Senin, 25 Februari 2008

SDN Ngagel Rejo III, Kelas Kreatif di Kampung Padat

Setelah kemarin sempat ngomongin Sekolah Mahal disini dan disini, pagi ini di koran aku baca sesuatu yang sangat inspiratif dan sangat menyegarkan. Para pembaca, inilah dia satu cahaya lilin yang tetap menerangi sebidang jendela ilmu ditengah gebyarnya lampu kota biaya sekolah di negeri kita tercinta. Beliaulah sosok tempat bersandar letihnya para orangtua murid memikirkan nasib masa depan anak-anaknya karena mahalnya pendidikan yang berkualitas di negeri ini.

SHE, is just simply inspiring!!


Jawa Pos, Selasa, 26 Feb 2008,
SDN Ngagel Rejo III, Kelas Kreatif di Kampung Padat

Dikira Sekolah Mahal, Sempat Tak Dapat Murid
Ada anggapan, belajar di kelas kreatif perlu biaya besar dan hanya bisa dilakukan oleh sekolah-sekolah maju. Ternyata, anggapan itu tak sepenuhnya benar. SD Negeri Ngagel Rejo III mampu mewujudkan kelas kreatif di tengah perkampungan padat penduduk.

ANGGIT SATRIYO NUGROHO

SEBUAH televisi 21 inci dan koleksi DVD hiburan tertata rapi di pojok kelas di sebelah papan tulis. Kadang, setelah jenuh belajar atau saat istirahat, para siswa mengoperasikan DVD tersebut, berjoget poco-poco. Pun, bangku-bangku di kelas itu berbentuk beragam. Ada persegi panjang, bujur sangkar, jajaran genjang, sampai trapesium dengan aneka warna. Itulah kelas kreatif SDN Ngagel Rejo III.

"Kami memesan bangku-bangku itu di pusat mebel di Pasuruan," jelas Pascalina Sugiyarti, kepala sekolah.

Aneka bentuk tersebut, kata dia, memudahkan siswa mempelajari bentuk. "Bangkunya pun saya rancang sendiri. Bahannya kami pilih kayu ringan agar siswa gampang memindah-mindahkan," ungkapnya.

Sebab, sekali waktu, dalam hitungan menit, siswa harus cekatan membentuk kelompok belajar di kelas.

Suasana ruangan pun tak monoton seperti di kelas-kelas konvensional. Tapi, mirip arena bermain. Dinding-dindingnya berwarna ceria khas anak-anak, merah, hijau, juga kuning. "Banyak orang bertanya, SD kok mirip TK," ujar alumnus STKIP Tribuwana tersebut.

Kelas kreatif memang banyak ditemui di sekolah-sekolah maju. Padahal, SDN Ngagel Rejo III berlokasi di kampung padat penduduk, Jalan Bratang Wetan I. Sebagian besar warga berpandangan, sekolah di perkampungan padat identik dengan kelas kumuh dan murid banyak. Sugiyarti ingin mengubah image tersebut.

"Sejak jadi kepala sekolah pada 1998, saya memang punya cita-cita, mengubah citra sekolah negeri di kampung," jelasnya.

Namun, ambisi itu baru terwujud pada 2002, ketika dia dimutasi ke SDN Ngagel Rejo III. Sebelumnya, ibu empat putra tersebut menjabat Kasek di SDN Ngagel Rejo VI. Dia belum bisa merealisasi keinginannya karena banyak kegiatan. Selain menjadi Kasek, dia juga ndobel di sebuah sekolah swasta di Bratang. "Cita-cita itu bisa terwujud juga karena anak-anak saya sekarang sudah mapan semua," ungkap wanita 59 tahun tersebut.

Dia ingin membangun dua kelas kreatif sekaligus, kelas satu dan dua. "Saya merintis dulu, tapi tidak tahu tahap-tahap apa yang harus dilakukan," katanya.

Sugiyarti mengaku terkesan pada kesuksesan yang dicapai SD Mangunan, Sleman, Jogjakarta, yang dirintis Y.B. Mangunwijaya. Kebetulan, bu guru itu kenal dengan Kaseknya. Sekolah tersebut berdinding gedhek (anyaman bambu), bayarnya murah, tapi bisa melahirkan murid pintar-pintar. "Resepnya apa, harus saya cari. Tapi, belajar ke Jogja kan perlu banyak uang," tegasnya.

Maka, warga Bratang Wetan itu pun membuat kebijakan di sekolahnya. Di antaranya, laba penjualan lembar kerja siswa (LKS) untuk guru sebesar 10 persen harus ditabung untuk modal ke Jogja. Keuntungan koperasi sekolah yang tak seberapa juga disisihkan. "Untungnya, para guru mendukung," katanya.

Waktu itu, ada sepuluh guru yang mengajar di situ. Kini membengkak jadi 24 orang, termasuk honorer. Tahun itu juga, ketika libur sekolah, semua guru berangkat ke Sleman. "Ternyata, memang banyak yang dipelajari di sana (Sleman, Red)," ujar Sugiyarti.

Misalnya, belajar-mengajar tak melulu dilakukan di kelas. Belajar tentang alam, siswa diajak langsung ke sawah. Belajar tentang aliran air, diajak menyusuri sungai. "Di sekolah negeri, guru dan siswa terlibat dalam objek, belum banyak dilakukan," katanya.

Sugiyarti juga mengundang beberapa guru senior SD Mangunan ke hotel tempat mereka menginap. "Saya minta para guru mendengarkan, kemudian menerapkannya ketika kembali ke Surabaya. Awalnya mereka bingung. Tapi, saya yakin bisa diterapkan," jelasnya.

Untuk mengembangkan kelas rintisannya itu, Sugiyarti rela pontang-panting mencari tambahan materi pelajaran untuk siswanya. Waktu itu, di Surabaya sedang populer metode kumon dan mega-brain. Untuk mengetahui metode tersebut, dia mengajak cucunya ke tempat bimbingan itu. "Saya menyamar sebagai pendaftar. Padahal, saya ingin terapkan metode tersebut di kelas kreatif," ungkapnya.

Tertarik, dia pun menggandeng guru khusus untuk mengajarkan dua materi tersebut. Dia juga melibatkan teman-temannya, para dosen Unesa, sebagai konsultan. Sekali waktu, para guru mendapatkan pengarahan dari mereka. Langkah itu dilakukan untuk memastikan perubahan paradigma pengajaran di kelas.

Namun, membangun kelas kreatif bukan persoalan gampang. Tahun pertama kelas kreatif dibuka, sekolah menerima 43 siswa. Tapi, tahun kedua murid baru merosot tajam, hanya 17 orang. "Saya patah arang. Sangat kecewa. Mengapa masyarakat tak mau diajak maju," katanya.

Dia penasaran, kemudian mencari penyebabnya. Melibatkan para guru, kepala sekolah itu mencari informasi ke warga sekitar. Mengapa para orang tua tidak tertarik lagi belajar di SD Ngagel Rejo III? Jawabannya mengejutkan. Di kalangan warga berkembang pandangan bahwa sekolah yang dipimpinnya tersebut mahal.

Sugiyarti pun bergerak untuk menangkal isu itu. Dia dan para guru gencar berpromosi dari kampung ke kampung. Tentang pengajaran di sekolahnya, tentang biayanya. Setiap kampung punya gawe, SD Ngagel Rejo III selalu menyumbangkan acara seperti tari-tarian. "Sampai drum band keliling pun kami lakukan agar wali murid tahu bahwa di sekolah kami bisa belajar banyak hal," tegasnya.

Kini, enam tahun setelah studi banding di SD Mangunan, Kali Tirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Jogjakarta, Sugiyarti dan para guru merasakan hasilnya. Saat ini, sudah banyak warga Ngagel Rejo yang memercayakan pendidikan anak-anaknya di SD Ngagel Rejo III. Tiap tahun, murid baru yang mendaftar sesuai pagu, 33 siswa.

Tak jarang para siswa itu belajar di luar kelas. Waktu pelajaran berhitung misalnya, mereka diajak ke pasar tradisional. Di situ, siswa bisa berbelanja dan menghitung uang kembalian. "Belajar tentang matematika, anak-anak juga langsung saya kirim ke bank, meski sekadar menyaksikan," jelasnya.

Untuk menjelaskan air laut pasang, siswa diajak ke Pantai Kenjeran. "Pokoknya, jangan sampai guru ngoceh terus di depan kelas," ujarnya.

Wanita berambut keriting itu juga tak segan membawa akuarium ke kelas. Dia ingin siswa belajar berhitung sekaligus warna ikan dalam akuarium. "Itu juga jembatan bagi siswa untuk menyayangi sesama makhluk hidup," ungkapnya.

Setiap ada siswa yang berulang tahun, mereka boleh membawa koleksi fotonya dan memajang di kelas. "Itu salah satu cara untuk mengapresiasi kegembiraan siswa," katanya.

Hal-hal kecil, termasuk perasaan siswa, tak luput dari perhatian. Karena itu, para guru mengoleksi banyak gambar wajah orang dengan berbagai mimik. Misalnya, senang, sedih, menangis, atau tertawa. Setiap pagi, para siswa harus absen di bawah gambar-gambar tersebut. Misalnya, yang sedang sedih absen di gambar orang sedih atau menangis dan seterusnya.

"Dengan demikian, guru tahu perasaan siswa. Sebagai pendamping belajar, guru akan lebih paham mendekati siswa dengan cara yang ampuh. Siswa kelas satu dan dua kan belum bisa menggambarkan perasaannya dengan jelas," ujarnya. (cfu)

 

36 komentar:

  1. nyess ya Da, baca SD bagus begini, Alhamdulillah, semoga makin maju aja dari hari ke hari
    udah ngga zaman murid sekolah didoktrin dalam kelas saja, duh, ngga kreatif nantinyaaa

    *iya, di TK Hanif juga di awal jam pelajaran murid2 suruh ngasih tau ke bunda guru,bagaimana perasaan mereka hari itu. Alhamdulillah, anak yg aktif abis kaya Hanif gitu, bisa terkontrol emosinya di sekolah :)

    BalasHapus
  2. Udah Mahal, Dana BOS bocor lagi, ah pemerintah kampret..

    BalasHapus
  3. nyess banget kak, apalagi dia cerita kalau sebenarnya udah lama punya ide ini, tapi baru bisa terealisasi waktu anak2nya udah mapan sehingga dana untuk anak2nya bisa dipakai mewujudkan idenya yang terpendam....duuhhhhh aku jadi merasa kecil dan sia2... :-(

    wah bagus ya kak, jadi penasaran, anak2 kan suka lucu2 kalo menjawab gimana perasaannya....kapan2 crita2 ttg jawaban2 hanif ya...pasti lucu2 hueheheh :-D

    **dan benarkah cara panggil gurunya itu "bunda guru" wahhhhh sangat mesra yaaa...mirip di novel laskr pelangi** :-)

    BalasHapus
  4. makanya mas, mas Sam jadi aja nyalonin presidennya... ;-)

    BalasHapus
  5. emoh, isin :D

    BalasHapus
  6. hallaaahhhh :-b

    kirain mas Sam udah ikut operasi pengangkatan urat malu huweheheheh :-b

    BalasHapus
  7. bener pencerahan bgt ya mba?... postingan2 mba sebelumnya itu beneran aku diskusiin sama suami lho mba...

    BalasHapus
  8. halaman ini bakal gw print trus gw kasih ke ibu kepseknya Ardi.... :)

    BalasHapus
  9. oya? terimakasih ya, semoga bermanfaat... :-)

    BalasHapus
  10. assiiikkkk lakuuuuuuu **jingkrak2** :-D

    BalasHapus
  11. mbrebes mili mbak bacanya...
    mestinya kalo pulang kampung, selain sungkem ibuk ama bapak juga sungkem ama guru guru kita dulu

    BalasHapus
  12. Wah... Salut banget sama ibu kasek... Bukti bahwa bagus tak harus selalu mahal. Yang penting ada niat dan kemauan untuk melaksanakan...

    BalasHapus
  13. Arie - Bunda Icha Anakku Sayang25 Februari 2008 pukul 20.32

    acung jempol kanan kiri kaki dan tangan..salut banget..buat bu kepseknya, kalau semua sekolah ina begini ni (murah, kualitas terjamin) bakal maju dunia pendidikan kita ya..

    BalasHapus
  14. Sayangnya ga semua kasek mikirin banget gmn spy anak didiknya maju. Jadi inget crita si ayah,kasek di sd-nya dulu mau aja dibayar pake barang dagangan salah seorang ortu murid... spy anaknya bisa naik kelas! Kbtulan si ayah liat dgn mata kpala sndiri... Weewwww...

    BalasHapus
  15. bagus metode belajar mengajarnya..cuma mungkin perlu perjuangan yg berat untuk bisa diikuti oleh SD2 yg lain..karena orang indonesia kebanyakan hidup dari 'kebiasaan' (biasanya belajar di dalam kelas..trus pasti bingung kalo tiba2 musti belajar diluar kelas)..sama hal nya dengan ibu2 yg musti beralih dari minyak tanah ke gas..banyak yg protes padahal gas kan bisa di bikin sedangkan minyak tanah dari perut bumi yg lama2 pasti abis heheh *koq ngelantur ke minyak dan gas ya...(hanya sebagai contoh begitu kebanyakan pola pikir rakyat indonesia)

    BalasHapus
  16. kalo perasaannya lagi campur aduk ngga' karuan, ngegambarinnya gimana dan muridnya berdiri dimana?
    :)

    sekolah yang bagus! hanya dengan kepedulian dari semua pihak, ortu-guru-murid-pemerintah, maka pendidikan di Indonesia bisa lebih maju. bukan dari kemauan atau kerja keras seorang dua.

    BalasHapus
  17. Wah inspiratif... :D salut. Memang ngga bisa bergantung begitu saja sama pemerintah.

    BalasHapus
  18. Moga semua kepala sekolah punya cita-cita yang sama.
    Makasih udah dishare cerita ini. Ibu kepsek itu betul-betul ibarat nyala lilin di tengah kegelapan rimba kalimantan, moga bisa 'membakar' yang lain..

    BalasHapus
  19. Moga pensiunnya diundur oleh pemerintah....

    BalasHapus
  20. jadi merasa kecil ya kita nih mas...? -(

    BalasHapus
  21. beginilah jadinya kalau guru dikaruniai keikhlasan dan keteguhan hati dalam mengajar ya La, semua yang dilakukannya adalah wujud cinta kepada para murid....

    **jadi inget Ibunda Guru Muslimah di Laskar Pelangi** bener-bener membesarkan hati... :-)

    BalasHapus
  22. betul mbak Arie, semoga suatu hari itu akan terjadi ya mbak... :-)

    **geli mbayangin Mbak Arie angkat jempol kaki** :-D

    BalasHapus
  23. duhhh dudul juga ya...

    terlepas dari itu semua, gaji guru PNS yang memprihatinkan juga akan sangat menghambat kreativitas guru dalam mengajar, padahal ditangan merekalah anak-anak kita generasi mendatang menimba ilmu... :-(

    BalasHapus
  24. iya Mbak Lussy, bener sekali...

    nah kalo gitu mari kita berusaha membuat kebiasaan baru yang lebih baik... sekolah-sekolah sekarang sudah banyak yang mulai keluar dari pola bangku sekolah yang konvensional..semoga ini preseden baik bagi perkembangan manajemen sekolah dan dunia pendidikan di indonesia.. :-)

    BalasHapus
  25. mungkin ditengah2nya Rik....hahahaahah :-D

    BalasHapus
  26. iya, karena pemerintah kebanyakan urusan ya Mal hueheheh

    BalasHapus
  27. sama-sama mbak...semoga kita para orangtua juga ikut terus 'terbakar'... :-)

    BalasHapus
  28. huahahahaa amin amin....

    tapi keknya, untuk ibu model begini, pensiun gak akan menghentikan langkahnya deh...paling2 sehabis pensiun dia malah masih blusukan datang kesekolah...orang2 begini biasanya nggak betah duduk diam... :-D

    BalasHapus
  29. yup...
    Lagian yang namanya negara kan punya kita juga.... yang menetapkan aturan main memang pemerintah tapi kalau masyarakatnya ga ada usaha buat memeperbaiki keadaan, waa ga berkembang deh negara kita.
    malah jadi serius -_-;

    BalasHapus
  30. Mamal jadi lucu kalo lagi serius... **sok tau**

    :-D

    BalasHapus
  31. baru Mbak Wahida sendiri yang ngomen begitu ke aku... biasanya kalau aku mulai serius pada maburrr... hahahahah :D

    BalasHapus
  32. wahida ariffianti1 Maret 2008 pukul 13.06

    masa sih??? wahahahaha yang ini juga lucu.. :-)))

    mereka mabur pada mau ketawa kali sebenarnya **krn lucu itu tadi** tapi gengsi aja ketauan, ato takut kamu jadi tambah serius lagi sehingga tambah lucu lagi...hihihi :-D

    BalasHapus
  33. awww... saya memang ngegemesin mau serius pa bercanda... ^/////^

    BalasHapus
  34. wahida ariffianti1 Maret 2008 pukul 22.03

    **gubrax**

    BalasHapus
  35. nah, ini jawabannya mbak, harusnya dibikin massal ya, dibuat dimana2 ada, sebab kalo cuma satu dua jadi jauh dari rumah, dan menjadi masalah baru lagi :))

    BalasHapus
  36. wahida ariffianti3 Maret 2008 pukul 22.24

    itulah mbak, jaman sekarang hati nurani seperti ibu Kepsek itu udah jadi barang langka :-(
    tengok saja kita sendiri, sudah mampukah kalo sekarang kita diminta dedikasikan hidup kita ini dijalan yang sama?? :-(((

    asyaghfirullah....

    BalasHapus