

    BalasHapus
  13. innalillahi wa inna ilaihi roojiuun....masyaAllah, tie...*hug yang lama*...baru saja terjadinya ya...berapa bulan?

    mengutip ucapan almarhumah mbak Lely, ikhlas ya tie...insyaAlloh jadi tabungan di akhirat...amin...

    dulu juga ada saudara yang pesan begini kepadaku : setiap muncul futur (turunnya iman kita), malas beribadah dll, ingatlah si kecil yang menunggumu di pintu surga..jangan biarkan dia lama menunggu, selalu semangatlah menjemput pintu surga Allah, karena semakin cepat kau sampai kesana, semakin cepatlah dia bisa berkumpul dengan ibundanya...

    begitu... ^_^

    insyaAlloh jadi penyemangat kita beribadah ya, karena biarpun dia menunggu kita di depan pintu surga, BUKAN berarti kita PASTI bisa sampai kesana untuk bertemu...

    BalasHapus
  14. tie waktu itu ikut program bayi tabung mba... setelah transfer embrio... padahal setelah melalui masa sulit 2 minggu pertama kemungkinan berhasil masih ada, tapi di minggu ke tiga ke tiga-tiganya embrio yg ditanam ternyata gugur :(( ... makasih banyak yah mba... amiin..

    BalasHapus
  15. ga sabar ah.. nunggu kelanjutan ceritanya ;) ..

    BalasHapus
  16. hikss...hikss..no comment

    BalasHapus
  17. ikutan menyimak nih..seru dan penuh dengan haru biru ya part 3 ini..yg sabar ya mbak ..karena Allah pasti punya niat baik di balik semua yg kita anggap menyedihkan..kalo sabar insya Allah berbuah manis..!

    BalasHapus
  18. mbak wahida......aq jg merasakan hal yg sama....
    tya br tau klo abe bkn "the first" mbak ama mas Iwan....:-(

    BalasHapus
  19. iyaaaa mbak tie.......jgn sedih yaaaaa.....:-) sini sini tak peluk dulu :D
    semoga snantiasa diberikan ketabahan ama Allah swt.....amiiiiiinn

    BalasHapus
  20. Beby Haryanti Dewi Maulana27 September 2007 pukul 21.24

    jadi inget anak pertama saya yg keguguran juga mbak... bedanya, saat itu saya masih kerja di bank... saat krismon, beratlah, sampe jam 10 malem baru pulang...

    BalasHapus
  21. masyaAllah jadi begitu rupanya ceritanya...aku sering dapat cerita begaimana rumitnya proses bayi tabung (bahkan dulu aku pernah kepikiran untuk menempuh cara ini)... semoga mba santie senantiasa diberikan sabar...amin...

    BalasHapus
  22. :D no comment mu itu sudah cukup memberi komen yang mendalam... thx ya :-)

    BalasHapus
  23. betul mbak lussy, sekarang setelah sepuluh tahun kemudian, sudah banyak hikmah yang bisa saya petik...(insyaAlloh nanti saya bagi di tulisan selanjutnya)...Allah memang selalu tahu apa yang terbaik buat umatNya...karena sesungguhnya Dialah Maha Pengasih dan Penyayang.. :-)

    BalasHapus
  24. wah iya ya, aku belum prnah crita ya? :D (eeeee ini anak udah onine lagi, adiknya sudah sehat? semoga sudah ya...welcome back tya...)

    BalasHapus
  25. masyaAllah mbak Beby *pelukan senasib lagi* masa2 krismon kan tidak lama setelah 1997? Hampir bersamaan ya dengan aku...sudah berapa bulan kehamilannya mbak?

    kadang2 dulu saya suka dudul menyalahkan diri sendiri karena ikut kemping pencilakan nggak karuan...(mbak Beby cerita kalo kerja sampe malam, aku jadi inget), tapi balik lagi, semua memang sudah digariskan Allah...tidak ada yang menginginkan ini terjadi, tetapi kalau memang sudah takdirnya, kita mau apalagi selain berusaha ikhlas ya mbak... :-)

    BalasHapus
  26. Amiin aminn... ya robbal alamiin...... makasih banyak yahhh.... * big hug*... makasih yah mba.....

    BalasHapus
  27. sedih ngebacanya...tapi semua memang sdh digariskanNya...Untunglah (walah dasar Jawa-malah masih ngomong untung) ada teman2 yg begitu baik.....Btw aku tunggu kelanjutan ceritanya.....(jangan lama-lama yo...)..bagus banget.........two thumbs up !

    BalasHapus
  28. iya mbak irma, sekarang udah sepuluh tahun berlalu dan aku juga sudah sadar bahwa kejadian itu sudah bikin aku tambah kuat...jadi bener sampeyan, semua sudah digariskanNya, tinggal kita yang harus memetik hikmah dan pelajaran...

    terimakasih dukungannya mbak...sahabat2 seperti yang saya rindukan itu, sama sekali bukan hal yang mustahil untuk saya menemukan juga di MP ini...coba lihat saja komentar2 di postingan ini...subhanalloooohhh...it's so easy just to take you guys as my best and dear friend *terharu* :-)

    BalasHapus
  29. Hidup kita memang sudah ada jalannya ya..mb Wahida ? Jalan yang sudah digariskan oleh Allah Swt. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengisi jalan itu dengan tetap berharap yang terbaik dari-Nya. Itulah yang selalu saya camkan dalam hati saat terbentur kesedihan dan kesulitan dalam hidup ini.

    BalasHapus
  30. memang ini kata-kata klise ya mbak lily, tapi saya setuju banget dengan mbak, dan walaupun gampang dan banyak diucapkan, masyaAllah... ini sudah sekali dimaknai apalagi diterapkan...

    dalam menyikapi kesedihan, mbak Lily sekarang sudah menjadi salah satu panutan saya, saya banyak bersyukur pada Allah karena dipertemukan dengan orang seperti mbak Lily.. *hug* ^_^

    BalasHapus
  31. Waduh..jangan setinggi itu menilai saya mb Wahida. Saya sendiri..sampai hari ini belum mampu mengatasi rasa duka yang masih saja menumpuk di hati (nah kan..sambil nulis ini saya mewek lagi deh). Saya hanya mencoba menerima apa yang telah terjadi dan mensyukuri apa yang saya miliki kini.

    Trims.., saya juga bersyukur bertemu teman muda yang sudah begitu wise menjalani kehidupan ini. (a big hug..from me to you...)

    BalasHapus
  32. allahu akbar...allahu akbar...allahu akbar
    jadi ingat waktu ibuknya nida keguguran di palopo dulu mbak..
    hiks...mbak wahida ada ibu yg nungguin, kami berdua.. waduh ga bisa cerita mbak...jadi ikut sedih....
    allahu akbar...

    BalasHapus
  33. masyaAlloh...duh mas...aku baru tau kalau si mbak juga pernah keguguran...ternyata... :-(
    *kapan2 kudu crito iki*

    jadi gimana gitu rasanya saya mas...maaf kalau jadi membangkitkan kenangan sedih sampeyan hikss.. :-(

    BalasHapus
  34. aku jadi nangis mbak. Aku seperti membaca diriku sendiri. Aku juga pernah mengalmi ini seperti mba. Mudah2an ini bisa menjadi tabungan kita di akhirat. Amiin

    BalasHapus
  35. semakin lama, saya semakin "tidak menyesal" berbagi cerita ini kepada yang lain mbak, karena ternyata terungkap banyak sekali teman-teman yang senasib...nggak nyangka, mbak Leila juga... *hiks* kapan dan bagaimana ceritanya, kalo boleh tahu?

    tabungan di akhirat siapa yang akan menolak ya mbak, amin amin amin...semoga... *hug ke mba Leila*

    BalasHapus
  36. jadi ingat satu kejadian
    mataku berkaca2 nih mbak :)
    lemes... besok lagi dilanjut

    BalasHapus
  37. kejadian apa ya? duhhhh bli...aku jadi ikut terharu baca komentar2mu...nggak menyangka seorang bli Gede bisa se peka ini lho...

    terimakasih ya bli.... dan bli benar, jangan coba2 dudul baca ke 7 postingan sekaligus!! kalo ada yang melolo matanya susah nih aku...

    iya, besok2 lusa, minggu depan juga gpp kok, semoga tulisannya bermanfaat :-)

    BalasHapus
  38. Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun..... meski sudah lama berselang..... ibu sangat tegar dengan takdir yang mesti dialami.... semoga menjadi tabungan ibu dan suami di alam akhirat kelak. insyaallha....

    BalasHapus
  39. wahida ariffianti29 Maret 2008 pukul 20.47

    amiinnnn...terimakasih doanya Pak Arief... :-)

    BalasHapus
  40. Serasa baca novel Habiburrahman El Siradzy

    BalasHapus
  41. Saran saya (semoga malah udah dilakukan...) buat novelnya Mba. Bahkan alur ceritanya ngalir banget bak novel. Dan temanya bagus buat 'perbaikan' dan 'peradaban kembali' bangsa ini. ---sambil berkelakar--- lebih bagusan ini lho drpd Bidadari Surga Tere Liye...he he. Keep be a good wife!!

    BalasHapus
  42. aduuhh **makin tak tahu musti ngomong apa**

    makasih, banyak yang mendorong serupa, hehe
    let's see ;-)

    BalasHapus
  43. ceritanya makin 'blue' nih say...*jadi ketagihan ngebut baca, mumpung suami lagi dinas keluar..*
    (hehe....jarang2 liat kompi nganggur kl malam)

    thn 2005 aku jg keguguran, anak ketiga...
    hanya krn kandungannya memang sdh dideteksi tak bernyawa sejak di dalam rahim dan masih usia sebelas mgg, ga terlalu bikin shock. krn ga melihat janin itu keluar dlm bentuk spt alm janinmu.

    but, it hurts anyway...

    BalasHapus
  44. hihihi kasian deh kamu, udah ditinggal suami, diajak ngeblue lagi :-D
    thx apresiasinya, it means a lot to me :-)

    true, it hurts when its happening, whether your eyes witness it or not
    but then above all, we'll realize that it comes for all good reason from the highest power
    semoga kita ikhlas melepas ya Vienn...
    sampe sekarang pun, kadang habis sholat aku masih teringat si janin yang pasti dulunya sudah ber ruh itu, dan kirim fatihah buatnya

    BalasHapus
  45. aku bener2 hanyut Da :(((
    Pada saat kita menerima cobaan/ujian, memang hanya berat yg terasa, tapi aku yakin *dan pasti kamu juga ya* skenario Allah selalu indah, dan pasti terbaik buat kita.. Insya Allah *hugs*

    meluncur ke part 5

    BalasHapus
  46. **melemparkan pelampung ke mbak Henny yang lagi hanyut**

    iya Mbak, kadang kita perlu waktu untuk menyadari itu ya, tapi kalo kita sedang beruntung, kita akan bisa merasakan kasih sayang Allah seketika itu juga! **hugs back**

    BalasHapus
  47. Subhanallah...hidupmu penuh dengan keberuntungan dunia dan insya Allah akhirat...

    BalasHapus
  48. wahida ariffianti23 Maret 2009 pukul 22.21

    amin Mbak Wiwie...Allah ternyata memang bener menyayangi umatnya ya... **minta peluk ahhh**

    BalasHapus
  49. Oktaviani Ratu Menrosa20 November 2009 pukul 04.37

    Mbak wahida, maaf aq br sempet baca sekarang.........sediiiiiiiiiiihhh hiks hiks......Semoga kelak the first benar2 menantimu di pintu surga Amiiiiiinnn

    BalasHapus
  50. Vaniii jangan minta maaf, aku yang makasih kamu masih sudi mampir kesini :-)
    aminnnnn terimakasih doanya ya sayang *peluk Vani* :-)

    BalasHapus